
💕 Happy reading 💕
Baru saja membuka kancing baju atas, suara ketukan pintu terdengar.
“Bos ... Bos!” panggil seseorang yang sudah pasti Rio.
“Sial!” umpat Rama.
Sedangkan di luar Rio terkikik geli dan sudah bersiap mendapatkan semprotan dari bos sekaligus sahabatnya ....
Rama langsung menegakkan tubuh, padahal sesuatu di bawah sana sudah menegang. Entah sudah berapa lama ia menahan hasratnya. Kesibukan Amanda bersama si kembar membuat Rama tidak tega mengganggu istirahat sang istri ketika malam, bahkan sebagai Papa yang bertanggung jawab tidak jarang Rama yang menggantikan popok si kembar saat Amanda terlihat lelap dalam tidurnya.
“Sabar, Mas,” kata Amanda mengulum senyum dan membenarkan pakaiannya juga serta memposisikan tubuh menjadi duduk bersandar di sofa. Tidak lupa merapikan rambut yang sedikit berantakan.
“Mengganggu saja, awas kamu Rio!” umpat Rama yang melangkahkan kaki lebar ke arah pintu.
Benar saja Rio tertangkap basah tengah tersenyum sangat lebar, wajah kesal langsung Rama tampakkan pada sahabat sekaligus asisten yang tak berakhlak mengganggu kesenangan bosnya sendiri.
“Maaf, ganggu, Bos!”
“Bisa tidak paham situasi!” hardik Rama dengan wajah ketusnya.
Hahh ... bersiaplah Rio menerima semprotan amarah ketika sesuatu tidak tersalurkan.
“Ganggu ya? Memangnya lagi ngapain, Bos?” tanya Rio polos tanpa merasa bersalah sambil mencuri pandang ke dalam ruangan.
Rama tidak menjawab tatapannya memicing tajam hingga yang melihat bakalan mati kutu dibuatnya, Rama pun sudah berkacak pinggang di ambang pintu. Tidak mempersilahkan Rio untuk masuk ke dalam ruangannya.
“Damai Bos, damai,” kata Rio mengangkat kedua tangannya ke atas.
“Kamu sudah menikah ‘kan?”
“Tentu.”
“Bagaimana rasanya ketika sesuatu tertahan?!”
“Me-nya-kit-kan, Bos,” sahut Rio mengeja kata dan mendramatisir ekspresi wajah hingga semakin menyebalkan.
“Besok kupastikan kamu tidak akan bisa pulang ke rumah, di kantor sehari semalam suntuk, lihat saja!” ancam Rama.
“Bu Amanda ... tolonglah suami sahabat anda.” Rio berteriak agar Amanda mendengarnya.
“Bolehlah aku masuk, ada sesuatu yang ingin kusampaikan,” kata Rio yang terlihat serius.
“Mas, sudahlah ... kalau marah nanti cepat tua,” kata Amanda yang kini melingkarkan tangan di lengan Rama dengan tas sudah menyantol di bahunya sambil menyunggingkan senyum.
“Beruntung sekali anda mendapatkan istri sebaik Bu Dokter Amanda,” seloroh Rio.
Tangan Amanda mengelus lengan Rama sambil tetap menampilkan senyum, melihat senyum sang istri tak ayal membuat Rama melempar senyum juga meskipun dalam hati masih merasa kesal ketika keinginannya hanya sebuah niat tapi tak terlaksana.
“Baiklah, apa yang ingin kau katakan?”
Rio langsung menyodorkan map coklat yang sedari tadi ia pegang dan langsung diterima oleh Rama.
“Pak Denis memaksa agar aku menerima dan memberikan map ini padamu, tadi sempat melihat isi tersebut. Beberapa aset yang sudah berpindah nama menjadi Atma Putra Narendra, tidak bisa diubah lagi katanya. Selama Pak Denis di dalam, pengacaranya menjelaskan semuanya tentang aset-aset ini.”
Rama dan Amanda bertukar pandang, tak menyangka kalau niat keluarga Narendra sekeras ini dan tidak bisa dibantah sama sekali.
“Kamu hubungi pengacara kita, aku tidak mau tahu semua surat-surat ini harus dikembalikan. Aku tidak akan menerima sepeser pun harta keluarga Narenda. Arghhh! Kenapa kamu sebodoh itu menerimanya?!” tukas Rama yang kesal.
Sedari awal Bu Sinta memberikan amplop itu sudah di tolak mentah-mentah oleh Amanda dan sekarang malah asistennya yang pasrah menerima tanpa seizinnya.
Rama kini benar-benar menunjukkan amarahnya pada Rio, kesalahan dua kali lipat yang dilakukan Rio. Menghalangi keinginannya dan juga lancang menerima surat-surat sepenting ini tanpa membicarakannya dulu dengan Rama.
