
Tinggalkan jejak
💕 Like atau komentar 💕
Klik .... Pesan dari Tasya pun terbuka.
Pesan yang menampilkan foto Tasya yang memakai pakaian seksi dalam berbagai foto menantang, sepertinya foto koleksinya karena dalam foto itu perutnya tidak terlihat buncit.
[Aku ingin tubuh ini kamu yang memiliki, Rama.]
[Aku rela di jadikan istri kedua olehmu.]
[Tubuhku lebih seksi dari Amanda, istrimu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku. Dan cintaku pasti lebih besar darinya, karena aku sudah mencintaimu jauh sebelum kamu bertemu Amanda.]
[Aku selalu menanti kehadiranmu.]
Geram membaca semua pesan dari Tasya, bahkan sebelumnya banyak foto dan pesan darinya di ponsel Rama. Aku tidak akan membiarkan begitu saja Tasya menggoda suamiku. 'tunggu apa yang akan aku lakukan untuk membalasnya.' ucapku dalam hati.
Aku tidak akan mudah percaya dan lemah seperti kemarin, suamiku adalah milikku, tidak akan ada yang bisa mengambilnya dariku. Seketika aku memiliki ide ....
Krekk .... Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok Rama yang sudah terlihat segar dengan rambut basah dan handuk yang menggantung di leher.
"Mas."
"Hmm."
"Apa kamu marah karena kejadian tadi di pesta?"
"Mungkin."
"Tadi hanya kakak tingkat di kampusku saat kuliah."
"Yang merindukanmu."
"Tapi aku nggak merindukannya, yang selalu aku rindukan hanya seorang, yaitu ...." Aku mendekatinya, melempar handuk yang masih melingkar di leher, digantikan oleh tangan yang aku kalungkan pada lehernya. "Kamu yang selalu aku rindukan, dan selamanya aku cintai."
"Sudah aku bilang tadi jangan jauh dariku saat di pesta, tapi kamu sepertinya malah sengaja melakukan ...." Rama langsung menghentikan kalimatnya saat bibirku langsung ******* bibirnya agar ia berhenti bicara, hal ini pertama kali aku memulainya karena biasanya Rama yang akan memulai permainan panas kami, biarlah aku dinilai agresif olehnya kali ini.
Rama menuntunku berbaring di atas ranjang, tanpa melepas ciuman kami. Dalam waktu beberapa saat kami hanya saling menatap dalam, tapi bukan sekedar tatapan biasa, tatapan yang menggiring imajinasi liar untuk seorang Pria, tangan lembutku mengelus punggung kekar Rama dan usahaku berhasil, Rama langsung mengunci pergerakanku dibawah tubuhnya, meloloskan bajuku dalam satu tarikan, dan ia kembali mencecap, ******* bibirku dengan penuh gairah hingga terengah-engah karena pasukan oksigen dalam paru-parunya berkurang.
"Jangan memancingku sayang, jangan berharap kamu akan memenangkan permainan kita, aku yang akan selalu mengendalikanmu dalam setiap sentuhan yang akan aku berikan," ucap Rama dengan suara seraknya menahan sesuatu yang sudah tidak tertahankan di bawah sana. Ia langsung menindih tubuhku, baru setelah itu ia melakukan penyerangan dan gempuran ia lancarkan, hingga aku setengah berteriak memekik memanggil namanya.
Biarlah kali ini aku yang sengaja memancingnya, agar seseorang tahu Rama adalah suamiku, milikku dan tidak akan terbagi oleh siapa pun. Setelah melakukan aktivitas ranjang kami, Rama tertidur pulas dengan wajah yang ia cerukkan di leher jenjangku.
Perlahan mengambil ponsel Rama yang aku letakkan di meja kecil samping tempat tidur, dan melakukan panggilan video pada seseorang dengan memasang earphone agar suara tidak terdengar dan mengganggu tidur Rama di sampingku.
Tut ... tut ... tut ....
Panggilan video pun dilakukan, dan seluruh layar menampilkan gambar tubuhku yang hanya memakai lingerie dan Rama yang bertelanjang dada, aku menyeringai puas melihat seseorang di seberang telepon membulatkan mata sambil mengucapkan emosi dengan umpatan kasar, bergegas dengan perlahan menggeser tubuh Rama, lalu aku bangkit menuju kamar mandi.
