Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 45


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


Flashback Off


“Siapkan mobil,” titah Bu Sinta—Mama Denis. pada asisten pribadinya.


“Tapi Nyonya masih kurang sehat, harus tetap berada di rumah mendapatkan perawatan,” kata sang asisten—Eri.


“Sejak kapan kamu mengatur? Anak saya satu-satunya tengah di penjara, aset yang ingin saya berikan untuk Atma ditolak, lalu saya berdiam diri begitu saja? Tidak akan!” tolak Bu Sinta


“Tapi—"


“Siapkan!” titah Bu Sinta, tegas.


Bagaimana mungkin seorang Ibu hanya melihat tanpa membantu anaknya, bahkan jika harus kehilangan seluruh hartanya ia rela terpenting Denis menemaninya di usia yang sudah masuk usia senja.


“Tapi anda harus tetap memakai kursi roda, Bu.”


“Tidak masalah.” Bu Sinta melingkarkan syal rajut di lehernya dan membawa sebuah amplop yang berisi dokumen aset yang sudah diatasnamakan Atma Putra Narendra. Amplop yang sempat ditolak Amanda sesaat sebelum melahirkan ketika mendatangi mantan ibu mertuanya.


Mereka akhirnya menuju rumah yang ditempati Amanda dan keluarga kecilnya, terlihat Amanda tengah menggendong salah satu bayi kembarnya ke taman depan rumah yang terdapat gazebo dan kolam ikan bersama Rama.


Kebetulan akhir pekan, Rama berada di rumah membantu sang istri mengurus anak mereka walaupun ada baby sitter yang membantu, tapi itu adalah salah satu cara Rama untuk memberikan perhatian dan kasih sayang untuk keluarga kecilnya.


“Papa, Tama pup!” teriak Atma sambil mengendus bau yang tidak sedap di tubuh bayi Tama yang tengah diletakkan di stroller.


“Duh, Mas ... Amara juga nangis nih. Bersihkan pup Tama ya,” pinta Amanda.


“Siap, Sayang. Jangan lupa upahnya nanti malam,” kata Rama mengedipkan satu matanya.


“Ckkk!” decak kesal Amanda melihat tingkah Rama yang menggoda.


Baru saja selesai nifas, rutuk Amanda yang langsung melangkah masuk ke dalam, guna menghangatkan susu ASI perah untuk bayi Amara ke dapur.


“Tenang, ini bagian kita. Bukan kali pertama kita mengurus si kembar ‘kan?” tanya Rama sambil menyodorkan telapak tangan ke arah Atma hingga akhirnya mereka bertos ria.


“Nanti kalau sudah besar kalian harus patuh sama Kak Atma ya, lihat Kak Atma membantu mengurus kalian loh,” kata Rama yang dengan cekatan mengganti popok bayi dan membersihkan kotoran menggunakan tisu basah.


“Kalau kalian tidak nurut, nanti Kak Atma marahin,” sahut Atma yang menutup hidungnya sambil mengambil celana baru yang berada di bawah stroller.


Rama terkekeh mendengar celoteh Atma, perangai Atma yang sudah terlihat jelas ketegasannya membuat Rama yakin anak pertamanya itu akan menjaga kedua adiknya dengan baik.


Seorang penjaga pos gerbang datang menghampiri Rama dan Atma yang baru saja selesai membersihkan pup Tama, kepala Rama mendongak melihat seseorang yang ingin menginformasikan sesuatu.


“Ada seseorang yang mengaku bernama Bu Sinta ingin bertemu anda, Pak,” adu penjaga gerbang.


Atma langsung melebarkan mata mendengar nama itu disebut, ia tahu nama itu adalah nama neneknya.


“Jangan perbolehkan Nenek masuk!” tolak Atma yang langsung berlari masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil mamanya yang membuat Amanda tersentak kaget mendengar teriakkan Atma.


“Kenapa, Sayang?” tanya Amanda yang mengelus kepala Atma ketika tiba-tiba sang anak memeluk tubuh mamanya.


“Mama enggak boleh keluar, Mama harus di dalam bersama Atma. Atma enggak mau Nenek ngejahatin Mama, enggak! Enggak!” kata Atma yang terlihat trauma.


Mendengar perkataan Atma membuat Amanda mulai paham, ia langsung memanggil baby sitter untuk menyerahkan bayi Amara agar bisa mengurus Atma yang tengah menangis. Setelah Amara diserahkan ke baby sitter, Amanda menurunkan tubuh agar sejajar dengan tubuh Atma.


“Sayang ... dengarkan Mama, tidak ada yang bisa menyakiti kita, bukankah ada Papa? Kamu percaya kan sama Papa? Bukankah Papa superhero untuk kita? Hmmm ...,” kata Amanda yang menghapus air mata Atma yang tidak berhenti menangis dari balik kaca yang Atma kenakan.

__ADS_1


“Kita temui Nenek,” ajak Amanda yang menggandeng tangan Atma dengan erat, di saat yang bersamaan Rama masuk menghampiri mereka.


