Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 80


__ADS_3

“Ma ...,” panggil Vanya yang masuk ke dalam ruang rawat inap Bu Sinta.


Melihat keberadaan Vanya membuat Bu Sinta tersenyum hangat, sejak kemarin Denis tak menampakkan diri. Dokter meminta Denis untuk beristirahat di rumah sakit mengingat tekanan darah yang rendah karena kelelahan, belum lagi bogeman Frans yang membuat dirinya pusing ketika bangkit dari ranjang.


“Vanya, kamu sudah bertemu dengan Denis?”


“I-iya, Ma. Tapi—“


“Apa yang terjadi?” Bu Sinta sudah merasakan sesuatu telah terjadi dengan sang anak karena jika semua baik-baik saja sejak kemarin sang anak pasti menemaninya.


“Maaf ... Denis tengah di rawat karena bogeman yang dilayangkan Frans,” aku Vanya yang membuat Bu Sinta membelalakkan mata dan membuang napas.


“Bagaimana keadaannya?”


“Hanya butuh istirahat, Ma. Tidak ada hal serius kata Dokter, hanya saja tekanan darah rendah dan masih terasa nyeri di bagian rahang,” terang Vanya yang menjelaskan keadaan Denis dengan perasaan tidak enak.


Bagaimana pun semua yang terjadi karena membelanya, ini salahnya, pikir Vanya yang merasa tidak enak dengan kondisi saat ini.


“Bagaimana keadaanmu, Vanya?”


“Aku?”


“Iya, kamu,” kata Bu Sinta yang ekspresi di luar perkiraan Vanya, masih bersikap baik, tidak ada kemarahan di raut wajah sang mantan Mama mertua.


“Mama tidak marah?” tanya Vanya ragu.


“Marah? Kenapa Mama harus marah?”


“Karena Vanya, Denis—“


Ucapan Vanya terjeda kala Bu Sinta menggelengkan kepala agar Vanya tidak melanjutkan ucapannya.


“Denis tahu apa yang harus dia lakukan, bogeman dari Frans anggap saja perjuangan dia mendapatkan kamu kembali, tidak perlu dipikirkan begitu dalam,” sela Bu Sinta yang membuat Vanya bernapas lega.


“Terima kasih, Ma. Terima kasih,” kata Vanya memeluk Bu Sinta dengan sayang.


“Kembalilah dengan Denis, rajut kebahagiaan kalian kembali dengan awal yang baru.”


“Iya, Ma. Doakan kami,” jawab Vanya yang menyunggingkan senyuman ke arah Bu Sinta.


**


“Benar sudah enakan, Denis?” tanya Vanya khawatir ketika hari ini Denis meminta pulang, masih banyak yang harus dilakukan, terlebih soal menjerat Frans dengan hukum, hal yang membuat Denis tidak betah jika hanya mengistirahatkan tubuhnya di atas brankar.


“Sudah, jangan khawatir. Aku baik-baik saja, kita harus segera ke suatu tempat,” kata Denis membuat Vanya bingung karena ada kata kita.


“Aku ikut maksudmu?” tanya Vanya yang mendapatkan anggukan dari Denis.


“Mau kemana kita?”


“Jangan banyak tanya, ikut saja,” ajak Denis yang sudah rapi bersiap meninggalkan ruang rawat inap setelah menyelesaikan semua administrasi.


“Baiklah.”


Denis membuka pintu lebih dulu, menggenggam tangan Vanya dengan senyum yang mengembang. Hati Vanya menghangat seketika saat Denis menggenggam tangannya lebih dulu, ini adalah kali pertama Denis melakukan hal itu pada dirinya karena selama pernikahan mereka, Denis begitu cuek dan mengabaikan dirinya.


“Kenapa?” tanya Denis yang melihat Vanya ragu saat ingin melangkah.


“Aku harap ini bukanlah mimpi, Denis. Kamu berubah, sangat berubah sekarang,” terang Vanya yang membuat Denis terkekeh.


“Benarkah?”


“Ya.”


“Apa kamu bahagia dengan perubahanku?”


