Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 11


__ADS_3

Empat tahun kemudian....


"Ibu, Atma, ayo makan! Masakan sudah siap." Aku setengah berteriak memanggil Ibu dan juga Atma. Atma sudah berumur hampir lima tahun beberapa bulan lagi, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas, walaupun ia menggunakan kacamata untuk membantu penglihatannya tapi itu bukan masalah besar untuknya, ketika memakai kacamata ia justru terlihat semakin tampan, dengan kulit putih, mata bulat, hidung mancung, bibir yang tipis dan merah, serta tubuh yang berisi.


"Aku dan Omma datang Mama, kami siap menghabiskan makanan yang mama masak." ucap Atma, akupun tersenyum mendengar ucapannya itu, namun kulihat Ibu tidak bersemangat akhir-akhir ini.


"Ibu kenapa? tidak suka ya masakan Amanda?"


"Ibu selalu suka masakanmu, malah mungkin akan merindukannya nanti ketika kita tidak tinggal serumah lagi, karena kuliahmu sudah selesai dan kamu diterima bekerja dirumah sakit Abi." ya, aku sudah selesai menempuh pendidikan di fakultas kedokteran, Aku lulus tepat waktu sesuai yang telah Aku dan Abi targetkan. Selama aku berada di Bandung, aku dan Atma tinggal bersama ibu Ratri, sedangkan mas Rama tinggal di lantai dua butik milik Ibu yang tidak jauh dari rumah yang kami tempati, profesi Mas Rama sebagai arsitek dan mengelola perusahaan di bidang properti membuat ia sibuk dengan pekerjaannya namun ia selalu menyempatkan menemui Ibu setiap harinya, bukan hanya ibu tetapi juga Atma.


"Mama, bisa tidak Atma tinggal disini saja bersama omma dan papa Rama?" Atma sangat dekat dengan ibu, ia memanggil dengan sebutan omma, dan mas Rama dengan panggilan papa. Bukan tanpa alasan ia memanggil mas Rama papa, waktu itu Atma pernah diejek oleh temannya, Atma disebut tidak memiliki papa seperti teman-temannya yang lain, ia pulang kerumah dengan menangis, saat itu aku, mas Rama dan juga ibu sedang berada dirumah.


"Atma tidak mau bermain lagi, mereka bilang Atma tidak punya papa, Atma benci mereka" ucap Atma pulang sambil menangis sesenggukan, tak terasa aku juga meneteskan air mata melihat malaikat kecilku menangis, pikiranku seperti rekaman yang diputar ulang mengingat saat Atma kecil tidak diakui oleh papa kandungnya. Melihat Atma menangis, mas Rama dengan sigap menggendongnya, serta menenangkan Atma.


"Apa perlu Om marahi teman-teman Atma yang sudah membuat Atma sedih?" Atma menggelengkan kepalanya dengan masih terus menangis


"Memang benar kan Om, Atma tidak mempunyai papa"


"Oke, kamu ingin papa kan? Atma bisa panggil Om Rama dengan sebutan papa, bagaimana? Hmm?" Atma pun berhenti menangis, dan memeluk erat tubuh mas Rama dan menenggelamkan wajahnya di leher mas Rama. Melihat semuanya aku tidak kuasa menahan kesedihan, aku langsung berlari kedalam kamar dan menangis sejadi-jadinya, kekuatanku adalah ketika melihat kebahagiaan Atma, dan kelemahanku melihat tangis air matanya. Aku sudah berjanji pada Atma akan mengenalkan papa kandungnya jika waktunya sudah tepat, sebenarnya aku sedih diumur yang masih kecil ia harus memahami semua keadaan yang rumit seperti ini.


Dan ketika Atma meminta untuk tinggal bersama ibu dan mas Rama itu hal yang wajar mengingat mereka memang sangat dekat, meskipun Abi, Ummik dan Gita sering mengunjunginya agar bisa dekat dengan Atma tapi tetap saja setiap hari yang selalu ada untuknya ialah Ibu dan mas Rama.


"Nanti siapa yang menemani mama tidur?" Atma hanya terdiam sambil memeluk ibu, dan matanya mulai berkaca-kaca sepertinya tangis akan pecah jika saja mas Rama tidak datang,


"Assalamualaikum," ia mencium tangan ibu, dan mencium pipi Atma "sepertinya lagi membicarakan hal serius, anak papa kenapa diam?"


"Papa, sedih tidak kalau aku ikut mama tinggal dijakarta?" Ucap Atma mengawali pembicaraan dengan mas Rama


"Atma sedih tidak? Hmm?" Atma menganggukan kepalanya "berarti papa juga sedih, tapi kamu harus turuti apapun perkataan mama dan selalu jagain mama, okey?" Atma hanya mengangguk pasrah.


"Omma rasa, mungkin omma juga akan ikut Atma menetap tinggal dijakarta"


"Horeeee, papa juga kan?" 


"Papa mungkin dalam waktu dekat tidak bisa, sementara akan bolak balik Bandung-Jakarta untuk bertemu Atma, gimana?"


