Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 69


__ADS_3

Rama dan Rio masuk ke dalam mobil, melewati pintu gerbang kompleks perkantoran dan sudah tidak dalam pengawasan pihak keamanan tentunya.


Kondisi jalanan sangat padat, Rama gusar selama perjalanan. Ia yakin akan telat menjemput sang istri, bahkan mobilnya tak bergerak sama sekali sedari tadi.


“Atau kita suruh Dokter Amanda dan Dokter Dina—istriku naik ojek online atau taksi online saja ya, Ram?” tanya Rio membuyarkan konsentrasi Rama pada layar ponsel.


[Kamu di mana, Mas?]


[Aku dan Dina sudah di ruangan dokter, menunggu kalian.]


“Sepertinya idemu bagus, Rio. Supaya kita langsung naik tol kota saja.”


[Aku dan Rio terjebak macet, kalian menggunakan ojek online atau Taksi online saja.] Balas Rama yang langsung terdapat ceklis 2 berwarna biru.


[Baiklah, hati-hati di jalan.] Amanda membalas pesan itu sambil menarik napas dalam.


“Sepertinya kita harus memesan taksi online deh, Din.”


“Kenapa? Bukannya para suami sedang dalam perjalanan mengantar kita?”


Amanda memperlihatkan layar ponselnya, sekilas lihat pesan dari Rama yang meminta mereka untuk memesan taksi online.


“Huh! Tahu gitu kita tidak usah menunggu ya, Amanda.”


“Sudahlah aku memesan taksi online, kita tunggu di lobi saja sepertinya sebentar lagi akan sampai,” kata Amanda yang langsung mengajak Dina ke depan lobi rumah sakit.


Saat mereka berjalan, tiba-tiba perasaan Amanda merasa tidak enak. Pikirannya tak lepas dari sang suami, wajah sang suami berada di pelupuk mata.


“Hahhhh!” Amanda mengembuskan napas.


“Kamu kenapa?” tanya Dina yang bingung.


“Entah ... perasaanku tidak enak.”


“Coba telepon anakmu si kembar sedang menangis mungkin atau Atma yang lagi ngedumel orang tuanya belum pulang padahal sudah lepas magrib,” kekeh Dina.


“Mungkin, sebaiknya aku telepon sesuai saranmu.”


Amanda langsung menghubungi telepon rumah, sang pengasuh mengatakan sinkembar tengah tidur dan Atma tengah bermain rebahan di kamar, tidak ada hal yang mengkhawatirkan, setidaknya membuat Amanda sedikit lebih tenang.


“Sudahlah Amanda mungkin perasaanmu saja, atau kamu mau dapat siklus menstruasi,” kata Dina menenangkan.


“Ah! Iya ... semoga saja semua dalam keadaan baik.”


Mereka akhirnya naik ke ojek online yang sudah dipesan, tidak memakai taksi online untuk menghindari kemacetan.


**

__ADS_1


“Papa akan membalas semua apa yang telah Rama lakukan padamu, Tasya.”


Herman—Papa Tasya menggenggam erat tangan Tasya, tatapan kosong ke depan. Kaki kanan dan kiri terikat di sisi ranjang, sesekali tertawa kecil. Rambutnya berantakan, tidak ada Tasya yang cantik, tubuhnya terlihat kurus, wajah tirus, kantong matayyang menghitam pun terlihat.


“Anakku ... Rama ... anakku,” katanya lirih.


Ketika nama Rama terdengar seketika kebencian bertambah berkali-kali lipat pada sosok sahabat anaknya itu, seseorang yang menjadi obsesi anaknya untuk dapat dimiliki tapi nyatanya memilih pergi.


Belum lagi saat Rama mempermalukan dirinya di depan rekan bisnis hingga ia sama sekali tidak memiliki muka di hadapan rekan bisnisnya lagi, berakhir kehancuran perusahaan miliknya. Beberapa bulan terakhir ia baru bisa membangun kembali perusahaan dan lebih kuat lagi sekarang berkat bantuan sahabat yang dengan baik hati membantunya.


“Rama ... kembalilah, anak kita sudah tidak ada, dia pergi kamu harus melihatnya.”


“Kenapa kamu sangat bodoh Tasya? Kenapa kamu menggantungkan cinta pada lelaki brengsek seperti Rama? Kenapa juga kamu bodoh menyerahkan mahkotamu pada lelaki yang tak dikenal. Jika papa tega, rasanya ingin membunuhmu dan Rama sekaligus. Kalian benar-benar memuakkan!” hardik Herman menarik baju Tasya hingga anaknya itu menangis bak anak kecil.


Tasya tidak mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa, Pak Herman selalu mengatakan anaknya tengah meniti karir di luar negeri untuk menutupi rasa malu. Nama baik dan harta yang diutamakan Pak Herman, ia mengabaikan kondisi anaknya. Yang ada hanya kebencian pada Rama yang membuat citra buruk pada rekan bisnis tapi sialnya tetap dicintai anak perempuan satu-satunya sampai gila.


Ponselnya berdering, orang kepercayaannya menelepon untuk memberikan laporan.


“Lakukan dengan cara halus, jangan sampai kalian tertangkap.”


