
“Benarkah sudah lebih baik, Ma?” tanya Denis pada Bu Sinta yang sedang memperlihatkan perkembangan kesehatannya pada Denis dan Vanya dengan menggerakkan kedua tangan dan menaikkannya ke atas tanpa merasa sakit.
“Kamu bisa melihat sendiri perkembangan, Mama. Alhamdulillah sudah jauh lebih baik, jangan terlalu mengkhawatirkan Mama, Denis ... Vanya,” jawab Bu Sinta tersenyum semringah ke arah anak dan menantu yang setiap hari menjaganya.
“Tapi Mama belum bisa berjalan dengan sempurna, Vanya mengharapkan Mama benar-benar kembali normal seperti sedia kala,” imbuh Vanya yang masih khawatir.
Pasalnya Bu Sinta meminta agar kembali ke tanah air, dengan alasan tidak betah berlama-lama di Austria walaupun dengan fasilitas kesehatan yang sangat komplit hingga dalam kurun waktu sebulan kesehatannya berkembang dengan pesat setelah melalui beberapa treatment pengobatan.
“Lalu sampai kapan kita di sini? Mama ingin ditemani Atma—cucu Mama yang rasanya sudah lama tak bertemu, tak puas hanya menelepon dengan panggilan video, Nak,” kilah Bu Sinta yang merasa kesepian di rumah sakit tanpa mendengar celotehan Atma setiap minggunya seperti biasa.
“Tapi, Ma!” sangkal Denis yang langsung di potong oleh ucapan Bu Sinta.
“Mama ingin kembali secepatnya, Denis, Vanya! Tidak ada penolakan, bukankah kalian sudah menjalani terapi dan urusan bisnismu juga sudah selesai?” tanya Bu Sinta pada Denis.
“Kami berencana menetap di sini dalam jangka waktu cukup lama, Ma. Vanya sedang merintis bisnis kuliner khas Indonesia di sini, kami tidak akan pulang ke tanah air dalam jangka waktu dekat.”
Bu Sinta mendengkus kesal mendengar keputusan sepihak Denis tanpa bertanya apa yang ia inginkan.
“Kamu bisa tinggal di sini bersama Vanya, tapi tidak dengan Mama yang hatinya selalu menetap dan menginginkan berada di tanah kelahiran bukan negeri orang seperti sekarang,” tolak Bu Sinta tetap pada pendiriannya.
Vanya menghela napas panjang sebelum menjawab apa yang sudah menjadi keputusan sang Mama mertua.
“Denis ... aku tidak masalah jika kita tetap ke Indonesia, aku bekerja sama dengan teman dalam menjalani bisnis ini jadi aku bisa mempercayakan sepenuhnya pada temanku. Kita akan kembali ke tanah air demi kebahagiaan Mama, kamu tidak boleh egois,” putus Vanya yang membuat Denis merasa tidak enak karena ia sudah berjanji akan mendukung karir dan bisnis Vanya tanpa menghalangi terpenting Vanya bahagia dan tidak merasa tertekan.
Pernikahan kedua mereka membuat Denis benar-benar merubah sikapnya lebih memikirkan kondisi dan perasaan pasangan, tidak semena-mena dan selalu mengambil keputusan apa pun bersama, melibatkan Vanya dalam pengambilan keputusan.
“Baiklah jika memang kamu tidak keberatan, aku bisa apa jika kamu sudah memberikan keputusan,” sahut Denis pasrah dan akhirnya menuruti saran Vanya yang menyetujui untuk kembali ke tanah air.
“Terima kasih Sayang,” kata Bu Sinta yang merentangkan tangan lalu Vanya masuk ke dalam pelukan.
“Kamu memang wanita yang baik, istri baik yang selalu bisa menekan ego dan berpikir bijaksana. Tapi Mama akan bertanya sekali lagi padamu, apa kamu benar-benar tidak keberatan?” tanya Bu Sinta yang juga berusaha memahami Vanya dan berusaha untuk tidak bersikap semena-mena juga berdasarkan pengalamannya di masa lalu yang harus bisa mendengar dan memahami perasaan orang lain bukan hanya kebahagiaan dirinya semata.
