
“Cari tahu kegiatan perusahaan Denta Group pesaing perusahaan kita dengan perusahaan Frans Reikamazi,” kata Denis pada orang kepercayaannya.
Ia mengenal Frans jauh sebelum Vanya memperkenalkannya, jaringan bisnis yang Denis milikilah yang membuat ia cukup mengenal dan dikenal luas oleh rekanan maupun pesaingnya.
Denis mengambil beberapa foto dari jarak jauh, ingin rasanya ia menghampiri dan memberikan langsung pelajaran pada pria yang kini dekat dengan Vanya.
“Pasti dia memanfaatkan Vanya untuk kemajuan perusahaannya, tidak! Aku akan menghentikan langkahmu, Frans!”
Senyum sumringah terpancar dengan jelas di wajah Frans yang tengah berbicara dengan lawan bisnisnya, bukan hanya lawan bisnisnya melainkan lawan bisnis perusahaan keluarga Vanya yang sampai saat ini masih tetap bekerjasama meski hubungan keluarga antara mereka tidaklah cukup baik.
Frans bersama beberapa orang yang menemani, akhirnya berdiri, melangkah ke arah Denis. Dan secepat itu pula Denis bersembunyi, agar tidak terlihat oleh Frans dan lawan bisnisnya sambil tetap mencuri dengar.
“Saya harap anda bisa menikah dengan salah satu pewaris Tunggal Group untuk lebih melancarkan bisnis kita dan menghancurkan perusahaan Narendra, jika itu terjadi maka keuntungan kita akan semakin besar.”
“Saya pastikan hal itu, Pak Denta! Vanya mudah ditaklukkan, terlebih Narendra kini benar-benar menceraikannya,” kata Frans dengan gelak tawa bersama Denta yang juga ikut tertawa merasa menang di atas angin.
Tangan Denis terkepal sangat kuat hingga buku jarinya memutih, rasanya ia ingin memberikan bogeman di wajah Frans jika tidak mengingat jahitan operasi transplantasi hati yang sudah ia lakukan.
“Brengsek kamu, Frans!” geram Denis yang akhirnya hanya membiarkan Frans berlalu begitu saja, ia dalam posisi lemah. Mungkin jika ada bodyguard atau pembunuh bayaran sekali pun akan ia sewa untuk menghabisi Frans yang dengan teganya mencuri kesempatan dalam keterpurukan Vanya akibat perceraian.
Frans masuk ke dalam mobil, mobil yang berbeda dengan Denta meninggalkan Denis yang masih menatap sinis dari balik kaca bening yang tembus pandang.
Ada rasa kasihan dan tidak rela jika Vanya disakiti oleh Frans, jika hal itu terjadi maka Denislah orang yang bersalah ketika membiarkan Vanya terpuruk oleh kesedihan akibat dibohongi Frans jika memang mereka akan menikah nantinya. Kini Denis merasa menanggung beban yang cukup berat dipundaknya.
Denis menghela napas berkali-kali, mengembuskan perlahan menjernihkan pikiran untuk menimbang apa yang akan ia lakukan pada Vanya, bagaimana menjelaskan ini semua, dan terpenting apakah Vanya mempercayainya? Denis dibuat pusing sendiri dengan pikiran yang berkecamuk.
“Papa ...,” panggil Atma ketika Denis sudah masuk ke dalam mobil dan menghempaskan tubuh duduk di samping Atma yang kini asyik dengan cemilan ditangannya.
“Iya, Sayang.”
“Kok lama?” tanya Atma lagi, tidak biasanya Denis meninggalkan Atma lama ketika sedang di mall bersamanya.
“Tadi ngantri, Sayang,” jawab Denis yang masih terlihat gelisah, “jalan, Pak. Pulang mengantar Atma.” Lanjutnya.
Supir membelah jalan ibukota, melajukan mobil dengan kecepatan sedang sementara Atma dan Denis melakukan obrolan kecil. Pikiran Denis kini bercabang, perasaannya menjadi gelisah belum lagi memikirkan kesehatan ibunya yang akan berangkat ke negeri tetangga untuk mendapatkan pengobatan.
“Papa enggak main dulu sama kembar?” tanya Atma ketika sudah sampai di rumah dan tidak ada Amanda maupun Rama.
“Tidak sayang, Papa ada keperluan nanti mainnya ya. Sekarang Papa pulang dulu, weekend depan tidak bisa menemani Atma karena harus menemani Nenek berobat,” kata Denis yang mencium pipi Atma dan mengelus puncak kepala Atma seraya menyunggingkan senyum.
“Oh ... baiklah, Papa hati-hati, kabarkan Atma dan sering-sering telepon Atma.”
“Iya, Sayang. Salam cium untuk adik kembar yang lagi bobo,” sahut Denis yang diangguki Atma dengan cengiran lebar.