"Bagaimana? Masihkah belum sadar jika Rama adalah suamiku."
"Sialan kamu Amanda!"
"Aku dan Rama adalah suami istri, wajar jika kami melakukan hubungan suami istri, dan itu sah. Bahkan kami melakukannya setiap hari, Rama begitu memuja tubuhku, jadi .... Pose seksi yang kamu kirimkan tidak akan berpengaruh padanya, karena untuk Rama kamu tidak berarti apa pun!"
"Dasar wanita murahan!" Hardik Tasya terhadapku.
"Seharusnya kamu berkaca sebelum berkata itu, siapa disini yang menjadi wanita murahan? siapa yang menggoda suamiku? siapa yang memamerkan tubuhnya untuk diperlihatkan pada suami orang lain? Kamu sungguh mengenaskan dan menjijikkan Tasya ...."
"Amanda!!!" Ia berteriak frustrasi di seberang telepon, sambil menangis histeris. Aku langsung menutup panggilan, sepertinya ia sudah tertekan dan terpuruk saat ini, terbakar api yang ia buat sendiri.
Saat ini aku benar-benar puas memberikan pelajaran untuk Tasya, tidak akan aku biarkan siapapun bebas menghancurkan kebahagiaan keluarga kecilku, aku akan mempertahankan keutuhan rumah tanggaku dari pihak ketiga. Kuletakkan kembali ponsel Rama di atas meja, dan kembali bergeming dalam selimut bersama suamiku yang masih terlelap dalam tidurnya.
Setelah adzan subuh, seperti biasa aku akan keluar kamar menyiapkan makanan untuk sarapan kami tapi ....
"Jangan terlalu lelah, diam di kamar biar aku dan Ibu yang menyiapkan makanan."
"Tidak usah."
"Hei, kamu kenapa sayang? Masih pagi wajah sudah di tekuk, hmm?"
__ADS_1
"Kenapa masih berhubungan dengan Tasya?"
"Hah?"
"Jangan pura-pura tidak tahu dan sok polos deh, Mas ... Tasya sering mengirimkan kamu pesan bahkan foto seksi 'kan? Aku sudah melihat semuanya di ponselmu." Rama tersenyum, mendudukkan aku di pinggir ranjang, ia pun duduk bersimpuh dengan menekuk lututnya agar sejajar denganku.
"Dek, lihatlah Mama cemburu, Papa kira hanya papa yang akan cemburu dengan Mama ketika Pria lain mendekatinya seperti semalam." Ia berdialog dengan janin yang berada di rahimku.
"Mas, jangan mengalihkan pembicaraan deh."
"Sayang, kamu buka lagi ponselku, apa aku membalas pesan dari Tasya? Tidak 'kan? Bahkan aku mengabaikan pesan darinya, sama sekali aku tidak membaca pesan yang dikirim olehnya, dan aku tidak tahu apa isi pesan itu."
Benar juga yang di ucapkan Rama, aku yang membuka semua pesan dari Tasya. Ia berkata dengan jujur, tapi tetap saja rasanya aku kesal mengetahui Tasya mengirimkan banyak pesan untuk Rama. Akhirnya aku dengan jujur mengatakan kejadian semalam, Rama tertawa mendengar tindakanku agar Tasya jera tidak menggangu kami lagi.
"Wow, ternyata kalau wanita cemburu lebih mengerikan ya dibanding Pria yang cemburu, sangat absurd tindakanmu sayang, aku nggak bisa membayangkan ketika wajahku yang tampan bertelanjang dada di depan layar ponsel Tasya."
"Mas, ihh kenapa kamu malah memikirkan wajah Tasya???"
"Baiklah, jangan ngambek sayang, aku hanya bercanda, Tasya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Istriku itu cantik, baik, menggemaskan, bahkan akan memberikan aku seorang anak lagi."
"Awas ya mas, kalau kamu berhubungan dengan Tasya!"
"Janji, sayang ... Sekarang kamu sudah menangani Tasya, dan sekarang giliranku."
"Maksudnya?"
"Kamu tugas malam 'kan?"
"Iya, memang kenapa?"
