Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 52


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


“Sayang ...,” ucap Amanda memanggil sang anak yang kini sudah memejamkan mata.


Atma tidak ingin melihat papa kandungnya sama sekali, ingatan kejadian terakhir saat dirinya diculik oleh Denis masih menjadi trauma tersendiri untuk psikis Atma. Rama dan Amanda sangat memaklumi dan memang sejak awal sudah menduga sebelumnya, kalau Atma enggan bahkan tidak ingin bertemu dengan papa kandungnya.


“Dia jahat, Ma.”


“Nak ...,” panggil Rama yang sekarang mencoba memberikan pengertian.


“Atma tidak mau, Pa. Atma benci dia, suruh dia pergi!” pinta Atma.


Dadanya sudah kembang kempis, Amanda yang melihat hal itu langsung memberikan pelukan pada Atma, elusan di puncak kepala pun Rama lakukan. Atma membutuhkan dirinya dan Amanda untuk menguatkan Atma.


Hidup tanpa orangtua yang utuh, menempa pribadi Atma lebih keras dan dewasa dari anak seusianya. Tidak ada yang ingin dilahirkan dengan ketidak sempurnaan, begitu pun Atma. Ketika nalar seorang anak memahami dengan sendirinya betapa jahat papa kandungnya, kelembutan hati dan kepolosannya terganti dengan kebencian dan amarah.


Bagi Atma, hanya Rama papanya bukan Denis!


Amanda mengelus wajah Atma dengan penuh kelembutan, Atma merasa nyaman, senyum tipis tersungging di wajah tampannya.


“Sayang ... tidak baik marah dan benci dalam waktu lama, Tuhan akan marah dan tidak menyayangi Atma lagi nantinya. Tuhan akan bertanya sama Mama dan Papa, apakah sudah mengajari Atma dengan baik?”


“Lalu?” tanya Atma penasaran.


“Tuhan akan mencabut kebahagiaan kita, menggantinya dengan kesedihan karena amarah dan benci adalah sifat setan.”


“Benarkah?” tanya Atma lagi.


Amanda mengangguk, berusaha menjelaskan dengan kalimat sederhana sesuai umur Atma. Berharap perlahan hati Atma akan melembut, tidak sekeras seperti saat ini.


“Tapi Atma tetap benci dan marah sama dia,” putus Atma yang membuat Amanda dan Rama menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


Dia ... tidak ada panggilan Papa untuk Denis.


“Ya sudah Atma istirahat, nanti biar Papa yang menemui Papa Denis. Biar Mama yang menemani Atma di ruangan,” kata Rama yang hanya dijawab dengan acungan jempol Atma.


Cukup! Amanda dan Rama tidak ingin memaksakan Atma untuk bisa memaafkan Denis. Biarlah waktu yang akan mengobati luka hati Atma, yang jelas mereka tidak merasa bersalah. Menghasut Atma untuk membenci atau marah pada papa kandungnya sendiri, Rama dan Amanda tidak ingin ada penyesalan ketika membiarkan Atma larut akan perasaan benci dan marah atas kejadian masa lalu.

__ADS_1


Rama keluar dari ruangan, menemui Denis yang kini sudah terduduk di ruang tunggu tidak jauh dari ruang rawat inap dengan menangkupkan tangan di wajahnya. Rama menepuk bahu Denis, lalu terduduk di sampingnya.


“Kita ini orang tua sekarang, seharusnya tingkat kedewasaan kita semakin matang ‘kan?”


“Tentu saja,” jawab Denis yang menegakkan tubuh melihat lawan bicaranya saat ini.


“Sudah kubilang sejak awal, aku dan Amanda tidak akan menghalangi atau pun memutuskan hubungan antara ayah dan anak. Selain dosa, kami tidak ingin larut dalam amarah dan kebencian yang akan berujung dengan penyesalan. Namun, semua butuh proses, Denis.”


