
💕 Happy reading 💕
Atma sudah bersiap melakukan operasi besar selama beberapa jam ke depan, baju khusus ruangan operasi sudah dikenakan, kegugupan dan ketakutan Atma semakin bertambah. Wajahnya pucat pasi, surgical cap sudah terpasang di kepala, belum lagi kateter urin dan infus yang tetap menancap.
Pergelangan tangan Atma sudah terasa pegal menahan jarum infus yang menancap, ketika gerak ada rasa nyeri yang dirasakan. Belum lagi rangkaian test laboratorium, pemeriksaan darah perifer komplit meliputi leukosit, hemoglobin dan trombosit.
Belum lagi pemeriksaan detail EKG/rekam jantung, pengujian urin dan belum lagi Rontgen. Serangkaian test yang begitu menyakitkan dan menakutkan untuk anak seusia Atma.
Amanda, Rama, dan Denis berada di dalam ruang observasi sebelum benar-benar melepas Atma ke ruang operasi untuk menjalani rangkaian proses operasi penutupan lubang jantung.
“Atma takut.”
Tangan Atma sudah seperti es, iya ... bukan hanya itu tubuh Atma terasa dingin bak tinggal di kutub Utara yang dinginnya membekukan seluruh persendian.
“Atma jangan takut ya, ada Mama dan 2 Papa di sisi Atma,” kata Amanda yang menghibur. Wajah Denis dan Rama terlihat sangat tegang bahkan keringat sebulir jagung tampak.
Atma mengangguk patuh, mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian. Ia menatap kedua orang yang kini mengelilinginya dengan tatapan nanar, ingin rasanya menangis dan mengatakan kalau ia tidak ingin operasi, tidak ingin merasakan sakit tapi apa daya, keinginannya untuk hidup normal layaknya anak seusianya lebih tinggi dibandingkan menahan rasa sakit yang ia selalu yakin semua akan berlalu.
“Apa Mama bisa menemani Atma masuk ke dalam ruangan?” tanya Atma yang menaruh harapan besar jika Sang Mama bisa mewujudkan keinginannya.
Baru ingin menjawab Abi sudah menghampiri mereka dengan memakai seragam yang warnanya sama persis dengan yang dikenakan Atma, Abi tersenyum mengelus puncak rambut Atma dengan sayang.
“Ada Eyang Abi yang menemani Atma di dalam.”
Ya ... Abi ikut ke dalam tim medis operasi Atma kali ini seperti 7 tahun yang lalu. Senyum tipis tersungging di bibir kecil Atma, ia memaksakan sebuah senyuman ketika melihat dua pria dewasa yang berada di sisi kanan dan kiri menunjukkan ekspresi jauh lebih takut dibandingkan Atma.
Denis dan Rama wajahnya bahkan pucat pasi, mereka seperti patung yang berdiri di samping Atma.
‘’Seandainya rasa sakit itu bisa dipindahkan, Papa akan menggantikan kamu sayang.”
“Seandainya bisa, Papa yang berada di ranjang pesakitan itu, Nak.”
Ucapan dalam hati Rama dan Denis di tengah rasa takut yang kini merajai hati, Amanda tetap bisa mengendalikan diri untuk tetap terlihat tegar di depan anaknya. Berharap ketegaran, semangat dan kekuatan dalam dirinya di rasakan juga oleh Atma.
“Papa Rama.”
“Papa Denis.”
Atma memanggil lirih kedua papanya, dengan cepat Atma dan Denis memposisikan diri lebih dekat di samping Atma, tubuh mereka pun tertunduk agar bisa menatap lebih dekat wajah polos anaknya dan mendengar ucapannya.
“Atma sayang Papa Rama dan—“
Ucapan Atma terjeda, ia menoleh ke arah Denis yang berada di sisi kanan.
“Masih sedikit sayang dengan Papa Denis,” katanya jujur melanjutkan ucapan yang terjeda.
“Tidak apa ... Papa akan membuatmu benar-benar menyayangi Papa Denis sebagaimana kamu menyayangi Papa Rama,” jawab Denis yang tetap menampilkan senyum padahal hatinya merasakan kesedihan.
