Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 49


__ADS_3

💕 Happy Reading 💕


“Dari mana kamu, Denis?”


Bu Sinta menghadang langkah Denis yang baru pulang pukul 1 dini hari, dengan kondisi sempoyongan dan senyum-senyum tidak jelas.


“Bersenang-senang, Bu.”


Denis menjawab dengan sangat santai sambil tertawa kecil, sepulangnya dari kantor ia langsung menuju klub malam menyenangkan diri walaupun hanya sesaat karena apa yang ia lakukan tidak akan menyelesaikan masalah.


Plak!


Plak!


Bu Sinta memberikan tamparan keras di kedua sisi pipi sang putra, tapi Denis sama sekali tidak merasakan sakit sama sekali padahal tubuhnya terhuyung ke samping.


Wajah Denis sudah lusuh, kemeja yang saat berangkat terlihat rapi, kini sudah tak berbentuk. Bau alkohol pun menguar dari tubuhnya. Bu Sinta langsung menarik pergelangan tangan Denis yang sudah semakin sempoyongan ke dalam kamar mandi.


Bak anak kecil yang dimandikan sang Ibu, shower air langsung menyapa dan mengaliri tubuh Denis yang sudah terduduk di lantai kamar mandi. Basahnya tubuh Denis beriringan dengan basahnya air mata Bu Sinta. Penyesalan memang selalu datang di akhir, Bu Sinta bahkan sudah tenggelam dalam jurang penyesalan, ia yang sudah menghancurkan kebahagiaan anaknya hanya karena menuntut sebuah kesempurnaan.


“Kenapa kamu menyiksa diri seperti ini?”


“Sampai kapan kamu menghukum ibumu, hah?!”


“Bangkit, Denis! Bangkit! Bukankah kamu menginginkan Atma mengakuimu sebagai papanya? Bagaimana jika anakmu melihat kondisimu seperti ini, hah?!”


Teriakan Bu Sinta menggema ke seluruh ruang kamar mandi, Denis menatap kosong ke depan sambil meresapi guyuran air yang mengaliri tubuhnya.


Potongan kejadian masa lalu bersama Amanda, saat-saat perpisahan dan saat merasakan bagaimana sakitnya tidak diakui sebagai papa oleh Atma berputar diotaknya. Kini pikirannya memutar kejadian kebersamaan dirinya saat bersama Vanya, entah bagaimana perasaannya terhadap perempuan yang akan ia ceraikan. Belum bisa mencintai tapi berat jika ditinggalkan, di lain sisi ia juga tidak bisa menjanjikan cinta untuk Vanya, egois bukan?


Bu Sinta akhirnya ikut duduk di dalam kamar mandi, berhadapan dengan Denis lalu memeluk tubuh Denis yang basah ke dalam rengkuhannya. Tubuh Bu Sinta bergetar, di usia senja seperti ini seharusnya ia sudah merasakan kebahagiaan.


Bermain dengan cucu dalam satu keluarga yang utuh, tapi nyatanya hanya lara yang ia rasakan dalam kehidupannya akibat keangkuhan dan kesombongan. Benar saja kesombongan perlahan menghancurkan kebahagiaan.


Denis dipapah oleh dua asisten rumah tangga ke kamar, seperti bayi ... Bu Sinta setia menemani. Mengabaikan bajunya yang sudah basah, mementingkan anaknya yang sekarang dalam kehancuran akibat keputusannya di masa lalu.


“Ibu pikir apa pun yang telah Ibu pilihkan adalah hal yang terbaik, tak peduli perasaanmu. Tak peduli apakah anak ibu bahagia atau tidak. Tak peduli siapa saja yang akan tersakiti, ibu terlalu egois dan sombong saat itu.”

__ADS_1


Beliau mengelap rambut setelah Denis dengan sadar memakai pakaiannya sendiri, meskipun dalam keadaan setengah sadar ia mampu memakai pakaian sekenanya di dalam kamar mandi lalu setelah keluar dituntun sang Ibu ke sisi ranjang, berbicara dari hati ke hati.


Denis merebahkan tubuh, di kamar mandi memuntahkan alkohol yang berhasil masuk ke dalam tubuhnya. Sekarang menyisakan mual dan kepala pusing yang tak tertahankan.


“Biarkan semua orang pergi dari hidupku, ibu tahu? Hidupku sudah tak berarti ketika cinta sudah mati.”


“Atma bahkan tidak mengakui sebagai seorang papa, miris bukan jalan hidupku? Semua karena ibu, puas?!” teriak Denis dengan mata melotot lebar dan terlihat memerah.


“Ibu sudah menghancurkan hidup Vanya dengan menjodohkannya padaku, berumah tangga tanpa cinta hanya menuntut keturunan yang sempurna. Tapi Tuhan berkehendak lain, aku lah yang bermasalah, ketika dihadapkan dengan Vanya aku tidak bisa membangkitkan hasrat walaupun sudah meminum berbagai obat.”


“Ketika awal pernikahan Vanya langsung memeriksakan diri ke dokter spesialis andrologi serta fertilitas mencari penyebab utama penyakitku dan Ibu tahu tak ditemukan apa pun secara medis, Vanya berbohong mengatakan kalau ingin melakukan program hamil. Ibu tahu, aku tidak pernah menyentuhnya sama sekali.”


