
💕 Happy reading 💕
Vanya langsung mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi, tak peduli dengan bunyi klakson kendaraan lain yang terganggu dengan aksi Vanya yang ugal-ugalan saat mengendarai mobilnya.
Denis.
Denis.
Denis.
Nama seseorang yang mengisi hatinya, walaupun ia bukanlah wanita yang dicintai pria bernama Denis.
Bodoh ... satu kata yang mungkin sebagian orang sematkan pada diri Vanya, orang yang mengetahui bagaimana Denis memperlakukannya sangat tidak adil pasti akan mengatakan Vanya adalah perempuan bodoh yang masih mencintai pria yang masih berstatus suami meski sudah disia-siakan.
Ketulusan cinta adalah alasan yang selalu dikatakan Vanya, ketika orang tuanya pun geram dengan sikap sang anak yang dinilai lemah sebagai wanita.
“Apakah ada nama pasien ICU bernama Denis?” tanya Vanya.
Perawat langsung mencari data pasien di layar monitor, “Ada, Bu.”
“Di mana ruang ICU?”
“Lantai 3 lorong sebelah kanan,” terang perawat.
“Terima kasih.” Vanya langsung melangkahkan kaki dengan langkah lebar setelah mengetahui letak ruangan yang ditempati suami.
Ahh ... suami! Entah Denis masih pantas dianggap suami atau tidak. Nafkah secara materi selalu diberikan, tapi tidak untuk nafkah batin, nafkah batin bukan melulu tentang berhubungan badan suami-istri tapi rasa bahagia istri merupakan nafkah batin yang juga harus dipenuhi suami.
Vanya menaiki lift, wajahnya tampak cemas bukan kepalang memikirkan kondisi Denis yang sudah pasti tidaklah baik-baik saja, terlebih ia berada di ruang ICU yang terkenal dengan kondisi gawat seorang pasien. Tak jarang yang mengembuskan napas terakhir di ruang ICU, hal yang membuat ‘horor’ siapa pun yang mengetahu anggota keluarga atau orang yang dikenal masuk ke dalam ruangan menyeramkan itu.
Bisa hidup atau tinggal nama jika masuk ke dalam ruang ICU.
“Kamu?!” tanya Vanya ketika sampai di lorong ruang ICU.
“Vanya!” sahut seseorang yang cukup kaget juga melihat kedatangannya.
Amanda ....
Ya! Amanda sedang menunggu Denis tepat di depan ruang pintu masuk ICU, tadinya ia bersama Rama. Namun, sekarang Rama tengah menjemput Atma yang berada di ruang rawat inap Bu Sinta.
****
Flashback on
“Nenek jangan menangis,” kata Atma yang melihat Bu Sinta menangis tergugu menyesali semua yang sudah terjadi, sehingga Denis menjadikan alkohol sebagai pelarian.
Karma ... itu yang diyakini Bu Sinta, padahal karma tidak ada. Yang ada hanya balasan atas semua perbuatan kita, baik atau buruk semua akan mendapatkan balasan jika tidak di dunia maka pembalasan akan menanti di akhirat.
“Boleh nenek memelukmu, Sayang?” tanya Bu Sinta yang menghapus jejak air mata ketika Atma melarangnya menangis.
Sejahat apa pun, Atma tetap tidak sampai hati jika melihat seseorang menangis. Terlebih ada hubungan darah antara mereka, ikatan batin sadar atau tidak cukup kuat antara satu sama lain.
“Ya ... boleh,” jawab Atma datar tapi merentangkan tangan, mempersilahkan sang Nenek memberikan pelukan.
Bu Sinta langsung berhambur memeluk Atma, saat memeluk ia seperti melihat dan menemukan Denis dalam wajah Atma yang memang mirip dengan anak semata wayangnya itu. Rasa bersalah terus saja bergelayut, Atma mengelus punggung belakang Bu Sinta. Amanda dan Rama hanya bisa melihat adegan yang cukup manis, antara cucu yang tak diakui dengan neneknya.
“Boleh Atma di sini menemani Nenek?” tanya Bu Sinta saat meregangkan pelukan.
“Tapi Atma ingin segera pulang, Atma rindu dengan kembar,” tolak Atma yang secepatnya ingin kembali ke rumah dan bermain dengan kembar, sejak Rama sibuk merawat Denis, Atma merasa keberatan, ia sudah sangat ingin memeluk dan bermain dengan adik kembarnya itu.
“Sayang, sebentar saja menunggu dulu ya ... ada yang harus Mama dan Papa lakukan untuk mengurus semua tentang kesehatan Papa Denis, boleh Atma menunggu di kamar Nenek dulu nanti ketika selesai Papa akan menjemput kembali? Kasihan Nenek kalau di tinggal sendiri,” pinta Rama yang hanya dijawab dengan anggukan pasrah Atma.
Bagaimana mungkin Atma menolak apa yang diinginkan Papa Rama, ia begitu penurut dengan papa sambungnya itu.
“Ayo Sayang! Kita urus Denis dulu ... Dokter ingin bertemu keluarga pasien,” ajak Rama kemudian.