“Diakui saja sudah bagus kamu, Denis. Setelah apa yang kamu lakukan pada anakmu sendiri, jangan berharap lebih untuk disayangi secara cepat, usaha! Usaha!” jerit sisi lain dalam diri Denis ketika rasa kecewa melanda.
“Benarkah Papa tidak marah padahal Atma hanya menyayangi Papa Denis sedikit saja?” tanya Atma dengan menunjukkan jari telunjuk dan jempol yang hampir menempel ke arah Denis.
“Tidak ... nanti Atma akan sayang banget sama Papa, makanya Atma sembuh agar Papa bisa menunjukkan sama Atma kalau Papa benar-benar menyayangi Atma dan bisa membahagiakan Atma sehingga nantinya sayang Atma sangat besar,” kata Denis dengan senyuman dan bulir air mata yang berusaha di tahan.
“Benarkah?”
“Ya ... tentu saja.”
“Tapi Atma lelah ....”
Semua mata langsung terbelalak mendengar kata itu terucap dari bibir kecil Atma, Amanda langsung menggenggam tangan Atma yang bebas dari jarum infus. Menggenggam lalu mengecupnya berkali-kali.
__ADS_1
“Tidak ada kata lelah, Sayang. Atma anak kuat, bukankah Atma ingin bisa main dengan adik di rumah?”
“Tentu saja, Atma rindu kembar.”
“Maka dari itu, nanti saat di dalam ruangan operasi, Atma harus kuat,” timpal Rama yang juga mengecup kening Atma dengan sayang.
“Janji sama Mama, Atma akan membuka mata kembali, melihat Mama dan Papa,” kata Amanda dengan suara bergetar.
“Tidak! Atma tidak ingin berjanji,” ledek Atma dengan menampilkan deretan giginya dan mata yang menyipit.
“Sayang ...,” tegur Rama dengan lembut ketika Atma masih bisa-bisanya mengajak mereka bercanda dengan senyuman polosnya sementara orang dewasa di sekitarnya sudah deg-degan bahkan jantung rasanya turun ke rongga perut.
“Iya Pa, Atma janji ....”
Ucapan yang membuat semuanya merasa sedikit lega, dokter dari dalam ruangan menuju ranjang Atma yang tengah terbaring memberikan sapaan hangat agar anak lelaki di depannya tidak merasa takut.
“Hallo anak tampan,” sapanya.
“Hallo Om Dokter.”
“Kenalin saya Dokter Robby, saya dokter Anestesi yang akan ikut masuk ke dalam ruangan bersama Abi Rahman.”
“Iya, salam kenal, Dok.”
“Saya juga teman Mama Amanda loh, jadi jangan takut ya,” kata sang dokter lagi.
“Tentu saja ....”
“Om Dokter akan menyuntikkan obat ke selang infus, rasanya hanya sedikit sakit setelah itu Atma akan tertidur lelap, boleh ya?” terang Dokter dengan apa yang akan ia lakukan.
Atma mengangguk patuh, Dokter Robby pun tersenyum.
Amanda menggenggam erat tangan Atma, dengan posisi tak melepas kecupan sambil terus memejamkan mata dan berdoa agar semua proses operasi berjalan dengan baik.
Berulang kali Rama dan Denis mengambil dan mengembuskan napas menetralkan debar ketegangan.
Ampul suntikan berisi cairan obat bius di masukkan ke dalam lubang infus yang tertancap di tangan, Rama dan Denis memejamkan mata tak tega melihat hal itu. Amanda masih setia menempelkan bibirnya di pipi sang anak dengan mata terpejam, seharusnya obat bius diberikan saat sudah berada di ruang operasi tapi atas permintaan Amanda akhirnya obat bius diberikan di ruang observasi sebelum masuk ke ruang operasi.
Berharap mengambil langkah itu, Atma jauh lebih tenang perasaannya ketika memejamkan mata melihat keluarga yang masih tetap berada di sisinya.
Benar saja, dalam hitungan tidak lebih dari 5 menit rasa kantuk sudah melanda, Atma tersenyum melihat sekeliling orang-orang yang menyayanginya sebelum mata itu tertutup sempurna dan kesadarannya pun hilang.