“Setiap malam kutahu Vanya menangis, tapi ia tetap setia sampai pada akhirnya aku lebih memilih bercerai dengannya. Ketika aku menculik Atma dan mendapati Amanda dalam kamar apartemen, hasratku kembali memuncak. Aku nekad ingin menodai Amanda hanya sebagai pembuktian kalau aku lelaki normal, tak memedulikan kalau Amanda telah menikah dengan Rama. Awal kehancuranku sesungguhnya, dibenci oleh anakku sendiri.”


“Semua salah Ibu.”


“Ibu yang salah.”


“Ibu yang menghancurkan hidupku.”


“Ya ... semua salah ibu, bahkan kamu berhak membenci ibumu, Nak.”


Di tarik selimut sampai sebatas dada, sang ibu mengelus wajah Denis yang sudah tertidur pulas. Wajah yang tetap tampan, rahang kokoh dan alis yang tebal. Sekelebat wajah Atma melintas, wajah yang sangat mirip dengan Denis saat kecil.


Ia mengambil bingkai foto yang selalu menampakkan foto sepasang suami-istri dan bayi di tengah pasangan itu dengan tersenyum layaknya keluarga bahagia, foto yang Denis ambil sebelum kata talak terucap. Foto yang selalu menghiasi kamarnya, kenangan kalau ia dulu pernah bahagia dengan keluarga kecilnya walaupun hanya dalam hitungan minggu.


“Ada yang layak diberikan kesempatan kedua, ada pula yang hanya di maafkan tanpa bisa memberikan kesempatan kedua, yaitu kamu, Denis ... bangkitlah mencari kebahagiaan barumu,” ucap Bu Sinta penuh harap dalam doa yang tersirat.


**


“Papa, bangun!” teriak Atma yang sudah naik di atas tubuh Rama dengan mata masih terpejam.


Atma menundukkan tubuh, memberikan kecupan selamat pagi untuk papa yang sangat ia sayangi. Rama sudah mulai terganggu dengan aktivitas Atma yang mengusik tidurnya, padahal seingat Rama ini adalah akhir pekan, tidak ada keharusan ia bangun pagi.


Bukannya bangun, tangan Rama memeluk erat tubuh Atma lalu mengapitnya dengan kaki bak guling yang membuat Atma berteriak dan memberontak.


“Weekend, Sayang. Ayolah kita tidur lagi saja.”

__ADS_1


“No Papa! Atma mau bersepeda santai pagi ini.”


“Nanti setengah jam lagi, okey?” Rama membuat kesepakatan.


“No!”


“Ayolah anak tampan, Papa masih ngantuk.”


Amanda yang kemudian masuk ke dalam kamar, menyunggingkan senyum bahagia melihat dua lelaki yang sangat ia cintai dan sayangi sepenuh hati. Tangan kiri dan kanan Amanda memegang tubuh kedua bayi kembarnya yang sudah terbangun sedari azan Subuh.


Kedua kaki dan tangan si kembar bergerak aktif, seolah ingin ikut menaiki tubuh kokoh Rama dan kakaknya. Benar saja, Amanda langsung menurunkan tubuh bayi kembarnya di sebelah kiri dan kanan Rama dan Atma. Setelah diletakkan di kasur king size kamar mereka, kedua bayi langsung berguling tengkurap dan menarik-narik baju Rama dan Atma.


“Ayo kembar kita gangguin Kakak dan Papa, “ kata Amanda.


Rama langsung menangkap tubuh Tama, dan Atma langsung memeluk tubuh Amara dengan gemas lalu menciuminya sampai wajah Amara merah dan menangis karena kesal.


“Cepat besar, nanti kita bisa main bareng. Kakak punya banyak mainan,” celoteh Atma yang mencubit pipi Amara dan Tama bergantian.


“Yuk, Mas! Bangun ....”


Amanda menarik tubuh Rama agar terduduk, “Kita mau ngapain sih, Sayang?”


“Keliling taman sama anak-anak,” kata Amanda yang langsung disambut sorak gembira Atma.


Amanda menaik turunkan alisnya ke arah Atma, seolah paham. Secara bersamaan mereka memberikan kecupan di pipi Rama, spontan Rama yang sudah duduk disisi ranjang langsung memeluk keduanya, tawa mereka pun pecah. Tawa penuh kebahagiaan.


Tidak lama bersiap-siap akhirnya mereka sampai di taman dekat rumah, udara segar lagi menyapa. Atma ikut membantu mendorong Stroller diiringi canda tawa keluarga kecil Rama-Amanda.


Rama dan Atma bermain bola, Amanda dan salah satu pengasuh menggendong si kembar sambil tertawa ketika Atma kocar-kacir ketika Rama menggocek bola. Saking senangnya, Atma memforsir tenaganya. Rama dan Atma tetap berlari sambil terus menggiring bola, pandangan Atma tiba-tiba mengabur napasnya semakin terasa sesak saat ingin mengejar bola yang digiring Rama.


“Atma!” teriak Amanda dan Rama secara bersamaan ketika melihat tubuh Atma ambruk di atas rumput taman.


~Bersambung~


Hadiah, vote, like dan komentar gaes .... 😍


Terima kasih sudah membaca dan selalu menantikan cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2