"Ikut aku rapat bertemu beberapa pengusaha rekanan perusahaanku yang biasa bekerjasama."
"Boleh memangnya? Aku minder rasanya deh, Mas."
"Apa yang membuatmu minder? Wanita cantik, seksi, dan berkelas sepertimu masih merasakan minder, hmm?"
"Aku hanya wanita biasa, Mas."
"Ckkk ... Kamu ini biasa deh selalu memaksa." jawabku lesu tak bersemangat.
Cup ...Â
"Semangat cinta, aku akan ke dapur masak untuk istri, Ibu dan anak-anakku. Oke?" Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
💗💗💗💗
"Assalamualaikum, Dede bayi di dalam sedang apa?" Atma menempelkan telinga di perutku.
"Sedang memanggil-manggil nama Kakak Atma, dan bilang agar semangat belajarnya di sekolah." sahut Rama.
"Benarkah, ma?" tanya Atma padaku.
"Mungkin." jawabku sambil terkikik geli.
"Ish pasti Papa mengerjai Aku." Protes Atma sambil memanyunkan bibirnya.
"Sudah, ayo kita makan, Omma sudah lapar, tumben kamu yang masak Rama?" tanya Ibu.
"Untuk sekarang dan kedepannya, aku yang akan memasak untuk Ibu, istri dan anak-anakku."
"Nanti 'kan ada Bik Tarsih. Biar dia yang melakukannya."
"Tidak, aku akan memastikan orang-orang yang kusayangi di rumah ini memakan masakanku."
"Terserah kamu deh, yang penting Ibu makan." sahut Ibu sambil memasukkan nasi di piringnya.
"Mas, ini aku ambilkan nasi dan lauknya." Baru saja aku menyodorkan nasi dan lauk padanya yang sudah di hidangkan di piring, tiba-tiba ....
Hoekk ... Hoekk ... Hoekk ....
Rama langsung menuju westafel, ia langsung mual dan menolak makanan yang kuberikan. Atma dan Ibu langsung pecah tawanya melihat wajah putih Rama yang memerah, sedangkan Aku merasa kasihan, ia hanya masak tapi tidak bisa memakan hasil masakannya. Derita seorang Papa yang mengalami morning sickness dan menjadi pemilih makanan sekarang.
__ADS_1
💗💗💗💗
Siang ini aku ikut rapat bersama Rama sesuai keinginannya.
"Pak Rama, apa ini sekretaris baru anda?" tanya seorang wanita yang mungkin bekerja sebagai sekretaris.
"Bukan, dia Istriku." jawab Rama singkat dan terkesan ketus.
"Oh, maaf." Wanita itu menundukkan kepalanya. Aku hanya diam, memahami sikap Rama yang memang ketus pada orang lain.
"Wah, Ram ... Boleh nih sekretaris baru," Pria itu mengulurkan tangannya. "Kenalkan, nama saya Irawan, jika kamu sudah bosan dengan Rama, kamu bisa melamar di perusahaanku." ucapnya penuh percaya diri, Rama langsung menampik tangannya.
"Jangan macam-macam dia istriku."
"What? Sorry bro ... Santai, okey?" Rama langsung meninju lengan Irawan dengan kepalan tangannya sambil tersenyum tipis. "Mana aku tahu itu istrimu, pernikahanmu tertutup, dan baru kali ini bertemu dengannya, cantik ...."
"Pilih diam atau bogem mentah mendarat di pipimu?"
"Mas ...." Aku langsung memotong ucapannya.
"Bercanda sayang. Jangan pedulikan dia lebih baik kita masuk." Rama dan Irawan akhirnya tertawa bersama.Â
Pertemuan ini di gagas oleh Rama, dengan tujuan membicarakan proyek besar yang akan diambil oleh perusahaan jasa arsitek dengan beberapa pengusaha properti, Rama yang memiliki usaha di bidang properti dan juga seorang arsitek memiliki pengaruh cukup besar. Ia yang memimpin pertemuan ini, melihat Rama mempresentasikan semua pemikiran guna kemajuan usaha di bidang properti serta perencana proyek dengan lugas dan tegas membuat aku semakin mengagumi suamiku.
