Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 17


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...Like dan komentar setelah membaca...


...Vote juga kalau berkenan...


...Selamat membaca ❤️...


"Amanda."


Ibu menyapaku yang tengah mematung berdiri diambang pintu ruang keluarga rumah ini, sapaan Ibu menyadarkanku dari lamunan.


"Hmm, maaf ganggu pembicaraan kalian, Amanda disuruh Ummik mengambil sampel bahan dan sketsa rancangan baju." Mas Rama hanya menatapku lekat, Aku menghampiri Ibu untuk mencium punggung tangannya.


"Kamu mendengar semuanya Amanda?" Tanya Ibu padaku, akupun mengangguk.


"Maaf tadi Amanda tidak sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan Mas Rama."


"Tidak apa Nak, justru Ibu bersyukur kamu mendengar ucapan Rama tadi, Ibu akan memberi kesempatan kalian bicara, Rama ibu mohon jujur lah pada Amanda." Ibu meninggalkan kami berdua, sebelum berlalu Ibu menepuk pundakku dan berbisik lirih ditelingaku. "selesaikan semua masalah kalian." setelah itu ia berlalu dari hadapanku.


"Sejak kapan Mas?" Ia hanya diam namun tetap menatapku, "kenapa tidak kamu katakan dari awal perasaan itu?"


"Andaikan Aku mengatakannya, apa kamu akan merubah keputusanmu untuk menikah dengan Janu? Tidak 'kan?"


"Bagaimana kamu bisa tahu apa keputusanku jika mencoba jujur dengan perasaan cinta yang ada dalam hatimu tidak kamu lakukan?" 


"Maksudmu? Apa kamu juga mempunyai perasaan yang sama denganku Amanda?"


"Apa yang dirasakan oleh hatiku, cukup Aku yang mengetahuinya, karena jawabanku nantinya tidak akan mengubah keadaan, nyatanya kita sudah memiliki pasangan masing-masing, bagaimana perasaanmu dengan Tasya? Bagaimana mungkin kamu mencintai dua wanita sekaligus?"


"Aku tidak mencintainya, Aku hanya menganggapnya teman."


"Tapi nyatanya kamu akan menikahinya 'kan? Atau Tasya hanya pelarianmu saja Mas?


"Mungkin." ucapnya terlihat acuh.

__ADS_1


"Kenapa kamu tega mempermainkan perasaan seorang wanita Mas? Arghhhh ... Aku sudah tidak peduli dengan perasaan cinta yang kau rasakan, karena Aku rasa bukan cinta tanpa sebuah pembuktian, rasa cintamu untukku hanya sebatas angin lalu yang tidak akan pernah tergapai."


"Kamu salah, cintaku sudah mengakar kuat dalam hati ini, sebelum kamu menikah dengan Papa kandung Atma, Aku sudah mencintaimu sejak pandangan pertama meski kamu tidak pernah menyadarinya, apakah ini dianggap cintaku hanya angin lalu?"


"Lalu apa yang kamu lakukan selama ini Mas? Kenapa kamu hanya diam dan bersikap dingin kepadaku? Sama sekali tidak mengungkapkan perasaanmu."


"Aku tidak ingin kamu dan Atma menjauh dari kehidupanku."


"Kamu salah, karena nyatanya sikapmu akan menjauhkan Aku dan Atma dari kehidupanmu untuk selamanya."


"Tolong jangan katakan itu Amanda!!!" ucap Mas Rama setengah berteriak, ia mengikis jarak kami, melangkah mendekati Aku. "Apa kamu tahu apa yang kurasakan, seberapa sakit melihatmu dan Janu tersenyum di acara lamaran kalian, semakin menekan perasaan ini Aku semakin merasa sakit, bukan hanya hatiku tapi tubuhku pun tidak mampu menahan sakit atas perasaan cinta ini yang semakin mengakar kuat, Aku mencintaimu Amanda."


"Apa kamu kira hanya kamu yang sakit dan menderita Mas atas sikap diam dan memendam perasaan yang kamu lakukan? Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan Atma dan perasaanku? Apa kamu pikir setelah hampir lima tahun bersama Aku dan Atma tidak sedih berpisah denganmu?" 


