
...Tinggalkan jejak...
...Like dan komentar...
...💕 Happy reading 💕...
Malam ini kami tidur bertiga, posisi Atma berada di tengah Aku dan Rama, hari yang paling membahagiakan untuknya, keinginan Atma telah terpenuhi untuk tidur bersama Rama dan juga Aku dalam satu kamar, ia tidak hentinya berceloteh dengan Rama dan sesekali mengundang gelak tawa. Hubungan mereka sangat dekat, bahkan Aku merasa diacuhkan, ia benar-benar menumpahkan rasa rindunya kepada Rama.
Setelah Atma tertidur, Rama bangkit dari kasur menuju kamar mandi, ia belum sempat membersihkan tubuhnya karena Atma melarang ia kemanapun meski hanya kekamar mandi sekedar membersihkan tubuh.
Rama keluar dari kamar mandi dengan memakai celana boxer dan kaos santai berwarna biru, berjalan memutari kasur king size mendekat kearahku, ia duduk di pinggir kasur seraya menatapku, aku hanya diam terduduk berhadapan dengannya.
"Nggak usah malu Amanda, ini 'kan malam pertama kita," Ia mengelus pucuk kepalaku lembut hingga turun ke wajah, Aku bingung harus melakukan apa. "nggak usah khawatir, Aku nggak akan melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan, kita akan melakukannya perlahan sampai kamu benar-benar menerima Aku, karena kuyakin masih ada keraguan di hatimu saat ini. Asal kamu tahu Aku sangat mencintaimu, memilikimu dan Atma adalah anugerah untukku." Mendengar ucapan Rama, membuat hati ini terasa hangat, mataku mulai berkaca-kaca menatapnya lekat.
"Terimakasih Mas." Ia menganggukkan kepala dan tersenyum,Â
"Better?" Aku membalasnya dengan senyuman, Rama menarikku ke dalam pelukannya, dan merasakan lingkupan tangannya yang terasa hangat.Â
Suara Adzan subuh masuk ke indera pendengaranku, mengusir rasa kantukku dengan membuka mata perlahan, Aku merasakan tangan kekar melingkar di tubuhku, kepalanya bersandar pada bahu kananku, sementara di sebelah kiri kulihat Atma masih terlelap tidur meringkuk memeluk guling. Setelah sepenuhnya tersadar Aku beranjak untuk bangun perlahan, tetapi tangan kekar itu menarik kembali tubuhku bahkan memelukku sangat erat.
"Kamu sudah bangun?"
"Hmmm ... " matanya tetap terpejam, dan semakin mengeratkan pelukannya di tubuhku.
"Sudah Adzan subuh, yuk kita shalat Mas!"
"Satu menit lagi, tetaplah seperti ini, Aku masih ingin memeluk istriku, Aku tidak ingin terbangun dari mimpi." Dia seperti melindur antara tertidur dan bangun. Aku mencubit lengannya, meskipun tidak kencang tetapi lumayan bisa membuat Rama sedikit membuka matanya
"Mas, ini bukan mimpi." Aku menyentuh kening Rama memastikan ia tidak mengalami demam.
"Aku mencintaimu."
"Mas, ayo bangun, ckkk ...."
"Cinta, cinta banget sama kamu." sambung Rama dengan mata yang sudah terbuka, memandang wajahku, dan mengecup bibirku singkat. Ia pun tersenyum dan langsung berjalan ke arah kamar mandi, meninggalkan Aku yang mematung dengan jantung yang berdetak kencang. Kenapa sikapnya berubah semanis ini setelah kami menikah? Rama yang kaku entah pergi kemana.
Hari ini Rama rencananya akan ke Bandung untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih menanti di sana,
"Papa nanti kembali ke sini 'kan?"
"Tentu sayang, memang kenapa?"
"Atma kalau malam mau tidur setiap hari sama Papa."
"Nanti malam Papa usahakan kembali ke Jakarta jika pekerjaan di Bandung sudah selesai."
"Asyik .... " Atma memekik senang mendengar Rama tetap akan kembali hari ini.
"Kamu ikut suamimu 'kan Amanda?" Tanya Ummik
"Iya Ummik, kebetulan masih ada cuti dua hari."