“Iya, Mas,” jawab Amanda.
Sebelum pergi Atma dibaringkan di samping tubuh neneknya, Kasur yang luas bisa menampung 2 orang di atasnya. Bu Sinta tersenyum bahagia ketika sekarang sangat dekat dengan Atma, ia terus menciumi wajah Atma dan memeluknya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Kesedihannya sedikit berkurang ketika bisa dekat dengan fotocopy Denis, sedangkan Atma masih menata hatinya, berusaha sekuat hati untuk menerima keadaan ini sesuai yang diinginkan Rama dan Amanda. Ia pun tak ingin menjadi anak pembangkang, ia selalu ingin membahagiakan orangtuanya itu.
Anak saleh ... panggilan Amanda dan Rama pada Atma.
“Kamu sama Nenek dulu ya, Sayang. Kamu juga harus istirahat, nanti kita pasti pulang ke rumah, tunggu beberapa jam lagi,” kata Amanda mengucapkan kata menenangkan.
Sebagai Ibu, Amanda tahu batin dan pikiran Atma sedang berkecamuk.
Amanda dan Rama langsung keluar ruangan menuju ruang ICU di mana petugas medis mengatakan kalau Denis sudah dalam kondisi stabil setelah sebelumnya kritis.
Flasback off
****
Masih adakah cinta di hati Amanda?
Pertanyaan menelisik dalam hati Vanya ketika dengan mata kepalanya sendiri Amanda menunggui mantan suaminya yang masih sah menjadi suami Vanya.
“Tidak ada maksud apa pun, aku menunggu bersama suamiku. Tapi baru saja, Mas Rama meninggalkan ruangan ini untuk menjemput Atma,” ucap Amanda berusaha menjelaskan walaupun Vanya tak bertanya khawatir salah paham.
Dari ekspresi Vanya, Amanda sudah tahu ada gurat kecemburuan dan kekecewaan di sana. Mendengar penjelasan Amanda membuat Vanya sedikit lega, wanita yang sudah tidak bisa berpikir jernih hanya karena cinta itu pun menyunggingkan senyum.
“Its okey, Amanda. Bagaimana keadaan suamiku? Ahhh! Suami ... apa aku masih dianggap istri olehnya?” tanya Vanya yang meralat ucapannya sendiri.
Amanda tercenung mendengar ucapan yang cukup miris itu, hal yang menyakitkan ketika diri tidak diakui berarti dalam hidup seseorang. Amanda pun pernah merasakannya ....
“Dia tetap suamimu, Vanya. Seburuk apa pun kamu diperlakukan olehnya, percayalah Denis tidak berniat bersikap buruk padamu, ia hanya sedang tidak bisa berpikir jernih,” kata Amanda menenangkan.
“Ya ... sejak awal seharusnya aku tidak menuruti keinginan Mama dan orang tuaku, tapi nasi sudah menjadi bubur. Setelah menikah cinta untuknya mengakar sangat kuat, tapi sayang ... cintaku tak berbalas, miris ‘kan?”
“Terkadang cinta butuh perjuangan, terkadang harus melalui rasa sakit untuk menggapai sebuah kebahagiaan.”
“Iya, kamu benar ... tapi aku sudah lelah berjuang,” kata Vanya dengan ekpresi sendu.
Vanya menoleh ke arah Denis, dinding kaca memisahkan mereka. Denis hanya bisa dilihat dari jarak jauh, kondisi Denis yang membuat Vanya merasa sedih.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Vanya kemudian.
“Apakah sudah ada yang mendonorkan?”
Amanda menggelengkan kepala, tersenyum tipis dan menatap nanar Denis yang masih lemah tak berdaya.
“Belum ... Mama tidak bisa menjadi pendonor hati karena kondisi kesehatan tidak stabil dan memiliki riwayat jantung padahal beliau yang berpeluang besar mendonorkan hati karena golongan darah dan tipe jaringan yang sama, rhesus negatif akan lebih susah mendapatkan donor hati. Kita hanya bisa berpasrah diri saja,” terang Amanda.
Vanya diam membisu, tidak mungkin juga ia menyumbangkan hatinya walaupun dengan ikhlas mendonorkan hati untuk suaminya itu. Sudah dipastikan tidak ada kecocokan jaringan terlebih golongan darahnya pun berbeda.
“Aku akan berusaha mencari donor hati untuk Denis, bagaimana pun caranya.”
“Kita sama-sama berusaha, terpenting kondisi Denis sudah sadarkan diri sekarang.”
Vanya mengangguk paham, Denis harus bisa sadar dari komanya karena jika terlalu lama koma akan memperburuk kondisi.
“Mama,” panggil Atma yang menggunakan kursi roda.
“Halo, Sayang,” sapa Vanya dengan memberikan kecupan di pipi dan mengelus puncak kepala Atma.
“Halo Tante.”
“Sini Papa gendong,” kata Rama yang langsung mengangkat tubuh Atma dan menggendongnya agar bisa melihat kondisi Denis yang dibatasi kaca.