__ADS_1
Padahal, Denis sudah merencanakan ini semua. Jika langsung memberikan pada Rama, pasti tidak akan menerima aset-aset berharga keluarga Narendra. Mau tidak mau ia tetap memaksakan kehendaknya.
“Aku tidak mau tahu, kamu harus menyelesaikan semuanya , kembalikan semua surat-surat ini pada keluarga Narendra,” tekan Rama dengan keputusan bulat yang tak bisa diganggu gugat lagi.
“Mas ... kamu tidak bisa bersikap begitu dengan Rio, di sini Rio pun tak salah karena ia tidak mengetahui apa pun,” bela Amanda yang tidak setuju dengan keputusan Rama yang semena-mena menekan Rio.
Bagaimana pun Amanda tidak tega menyusahkan suami sahabatnya itu, Rio bahkan sudah berjasa dalam rumah tangganya ketika meluruskan semua kesalah pahaman dirinya terhadap Rama waktu itu yang berhubungan dengan Tasya.
“Memang Bu Amanda terthe best,” kata Rio mengacungkan 2 jempolnya ke arah Amanda.
Rama mendengus kesal, ketika sang istri sudah berbicara mana mungkin ia bisa marah. Bisa tak dapat jatah malam ini jika ia marah pada sang istri, isi hati Rama yang hanya tertahan.
“Biar nanti itu akan menjadi urusanku, Rio. Cukup hubungi pengacara agar besok menemuiku.”
“Siap Bu Bos,” jawab Rio memberi hormat.
“Aku pamit dulu, Bu Bos,” pamit Rio. “sungguh wajah Pak Bos menyeramkan, lebih seram dari seekor harimau. Jika seperti ini sepertinya harimau yang tengah kelaparan,” kata Rio, lagi. Sambil bergidik yang membuat Rama semakin ingin menyumpal mulutnya.
“Mimpi apa sahabatmu Dina, menikah dengan pria seperti ini,” ledek Rama menatap sinis Rio.
Mendengar ledekkan Rama, Rio hanya menanggapi dengan kekehan tawa sementara Amanda hanya menggelengkan kepala melihat suaminya sedang mode dingin dan ketus. Untung saja, Amanda sudah terbiasa dengan sikap Rama dan ekspresi Rama yang tidak mengenakan.
Selama perjalanan pulang, Rama diam seribu bahasa. Ingin marah tak bisa, tapi rasanya kesal luar biasa terlebih map coklat itu sudah berada di tangan Amanda.
“Mas.”
“Iya.”
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Lalu?”
Jawaban singkat yang membuat Amanda gemas, andai saja di kamar ia langsung memberikan sentuhan yang membuat Rama melupakan amarah, sayang sekarang mereka berada di mobil, rutuk Amanda.
“Baiklah ... aku akan menjelaskan sesuatu padamu, Mas. Kita tidak bisa menolak apa yang sudah diberikan oleh Denis terlebih dengan nama aset yang sudah diubah sedemikian rupa, kupikir Atma juga memiliki hak atas harta yang dimiliki Denis, bagaimana pun Denis adalah papa kandungnya, ada bagian Atma pada sebagian aset keluarga Denis,” terang Amanda.
Rama masih diam, tetap memutar kemudi mobil dengan pikiran berkecamuk. Apakah hartanya kurang sehingga Amanda menerima pemberian dari Denis? Apa Amanda takut kekurangan?
‘Arghh! Tidak ... aku tidak boleh berpikir negatif.’ Rutuk Rama yang sedang mengendalikan pikirannya.
Tangan Amanda terulur, melihat ekspresi Rama yang berubah ia langsung menerka-nerka. Keraguan dan kekhawatiran sangat terlihat jelas di mimik wajah suaminya.
“Kamu percaya padaku ‘kan, Mas?”
“Entahlah.”
“Berarti benar ada keraguan dihatimu,” tebak Amanda.
“Aku hanya khawatir kamu terjebak cinta masa lalu, apa aku salah?” Rama akhirnya memilih jujur.
Kini Amanda yang terdiam tapi tidak memutuskan tatapannya.
“Apa hartaku kurang untuk memenuhi kebutuhanmu dan Atma sehingga kamu menerima harta itu,” terang lama lagi dengan suara dingin dan wajah datarnya.
Amanda mengembuskan napas perlahan, tangannya menarik tangan Rama lalu mengecupnya sambil memejamkan mata.
“Kamu tahu tidak, Mas. Rumah tangga yang harmonis berawal dari rasa percaya, hubungan bisa retak karena hilangnya rasa percaya. Teguh dan kuatnya cinta di setiap pasangan juga bermula dari rasa percaya. Sekarang kamu tinggal memilih, percaya agar cinta kita semakin kuat atau tidak mempercayaiku dan menghancurkan semuanya yang sudah susah payah kita bangun.”
Rama langsung memberhentikan mobil di sisi jalan, menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi sambil memijat pelipis yang terasa pusing. Ia membuang napas kasar, lalu menegakkan tubuh dan menarik tubuh sang istri ke dalam rengkuhannya.