“Vanya tidak masalah, Ma. Bagaimana pun lebih nyaman di tanah kelahiran, di negara kita bukan di negara orang lain, ya ‘kan?”
Bu Sinta mengangguk sembari tersenyum bahagia, “Terima kasih Vanya, terima kasih Tuhan yang memberikan menantu sebaik kamu, Mama bersyukur akan hal itu. Kamu dan Denis harus tetap harmonis dan saling mencintai apa pun yang terjadi,” kata Bu Sinta dengan harapan besar kebahagiaan untuk anak dan menantunya.
‘Seandainya aku bisa bersikap seperti ini dari dulu, mungkin anakku tidak akan merasakan kegagalan berumah tangga. Betapa bodoh dan egoisnya aku di masa lalu, beruntung anakku masih bisa merasakan kebahagiaan dengan pasangannya yang baru,” desah Bu Sinta dalam hati.
Terkadang seseorang diharuskan introspeksi diri, membenahi diri, memperingati diri agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti apa yang sudah terjadi di masa lalu. Manusia tidak akan berhenti belajar tentang makna sebuah kehidupan, agar menjadi pribadi yang memiliki kualitas diri bukan sekadar hidup tanpa bisa memetik sebuah makna kehidupan.
**
“Aku bingung, Amanda.”
“Apa yang kamu bingungkan?”
“Cara merayu Denis, aku rasanya frustrasi, Amanda. Denis tidak percaya diri bahkan pesimis itu yang membuatku gemas sendiri jadinya padahal sudah sering meyakinkan dan berusaha mengembalikan kepercayaan dirinya. Bahkan aku sama sekali tidak pernah membahas kelemahan dia saat kami sedang bersama,” keluh Vanya yang kini menelepon Amanda—seseorang dari masa lalu suaminya yang kini menjadi sahabatnya.
“Kamu harus lebih tegas lagi Vanya.”
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Ya ... kamu harus lebih menekan Denis, lebih menuntut Denis memberikan nafkah batin untukmu jangan hanya menunggu Denis melakukannya atas inisiatif dirinya sendiri,” saran Amanda yang dicerna oleh Vanya.
“Bagaimana caranya?”
“Tunjukkan obsesimu untuk meminta nafkah batin pada Denis, seorang pria akan tertantang.”
“Apakah tidak masalah, Amanda?”
“Tidak ada salahnya mencoba, Vanya. Kamu perlu tegas, jangan hanya menerima begitu saja, ini pun demi dia juga.”
“Baiklah akan kucoba, terima kasih Amanda sudah mau kurepotkan mendengar keluh kesah tidak jelas seperti ini, hanya kamu yang bisa kupercaya bisa memberikan saran yang baik untukku.”
“Kita sahabat bukan?”
“Tentu.”
“Tidak ada kata terima kasih antara dua sahabat karena kita akan saling membantu satu sama lain, Vanya. Good luck, semangat,” kata Amanda yang tersenyum dari seberang telepon, beberapa saat kemudian sambungan telepon mereka berakhir bersamaan dengan datangnya Denis masuk ke dalam kamar.
“Siapa?” tanya Denis menutup pintu kamar mereka.
“Oh! Ini teman.”
Denis hanya mengangguk dan tersenyum sebelum akhirnya merebahkan tubuh di sisi ranjang, begitu pun dengan Vanya yang ikut merebahkan tubuh di samping sambil mengumpulkan keberanian untuk melakukan apa yang disarankan Amanda.
Ketegasan ... satu kata yang membuat Vanya harus mengumpulkan keberanian dan memutar otak bagaimanapun memulai semuanya.
“Denis,” panggil Vanya yang membatalkan Denis memejamkan matanya, menoleh ke arah Vanya yang kini tengah memiringkan tubuh kearahnya.
“Ya ... ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan, hmm?” tanya Denis yang memahami ada sesuatu yang ingin dikatakan Vanya hanya dari raut wajahnya.