“Apa Papa belum bangun, Ma?”
“Belum sayang.”
“Bagaimana membuat Papa Denis bangun?” tanya Atma kemudian.
Dalam hati kecil ia tak tega melihat Denis terbujur lemah dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuh, hatinya selembut sutra walaupun ia masih belum memahami betul apa yang tengah dirasakan.
“Berdoa sayang, doa anak salih di dengar Tuhan,” kata Rama.
__ADS_1
Atma dengan suka rela mengangkat kedua tangannya sambil memejamkan mata, “Allah sembuhkan Papa Denis dan Nenek, seperti Allah sembuhkan Atma sekarang. Bukankah Allah maha penyayang? Sayangi papa Denis dan Nenek juga ya Allah, aamiin,” ucap Atma mengaminkan doa dan mengusap tangan kewajahnya.
3 orang dewasa ikut mengaminkan doa Atma, Rama dan Amanda mencium pipi Atma dengan sayang.
“Anak pintar.”
“Anak salih Mama dan Papa,” kata Amanda mengelus puncak kepala anaknya.
“Amanda ...,” panggil Vanya.
“Ya, Van.”
“Bukankah dalam kondisi koma seseorang masih bisa mendengar?”
“Tentu ....”
Vanya melirik Atma lalu senyumnya mengembang.
“Atma adalah kebahagiaan Denis, aku yakin Denis akan lebih semangat jika mendengar suara Atma.”
Vanya mengeluarkan ponselnya, membuka menu rekaman pada ponsel. Amanda memahami maksud Vanya, ia pun tersenyum dan saatnya membujuk Atma untuk menyemangati Denis.
“Biarkan Atma sendiri agar bisa bebas berbicara melalui rekaman suara, nanti aku akan menitipkan rekaman itu pada salah satu perawat,” kata Amanda.
Rama menjelaskan pada Atma untuk berbicara apa saja yang ingin ia sampaikan agar menyemangati Denis, Atma pun memahaminya dan kini 3 orang dewasa memberikan waktu untuk Atma mengungkapkan apa pun yang dirasakan Atma, memberikan Atma ruang untuk sendiri.
Setelah selesai berbicara melalui rekaman, Atma mengacungkan satu jempool ke arah orangtuanya dengan senyuman hingga gigi yang gigis terlihat. Namun, ada jejak air mata di sana yang buru-buru di hapus Atma.
“Sudah, Nak?” tanya Amanda.
“Sudah, Ma.”
Amanda langsung menyerahkan ponsel Vanya ke salah satu perawat ruang, terlihat dari kaca perawat menyetel suara Atma tepat di samping telinga Denis agar terdengar jelas tidak terkalahkan dengan suara dentingan alat-alat dalam ruangan.
“Assalamualaikum, Papa ... ini Atma.”
“Papa Denis cepat bangun supaya kita bisa bermain bersama, setelah Papa bangun nanti Atma akan menemani Papa seharian, kita akan bermain.”
“Dulu Atma kecil diledek oleh teman, katanya Atma tidak memiliki Papa. Tapi Mama selalu bilang, Atma memiliki Papa dan suatu saat akan bertemu. Papa Rama yang menemani dan menyayangi Atma ketika Papa Denis tidak ada. Sekarang—"
Ucapan Atma terjeda beberapa saat, ia menarik napas sebelum melanjutkan ucapannya.
“Sekarang Atma ingin bersama Papa Denis dan juga Papa Rama ... ajarkan Atma agar bisa menyayangi Papa Denis, jangan tinggalkan Atma sebelum Papa memenuhi janji untuk membahagiakan dan akan menyayangi Atma. Kata Mama janji harus ditepati, Papa Denis harus menepati janji itu ....”
“Bangun, Pa.”
“Ajarkan Atma menyayangi Papa.”
“Bangun dan jadilah Papa yang baik, sesekali Atma ingin diantar sekolah oleh Papa Denis, akan kutunjukkan kalau aku bahagia memiliki Papa Denis. Belikan Atma toko mainan seperti apa yang Papa bilang waktu Atma sakit.”
“Sekarang Atma sudah sembuh, Papa harus sembuh juga.”
“Papa Denis bangun, Atma ... sudah sedikit menyayangi Papa Denis, dan akan banyak sayangnya kalau Papa Denis bangun.”
“Loved you Papa Denis ....,” kata Atma.
Matanya sudah mengembun saat mengatakan hal itu, ingatannya kembali saat beberapa hari lalu Denis memberikan pelukan hangat dan kecupan di seluruh sisi wajahnya. Tatapan sendu Denis hadir di pelupuk mata Atma, hati Atma tergerak dan semakin melembut.
Denis menggerakkan tangan cukup kuat, begitu pun kakinya yang menunjukkan pergerakan.
“Papa ...,” desis Atma dengan sebulir bening di sudut matanya.
Rekaman pun berakhir ....
~Bersambung~
Support selalu cerita ini ya ....
Ditunggu like dan komentarnya 😍
__ADS_1
Love untuk semua, terima kasih 💕