“Aku akan selalu percaya padamu, maaf,” kata Rama.
__ADS_1
Amanda tersenyum, wajar bukan jika satu waktu sepasang suami-istri krisis kepercayaan terhadap pasangan? Tidak ada rumah tangga yang tidak memiliki ujian, karena nyatanya ujian akan semakin menguatkan hubungan antara pasangan ketika semua ujian bisa dihadapi bersama.
“Aku paham, Mas. Ingatkan aku juga jika memang langkah yang kuambil salah, tidak ada pasangan yang sempurna yang ada saling menyempurnakan,” sahut Amanda yang mengeratkan pelukan mereka.
**
“Ma ...,” panggil Atma yang membuka pintu kamar Amanda.
Rama tengah konsentrasi dengan blueprint yang sudah ia desain untuk dikirimkan ke perusahaan yang tengah memakai jasanya sebagai arsitek. Hari ini weekend, tapi Rama tetap bekerja di sudut meja kamar bayi si kembar ditemani rengekan dan celotehan kedua bayi kembarnya sedari siang.
“Kenapa, Nak?” tanya Amanda yang langsung menghampiri anak pertamanya.
“Loh kok anak Papa manyun? Kenapa sayang?” tanya Rama yang melirik anaknya.
“Bosan, Ma, Pa!”
“Lalu kamu mau apa sayang?” tanya Amanda sambil menimang Amara yang sudah mulai terlelap dalam mimpi.
“Ahhh! Amara tidur juga, Tama di luar juga sedang ditidurkan,” keluh Atma terduduk lemas.
Rama melambaikan tangannya agar Atma mendekat ke arahnya, “Sini Papa pangku.”
Atma langsung mendekat tapi melirik dari atas hingga ke bawah, pipinya mengembung lalu menopang dagu dengan kedua tangannya menatap wajah Rama.
“Aku sudah besar, Pa. Mana mungkin bisa Papa pangku sementara Papa tengah sibuk.”
Rama terkekeh, ia membawa laptop dan menaruhnya di lantai lalu menepuk pahanya sambil melihat ke arah Atma yang masih bingung dengan apa yang dilakukan Rama.
“Paha Papa masih cukup menaruh kepala Atma dan menjadikannya sebagai bantal seperti dulu Atma kecil,” kata Rama.
Atma langsung tersenyum lebar dan menuruti apa yang diperintahkan Rama, merebahkan tubuh di lantai, menjadikan paha Rama sebagai bantal lalu melihat ke arah laptop ketika Rama tengah mendesain sebuah gedung melalui program yang menurut Atma sangat keren.
Amanda tersenyum melihat interaksi Rama dan Atma, ketika mereka dekat hatinya menghangat seketika.
Ia tidak menyangka berjodoh dengan Rama yang masih berstatus single dan menerima Atma serta menyayanginya sepenuh hati layaknya anak sendiri, bahkan semenjak kehadiran kembar, Rama selalu memprioritaskan keinginan Atma karena khawatir melukai hati Atma, mencegah agar Atma tidak berpikir bahwa ia sudah tidak disayangi lagi setelah kehadiran kedua adiknya.
Pada akhirnya Atma tertidur di pangkuan Rama setelah menanyakan ini dan itu, Amanda langsung membawa Atma tidur di sebelah Amara yang juga sudah tertidur pulas diikuti pengasuh yang membawa Tama yang juga sudah terlelap tidur.
3 anak berkumpul dalam satu ranjang, Rama memeluk Amanda dari belakang. Menyerukan wajah di leher jenjang Amanda, tangan Amanda terulur mengelus rambut tebal sang suami.
“Kebahagiaan kita sudah komplit, 3 anak cukup membahagiakan dan proses menuju 4 anak akan menyempurnakan hidup kita,” kata Rama yang langsung membuat Amanda menjauhkan tubuhnya.
“Aku kan mau melanjutkan kuliah, Mas,” protesnya.
Rama menarik hidung Amanda cukup kencang karena gemas.
“Proses sayang, proses!” tekan Rama.
“Ahhh! Kukira kamu mau membuatku hamil lagi,” ucap Amanda yang bernapas lega.
“Jika prosesnya bisa membuatmu hamil, tak masalah. Rezeki jangan di tolak!”
Tanpa Aba-aba, Rama langsung mengangkat tubuh Amanda. Amanda ingin terpekik tapi dengan cepat Rama membungkam bibir sang istri dengan rakus. Refleks Amanda melingkarkan tangan di leher sang suami, sebelum akhirnya suara dehaman seseorang menyapa bersamaan pintu kamar yang terbuka.
Deg!
Amanda terkejut bahkan salah tingkah jadinya.
~Bersambung~
Hadiah, vote, like dan komentarnya ya ....
Biar semangat update. 😍
__ADS_1