“Tentu saja, sangat bahagia. Diakui dan dicintai olehmu adalah harapan terbesarku, kukira hanya harapan semata tapi kini menjadi nyata, aku bersyukur akan hal itu.”


Tangan Denis terulur, mengelus wajah Vanya dengan perasaan haru. Ia merasa sikapnya sangatlah buruk terhadap Vanya hingga diperlakukan manis seperti sekarang rasanya hanya sebuah harapan yang tak akan pernah terwujud.


“Ini adalah buah dari kesabaran dan doamu selama ini, Vanya. Pada akhirnya, aku sadar ... kamulah wanita terbaik yang harus kupertahankan dan perjuangkan,” ucap Denis yang diakhiri dengan senyuman yang membuatnya terlihat tampan.


“Batu saja bisa berlubang karena tetesan air, apalagi hatiku, Vanya.” Lanjut Denis yang membuat mata Vanya berkaca-kaca.


“Apa kamu menerimaku apa adanya, Denis? Aku hanya anak selingkuhan Daddy dari wanita yang sama sekali tidak kukenal,” tanya Vanya yang masih ragu.


“Aku tidak peduli,” jawab Denis yang langsung melangkahkan kaki membawa Vanya mengikuti langkahnya.


**


“Untuk apa kita ke sini, Denis? Aku tidak ingin bertemu dengan Mommy lagi, aku takut,” kata Vanya yang kini berada di depan apartemen milik Tante Dira, tempat yang Vanya tinggali sela berada di Austria.

__ADS_1


“Hadapi dan selesaikan masalah kita, Vanya. Kamu tidak bisa menghindarinya begitu saja.”


Vanya menarik napas lalu mengembuskannya perlahan, ia mengangguk walaupun terlihat ragu. Tidak berapa lama setelah memencet bel, pintu apartemen terbuka menampilkan sosok Tante Dira di ambang pintu dengan tatapan sengit.


“Mom,” sapa Vanya yang maju selangkah lebih dekat.


“Ada apa kamu ke sini?” tanya Tante Dira dengan wajah tak bersahabat.


“Vanya ingin, mengambil pakaian sekaligus izin sama Mommy, Vanya dan Denis akan menikah ulang,” terang Vanya yang semakin membuat Tante Dira kesal dibuatnya.


“Lalu?”


“Hanya itu, Mom.”


“Ambil bajumu setelah itu enyah dari hadapan Mommy, jangan kamu tunjukkan tampangmu lagi. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun setelah kamu memutuskan untuk menikah kembali dengan Denis,” putus Tante Dira yang membuat Vanya menggelengkan kepala tak percaya.


Namun, inilah keputusan Vanya, apa pun konsekuensinya ia akan kembali dengan Denis seperti rencana Denis dan dirinya sejak awal. Ia tidak bisa membiarkan lebih lama lagi terpisah dari Denis karena ia sangat yakin Tante Dira akan menjodohkannya dengan pria lain untuk memuluskan bisnisnya seperti sebelumnya saat ia menerima menikah dengan seorang duda yang sama sekali tidak ia cintai saat awal menikah tetapi dipaksa menerima kehadiran Denis dalam hidupnya.


“Vanya akan melakukannya, ini adalah terakhir kali Vanya menginjakkan kaki di apartemen ini, Mommy harus ingat akan hal itu.”


“Baik ... kamu bebas, dan ingat tidak mendapatkan harta secuil pun dari Mommy dan almarhum Daddy.”


“Jika Tante melakukan hal itu maka Tante akan berurusan dengan Denis. Karena sesuai perjanjian dengan pengacara atas wasiat Om Tommy, Vanya mendapatkan setengah aset milik keluarga. Jika Tante mengusir begitu saja, Tante bisa dipidanakan atas tuduhan penggelapan,” ancam Denis yang akhirnya angkat bicara setelah sedari tadi hanya diam saja tanpa menyahut.


“Kamu mengancam saya, Denis?! Iya?!” bentak Tante Dira yang hanya ditanggapi dengan mengendikkan bahu acuh oleh Denis.


