Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 64


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


Denis mendapatkan perawatan intensif pasca ia tersadar, dokter melakukan beberapa rangkaian pemeriksaan fisik. Vanya masih setia menunggu kabar kondisi Denis di dalam dari dokter yang menangani, sempat dilanda kebingungan ketika Bu Sinta hilang dari sisinya padahal tadi beliau tepat berada di sampingnya.


“Mama kemana sih,” gerutu Vanya yang tiba-tiba merasa tidak enak perasaannya.


Di dalam ruangan Dokter memberikan rangsangan kesadaran untuk Denis, rangsangan cahaya ke mata, memberikan ketukan dan tekanan di beberapa bagian tubuh untuk menilai respon serta rangsangan nyeri dengan cubitan pada tubuh Denis.


“Pola napas teratur, Dok.”


“Suhu tubuh juga stabil.”


“Denyut jantung dan tekanan darah berangsur normal.”


Laporan kedua perawat yang ikut membantu Dokter memeriksa keadaan tubuh Denis, yang mendapat anggukan dokter mengisyaratkan mendengar laporan sambil terus memeriksa kondisi fisik lainnya seperti kondisi kulit yang mengalami ruam, kuning, kebiruan atau tidak pada tubuh Denis. Semua diperiksa secara detail dan menyeluruh.


“Siapkan data skala koma glaskow untuk menentukan tingkat kesadaran pasien,” titah Dokter kemudian.


“Baik, Dok.”


Denis sudah mulai melebarkan dan mengerjap mata berkali-kali, belum ada suara yang bisa terucap karena selang ventilator masih menutup mulut hingga ke rongga dada. Rintihan sedikit terdengar, rasa sakit yang di rasa Denis hingga ke sekujur tubuhnya.


Ingatannya kembali pada orang terkasih, Atma, Bu Sinta, Vanya, Amanda dan kebaikan Rama padanya. Semua kesalahan dan dosa kembali memutari pikiran, tahap refleksi diri akan semua yang telah dilakukan baik atau buruk.


Ingin rasanya menyerah karena rasa sakit, tapi bayangan senyuman Atma hadir di pelupuk mata. Seulas senyum sangat tipis hingga tak terlihat, bersyukur ia masih diberikan napas dan kesempatan untuk hidup walaupun sakit luar biasa.


“Aku ikhlas jika dengan sakitku ini bisa meluruhkan semua dosa menggunung yang sudah kulakukan, terpenting aku bisa bertemu dengan Atma—anakku,” kata Denis yang tertahan dalam hati diiringi bulir bening yang menetes dari sudut matanya.


“Ayo, Pak! Semangat, sehat ... istri anda setia menanti di luar. Keluarga anda sangat mengharapkan kesembuhan anda,” kata Dokter menyemangati Denis yang dijawab dengan kedipan mata.


Suster membawa ponsel yang berisi rekaman Atma pada Denis, salah satu perawat meminta rekaman tersebut dari ponsel Vanya. Dengan senang hati Vanya meminjamkan dan memberikan ponsel tersebut, setelah berada di dalam ruangan sang perawat memutar rekaman.


Derai air mata kembali berduyun-duyun turun, beriringan dengan semangat Denis untuk bisa sembuh dan memeluk anaknya kembali.


“Tunggu Papa ... semua janji akan Papa tunaikan untukmu, Sayang. Vanya betapa tulus cintamu untukku, rasanya diri ini semakin tak pantas untukmu,” kata Denis dalam hati.


Denis memejamkan mata kembali, kesadarannya tetap stabil hanya saja rasa sakit benar-benar menguliti seluruh tubuhnya.


**


“Atma ingin menjenguk Papa Denis,” pinta Atma yang belum menjenguk Denis lagi karena alasan kesehatannya yang harus tetap beristirahat sampai kontrol lanjutan pasca operasi 2 hari lagi.


“Tunggu Papa ya, Sayang. Sebentar lagi Papa pulang, sedang dalam perjalanan,” kata Amanda sambil menyuapi makanan ke mulut Atma.


