
Amanda dan Rama setia menunggu Atma di ruang rawat inap, menemani proses demi proses melewati tahap persiapan operasi yang akan dilakukan esok pagi. Wajah cemas tergambar di wajah keduanya, terutama Rama yang awam medis. Ia mengkhawatirkan terjadi kesalahan dalam proses operasi penutupan lubang pada jantung Atma.
Si kembar dititipkan pada pengasuh dan juga pada kedua ommanya, Abi Amanda menemani proses yang dijalani Atma.
“Atma membutuhkan donor darah, baru tersedia 1 kantong, Rama.”
Abi masuk ke dalam ruangan dengan tergesa, selain beliau tengah disibukkan dengan pasien, beliau juga selalu memantau keadaan Atma—cucu pertamanya.
“Aku bisa mendonorkannya, Bi.”
“Kurang 1 kantong, Abi menghubungi mama-mu katanya ia pun tengah mengalami tekanan darah tinggi, jadi tidak bisa mendonorkan darahnya malam ini.”
“Aku akan menghubungi group Rhesus negatif, semoga ada yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Atma.”
“Coba saja.”
Rama mengambil ponselnya, mulai mengetik tapi Amanda yang diam sedari tadi menghentikan jemari Rama untuk melanjutkan mengirim permintaan tolong di group golongan darah Rhesus negatif.
“Tidak perlu, Mas,” larang Amanda.
Rama tercenung mendengar larangan Amanda, Abi pun terlihat bingung melihat sikap Amanda.
“Kenapa, sayang?” tanya Rama.
Amanda mengambil ponsel Rama dan menghapus kata yang sudah berbentuk kalimat di layar ponsel sang suami, ia tersenyum hangat ke arah Rama dan Abi secara bergantian.
“Kali ini biarkan Denis yang mendonorkan darah untuk Atma, sesuatu yang belum pernah ia lakukan untuk anak kandungnya. Sesuatu yang pernah terabaikan olehnya, beri dia kesempatan, Mas.” Amanda menatap Rama dan Atma bergantian.
Lagi, Rama menuruti keinginan Amanda.
“Berdamai dengan masa lalu agar kedepannya hidup penuh kebahagiaan.” Kata yang selalu Rama tekankan pada dirinya, tidak dipungkiri ia pun tengah menekan ego-nya agar bisa menerima kehadiran Denis di antara mereka.
“Kamu yakin, Nak?” tanya Abi yang terlihat meragukan apa yang diucapkan Amanda, posisi yang hampir sama ketika Atma melakukan operasi pertama saat bayi.
Ingatan menyakitkan itu masih tetap diingat Abi, bagaimana ia marah sekaligus geram dengan mantan menantunya itu. Walau hanya anak angkat, Amanda dianggap anak kandungnya sendiri. Beliau tidak pernah membedakan kasih sayang antara Amanda dan Gita.
“Yakin, Abi ... Amanda paham Abi masih mengingat masa lalu, memaafkan untuk Abi adalah proses, memaafkan tapi sulit melupakan bukan?”
Abi mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan Amanda. Ya ... setiap orang tidak mudah menghapus sebuah kenangan pahit, kesedihan dan lara yang disebabkan oleh orang lain bahkan orang terdekat.
“Memaafkan bukan berarti melupakan, Abi. Amanda pun melakukan hal itu, tidak ada yang bisa menghapus ingatan yang sudah terekam dalam otak. Bagi Amanda ... memaafkan itu melepaskan sakit hati, tidak akan merubah masa lalu tapi Amanda yakin akan melapangkan masa depan,” terang Amanda tersenyum hangat.
“Kamu benar, Nak,” kata Abi yang membalas senyum dengan perasaan lega.
Mata Rama berbinar menatap sang istri, masalah hidup yang Tuhan berikan untuknya membuat Amanda bisa berpikir bijaksana, Rama bangga akan hal itu.
“Anak siapa sih ini, Bi?” celetuk Rama.
“Anak Abi Ummik lah,” sahut Abi terkekeh.
“Tambah cinta sama anak Abi-Ummik,” ucap Rama terkekeh dan langsung melingkarkan tangan di tubuh sang istri yang membuat Amanda mencebik kesal.