“Baik, Bos.”


Rama masih berada di perjalanan, mereka melewati perumahan real estate yang sangat sepi untuk mencari jalan tikus agar terhindar dari kemacetan. Sepeda motor menghadang laju mobil, Rio dan Rama yang berada di dalam mobil saling tatap dengan sikap waspada.


“Sepertinya ada hubungannya dengan Herman,” kata Rama yang mendapatkan anggukan dari Rio, tidak ada musuh selain tua bangka itu.


“Kamu bisa bela diri kan, Ram?”


Prak!


Kaca mobil langsung di pukul keras oleh salah satu orang yang menghadang laju mereka, Rama dan Rio berusaha santai di tengah kepanikan mereka.


“Turun Lo!”


Seorang pria bertubuh tegap menarik kerah baju Rio sambil menodongkan senjata tajam, nyali Rio menciut juga melihat hal itu. Dari sisi Rama pun, pria bertubuh tegap itu menggedor pintu. Dengan berani Rama keluar dari mobil, tangannya di suruh ke atas oleh orang suruhan yang menyerang mereka.


Tangan pria bertubuh tegap itu sudah melayang ke udara, Rama menangis pukulan dengan lengan tangan yang terkepal kuat mengumpulkan tenaga pada salah satu otot tangan agar bisa menangkis bogeman.


Bugh!


Kaki Rama dengan sigap menendang bagian perut, lalu mukul dengan sikut tangannya.


“Rama tolong,” kata Rio yang memang tidak ahli bela diri.


2 kali tendangan dilayangkan kembali ke tubuh pria yang menyerangnya lebih dulu.


“Sialan Loe!” teriaknya mengerang sakit di bagian perut dan juga kaki.

__ADS_1


Rama memutar posisi menuju Rio yang sudah di todong dengan pisau pada bagian leher.


“Sekali Loe maju, temen Loe bakal Gue gorok,” kata preman yang berhasil membuat Rio bertekuk lutut tak berdaya setelah sebelumnya melakukan perlawanan juga.


“Jangan libatkan orang lain, kalian bermasalah dengan saya ‘kan? Ayo! Maju tanpa senjata jika memang kamu berani dan merasa paling jago,” kata Rama yang tetap melangkahkan kaki mendekati Rio yang posisinya semakin mengancam ketika leher sudah mengeluarkan rembesan darah karena goresan pisau yang tak sengaja mengenainya.


Pria yang menyerang Rama, perlahan bangkit. Ia melangkah tepat berada di belakang Rama, kesempatan emas menurutnya ketika posisi Rama membelakanginya sekarang.


Bugh!


Tubuh Rama tersungkur ke tanah dengan denyut nyeri dibagian tulang belakang, tubuh Rama di tarik hingga berdiri dan bogeman pun mengenai wajah tampan Rama bertubi-tubi hingga hidung Rama mengeluarkan cairan hangat berwarna merah.


“Rama!” teriak Rio yang tubuhnya juga memberontak agar terlepas dari tekanan pria yang kini di belakangnya dengan mengunci kedua tangannya cukup kuat.


Bugh!


Rama memberontak, langsung memberikan bogem mentah kembali, mengabaikan rasa nyeri di bagian wajahnya.


Merasa tersudut, Pria itu kembali maju dan mengambil sesuatu yang berada di sakunya, yaitu sebuah pistol berpeluru. Ia menodongkan ke arah Rama dengan seringai jahatnya.


Rio yang melihat hal itu sudah takut luar biasa, senjata api sudah membuat lutut Rio lemas bukan kepalang. Rama menaikkan kedua tangannya, pertanda menyerah tapi pria itu tertawa cukup keras.


“Ini untuk apa yang sudah kamu lakukan pada bos kami,” kata pria yang menodongkan Rama pistol.


“Letakkan senjata itu, saya akan melepaskan kalian!”


“Kau pikir kami takut.”


Mata pria yang menyerang Rama sudah memicing dengan satu mata tertutup, Rama tetap tenang sementara Rio sudah menutup mata karena takut luar biasa dan tidak siap jika sahabat sekaligus bosnya itu tertembak di depan mata kepalanya sendiri.


‘Tidak! Aku harus menolong Rama.’ Kata Rio dalam hati.


Dor!


Suara tembakan terdengar terpendam tapi getaran ketika peluru melesat terdengar.


“Tolong!” teriak Rio sekencang-kencangnya.


Erangan sakit terdengar keras memekakkan telinga, ketika peluru menembus rongga perut seseorang hingga tersungkur dengan bersimbah darah.


Bugh!


tendangan sekali lagi dilayangkan Rama ketika, sebelum peluru menembak ke arahnya, ia memelintir pergelangan tangan musuh lalu mengarahkan pistol ke arah perut musuhnya, pelatuk pun tertarik seketika oleh pria itu sendiri secara refleks.


~Bersambung~


Jangan lupa embuskan napas 🤭

__ADS_1


Like dan komentar ... boleh masuk ke dalam group chat yang sudah dibuat, supaya lebih saling mengenal.


Terima kasih supportnya untuk cerita ini 😍😘❤️


__ADS_2