"Kalian tidak usah kembali saja hari ini sampai besok nikmati waktu bersama kalian di Bandung."
"Tidak boleh!!!" Protes Atma.
"Atma sayang 'kan ada Nenek, Kakek, Omma dan Tante Gita yang menemani." jawab Ummik.
__ADS_1
"Atma, jangan ganggu Mama dan Papa ya, kamu mau punya adik bayi 'kan?" ucap Gita sambil mengoles selai pada roti ditangannya,
"Gita .... " Aku melebarkan mata agar Gita tidak berbicara lagi, ia pasti akan ceplas-ceplos berbicara seperti biasanya.
"Mau Tante, kalau sepulang dari Bandung, Mama dan Papa bisa bawa adik bayi untuk Atma, tidak apa-apa, sana Mama dan Papa pergi saja ke Bandung asal pulangnya bawa adik bayi!" Gita malah tertawa mendengar jawaban Atma, Abi dan Ummik juga ikut tertawa, membuat Aku salah tingkah.
"Memang Atma mau punya berapa adik bayinya?," Tanya Rama. "Biar nanti Papa pesan sama Allah lewat doa." sambungnya.
"Wah, Kak ... kode itu dari Mas Rama, sudahlah sana cepat kalian ke Bandung biar secepatnya pulang membawa adik bayi untuk Atma, karena percuma berdoa kalau kalian tidak praktek membuatnya." Gita tertawa geli meledek Aku dan Rama.
"Sudah Gita, jangan meledek Kakakmu terus." tegur Abi membela Aku, Rama hanya bisa tersenyum melihat Aku yang merasa malu dengan ucapan Gita, karena Aku belum melakukan kewajibanku sebagai istri.
Saat ini Aku dan Rama sudah sampai di Bandung tepatnya di kantor Arsitektur miliknya, ia terlihat sangat berwibawa di depan para karyawan, ia bersikap kaku seperti awal Aku mengenalnya, membuat segan semua orang yang berada di dekatnya. Sejak turun dari mobil sampai masuk ke dalam kantornya, ia tidak melepaskan genggaman tangan kami. Padahal semua mata tertuju pada kami,
"Mas, senyum dikit dong sama karyawanmu, jangan terlalu kaku cepat tua nanti." ucapku saat kami berada di dalam ruangan.
"Aku hanya tidak ingin karyawan besar kepala dan menganggap berlebihan sikapku kepada mereka, apalagi karyawan wanita." Rama tersenyum jahil ke arahku, ia mendekat dan menarik pinggangku, satu kecupan mendarat di bibirku untuk ke dua kalinya tapi kali ini ia menempelkan bibirnya dan mencecap bibirku, beberapa saat tubuhku meremang mendapat sentuhan itu, tiba-tiba pintu ruangan terbuka,
"Ma-af saya tidak tahu kalau kalian sedang ...."
"Oh Rio, tidak masalah," Rama menampilkan wajah dengan ekspresi biasa saja seperti tidak terjadi apapun. "Kenalin ini istri saya." Sambungnya pada Rio.
"Istri?"
"Iya, baru menikah kemarin."
"Serius Pak Bos?"
"Hmm."
"Acaranya sangat mendadak, sudah jangan di bahas, nanti akan ada pesta khusus karyawan, untuk memperkenalkan istriku."
"Terserah, sudah tidak menarik lagi untukku. Wah selamat ya Bu," Rio menjulurkan tangannya, Aku pun membalas uluran tangannya. "Hebat sekali Ibu bisa menaklukkan Pak Bos yang super galak ini."
"Benarkah?" Jawabku singkat sembari tersenyum.
"Rio ... saya potong gaji kamu kalau berbicara lagi tentang saya!!!" Tegur Rama. "Rio teman kuliahku Amanda, dia asisten pribadiku, jadi apapun yang diucapkannya jangan langsung dipercaya, terkadang ia sok tahu."
"Baiklah apapun katamu Pak Bos saya terima, tapi tidak dengan pemotongan gaji, oh iya saya lupa, diluar ada anak pemilik perusahaan ritel Ibu Sinta yang meminta jasa kita membantu merenovasi beberapa desain ruang di kantor milik mereka, dan berencana membangun gedung baru, sudah terjadi kesepakatan antara kita. Namun pemilik perusahaan itu meminta kamu sendiri yang mendesain semuanya, tidak mau diwakilkan."