"Permisi, maaf telat karena terjebak macet." Pria yang aku kenali masuk ruangan ini dan duduk tepat di seberang mejaku. Dia adalah Pak Herman.
"Silahkan duduk." jawab Rama tegas tanpa ekspresi.Â
"Saya akan menjelaskan di sini, saya akan mundur dalam proyek besar milik pemerintah jika Pak Herman ikut bergabung di dalamnya karena saya tidak ingin bekerjasama dengan orang licik seperti dia." Aku membulatkan mata mendengar keputusan Rama, tapi ia terlihat biasa saja, sedangkan Pak Herman wajahnya merah padam merasakan emosi yang membuncah.
"Apa hubungannya denganku?"
Tepp .... Lampu ruangan mati, menampilkan sebuah video yang sangat terlihat jelas sosok Tasya sedang berada di klub malam dengan seorang Pria dengan keadaan mabuk terlihat dari jalannya yang sempoyongan.
Ruang rapat menjadi riuh oleh suara orang yang berada didalamnya.
"Itu anaknya Pak Herman."
"Nggak nyangka ya kelakuan anak gadisnya seperti itu."
Aku hanya bisa diam mendengar riuh suara dalam ruangan ini, menunggu penjelasan Rama selanjutnya.
"Anak anda pernah memfitnah saya menghamilinya, padahal dengan jelas kebiasaan anak anda yang terbiasan dengan kehidupan malam. Bahkan anda pernah menjebakku dengan memasukkan minuman lalu memfoto aku dengan banyak wanita murahan, setelahnya foto itu anda kirimkan ke istriku hingga kami bertengkar." Rama menatap tajam ke arahnya.
"Bukannya saya tidak profesional mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, hanya saja saya tidak ingin bekerjasama dengan anda yang memiliki pemikiran licik seperti itu. Karena bukan tidak mungkin anda akan bermain kotor dalam proyek ini sehingga merugikan kami."
"Beraninya kau bilang aku licik, hah? Kurang ajar." Pak Herman menarik kerah baju Rama, membuat suasana ruangan ini menjadi tegang, beberapa orang berdiri untuk melerai mereka. Hingga Pak Herman melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Rama. Rama hanya menyeringai sinis ke arahnya.
"Saya hanya bilang mundur, bukan meminta teman lain untuk mundur juga dalam proyek ini bersama anda Pak Herman."
"Kalau sikapnya seperti itu, saya juga akan mundur, saya tidak mau bekerjasama dengan orang licik seperti anda Pak Herman." sahut rekan Rama sesama pengusaha.
"Saya juga."
"Saya juga."
Dan hampir semua orang yang berada di ruangan keberatan jika Pak Herman bergabung dalam proyek ini, dan lebih memilih Rama untuk bergabung dalam proyek besar yang akan dikerjakan.
Pak Herman berdiri, menggebrak meja cukup kencang, hingga aku terjengkit kaget dengan suara gebrakan mejanya. Ia berlalu pergi meninggalkan ruangan ini.
Setelah kepergiannya rapat ini kembali berjalan sesuai rencana, hingga mendapatkan keputusan dan menyusun program pengerjaan proyek yang akan dikerjakan. Hingga aku bisa bernafas lega.
"Mas, apa tidak keterlaluan kamu berbuat seperti itu pada Pak Herman?"
"Aku rasa wajar agar mereka jera, dan kita sudah membagi tugas menyelesaikannya secara adil."
"Maksudnya?" tanyaku bingung dengan ucapan Rama.
"Kamu sudah menyelesaikan Tasya tadi malam hingga ia histeris, dan aku bagian menyelesaikan Pak Herman, adil 'kan?" Ia menggenggam tanganku dan mengecupnya, membuat hati ini menghangat. Kami berjalan beriringan dengan tidak melepaskan genggaman tangan, keluar dari dalam gedung dengan senyum mengembang.
Bukan dendam pada Tasya dan Pak Herman, hanya saja memberi mereka efek jera agar tidak menggangu rumah tangga kami. Semoga perbuatan kami tidak termasuk dosa, karena sebenarnya aku tidak tega melakukan hal itu. Tapi apa daya ketika Rama justru merencanakan semua itu untuk Pak Herman.Â
__ADS_1
~Bersambung