“Terserah apa kata Tante, jika ini adalah sebuah ancaman untuk Tante ya tidak masalah. Mama adalah saksi hidup saat almarhum Om Tommy menulis wasiat, jadi jangan coba-coba mengambil sesuatu yang bukan hanya menjadi hak Tante,” terang Denis yang membuat Tante Dira menggeretakkan giginya kesal.


Setelah mengucapkan hal itu, Vanya keluar dari kamar dengan membawa 1 koper tas berisi pakaian miliknya. Kini ia menatap nanar Tante Dira, seseorang yang masih tetap dianggap mommy olehnya.


“Vanya pamit,” kata Vanya mengulurkan satu tangan tapi langsung ditepis Tante Dira.


Denis langsung mengambil satu tangan Vanya, lalu melingkarkan tangan ke lengannya agar Vanya tidak sedih dan tenang ketika merasa ada dirinya yang siap menghibur dan selalu menemani.


“Jangan pernah muncul dihadapan mommy lagi, bagian hartamu akan diselesaikan oleh pengacara,” kata Tante Dira sebelum Vanya meninggalkan ruangan.


“Jaga diri Mommy baik-baik,” kata Vanya dengan mimik wajah sendu.


Sedangkan Tante Dira mengalihkan wajahnya tak ingin melihat kepergian Vanya, ada rasa sedih yang tiba-tiba menyelimuti hati ketika ia hanya seorang diri di apartemen tanpa Vanya.


“Apa aku kehilangannya?” gumam Tante Dira sepeninggal Vanya dan Denis. “tidak! Aku tidak boleh lemah, dia bukanlah anakku, dia anak selingkuhan suamiku.” Lanjutnya bermonolog.


**


“Tidak masalah, pergilah. Ada anak buah kita yang senantiasa menunggu Mama, jangan khawatirkan Mama di sini,” kata Bu Sinta dengan tenang.


Beliau tidak terlalu khawatir ketika berada di Austria karena seluruh anak buah kepercayaan Denis sangat bisa diandalkan.


“Vanya pamit dulu, Ma.”


“Iya, Sayang,” kata Bu Sinta mengelus puncak kepala Vanya dengan sayang.


Mereka pun pamit dari ruang perawatan Bu Sinta, terapi demi terapi diberikan agar Bu Sinta bisa berjalan dan bisa kuat menopang bobot tubuhnya ketika semua syaraf kembali normal pasca operasi transplantasi hati yang membuat setengah tubuhnya terasa kaku.


“Kenapa harus secepat ini menikah ulang, Denis?” tanya Vanya yang masih bingung ketika Denis memberikan keputusan kembali ke Indonesia untuk mengurus pernikahan ulang mereka.


“Aku takut kehilanganmu, Vanya. Lagi pula ini sesuai saran Dokter yang kupikir ada benarnya,” jawab Denis yang teringat dengan saran Dokter yang kini menangani penyakit mengenai organ vital yang ia derita.


“Memang apa yang dikatakan Dokter, Denis?” tanya Vanya penuh selidik.


Denis menghentikan langkah ketika mendapatkan pertanyaan itu dari Vanya, ia memajukan tubuhnya dan berbisik di telinga Vanya.


“Partner di ranjang setiap malam,” bisik Denis yang membuat bulu roma Vanya bergidik, “tapi jangan berpikir negatif dulu, aku hanya takut khilaf Vanya terlebih kita tinggal satu apartemen yang sama. Bukan tidak mungkin kenormalanku tiba-tiba kembali.” Lanjut Denis dengan tertawa kecil sedangkan Vanya berdiri bak patung mendengar hal itu.


Entahlah, rasanya ia masih belum percaya Denis sangat ingin sembuh dan menjadikan dirinya partner berhubungan di ranjang.


“Aku juga ingin memiliki anak darimu,” tambah Denis yang tersenyum dan menarik langkah kakinya lagi dengan tetap menggandeng Vanya. Sedangkan Vanya diam membisu, banyak tanya hadir dalam benak dan ia masih belum percaya Denis berubah sekarang.