“Sampai kapan kamu terkurung dalam trauma berumah tangga? Bukankah psikiater mengatakan kamu harus berusaha keluar dari rasa ketakutanmu menyakiti seorang wanita yang berstatus istri? Sampai kapan aku menunggu?” cecar Vanya menatap Denis dengan perasaan berkecamuk.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu, Vanya? Bukankah kamu sudah tahu, aku belum siap sampai saat ini untuk memberikan nafkah batin untukmu. Aku belum sanggup, aku takut menyakitimu.”
Vanya mengikis jarak mereka, mengambil satu tangan Denis ke buah dada miliknya yang bentuknya sangat pas di tangan Denis.
“Kamu tidak akan berani jika tidak pernah mencobanya,” kata Vanya dengan suara mendesah guna menggoda Denis lebih berani lagi.
Perlahan Vanya membuka satu persatu kancing baju tidur Denis, meninggalkan rasa malu yang ia rasakan, sementara Denis menahan napas mendapatkan aksi berani Vanya untuk pertama kalinya semenjak mereka dipersatukan oleh ikatan suci pernikahan.
“Aku butuh nafkah batin darimu sekarang, tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Denis. Aku rasa sudah cukup memberikanmu waktu, aku ingin saat ini juga.”
“Vanya, apa yang terjadi padamu?” tanya Denis yang masih bingung dan cukup mengganggu ketenangannya.
Vanya tak menjawab, membuka baju tidur yang dikenakan dan hanya menyisakan lingerie yang sangat pas ditubuhnya dan menonjolkan kesan seksi yang bila pria normal tidak akan bisa menolak pesona Vanya.
“Vanya! Pakai bajumu kembali,” tegur Denis yang beringsut menegakkan tubuh ketika Vanya mengubah posisi berada di atas tubuhnya.
__ADS_1
Bergeming Vanya menarik tengkuk Denis, memberikan kecupan di bibir yang lembut tapi lambat laun menuntut. Denis mulai menikmati aksi berani Vanya, mereka sama-sama memejamkan mata menikmati sentuhan demi sentuhan.
Napas Vanya terengah-engah, ia melepaskan tautan untuk memasok napas ke rongga paru. Denis membulatkan mata ketika mendapatkan sentuhan agresif dari Vanya untuk pertama kalinya, diluar dugaan lambat laun sesuatu di bawah sana menegang sedikit demi sedikit.
“Kamu tidak akan menyakiti seorang wanita yang sudah berstatus istri, Sayang. Aku percaya padamu, aku menyerahkan seluruh hidupku padamu. Bahagiakan aku malam ini Denis, kita nikmati malam ini berbagi peluh dengan sentuhan yang akan memberikan kebahagiaan untuk kita berdua.”
Tangan Denis sudah mulai bergerilya di tubuh Vanya, membuka lingerie seksi yang digunakan Vanya dengan kasar, membuka pakaian yang ia kenakan hingga tanpa sadar mereka berdua melepas satu persatu yang dikenakan di tubuh hingga membuat keduanya tidak menggunakan pakaian sehelai pun.
Denis membalikkan tubuh Vanya, hingga tubuh istrinya berada dalam kuasanya tepat di bawah tubuhnya. Menarik selimut menutup lebih dari setengah tubuh mereka dengan posisi Vanya di bawah sambil menggumamkan sebuah doa yang memang harus dilafalkan sebelum mereka melakukan sesuatu yang akan membawa mereka ke kenikmatan surga dunia.
Tangan Denis bergerilya kembali memberikan sentuhan yang memabukkan untuk Vanya, ini pertama kalinya Vanya merasakan sensasi kenikmatan sentuhan dari seseorang yang berstatus bersuami. Saat pernikahan pertama mereka, Denis begitu dingin. Hingga saat itu Bu Sinta mendesak Denis dan Vanya memeriksakan diri, dan juga bertemu dengan Amanda dan Rama yang saat itu juga kebetulan berada di rumah sakit bersama Atma bayi.