"Iya aku egois, terlalu larut dalam ketakutan akan kehilangan kalian sehingga menutup rapat perasaanku selama ini darimu."


"Semua sudah terlambat Mas, jalani kehidupan kita dengan pilihan pasangan kita masing-masing, hanya satu permintaanku, jauhi Aku dan Atma, biarkan kami memulai kehidupan baru tanpamu, jangan buat Atma semakin berat untuk berpisah denganmu, ia sangat menyayangimu. Aku tidak ingin Atma kecewa ataupun sedih dan semakin bergantung dengan dirimu." Air mataku sudah tidak terbendung lagi, Aku menangis hanya ingin meluapkan sesak di dada yang terasa terhimpit.


"Amanda, jangan lakukan itu, Aku mohon!!! Atma sudah Aku anggap anakku sendiri." mendengar jawaban Mas Rama, Aku hanya tersenyum getir kearahnya.


"Kamu tidak perlu menganggap Atma anakmu, karena sebentar lagi kamu akan mempunyai anak dari Tasya, kamu akan menjadi seorang suami dan seorang ayah dari benih yang Tasya kandung," aku menghapus bulir air mata yang membasahi pipiku. "Jujur, saat ini Aku kecewa padamu, bukan karena cinta yang diam-diam kamu rasakan padaku, tapi Aku tidak menyangka hubunganmu dengan Tasya sudah seperti layaknya suami-istri, Aku kira kamu pria baik yang menghargai kehormatan seorang wanita."


"Kak, Atma minta secepatnya pulang," Aku membalikkan tubuh ke arah suara Gita. "Kakak baik-baik saja?" Aku mengangguk sebagai jawaban.


"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Aku permisi mungkin ini terakhir kalinya kita berbicara, Aku berharap kamu akan bahagia dengan pilihan dan jalan hidupmu, terimakasih selama ini sudah menyayangi Atma." Aku menghampiri Gita dan menarik tangannya kearah luar rumah ini, sesampainya didalam mobil ....


"Mama menangis ya?" Tanya Atma padaku


"Tidak nak, hanya tadi seperti ada binatang kecil yang masuk kedalam mata Mama " Atma duduk diatas pangkuanku, ia mencium mataku yang masih tersisa bulir air mata, dan mencium hidungku yang aku rasa terlihat merah.


"Bohong itu dosa 'kan kata mama? Atma tahu mama habis menangis, apa ada Tante Tasya didalam dan memarahi Mama lagi?"


"Maafkan Mama ya Nak," Aku memeluk Atma dan mencium puncak kepalanya "Mama belum bisa membahagiakan kamu."


"Lupakanlah Kak, maaf Aku tidak sengaja tadi mendengarkan pembicaraan Kakak, apa Kakak mencintainya juga?"

__ADS_1


"Iya dek, selama hampir lima tahun bersama Kakak baru menyadari ada rasa cinta untuknya," aku menghapus jejak air mata di pipi "Kakak pasti akan melupakan dia dek, terlebih dia akan menjadi suami Tasya."


"Mama juga sayang sama Papa Rama?," Tanpa kusadari Atma menyimak pembicaraan Aku dan Gita bahkan sedikit memahaminya, Aku tidak menjawab hanya tersenyum tipis.


"Ayo kita pulang, nenek pasti sudah menunggu"


"Ya ampun kak, kita melupakan pesanan Ummik," Gita menepuk keningnya "biar Aku yang masuk kedalam dan memintanya ke Ibu Ratri." 


Aku menunggu Gita didalam mobil bersama Atma, kulihat mobil Tasya datang dan memarkirkan mobilnya disamping mobil kami, Aku hanya menghela nafas kasar. 'ya tuhan kenapa aku bertemu dengannya saat ini? pasti akan ada masalah lagi.' rutukku dalam hati, benar saja ia mengetuk jendela kaca mobilku,


"Hai Amanda dan Atma, kalian mau apa datang ke sini? Kan sudah aku peringatkan untuk menjauh dari kehidupanku dan juga Rama!"