Sambil makan, tangan Atma bermain dengan si kembar yang terlentang di sampingnya. Menggelitik tubuh dan mencubit gemas.


“Ngajak adik boleh tidak, Ma?”


“Mana bisa, banyak virus di Rumah Sakit.”


“Kan Mama dokter, bisa nyembuhin siapa saja.”


“Memang Atma tega, adik kembar sakit?”


Atma menggelengkan kepala kuat, “Enggak dong Ma, cuma mau ngasih tahu Papa Denis kalau sayang sama Atma harus sayang sama adik kembar juga,” ucap Atma polos.

__ADS_1


Entahlah apa yang dipikirkan Atma, tidak semua orang memiliki ketulusan seperti Rama pada Atma, mungkin saja Denis bisa menyayangi si kembar sebagaimana menyayangi dirinya atau bisa juga sebaliknya.


“Memang kenapa kalau Papa Denis tidak sayang sama adik?”


“Atma kan lahir dari dalam perut Mama seperti Adik kembar, jadi Papa Denis harus sayang sama adik kembar kan dari perut Mama sama kayak Atma. Benar kan?”


Amanda tersenyum kaku, bingung dengan pertama kritis Atma dan keinginan yang absurd.


‘Tidak mungkin kan aku bilang mereka dari benih yang berbeda sehingga tidak bisa disamakan kasih sayangnya.’ Amanda dibuat pusing menjawab pertanyaan Atma, tidak mungkin kan ia menjelaskan secara kedokteran juga tentang pembuahan ****** hingga ke indung telur.


“Semua orang tua pasti sayang sama anaknya jadi tidak perlu dipaksa untuk menyayangi, karena kasih sayang ada dalam hati kita,” kata Amanda menunjuk dada Atma.


“Benarkah?” tanya Atma memastikan merasa tidak puas dengan jawaban Amanda.


“Hmmm ... tentu saja.”


Atma menatap mamanya, ada rasa tak puas di sana.


“Bu ... ada tamu,” asisten rumah tangga membuka pintu kamar, mengalihkan fokus pembicaraan mereka.


“Siapa, Mbok?”


“Bu Sinta, Bu.”


“Nenek, Ma?” tanya Atma bingung.


Bukan hanya Atma yang bingung, Amanda dilanda kebingungan yang sama. Denis masih dalam perawatan rumah sakit, kenapa ibunya malah datang ke rumah? Banyak tanya dalam benak Amanda.


“Minta Mbak Ana--pengasuh ke kamar, Mbok. Biar jaga si kembar,” pinta Amanda yang sudah bersiap berdiri menghentikan aktivitas menyuapi Atma yang memang makanannya sudah habis.


“Sayang kamu tetap di kamar ya sama adik, Mama menemui Nenek dulu.”


“Boleh Atma menemui Nenek, Ma?”


“Nanti kalau memang Nenek ingin bertemu Atma, Nenek akan menemui Atma di kamar. Oke?”


Atma mengangguk patuh.


“Atau jangan-jangan Papa Denis kenapa-kenapa ya, Ma?”


“Tidak terjadi apa-apa, Sayang. Kamu main sama adik kembar ditemani si Mbak, Mama ingin menemui Nenek dulu,” kata Amanda yang mengecup kening Atma sebelum keluar kamar.


Kini Amanda keluar menuju ruang tamu rumahnya, rasa penasaran begitu membuncah, tidak mungkin Bu Sinta datang tanpa ada maksud apa-apa ‘kan? Amanda sangat yakin ada sesuatu dan berharap bukan sesuatu hal buruk yang akan disampaikan Bu Sinta.


“Mama ...,”


Bu Sinta langsung berdiri dan memeluk Amanda cukup erat tanpa mengucapkan kalimat yang membuat Amanda semakin bingung.


“Ada apa, Ma?” tanya Amanda yang meregangkan pelukan.