“Mas! Malu sama Abi!” protes Amanda yang berusaha merenggangkan lingkaran tangan yang cukup kuat.
Abi hanya terkekeh melihat aksi menantunya.
“Abi juga pernah muda, Amanda. Tanyakan saja pada Ummik apa saja hal absurd yang sudah Abi lakukan pada Ummik,” sahut Abi dengan tertawa kecil.
__ADS_1
Rama mengecup singkat pipi Amanda lalu melepaskan lingkarannya, tanpa malu dengan keberadaan Abi di hadapan mereka. Ahh! Biarlah sudah biasa mereka tampil mesra, pikir Rama.
“Aku keluar dulu, menelepon Denis. Khawatir Atma bangun jika menelepon di dalam.”
“Iya, Mas.”
Rama pun keluar dari ruang rawat inap, meninggalkan Amanda dan Abi. Kini Abi mengambil napas sebelum berbicara sesuatu.
“Abi harap kamu menjaga batasan antara dirimu dan Denis meskipun kalian sudah saling memaafkan, jangan sampai Denis menjadikan hubunganmu dengan Rama bermasalah,” kata Abi mengingatkan. “bagaimana pun kamu dan Denis cukup lama berumah tangga, bisa dengan mudah setan menutup matamu hingga khilaf dan menghancurkan semuanya, ingatlah ada si kembar. Jangan sampai nantinya si kembar menjadi korban perceraian orangtuanya.” Lanjut Abi.
“Astaghfirullahaladzim, Bi,” ucap Amanda sedikit tersentak dengan penuturan abinya.
“Kenyataannya mempertahankan butuh kehati-hatian dan perjuangan untuk menghadapi aral yang menghadang kehidupan setiap pasangan suami-istri.”
Amanda merenung sejenak, benar yang dikatakan Abi, pikir Amanda.
“Terima kasih sudah mengingatkan Abi, Amanda paham dan tidak akan melakukan kesalahanan karena Amanda selalu memegang prinsip menghargai sebelum pergi, menggenggam sesuatu yang sudah dimiliki dengan kuat karena Amanda sadar mempertahankan tidak semudah mendapatkan,” kata Amanda yang menarik dan menggenggam tangan abinya laku mengecup punggung tangan dengan takzim.
Tangan Abi terulur mengelus puncak kepala sang anak, tersenyum bangga apa yang ia ajarkan selalu dipegang teguh Amanda.
**
“Kamu makan dulu, Denis.”
Denis masih diam, sejak pulang dari rumah sakit pagi tadi tak ada aktivitas yang ia lakukan selain melihat foto kebersamaannya dengan Amanda dan Atma saat bayi.
“Denis sudah memutuskan sesuatu, Bu,” kata Denis sambil terus memandangi bingkai foto.
“Apa itu, Nak?”
“Kita akan menetap sementara waktu atau bisa jadi selamanya di Austria, bisnis di sana sudah mulai berkembang, di Indonesia perusahaan ritel kita sudah nomor 1. Saatnya aku mengembangkan bisnis keluarga bukan hanya Di Indonesia.”
“Ya tentu saja, persiapkan semuanya.”
“Bagaimana dengan Atma, Nak?”
“Ada Rama dan Amanda yang akan mengurus dan mendidiknya, Denis sudah percayakan pada mereka. Selama di sana Denis bisa berbenah diri, menata hidup agar lebih pantas menjadi orang tua untuk Atma, itu pun jika ia mengakui Denis sebagai papanya,” kata Denis tersenyum getir.
Sang Ibu mengelus punggung tubuh anaknya, “Maafkan Ibu,” kata sang Ibu penuh penyesalan.
“Lupakanlah kesalahan yang pernah Ibu lakukan, jadikan semuanya pembelajaran ke depan. Kita tidak bisa mengubah masa lalu, percuma jika meratapi.”
Bulir bening menerobos membasahi pipi ibunya, sesal ... percuma! Tidak bisa mengubah Atma dan Amanda menjadi milik Denis Narendra karena kebahagiaan mutlak milik Amanda dan Atma setelah melewati semua duka kesedihan.