"Oke, nanti kita tinggal serumah kan? Papa, mama, omma, seperti teman Atma lainnya" ucapan Atma untuk tinggal dalam satu atap mungkin hanyalah sebuah harapan yang tidak akan bisa menjadi nyata, karena kak Janu akan segera melamarku, komunikasi aku dan kak Janu tetap berjalan dengan baik, aku tidak bisa menolak cinta yang ia berikan karena ia terlalu baik untuk aku sakiti dan sudah menunggu waktu yang lama agar bisa menjadikan aku istrinya.


"Nanti kita tinggal bersama nenek, kakek dan Tante Gita nak...."


"Omma bagaimana? Kenapa mama tega ninggalin omma sendiri dan tidak mengajak omma tinggal bersama? Mama jahat, ga sayang sama omma" Atma berlari menuju kamarnya meninggalkan ruang makan, bahkan ia belum sempat menyentuh makanannya.


"Sabar Amanda, Atma butuh waktu, biar ibu yang menyusul" 


"Iya Bu...."


"Biarkan Atma tinggal dirumah ibu saat di Jakarta"

__ADS_1


"Tapi mas"


"Untuk sementara, jangan egois, mereka sudah sangat dekat" jangan berpikir mas Rama juga dekat denganku selama ini, ia tetaplah mas Rama yang kaku dan ketus, namun aku rasa sikap itu khusus untukku, karena saat bersama Atma ia sosok yang sangat hangat dan penuh perhatian. Apakah hanya perasaanku saja?


"Aku hanya tidak ingin kehadiran kami akan menggangu hubunganmu dengan Tasya"


"Maksudnya?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti, hubunganmu dengan Tasya pasti akan kejenjang yang serius kan? Aku tidak ingin ada masalah hubunganmu dengan Tasya gara-gara kami." Mas Rama memiliki hubungan khusus dengan seseorang bernama Tasya, ia sering ke butik untuk menemani Atma dan juga Ibu, meskipun Aku jarang bertemu dengannya, Atma selalu bercerita tentang Tasya padaku, tanpa sepengetahuan Mas Rama, ia mendatangi Aku dan memperingatkan untuk menjauhi Mas Rama dan Ibu. Makanya Aku ingin segera pindah ke Jakarta agar Ibu, Atma dan mas Rama tidak dekat, Aku tidak ingin menjadi sumber masalah untuk Mas Rama dalam hubungannya dengan Tasya, karena umur Mas Rama sudah sangat cukup untuk berumah tangga, Mas Rama berhak bahagia.


"Hanya alasanmu saja." mas Rama pun bangkit dari tempat duduknya. Menjauhi Atma dengan mereka pasti tidak mudah untukku dan terasa menyakitkan untuk Atma tapi rasanya aku tidak memiliki pilihan lagi.


****


Hari ini terakhir Aku berada dirumah ini, barang-barang sudah dikemas, Atma menghampiri aku dengan terduduk lesu.


"Kenapa anak mama diam saja?" Aku duduk disebelah Atma, dan mencubit gemas pipinya.


"Tadi Tante Tasya datang, ia bilang akan menikah dengan Papa Rama, benarkah itu mama?"


"Mungkin sayang, mama juga tidak tahu, memang kenapa kalau Papa Rama menikah dengan Tante Tasya?"


"Kenapa tidak menikah dengan mama? Kenapa Tante Tasya?"


"Nanti ada Om Janu yang akan menjadi Papa Atma" Atma sudah mengenal Kak Janu, dua bulan sekali Kak Janu akan ke Indonesia untuk bertemu dengan kami, Atma anak yang gampang akrab dengan siapapun, ceria, dan menyenangkan, oleh sebab itu dia pun dekat dengan Kak Janu dan menceritakan apa saja jika bertemu dengannya, setiap Minggu kami akan melakukan panggilan video, Kak Janu bukan orang asing untuk Atma meskipun Atma cenderung lebih lengket dengan Mas Rama.


"Benarkah Mama? Berarti nanti aku punya dua papa ya?"


"Papa Aku yang asli mana Ma? Yang wajahnya mirip Aku, Om Janu atau Papa Rama? Aku lihat teman lelaki wajahnya mirip dengan papanya, apakah Aku juga mirip Ma?" Aku mendesah menarik nafas panjang, untuk menjelaskan pada Atma apa arti Papa kandung dan arti Papa sambung untuknya. Ia anak yang sangat kritis, setelah aku menjelaskannya, ia pun berucap ....


"Berarti Atma punya tiga Papa dong, teman-teman Atma pasti ngiri karena Atma punya Papa banyak." rasanya ingin menenggelamkan diri ini, sesederhana itu yang Atma pikirkan dari semua penjelasan yang Aku berikan, Aku hanya bisa tersenyum geli mendengar celotehan Atma yang absurd itu, biarlah lambat laun seiring usianya bertambah ia akan mengerti. 


"Assalamualaikum kami datang ...." Suara yang kukenal menggema dirumah ini, itu adalah suara Gita, ia datang bersama Ummik dan Abi untuk menjemput Aku dan Atma.


"Tante, Kakek, Nenek." Atma langsung berlari memeluk mereka, ia tersenyum lebar, Abi langsung menggendong Atma dan Ummik mengelus kepala Atma sedangkan Gita menciumi pipi Atma berkali-kali.