“Sampai kapan? Sampai kapan aku bisa membalas semua rasa bersalah dan memperbaiki hubungan dengan Atma—anakku?” tanya Denis putus asa.


“Tidak ada yang instan Denis, kamu harus menikmati prosesnya. Kamu bahkan tidak tahu luka yang kamu torehkan begitu dalam untuk Amanda dan Rama di masa lalu, kamu di terima oleh Amanda itu adalah sesuatu hal yang luar biasa menurutku. Bahkan jujur aku pun masih tidak sepenuhnya merelakan kamu bertemu dengan Atma, tapi aku tidak ingin istriku kecewa dengan keputusanku jadi aku pun kini tengah berusaha juga menerima kehadiranmu di tengah kami.”


“Maaf,” cicit Denis penuh sesal. “aku terlalu egois menginginkan proses cepat tanpa mau menikmati semua proses perubahan menuju sesuatu yang baik, proses yang cukup menyakitkan di sini.” Lanjut Denis menunjuk bagian dadanya.


“Hidupku hancur, Rama. Kebahagiaanku hanya Atma, aku sudah mengikhlaskan Amanda untukmu karena setelah aku mengenal dirimu, membuatku semakin yakin kalau kamu adalah lelaki yang terbaik untuk Amanda, sekaligus Papa sambung yang baik untuk anakku.”


Wajah Rama terlihat tetap datar, ia melipat kedua tangannya di depan dada, bersandar di tembok sambil memejamkan mata.


“Aku sangat mencintai Amanda dan menyayangi Atma, walaupun ia bukan dari benihku tapi darahku tetap mengalir ditubuhnya. Darah yang kudonorkan bukan karena sebuah tanggung jawab sesama melainkan penuh ketulusan cinta, sejak awal melihat Atma di rumah sakit tergolek tak berdaya dan mendengar cerita pilunya. Aku berjanji dalam diri, kelak akulah yang akan membahagiakannya. Takdir berpihak padaku, kini aku memiliki Amanda dan Atma secara utuh. Kumohon jangan hancurkan kebahagiaan kami hanya karena keegoisanmu, berpikirlah secara jernih!”


Denis mendengar seksama tanpa menyahut, meresapi perkataan Rama yang menurut Denis sangat bermakna. Ungkapan cinta seorang suami sekaligus sebagai orang tua untuk Atma, Rama mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


Denis menggelengkan kepala lemah, tetap setia mendengarkan apa yang Rama ucapkan.


“Karena aku dan Amanda akan menjadi contoh untuk Atma, contoh untuknya bisa memaafkanmu juga, bersahabat dengan masa lalu, membuka lembaran baru tanpa menengok lembaran sebelumnya. Atma bagaikan lembaran putih kosong, yang bisa kami warnai, biarkan semua berproses, benahi kehidupanmu, tata hidupmu, temukan kebahagiaan dan pantaskan dirimu menjadi orang tua yang bisa dicontoh anaknya.”


Untuk kesekian kali, hati Denis tersentil atas ucapan Rama yang 100 persen benar adanya. Bagaimana mungkin ia datang dengan posisi hidupnya berantakan, apakah ia pantas menyandang status Papa sementara setiap malam selalu menghampiri klub malam sebagai solusi sementara, tidak ada kedewasaan berpikir, egonya terlalu tinggi, hanya terpuruk dalam penyesalan tanpa memantaskan diri, pikiran Denis berkecamuk, mengiyakan apa yang dikatakan Rama.


“Aku percaya padamu dan Amanda akan mendidik Atma dengan baik, orang tua yang patut menjadi contoh untuk anaknya. Baiklah ... aku akan membenahi diri, menata hidup agar Atma bisa menjadikanku contoh orang tua yang baik, bukan malah membawa pengaruh buruk,” kata Denis tersenyum getir. “hanya saja, sebelum aku pergi ... izinkan aku mencium wajah Atma sebentar saja, setelahnya aku akan pergi dan datang ketika kamu dan Amanda benar-benar sudah meluluhkan hati Atma untuk bisa menerimaku, kumohon.” Lanjut Denis mengajukan permohonan.