“Ada Bu Sinta,” terang Rama yang memberitahukan kedatangan mantan mertua Amanda.


“Iya, Mas.”


“Sini papa gendong, jagoan jangan takut,” kata Rama menenangkan dan memberikan keberanian untuk Atma.


Namun, Atma tetap mengeluarkan air mata dan menggelengkan kepala seakan memang tidak mau bertemu dengan neneknya. Kejadian terakhir ketika Amanda melahirkan sesaat bertemu dengan neneknya membuat Atma trauma, merasa neneknya lah yang menyakiti mamanya.


Atma menyembunyikan wajah di bahu kokoh Rama, Amanda menatap khawatir suasana hati Atma tapi Rama tersenyum hangat.


“Everything its okey,” kata Rama menyadari kekhawatiran Amanda.


“Apa yang diinginkan Ibu?”


“Kita temui, aku sudah menyuruh penjaga gerbang untuk mempersilahkan beliau masuk.”


“Apa ini ada hubungannya dengan Denis, Mas?”


“Entahlah, terpenting kita menghargai tamu yang sudah hadir. Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, agar kedepannya kita tidak memiliki masalah dengan keluarga mantan suamimu. Bersikaplah bijak, Sayang. Ingat kamu sudah memiliki 3 anak, percayalah aku akan melindungi kalian,” terang Rama meyakinkan sang istri.


Amanda mengembuskan napas dalam dan membuangnya perlahan, mengelus puncak kepala Atma yang tetap dalam posisi menenggelamkan wajah di bahu Rama. Mereka akhirnya melangkah ke ruang tamu, bayi Tama sudah dititipkan lebih dulu ke baby sitter sebelum Rama menghampiri Amanda dan Atma.


“Amanda,” panggil Bu Sinta terlihat binar penuh harap dimatanya.


Dengan tetap menghormati ia sebagai orang tua, Amanda mengulurkan tangan ke Bu Sinta yang disambut dengan uluran tangan Bu Sinta yang terlihat ragu.


“Apa saya masih pantas dihormati?” tanyanya sebelum benar-benar memberikan tangannya untuk dicium takzim oleh Amanda.


“Sebesar kesalahan Ibu, bagaimana bisa aku membenci ketika karena Ibu juga Atma berada di dunia ini.”


“Atma,” panggil Bu Sinta lirih.


Amanda menggelengkan kepala sebagai tanggapan ke arah Bu Sinta, “Biarkan Atma tenang, Bu. Ia masih tidak bisa menerima keberadaan Ibu,” kata Amanda.


“Apa yang membuat Ibu datang ke rumah kami?” tanya Rama kini dengan suara tegas dan ekspresi penuh selidik.


Amanda menatap Bu Sinta yang terlihat gugup dan tegang ketika mendengar pertanyaan Rama, seakan mengetahui Bu Sinta akan mengucapkan sesuatu yang penting. Amanda meminta seorang baby sitter untuk membawa Atma ke dalam.


“Atma sama Mbak, biar mama dan Papa berbicara dengan Nenek,” pinta Amanda.


“Untuk Apa? Nenek suruh pulang saja,” kata Atma.


“Sayang ... itu namanya tidak sopan, minta maaf sama Nenek,” titah Rama.


Atma menggelengkan kepala lalu masuk begitu saja, meninggalkan mereka tanpa pamit karena kecewa merasa Rama lebih membela neneknya.


Amanda ingin menyusul Atma tapi Rama menahannya, “Kita selesaikan masalah dengan mantan ibu mertuamu dulu,” kata Rama yang langsung ditanggapi dengan anggukan pasti Amanda


“Ibu mohon agar kalian mencabut laporan tentang Denis, kita selesaikan dengan kekeluargaan. Sebenarnya Ibu bisa saja mengambil jalur cepat untuk membebaskan Denis tapi rasanya akan semakin jahat dengan kalian jika melakukan hal itu. Ibu minta keikhlasan kalian, dengan perjanjian kami tidak akan mengganggu kehidupan kalian, Ibu janji,” mohon Ibu.


Rama spontan menggelengkan kepala, “Dia hampir membunuh Atma, dia juga hampir menodai istriku, apakah pantas bebas begitu saja? Tidak! Saya tidak akan membiarkan Denis lepas begitu saja,” kata Rama.


Mendengar hal itu, Bu Sinta langsung menjatuhkan tubuh dari kursi roda dan menekuk lutunya, duduk bersimpuh sambil menautkan kedua tangannya memohon kemurahan hati Rama dan Amanda.


“Ini semua salah Ibu, salah Ibu yang memisahkan Amanda dan Denis sehingga dia frustrasi. Denis satu-satunya anak Ibu, Ibu mohon dengan sangat, pandanglah Ibu yang tidak memiliki siapa pun selain Denis. Jika ibu bisa memilih lebih baik Ibu yang berada di jeruji besi karena ini semua akibat keangkuhan, dan kesombongan Ibu,” kata Bu Sinta yang langsung menangis tergugu di depan Rama dan Amanda.