“Dadah, Papa,” kata Atma yang melangkah masuk ke dalam rumah sambil melambaikan tangan, Denis melambaikan tangan kembali dengan senyuman lebar.
“Dah!”
__ADS_1
Denis pun melangkah menuju mobil yang terparkir sebelum akhirnya langkah Denis terhenti ketika mobil Rama dan Amanda memasuki garasi rumah.
“Denis ... kamu tidak masuk dulu?” tanya Amanda yang keluar dengan tentengan barang belanjaan di tangan.
“Tidak, Amanda. Aku ada urusan mendadak,” tolak Denis yang kemudian menghampiri Amanda lebih dulu.
“Urusan Mama?”
“Bukan.”
“Paling urusan hati,” celetuk Rama yang keluar dari mobil berjabat tangan menghampiri Denis lalu merangkul pingang sang istri lalu mengecup pipi Amanda sekilas dengan senyuman yang tercetak sempurna kala melihat tatapan protes Amanda yang terlihat keberatan atas tingkah Rama yang menunjukkan kemesraan.
“Sudahlah tidak usah posesif seperti itu, Ram. Aku sudah biasa-biasa saja pada Amanda,” sindir Denis yang menebak pikiran Rama untuk membuatnya cemburu atau hanya mengetest ekspresi Denis—mantan rivalnya.
Rama tertawa kecil lalu melihat ekspresi Denis yang terlihat sebal tapi memang biasa saja tidak ada tatapan yang menyiratkan kecemburuan.
“Mau ke mana?” tanya Rama, tak biasanya Denis buru-buru pulang ketika di rumah, biasanya beberapa kali ke rumah, Denis akan bermain dulu dengan Aa dan si kembar di kamar anak-anak mereka.
“Sudah kubilang ada urusan, Rama!”
“Soal wanita, pasti!” tebak Rama yang diangguki lemah oleh Denis.
“Vanya.”
“Kenapa dengan Vanya, Nis?” tanya Amanda penuh selidik terlebih melihat ekspresi Denis yang tak mengenakkan.
“Ia akan dijebak oleh Frans, disakiti lagi oleh pria yang tak tulus mencintainya. Hah! Kupikir Vanya akan lebih bahagia jika lepas dariku, lebih tepatnya kulepaskan. Jika seperti ini aku jadi—“
“Sudah kubilang, kamu tuh kebiasaan Denis kalau sudah punya kesalahan atau merasa bersalah baru bertobat tapi selama pemikiran dan keputusan yang kamu ambil itu merasa sudah benar tak ada yang bisa mematahkan kecuali dirimu sendiri,” tukas Amanda yang gemas dengan sikap mantan suaminya yang tak pernah bisa lebih jeli menyikapi berdasarkan pengalaman yang sudah dilalui.
“Aku harus apa, Amanda, Rama?” tanya Denis yang seperti orang linglung sekarang.
“Perbaiki hubunganmu dengan Vanya, sudah kukatakan tak ada seorang lelaki yang bisa berdiri kokoh tanpa wanita dibelakangnya, Vanya cocok untukmu walaupun awal pernikahan kalian didasari sebuah kesalahan,” timpal Rama yang berbicara sangat serius.
Mereka sengaja berbicara di luar rumah agar Atma tidak mendengarkan obrolan orang dewasa, jika mereka masuk ke dalam rumah jangan bayangkan Denis, Rama dan Amanda bisa berbicara seperti sekarang karena Atma akan bermanja ria dan turut serta membawa adik kembarnya hingga semua tak akan bisa fokus membicarakan sesuatu yang serius.
“Apa aku pantas, Ram, Amanda? Setelah apa yang kulakukan padanya,” tanya Denis yang menyiratkan keraguan.
“Jangan sia-siakan waktumu hanya karena sebuah kesalahan dan ketakutan serta berpikir kamu tidak pantas untuk Vanya, tinggalkan pikiran yang membuatmu lemah, Denis! Berpeganglah pada pemikiran yang memberikan kekuatan dan keyakinan padamu, berjuanglah dengan seseorang Nyang memang pantas kau perjuangkan,” kata Rama yang benar-benar menyadarkan pikiran dan hatinya bahwa Vanya memang pantas untuk diperjuangkan terlepas pernikahan yang mereka mulai dari sebuah kesalahan.
“Aku pamit, Amanda, Rama, terima kasih sudah menjadi teman tukar fikiran sekaligus mencerahkan otakku yang bebal ini,” kata Denis yang menjulurkan tangan untuk berpamitan ndannsetelahnya meninggalkan Rama dan Amanda begitu saja tanpa mengucapkan apa pun lagi.
“Calon duda galau,” kekeh Rama sepeninggal Denis dari hadapannya.
“Mas,” tegur Amanda dengan mata mendelik sedangkan Rama tersenyum lebar dengan mengacungkan dua jari berbentuk V ke arah Amanda sambil mencuri kecupan di pipi lalu melangkah masuk lebih dulu masuk ke dalam rumah.