"Tante sakit loh." protes Atma


"Kamu gemesin sih, sudah siapkan? Kita nanti tidur sekamar di rumah Jakarta, oke?"


"Siap tanteee ...." Atma memberi hormat pada Gita sebagai tanda persetujuan, kami yang melihatnya pun tertawa.


Kulihat Mas Rama dan Tasya juga datang kerumah ini.


"Papa .... Papa Rama dan Omma mengantarku juga 'kan?" Tanya Atma, namun bukan Mas Rama yang menjawab melainkan Tasya.


"Papa Rama tidak bisa ya Atma, karena kami akan mempersiapkan pernikahan yang akan diadakan tiga bulan lagi."

__ADS_1


"Papa akan mengantarmu sayang, jangan khawatir." jawaban berbeda dari mas Rama, wajah Tasya terlihat kesal.


"Jika ada keperluan tidak perlu mengantar Mas, lain waktu saja Mas bisa main kerumah untuk bertemu Atma."


"Wah kamu pengertian sekali Amanda, terimakasih ya." senyum sinis kulihat dari wajah Tasya.


"Tante kalau menikah dengan Papa Rama berarti Tante mama Atma juga kan? Tapi Atma ga mau punya mama kaya Tante, mama Atma hanya mama Amanda, tapi papa Atma banyak loh, ya kan ma?" Mendengar ucapan Atma, seketika kami tertawa tapi tidak dengan Tasya ia pergi kearah dapur dengan kesal alasannya ingin mengambil air. Atma polos 'kan?


****


Aku sudah sampai dirumah yang sudah lama aku tinggalkan, Mas Rama dan Ibu akhirnya mengantar kami tapi tidak dengan Tasya. Ibu ingin menginap beberapa hari dirumah ini, ia juga akan pindah ke Jakarta dua Minggu lagi. Ketika kami baru saja tiba, kulihat sebuah mobil terparkir didepan rumah, dan dibuat kaget ketika seseorang yang berada didalam mobil keluar, Aku melihat sosoknya, ia Kak Janu. Dengan senyum mengembang ia menghampiri kami semua, Atma langsung berlari ke arahnya.


"Om januuuuu ...." Kak Janu langsung menangkap tubuh Atma, memeluk dan menggendongnya. Ia mendekat kearahku sambil menggendong Atma dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


"Bagaimana kabarmu Amanda?"


"Alhamdulillah aku baik kak, kenapa tidak memberi tahu jika akan ke Indonesia bahkan kerumah ini?" 


"Kejutan untukmu, Aku ingin melihat kamu memakai snelli kebanggaan saat bertugas dirumah sakit lusa sebagai seorang dokter." 


"Ckk ....kak jangan berlebihan deh, ayo masuk sedang berkumpul didalam Kak."


"Kebetulan kalau gitu, kesempatan bagus untukku."


"Maksud Kak Janu?"


" Sudah kita masuk saja dulu." 


Aku meninggalkan mereka kedapur untuk menyiapkan minum dan cemilan, kulihat ibu pun mengikuti aku, mungkin ibu ingin membantu menyiapkan makanan pikirku, 


"Amanda ibu boleh berbicara sebentar?"


"Tentu saja Bu, ada yang Ibu butuhkan?" 


"Tidak, apa itu Pria yang dekat denganmu?"


"Iya Bu, Kak Janu yang sering Atma ceritakan pada Ibu."


"Apa dia serius dengamu?"


"Iya Bu." mendengar jawabanku, Ibu mengambil nafas berat, kurasakan ada suatu beban dan kesedihan diwajahnya, namun aku tidak mengerti.


"Rama anak Ibu akan hancur hatinya ketika kamu dimiliki oleh pria lain nantinya."


"Maksud ibu?"


"Ibu tahu Rama sangat mencintaimu nak, ia menyukaimu sebelum kamu menikah dengan Papa kandung Atma, ia pernah melihatmu dibutik bersama Ummik, ia langsung meminta Ibu melamarmu waktu itu, namun Papa kandung Atma sudah lebih dulu melamarmu. Dan saat ini cinta untukmu dalam diri Rama sepertinya semakin kuat terlebih ia juga menyayangi Atma, Ibu tidak bisa membayangkan betapa hancur hati anak Ibu." hatiku mencelos mendengar ucapan Ibu, rasanya tidak percaya akan hal ini.

__ADS_1


"Tidak mungkin Bu, ia selalu bersikap dingin dan ketus padaku, jadi bagaimana mungkin?"


"Sikapnya hanya untuk menutupi perasaannya terhadapmu" ucap Ibu dengan wajah sendu. Aku hanya bisa diam membeku dengan perasaan berkecamuk, ini seperti mimpi. Banyak pertanyaan yang hadir dalam benakku, apakah benar yang dikatakan Ibu? Jika benar Aku merasa jahat kepada Mas Rama dan juga Ibu, mereka sangat baik padaku. Lalu bagaimana dengan pengorbanan Kak Janu yang telah menantiku selama ini? 


__ADS_2