Dengan cepat tubuh Atma dipindahkan ke brankar ruang operasi, Amanda melepas Atma dengan perasaan sedih luat biasa tapi inilah cara yang bisa dilakukan agar Atma hidup kormal seperti anak lainnya. Setidaknya tidak memperparah kondisi jantung Atma di kemudian hari.
“Ada Abi, Nak.”
“Titip Atma Abi, lakukan yang terbaik.”
Abi mengangguk lalu melangkah lebar menyusul tim medis yang sudah menunggu di ruang operasi.
**
Lampu menyala terang, Atma sudah tidak sadarkan diri. Sebelum melakukan operasi besar ini, tim dokter melakukan doa bersama sesuai kepercayaan masing-masing. Semua sudah mengambil posisi masing-masing, Abi hanya dokter pendamping di sana.
Dokter bedah sudah memberikan sayatan di dada Atma, operasi pun di mulai. Semua tim medis bekerja dengan cekatan, memantau setiap monitor yang menampilkan kondisi tubuh Atma. Detak jantung, tekanan darah, semua terpantau. Dokter anastesi berada di samping kiri Atma tetap melihat monitor pemantau kondisi, Abi Rahman di samping kanan Atma dengan terus melafalkan doa dalam hati.
“Tekanan darah anjlok.”
“Lakukan transfusi.”
“Siap.”
__ADS_1
“Satu kantung sudah habis.”
“Tambah satu lagi.”
“Siap.”
“Tambah obat anestesi, operasi diperpanjang.”
“Siap.”
Semua tenaga medis tampak tegang di dalam ruang operasi, tak terkecuali Abi.
“Denyut nadi melemah.”
“Tidak! Tidak!” teriak Abi. “lakukan yang terbaik.”
Tubuh Atma mengalami kejang, tim medis semakin panik melihat hal itu.
“Atma kamu harus kuat, Atma. Ini Eyang Abi.”
Abi menepuk-nepuk pipi Atma, baru mengucapkan hal itu monitor menampilkan grafik yang semakin rendah dan lama kelamaan menunjukkan garis lurus.
Tubuh Abi langsung luruh, lutut terasa lemas dengan air mata yang mulai berduyun-duyun turun membasahi pipi. Dokter tetap menyelesaikan operasi sampai akhir, setelah selesai kain putih di tarik sampai menutup wajah tampan Atma.
Wajah seluruh Dokter tampak lesu, kesedihan langsung menyelimuti ruangan operasi, mereka gagal. Abi dipapah oleh dua rekan dokternya untuk ikut keluar menemui keluarga.
Tidak ada senyum Atma.
Tidak ada celotehannya.
Semua merasakan kesedihan atas kepergiannya.
“Tidak, Atma!” teriak Denis.
Rama menepuk kencang pundak Denis, keringat bercucuran di kening, Denis tertidur dengan posisi duduk saat menunggu Atma selama berjalannya operasi yang sudah berjalan lebih dari sejam. Mimpi yang terasa sangat nyata, setelah Atma di bawa masuk ke ruang operasi mereka bertiga menanti di ruang tunggu.
“Di mana Atma?” tanya Denis panik.
“Anakku masih hidup ‘kan?” tanyanya lagi.
Amanda yang duduk di sebelah Rama menatap Denis dengan tatapan tak percaya.
“Kamu bermimpi buruk?!” tanya Rama.
Denis mengusap wajah kasar ....
“Arghh! Syukurlah hanya mimpi,” desis Denis yang terduduk kembali dengan detak jantung tak karuan.
“Atma sudah di ruang observasi, tapi belum siuman. Baru saja Abi menemui kita di sini, kupikir kamu sangat lelah jadi tidak terusik oleh kedatangan Abi. Ternyata larut dalam mimpi buruk,” terang Amanda.
Melihat ekspresi Denis yang terlihat depresi, membuat Rama dan Amanda menggelengkan kepala tak percaya.
“Wake up, Denis!”
Denis masih mengatur detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
Hargai selama masih ada, sayangi sebelum pergi dan bermimpilah dalam hidup jangan sebaliknya hidup dalam mimpi!
~Bersambung~
Di tunggu komentar bawelnya, semua komentar di baca satu persatu. Terima kasih untuk selalu support dengan komentar, like, hadiah dan vote.
__ADS_1
Love semuanya ....
bermimpilah dalam hidup, jangan sebaliknya ya ☺️