"Baiklah, kita sudah lama bekerjasama dengan perusahaan mereka, persilahkan masuk!"
"Siap Bos."Â
"Aku nggak ganggu kamu 'kan mas?"
"Nggak, malah buat tambah semangat" aku tersenyum mendengar jawabannya. Rio akhirnya datang bersama seseorang disampingnya, seseorang yang aku kenal, seketika Rama menggenggam tanganku,
"Silahkan masuk, Rio tinggalkan kami!" Rio meninggalkan kami. "Sepertinya kita saling mengenal, dan tidak perlu berkenalan" ucap Rama sinis.
"Iya, aku sudah mengenalmu tapi Aku baru mengetahui jika kamu pemilik perusahaan jasa arsitektur yang bekerjasama dengan perusahaan milik Ibuku" Jawabnya tidak kalah sinis. lalu menatap ke arahku "Amanda, Aku tidak menyangka bisa menemuimu di sini" ucapnya lembut.
"Padahal Aku sama sekali tidak berharap bertemu denganmu lagi."
"Benarkah? mendengar ucapanmu itu membuat Aku terluka."
"Saat ini kita dalam konteks pertemuan dalam hal pekerjaan, jadi tolong anda bersikap Profesional!!!" Rama menunjukkan ketegasannya, "oh iya jangan lupakan posisi anda, Amanda istriku sekarang, jadi jaga sikap dan batasannya."
__ADS_1
"Istri? Sejak kapan? Oh iya, Dia mantan istri yang selalu Aku cintai dan rindukan jika kamu ingin tahu."
"Aku tidak menanyakan hal itu, bahkan tidak perlu tahu, karena kamu hanya mantan suami Amanda"
"Aku rasa kamu sudah gila, Denis ...." Aku mengeratkan genggaman tanganku dengan Rama.
"Iya Aku gila, itu karenamu Amanda Ayudya Prameswari." Rama mengepalkan tangannya dan bersiap maju untuk memberikan bogem mentah kepada Denis.
"Mas, jaga emosimu, jangan kotori tanganmu." bisikku pelan ditelinga Rama agar ia bisa mengontrol emosinya.
"Sebaiknya kita selesaikan proyek pekerjaan, singkirkan urusan pribadi, kita harus bersikap Profesional Bapak Denis." ucap Rama berusaha tenang meskipun Aku tahu amarah dalam dirinya, terlebih ketika ungkapan cinta dan rindu yang diungkapkan Denis.Â
Sejam kami bertiga dalam ruangan ini, Rama bisa mengendalikan emosinya dan melakukan pekerjaan sesuai perjanjian yang telah mereka sepakati sebelumnya, mungkin jika perjanjian itu belum ditandatangani, Rama akan membatalkan kerjasama mereka. Jika membatalkan sepihak pasti akan berbuntut ke persoalan hukum, jadi mau tidak mau Rama harus menangani desain yang diinginkan oleh Denis meskipun Denis sering mencuri pandang ke arahku. Aku tetap duduk mendampingi Rama tanpa terpengaruh oleh tatapan Denis sampai pembahasan tentang desain sudah selesai, Rama melakukannya dengan sangat Profesional ditengah rasa amarah yang ada pada dirinya. Sebelum Denis meninggalkan ruangan ini.
"Aku selalu mencintaimu Amanda, berulang kali aku berusaha mendatangi rumah Abi dan Ummik hasilnya nihil, Aku tidak pernah bisa bertemu denganmu dan anak kita."
"Kita sudah memiliki pasangan masing-masing, tolong hargai itu!!!"
"Jangan pernah mengungkapkan cinta dan rindu pada istriku, Amanda bukan milikmu lagi."
"Aku bersumpah tidak akan melepaskanmu Amanda meskipun kamu sudah memiliki suami, masih ada anak diantara kita, jangan kamu lupakan itu!"
"Kamu benar-benar sudah tidak waras, Denis."