"Tante jangan marah pada Mama, kalau Tante marah, Tante akan terlihat seperti zombie" ucapan Atma membuat aku tersenyum, aku tidak menyangka Atma akan berimajinasi wajah Tasya akan seperti zombie.


"Hei ... didik anakmu dengan benar jangan meledek orang dewasa seperti itu."


"Sebagai orang dewasa harusnya kamu memahami dan mengerti bahwa anak-anak memiliki daya imajinasi yang tinggi bahkan bisa berimajinasi kamu menjadi sosok zombie." Aku tersenyum lebar kearahnya, ia nampak kesal dan meninggalkan mobil kami untuk masuk kedalam, Atma pun tertawa.


"Ayo kita pulang!!! Sudah selesai, jangan berlama-lama disini Aku khawatir menambah masalah" ucap Gita saat duduk dikursi kemudi, kamipun kembali ke rumah.


Kami sudah sampai dirumah, tubuhku terasa lelah, bukan hanya fisikku namun juga hatiku. Aku dan Atma berada di kamar saat ini, tiba-tiba Atma memelukku erat, 


"Sayang, kenapa? Hmm? Bilang sama Mama." ia hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah, kurasakan basah pada baju yang aku kenakan, aku mendorong pelan tubuh Atma agar bisa melihat wajahnya, dan benar saja Atma tengah menangis.


"At-ma ka-ngen Pa-pa Ra-ma, hiks hiks hiks ...." Suaranya terbata diiringi isak tangis, aku kembali memeluk memberikan ketenangan untuknya.


"Jika Atma kangen, cukup berdoa kepada Allah, Atma bisa mengadukan apapun pada Allah dan doakan Papa Rama agar bahagia, hanya itu yang bisa Atma lakukan. doa anak shaleh pasti didengar Allah, maaf sayang, Mama tidak mengijinkan Atma bertemu Papa Rama. Mama tidak mau kita nantinya bertengkar lagi dengan Tante Tasya." Atma tetap meneteskan air matanya meski sudah tidak terdengar Isak tangis, memisahkan Atma dan Mas Rama ternyata rasanya semenyakitkan ini, dari bayi Mas Rama sudah menjadi sosok seorang Papa untuk Atma. 


Beberapa menit kemudian, aku kembali ke kamar sehabis membersihkan tubuh, kulihat Atma sudah rapih dengan baju Koko dan kopiah diatas kepalanya, ia benar-benar melakukan apa yang telah aku katakan, Atma habis melaksanakan sholat isya, duduk bersila dan tangan menengadah, ku dengar lirih doa yang ia panjatkan ....


"boleh tidak ya Allah Atma meminta agar Papa Rama yang menjadi Papa sambung untuk Atma? Seandainya Allah mengabulkan doa Atma, Atma janji akan rajin shalat dan menjadi anak yang baik," ucap Atma penuh harapan.


"beri kebahagiaan untuk kami, Ya Allah, Atma sangat rindu Papa Rama, tapi Atma harus menuruti permintaan Mama untuk tidak bertemu Papa, Atma tidak mau Mama dimarahi Tante Tasya,"


"Atma mohon ya Allah pertemukan Atma dengan Papa Rama walaupun dalam mimpi, Atma sudah cukup senang bertemu dengan Papa dalam mimpi, berikan Atma, Mama dan Papa Rama kebahagiaan, Atma kangen Papa Rama, Atma ingin dipeluk Papa Rama setiap hari seperti dulu." kulihat Atma mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya mungkin ia tengah membayangkan momen kebersamaannya dengan Mas Rama.

__ADS_1


"aamiin ...." Ucap Atma diakhir untaian doanya.


Mendengar doa yang Atma panjatkan, air mata ini kembali menerobos keluar dengan derasnya dengan menahan suara Isak tangisku dari balik pintu luar kamar, aku hanya bisa terduduk dan menangis. Sebagai seorang ibu aku merasa gagal, aku tidak bisa membahagiakan Atma, bahkan aku melarangnya bertemu dengan seseorang yang menjadi kebahagiaannya. Mas Rama, sebegitu berartinya dirimu untuk anakku, Atma ....


__ADS_2