Rama mengangguk, tangannya terulur dan seulas senyum tipis tersungging di wajah tampan Rama. Ah! Bukan hanya Rama yang tampan, Denis pun tampan bahkan ketampanannya menurun ke anak semata wayang seorang Denis Narendra—Danish Atma Narendra.


Denis menyambut uluran tangan itu, mereka berpelukan khas pria dengan perasaan lega ketika kewarasan mengalahkan ego dalam memecahkan masalah.


[Atma sedang apa, Sayang?] Pesan yang dikirimkan Rama pada Amanda.


Ceklis dua berwarna biru langsung terlihat, status Amanda tengah mengetik.

__ADS_1


[Baru saja tidur, Mas. Memang kenapa?]


[Apa pulas tidurnya?]


[Kurasa begitu.] Balas Amanda.


Rama memasukkan ponsel ke dalam kantong celananya, “Ayo!”


“Kemana?”


“Bukankah kamu ingin melihat Atma? Bukankah kamu ingin menciumnya?” Rama balik bertanya.


Senyum lebar tercetak sempurna, Rama memimpin langkah, Denis mengikuti dibelakangnya.


Hah!


Denis mengembuskan napas kasar, rasanya sungguh deg-degan ingin bertemu anaknya. Rama membuka pintu ruang rawat inap dengan sangat pelan agar tidak membangunkan jagoannya—Atma.


Mata Amanda membulat ketika melihat seseorang di belakang Rama juga ikut melangkah masuk ke dalam, Rama menempelkan telunjuknya ke arah bibir Amanda, mengisyaratkan agar Amanda tidak berbicara.


Denis terpaku berdiri tepat di samping sisi ranjang Atma, bulu mata lentik Atma, bibir tipis, dagu belah dan kulit putih terpampang dengan jelas. Dejavu, ia melihat cerminan dirinya di fisik Atma. Senyumnya kembali terlihat, hati Denis bergemuruh, haru dan bahagia menjadi satu.


Tangannya yang sudah bergetar terulur, mengelus lembut sisi wajah Atma, kecupan di kening dan pipi pun diberikan Denis untuk sang Anak.


“Maafkan Papa, kelak Papa akan kembali untuk membahagiakanmu, itu pun jika kamu sudah bisa menerima papa. Sehat Sayang ... jika boleh memilih, papa saja yang berada di posisimu, menahan rasa sakit bahkan mati pun papa rela asal kamu sehat dan bahagia. Bisakah kamu berjanji agar suatu saat bisa memaafkan papa?” gumam Denis sangat lirih, tersenyum pahit dan tak terasa bola mata sudah terlapisi bulir bening yang siap luruh kapan saja.


Denis membungkukkan tubuh, mencium tangan Atma yang terpasang jarum infus. Amanda menaruh wajahnya di dada bidang Rama, sesuatu yang mengharukan terpampang di depan mata. Rama mengelus punggung tubuh sang istri, seorang anak memaksa mereka bersikap dewasa.


Bukanlah kesabaran jika masih memiliki batas, bukanlah keikhlasan jika masih terasa sakit ketika memaafkan.


Denis membalikkan tubuh, melangkah keluar ruangan tanpa pamit agar tidak membangunkan Atma tanpa disadari seorang anak mengubah posisi kepala menyembunyikan bulir bening dari sudut matanya.


“Papa,” ucap Atma yang hanya tertahan di hati ketika lidah terasa kelu tanpa ia mengerti kalau inilah yang dinamakan luka tak berdarah.


~Bersambung~


Hadiah, vote, like dan komentarnya ya .... 😍

__ADS_1


Boleh add FB Lisfi atau Instagram Lisfi_triplets untuk mengenal profil penulis. Terima kasih untuk semua pembaca yang selalu menyemangati, love semuanya. ❤️


__ADS_2