Lenguhan terdengar, membuat Denis semakin tertantang. Setiap inchi tubuh Vanya tak lepas dari sentuhan memabukkan yang Denis berikan.
“Kamu sudah membangkitkan aku, Vanya.”
“Denis, ahh!” desah Vanya yang kembali memberikan sentuhan di atas tubuh Vanya.
“Aku yang akan memimpin permainan kita saat ini, permainanmu terlalu kaku dan klasik, Sayang,” bisik Denis yang membuat tubuh Vanya semakin meremang.
Denis terus melakukan foreplay, merilekskan tubuhnya, menekan ketakutan dan menguasai permainan ranjang yang untuk sekian tahun baru ia lakukan kembali bersama istri keduanya.
“Denis cukup kamu permainanku,” ucap lirih Vanya ketika hanya mendapatkan sentuhan tanpa ada klimaks sentuhan sementara sesuatu dalam diri Vanya menginginkan lebih dari ini.
“Kamu pikir kamu hebat? Kamu memiliki kemampuan untuk membuatku lemah dihadapanmu, hmmm? Pria akan selalu memimpin Vanya sekali pun itu di atas ranjang,” ucap Denis yang tangannya tak berhenti mempermainkan Vanya.
Dengan seringai penuh nafsu Denis memandang Vanya dengan tatapan sulit diartikan, sisi lain Denis bersyukur apa yang dilakukan Vanya membuat ia bangkit ketika harga dirinya merasa direndahkan oleh Vanya ketika Vanya memulai semuanya lebih dulu dengan menggodanya. Foreplay yang dilakukan Denis cukup membuat sesuatu di bawah sana menegang sempurna.
Menautkan kedua tangan, menekan tangan Vanya agar tidak bisa berkutik. Denis memajukan wajahnya, menikmati dua gundukan Vanya, memainkan sesuatu di atas sana. Sementara Denis mulai memasukkan sesuatu miliknya, mencoba terus menerus karena ini malam pertama untuk Vanya.
“Sa-kit, De—nis, hmmmppp.” Denis membungkam Vanya dengan bibirnya, lalu melepaskan tautan bibir mereka.
“Aku akan melakukannya pelan Vanya, bukankah kamu percaya aku tidak akan menyakitimu?” bisik Denis yang hanya ditanggapi dengan anggukan kepala Vanya.
Pekikan Vanya terdengar mengisi seluruh ruang kamar apartemen mereka ketika Denis memulai aksinya, Denis mengulum senyum ketika mendapati dirinya yang pertama untuk Vanya terbukti betapa sulitnya ia menyatukan miliknya.
“Tahan Sayang, bukankah ini yang kamu mau, hmmmm?” desis Denis yang hanya diangguki pasrah oleh Vanya yang sudah merasa sangat kesakitan.
Mengakhiri kesakitan Vanya, Denis menghentakkan miliknya hingga seluruh miliknya bisa menyatu di tubuh Vanya. Erangan Vanya terdengar, Denis memejamkan mata memainkan sesuatu miliknya di sana dengan ritme teratur hingga pada akhirnya Vanya menikmati sentuhan yang ia berikan.
Semakin lama, ritme gerakan Denis semakin tak beraturan. Hentakannya semakin cepat dan menuntut sesuatu di bawah sana menyemburkan benih di dalam rahim Vanya. Malam ini mereka benar-benar menikmati malam panjang dalam sebuah ikatan pernikahan berdasarkan cinta, menikmati sesuatu yang dinamakan surga dunia, menyatukan jiwa dan raga dalam ikatan suci pernikahan yang bernilai ibadah.
"Terima kasih," ungkap Denis yang kini memeluk Vanya dengan erat sambil memberikan kecupan sayang di kening sang istri.
"Aku berhasil," gumam Denis tersenyum semringah ketika Vanya sudah memejamkan mata karena lelah.
~Bersambung~
Selalu part panjang, semoga puas bacanya.
__ADS_1
Ambil baiknya buang buruknya 🤭
Like dan komentar, terima kasih support untuk cerita Pasca Cerai, terlove-lah pembaca NT. 😍