“Assalamu’alaikum,” salam Rama yang baru saja datang dan kini tersenyum hangat sambil menghampiri sang Istri.


Kedatangan Bu Sinta membuat Rama bingung juga, terlebih wajah sendu yang ditampakkan wanita yang sudah cukup usia di hadapannya. Namun, Rama bersikap seperti biasa, mengambil tangan Bu Sinta untuk ia cium dengan takzim bagaimana pun Bu Sinta adalah orang tua yang memang harus dihormati dan dihargai.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Bu Sinta dan Amanda bersamaan.

__ADS_1


Setelah memberi salam pada Bu Sinta, Rama menjulurkan tangan ke arah Amanda dan dibalas dengan uluran tangan serta mencium takzim punggung tangan Rama, kecupan mendarat di kening Amanda sambil tetap melempar senyum hangat satu sama lain.


“Di cari Atma, Mas.”


“Sudah pasti,” kekeh Rama.


Selama pulang dari rumah sakit Rama hanya datang ke kantor jika ada urusan penting, selebihnya diserahkan pada Rio dan pekerjaan dikerjakan di rumah terpenting bisa menemani Atma yang lagi mode manja.


“Ada apa Bu Sinta ke rumah?” tanya Rama setelah mereka duduk bersama di ruang tamu.


Bu Sinta wajahnya sangat tegang dengan gurat kesedihan.


“Bagaimana keadaan Atma?” tanyanya sebelum ke pokok pembicaraan.


“Alhamdullilah, tidak ada keluhan pasca operasi,” jawab Amanda yang duduk di samping Rama sambil melingkarkan tangan di lengan sang suami seolah tak ingin jauh dari suaminya itu.


“Mama mau bertemu Atma?” tawar Amanda.


“Ti-tidak ... biarkan Atma beristirahat.”


“Lalu, apa yang membuat Bu Sinta ke rumah kami jika memang bukan bertemu Atma sebagai tujuannya?” tanya Rama penuh selidik.


Tidak mungkin kan hanya kebetulan lewat dan mampir? Pikir Rama dan juga Amanda sedari tadi yang sampai sekarang belum terjawab karena sepertinya Bu Sinta masih ragu-ragu mengucapkan sesuatu yang menjadi niatnya.


“Sa—ya, hmmm ...,” ucapnya terbata dengan keraguan begjtu kentara.


“Silahkan berbicara saja, Bu.” Rama kembali meyakinkan.


“Atau terjadi sesuatu dengan Denis?” tebak Amanda yang sedari tadi sudah penasaran tingkat tinggi.


“Tidak, Denis sudah siuman,” sanggah Bu Sinta.


“Lalu?” desak Rama lagi.


Huhh wanita cukup berumur ini sedang mempermainkan kesabaran Rama dan Amanda, gemas sendiri jadinya. Rutuk Amanda dan Rama dalam hati.


Bukan menjawab kini Bu Sinta maju dan duduk bersimpuh di dekat Rama menyentuh kaki Rama sambil mengeluarkan air mata.


“Saya mohon, kamu mau menyumbangkan hatimu untuk Denis, anak saya dan saya akan membayar berapa pun untuk hal itu bahkan dengan seluruh kekayaan yang saya miliki,” kata Bu Sinta dengan tangis yang sudah pecah.


Jeder!


Permintaan yang langsung membuat amarah Amanda berada di ubun-ubun.


“Tidak!” tolak Amanda dengan mata menyalak dan suara lantang sedangkan Rama masih tertegun melihat ekspresi sedih dan permintaan Bu Sinta ....


~Bersambung~


Nah loh, ada yang bisa nebak? Rama menolak atau menerima?


Ajak gelud Bu Sinta yukk!


Like dan komentarnya jangan lupa, support terus cerita ini ya ....


Terima kasih sudah membaca karyaku yang pertama di Noveltoon, love kalian semua. Semakin semangat pas baca komentar kalian 😍

__ADS_1


__ADS_2