**
__ADS_1
Denis berada di depan rumah mewah bergaya Eropa, terparkir mobil di depan garasi yang ia ketahui mobil Vanya dengan satu mobil yang tidak ia kenali yang pasti bukan mobil orang tua Vanya karena mereka sudah lebih dulu bertolak ke Austria menjalankan bisnis di sana.
“Apakah itu mobil Frans?” gumam Denis yang tetap masuk ke dalam rumah dengan berjalan tergesa langkah kaki yang lebar agar cepat sampai.
Penjaga rumah serta asisten rumah tangga Vanya sudah mengenal siapa Denis, mereka hanya menunduk patuh tanpa bertanya ketika Denis masuk ke dalam rumah dengan perasaan tak karuan. Benar saja, Frans tengah berbincang dengan Vanya. Ia sejenak terdiam menguping apa yang dibicarakan Frans pada Vanya ....
“Kita bisa mempersiapkan pernikahan dari sekarang, Vanya.”
“Apa maksudmu, Frans? Bahkan aku belum memiliki akta cerai, masih ada satu tahap perceraian yang masih kujalani.
“Tapi kan kamu akan tetap bercerai Vanya, hanya soal waktu. Tidak ada salahnya kita mempersiapkan semuanya sejak awal.”
“Tapi Frans—“
Denis langsung muncul dihadapan mereka, memotong ucapan Vanya kini kedua pasang mata itu menatap Denis tanpa kedip. Ia seperti hantu yang muncul dalam rumah, bahkan jantung Vanya mencelos hingga dengkul mengetahui keberadaan Denis dalam rumahnya. Banyak tanya dalam benak Vanya ... bagaimana mungkin Denis berada di rumahnya? Dalam rangka apa? Atau ia sedang menuntut harta gono-gini? Atau ingin membuat sebuah perjanjian?
“Keluar kamu dari rumah ini, Frans!” titah Denis dengan mata menyalak tajam dan melangkah semakin mendekati Vanya dan Frans yang duduk terpaku.
Prok!
Prok!
Prok!
Frans bertepuk tangan sambil berdiri, menyambut kedatangan Denis dengan tertawa menyeringai sungguh menyebalkan.
“Apa yang akan kau lakukan lagi lelaki pengecut?! Menyakiti Vanya? Iya?! Kali ini aku tak akan membiarkan Vanya tersakiti lagi olehmu ... aku calon suami Vanya, jadi jangan mimpi mendekati dan memiliki Vanya kembali,” tukasnya tanpa ragu dan keyakinan yang cukup tinggi.
“Vanya masih sah menjadi istriku, belum ada kata talak yang terucap dan aku tidak pernah mengatakan talak padanya,” sergah Denis.
“Tapi pengadilan sudah memberikan putusan, kau bodoh atau apa sebenarnya?” ucap Frans tetap sinis.
“Masih ada waktu 14 hari untuk mengajukan banding atau menarik berkas kembali sebelum ada talak cerai pengadilan masih menanti keputusan kami berdua. Dan aku memutuskan tidak ada perceraian antara kami, jadi kamu menyingkir dari kehidupan Vanya jangan memperkeruh keadaan,” pinta Denis dengan suara tegas tanpa keraguan yang sukses membuat Vanya membelalakkan mata tak percaya.
“Apa maksudmu Denis? Tolong jangan permainkan hukum ataupun perasaanku, aku punya hati Denis jangan seenaknya saja kamu memberikan keputusan yang membuatku melambung tinggi dan seketika kamu hancurkan, tidak! Keluar kamu dirumahku, cukup Denis, cukup!” kata Vanya dengan suara bergetar menahan tangis.
Sungguh ia merasa dipermainkan, Denis tertegun dengan ucapan Vanya lidahnya kelu ketika melihat ekspresi kesedihan begitu tampak di mimik wajah cantik Vanya.
“Perpisahan menyakitkan, tapi aku baik-baik saja, aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, Denis. Dan itu karenamu, aku tidak ingin berharap padamu karena aku tahu ketika harapan itu hadir maka kekecewaan pun akan hadir.”
“Beri aku kesempatan,” pinta Denis dengan suara parau ketika hatinya pun merasakan sakit saat melihat kesedihan di wajah Vanya.
Bugh!
Frans langsung menghadiahkan bogeman di wajah Denis untuk menutup mulut Denis hingga tubuh Denis terhuyung dengan dada terasa sesak, pekikan Vanya pun terdengar melihat apa yang dilakukan Frans hingga lutut Vanya terasa lemas menyaksikan itu semua.
~Bersambung~
__ADS_1
Like dan komentar ....
Terima kasih untuk supportnya di cerita pasca cerai, ikuti terus sampai TAMAT ya. Terima kasih.