__ADS_1


"Terimalah semua aset ini, Nak Rama dan Amanda. Ini sudah ibu persiapkan semuanya," kata Bu Sinta, lagi.


Rama menggelengkan kepala kuat sementara Amanda menatap sendu perempuan yang dulunya angkuh kini tengah masuk bahkan tenggelam ke jurang penyesalan.


Amanda menghampiri Bu Sinta dan menaikkan tubuh yang sudah bergetar karena tangis, hidup kesepian tanpa anak dan tidak diakui oleh cucunya sendiri adalah hukuman terberat untuknya.


“Bebaskan Denis dengan kekuasaan dan materi yang Ibu miliki, kami tidak akan mengajukan banding lagi,” putus Amanda yang membuat Rama terbelalak kaget.


"Tapi kami tetap menolak semua aset yang Ibu berikan, aku ingin membesarkan Atma dengan hasil keringatku sendiri." Lanjut Amanda.


Sedangkan Bu Sinta langsung memeluk erat Amanda, selama ini proses hukum sengaja diulur oleh Bu Sinta dengan banding dan langsung di balas dengan banding juga oleh pihak Amanda, putusan 15 tahun bukanlah keputusan tetap. Dan terakhir pengadilan tinggi memberikan waktu 7 hari untuk mengajukan banding atas putusan terbaru hakim. Namun, sebelum melakukan banding Bu Sinta berinisiatif meminta belas kasih Amanda agar ia bisa berkumpul kembali dengan Denis.


Setelah melakukan obrolan kecil, Bu Sinta akhirnya pamit sementara Rama masih berekspresi datar. Kecewa dengan keputusan sang istri, tapi ia juga tidak mau memaksakan kehendak.


“Apa yang kamu lakukan, Amanda?” tanya Rama dengan nada protes setelah Bu Sinta pamit dari rumahnya.


Amanda langsung menyandarkan kepala di bahu Rama, menggenggam erat tangan itu.


“Sampai kapan kita akan terbelenggu oleh kebencian, Mas? Hidup terus berlanjut, berdamai dengan masa lalu dan mengikhlaskan segala yang telah di takdirkan-Nya dapat menghilangkan belenggu yang menyesakkan hati, memaafkan adalah awal menggapai kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Aku menginginkan hal itu, Mas,” terang Amanda yang kemudian tersenyum lebar manatap sang suami dengan binar bahagia.


Rama hanya bisa pasrah dengan keputusan Amanda, tapi ia tidak akan membiarkan mantan suaminya itu menyentuh bahkan menyakiti istri dan anaknya selepas dibebaskan, janji Rama dalam hati.


Flashback off


Asisten Denis melakukan tugasnya dengan baik, mendesak pihak Rama agar bisa bertemu dengan bosnya.


hari ini pertemuan mereka, Rama tidak memberitahukan Amanda akan pertemuan hati ini, biarlah ini urusan lelaki, pikir Rama.


Kini Rama menatap nyalang Denis yang sudah berada dalam satu ruangan dengannya, tatapan kilat amarah begitu terpancar di mata Rama. Sungguh ia membenci seseorang yang berada di depannya, jika tidak mengingat Amanda dan Atma yang akan kecewa saat ia menghabisi wajah tampan Denis mungkin sudah ia lakukan sedari awal Denis masuk ke dalam ruang kantornya.


“Tidak perlu bertele-tele, katakan apa maksudmu!”


Denis tersenyum menyeringai ke arah Rama seakan menikmati amarah yang ditunjukkan Rama.


“Apakah kalian bahagia?” tanya Denis yang masih menggantung tujuannya datang ke kantor Rama hari ini.


“Pertanyaan yang tidak perlu kujawab, tentu saja kami bahagia bahkan sangat bahagia,” jawab Rama yang menatap lawan bicaranya dengan tatapan sinis yang begitu kentara.


“Aku pikir masih ada kesempatan kedua untukku yang diberikan Amanda sehingga kami bisa bersatu kembali, aku mencintainya—“


Bugh!


Tanpa mendengar lanjutan ucapan Denis, bogem mentah sudah mendarat sempurna di wajah Denis.


“Ya ampun, Mas!” pekik Amanda yang muncul di ambang pintu.


Denis mengelap sudut bibirnya yang berdarah, sedangkan Rama memandang Amanda dengan tatapan tak percaya.


‘Kenapa bisa Amanda berada di sini?’ tanya Rama dalam hati.


‘Arghhh! Pasti istriku akan kecewa, sial!’ rutuk Rama yang tertahan di dalam hati.


~Bersambung~


Bagaimana respon Amanda? Apa yang akan dilakukannya? ditunggu kelanjutannya ya ....


Jangan lupa like, komentar dan vote jika berkenan agar semakin banyak yang membaca cerita ini.

__ADS_1


Komentar ya, walaupun hanya next untuk penyemangat menulis kelanjutannya. Untuk membantu author agar cerita ini terbaca sistem komentar dan like sangat dibutuhkan.


Yuk! saling support, Terimakasih semuanya 😍☺️


__ADS_2