"Jangan coba-coba mengganggu kami Denis," ucap Rama. "Aku tidak akan membiarkanmu dekat dan bahkan menyakiti Amanda dan anakku"
"Apa? Anakmu? Sepertinya kamu juga tidak waras Rama, dia anakku, buah cintaku dengan Amanda, Amanda tidak mungkin melupakan hubungan saat kami bersama sebagai suami istri. Kami dulu saling mencintai."
"Tolong jangan bicara yang bukan-bukan Denis, tolong hargai Rama sebagai suamiku, kamu hanya masa lalu untukku, sekarang hanya Mas Rama yang aku cintai, cinta untukmu sudah tidak ada sedikitpun sejak kamu dan ibumu membuang Aku dan anakku."
"Silahkan anda keluar Bapak Denis, desain akan dikirimkan oleh asisten saya." Rama menarik tangan Denis, dan mendorong kasar tubuh Denis untuk keluar dari ruangannya.
"Ingat Amanda, Aku akan mendapatkan kamu dan juga anakku lagi." ucap Denis sebelum ia keluar dari ruangan ini.
"Mas ... maafkan Aku." Rama hanya mengelus pucuk kepalaku tanpa mengucapkan sepatah katapun, saat ini ia dikuasai amarah atas ucapan dan sikap Denis. Inilah sebabnya Aku enggan menikah lagi, karena Aku masih di bayangi oleh masa laluku, Denis tidak mungkin tinggal diam, selama ini Ummik dan Abi menyembunyikan Aku dan Atma darinya, Aku tahu ia beberapa tahun belakangan ini berusaha mencari keberadaanku dan Atma.
Aku dan Rama pulang ke rumah Ibu yang biasa kami tempati di Bandung, selama perjalanan menuju rumah Rama hanya terdiam, sikap dingin seperti ini membuatku tidak nyaman dan khawatir terhadapnya, Aku tahu emosi sedang menyelimuti hatinya. Setibanya di rumah, kami disambut bik Tarsih, Ibu sebelumnya memberi tahukan jika kami akan menginap di rumah ini pada Bik Tarsih.
"Mbak," Bik Tarsih memelukku, "Akhirnya Mbak Amanda yang menjadi istri Mas Rama, Bibik senang."
"Iya Bik, doakan kami ya agar rumah tangga kami bahagia."
"Tentu saja Mbak, tanpa diminta, Bibik akan mendoakan kalian." Rama melewati kami tanpa berkata sepatah katapun, Bik Tarsih mengerutkan keningnya, ia merasa bingung. "Mas Rama kenapa Mbak?"
"Tidak apa-apa, mungkin lelah, Amanda masuk kamar dulu ya Bik."
Aku melangkahkan kaki menuju kamar, baru saja aku masuk kedalam kamar, Rama mengulurkan tangannya dan menarikku ke dekatnya. Lalu tangan itu melingkar di pinggangku dan wajah Rama persis di depanku. Saat Aku ingin mengucapkan sesuatu, Rama sudah mencium bibirku, ciumannya lebih intens dan menuntut, tangannya yang tadi ada di pinggangku kini berada di punggungku secara perlahan mengusap lembut, membuat bulu kudukku meremang dengan sentuhannya.
"Jadi, sudah siapkan?"
"Siap apa Mas?"
"Bercintalah denganku, Aku ingin menunjukkan kepemilikanku atas dirimu, Aku ingin menghapus semua kenanganmu dengan mantan suamimu, Aku mencintaimu, sangat mencintaimu ...."
Bisikkan di telingaku itulah yang membuat Aku mengerjap, mata kami saling bertatapan, Rama tersenyum dan matanya tampak melihatku dengan kilau tatapan yang berbeda, kilau tatapan yang dipenuhi oleh hasrat, lalu Aku seperti terhipnotis dan menuruti semuanya. Ia memperlakukan Aku dengan lembut di setiap sentuhan, perlakuannya padaku benar-benar perlahan, mencumbuku tanpa terburu, memberiku waktu untuk menyesuaikan semuanya.Â
Malam ini Aku sepenuhnya menjadi milik Rama seutuhnya, raga dan hatiku telah digenggam olehnya dalam suatu ikatan pernikahan suci, malam yang indah dan panjang untuk kami berdua, ketika dua insan bersatu dalam indahnya surga dunia ....
__ADS_1