Ponsel berdering, Denis langsung menerima panggilan telepon tanpa pikir panjang, jantungnya mencelos melihat nama Rama terpampang, berpikir terjadi sesuatu dengan anaknya.
“Atma baik-baik saja ‘kan? Tidak terjadi sesuatu pada Atma kan, Ram?!” cecar Denis dengan pertanyaan.
“Hei! Tenanglah. Atma baik-baik saja, hanya sekarang kami membutuhkan sesuatu dan kali ini istriku memberikan kesempatan untukmu.”
“Apa itu?”
“Donorkan darahmu untuk anak kita, itu pun jika—"
“Baik aku akan melakukannya, sekarang juga akan menuju rumah sakit. Tunggu aku,” jawab Denis yang memotong ucapan Rama dan langsung menutup telepon begitu saja tanpa salam saking senangnya.
Di seberang telepon Rama hanya mengembuskan napas.
__ADS_1
“Senang sih senang, tapi jangan lupakan salam! Cckkkk,” gerutu Rama.
Setengah jam kemudian Denis sampai di rumah sakit, Rama sudah menunggunya di lobi. Sesampainya Denis mereka langsung melakukan pendonoran darah di ranjang yang bersisian.
“Terima kasih,” kata Denis saat selang dialiri darah menancap di lengan mereka.
“Ada mantan suami, tapi tidak ada mantan anak. Kupercaya kamu akan berubah Denis, dan kuharap kamu tidak menusukku dari belakang, merebut kebahagiaan yang kini berada di genggamanku,” ucap Rama yang merupakan sebuah peringatan.
“Aku orang terbodoh jika melakukan hal itu, Rama. Percayalah! Cintaku sudah mati, aku sudah melihat kalian bahagia itu sudah cukup untukku. Aku hanya ingin dekat dengan anak kandungku hanya itu, bukti bahwa aku pernah normal,” kekeh Denis.
“You’re crazy,” cibir Rama dengan tertawa.
Tanpa dijelaskan, paham sudah tahu arti kata “normal” yang dikatakan Denis.
“Berobat dan cari pasangan!” kata Rama lagi.
“Tidak, aku tidak ingin membuat perempuan lain menderita. Biarlah seperti ini, Atma sekarang menjadi prioritas untukku. Titip Atma, aku akan pindah dari Indonesia,” kata Denis.
Rama menoleh mendengar hal itu setelah sebelumnya ia hanya memejamkan mata ketika berbicara.
“Temani Atma selama menjalani operasi, setelah itu kamu bisa pergi kemana pun kamu mau.”
“Terima kasih,” ucap Denis untuk kesekian kalinya.
**
“Ma.”
“Iya, Nak.”
“Papa mana?”
“Kan ada Mama, kok malah nanya Papa?”
“Bosan,” keluh Atma. “kangen Papa dan kembar.” Lanjutnya.
Amanda menengok jam yang berada di dinding, satu jam lagi Atma akan memasuki ruang operasi.
“Sedang di panggil Dokter, sebentar lagi Atma masuk ruang operasi, berjanjilah Atma akan kuat.”
Atma mengangguk patuh dan tersenyum tipis.
“Apakah sakit?”
“Tidak ... Atma akan tertidur dan tidak akan merasakan apa pun, jangan khawatir,” kata Amanda menenangkan, meletakkan kepala dalam satu bantal bersebelahan dengan kepala Atma laku mengecup pipi yang berisi itu dengan penuh kasih sayang.
“Boleh Atma meminta sesuatu?”
“Apa Sayang?”
“Papa Denis ada di rumah sakit ‘kan?” tanya Atma yang membuat Amanda terbelalak kaget.
Hanya anggukkan kaku yang Amanda berikan sebagai jawaban.
“Atma ingin bertemu sebentar supaya Tuhan tidak marah dan tambah sayang sama Atma, Mama, Papa dan adik kembar,” terang Atma yang membuat Amanda tak kuasa menahan bulir bening untuk tidak berduyun-duyun turun dari pelupuk mata.
~Bersambung~
__ADS_1
Support terus cerita ini ya ... komentar dan like penyemangat menulis. ditunggu komentar bawelnya. ☺️