“Apa kamu benar-benar mencintaiku? Atau kasihan? Atau mungkin hanya memanfaatkanku agar bisa sembuh, Denis?” akhirnya pertanyaan terlontar juga.


“Aku tidak akan mengatakan hal-hal manis agar kamu percaya, tapi aku akan membuktikannya padamu Vanya. Satu hal yang harus kamu tahu, usiaku bukan saatnya untuk bermain-main. Aku serius dan bersungguh-sungguh mengambil keputusan ini, jika kamu masih tidak percaya maka lihatlah perubahan yang terjadi dalam diriku, jangan hanya berasumsi semata berdasarkan apa yang sudah terjadi di masa lalu,” kata Denis penuh keyakinan yang membuat Vanya menaikkan dua sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman.


“Aku percaya padamu,” ujar Vanya yang mendapatkan anggukan dan senyum lega dari Denis, mereka melanjutkan perjalanan menuju Bandara untuk bertolak ke Indonesia.


**


[Proses hukum Frans sudah ditangani dengan maksimal, Pak. Dia sudah dijebloskan ke penjara, tidak ada sogok menyogok. Saya yakin dia akan jera dengan penjara di Austria.] Pesan dari anak buah Denis yang membuat Denis bisa bernapas lega.


[Pantau terus dan laporkan perkembangannya.]


[Baik, Pak.]

__ADS_1


Denis memasukkan kembali ponsel ke saku celananya setelah membaca pesan itu, saat ini Denis dan Vanya sudah berada di Indonesia, mobil yang mereka tumpangi sedang menuju suatu tempat yang memang sudah direncanakan Denis sebelumnya sejak awal.


“Aku tetap harus meminta izin dengan Atma, dia anakku yang walaupun masih kecil harus tetap diberitahukan tentang semua ini karena dia akan menjadi bagian dari kita. Kamu tidak keberatan ‘kan?” tanya Denis memastikan.


“Tentu, aku akan menganggap Atma anakku juga, Denis. Tidak sulit untuk menyayangi Atma, dia anak yang cerdas dan juga humble,” puji Vanya.


“Jika ada penolakan dari Atma, cukup diam biarkan Amanda dan Rama yang memberikan pengertian pada anakku.”


“Tentu saja.”


Ada sedikit rasa khawatir jika Atma tidak menerima Vanya, selama ini yang Atma tahu ia hanya akan hidup dengan nenek dan papanya saja tidak dengan Vanya. Tetapi Denis harus tetap memperkenalkan Vanya sebagai ibu sambung untuknya karena bagaimana pun, Atma harus bisa menerima apa pun yang menjadi pilihannya walaupun Denis tidak akan memaksakan kehendak tentunya.


Mereka sudah sampai di depan rumah mewah keluarga Rama, sebelumnya Denis sudah mengabarkan kedatangannya pada Rama dan Amanda. Dengan perasaan bahagia, Denis turun dari mobil tak melepaskan tautan tangan dengan Vanya.


“Vanya, Denis, silahkan masuk,” sapa hangat Amanda berpelukan dengan Vanya.


“Terima kasih, Amanda.”


“Baru sampai?” tanya Rama kemudian pada Denis.


“Ya ... kami langsung ke sini.”


“Pasti lelah,” sahut Amanda.


Denis dan Vanya duduk bersebelahan, sedangkan Rama dan Amanda duduk bersebelahan juga.


“Atma dan si kembar ada ‘kan?” tanya Denis yang terlihat tidak sabaran, ia sangat ingin mengetahui respon Atma mengenai Vanya.


“Kembar sedang berada di rumah Abi dan Ummik, Gita sama Janu di sana juga. Kami baru saja kembali dari pekerjaan, Atma juga sudah mulai aktif sekolah dan melakukan kegiatan les tambahan jadi seperti biasa kami sibuk dengan aktivitas masing-masing. Atma sehabis pulang sekolah langsung istirahat, sekarang masih di kamar, santai sambil rebahan,” terang Amanda.


“Boleh ke kamarnya, Amanda, Ram?” tanya Denis meminta izin.


“Tentu saja, kami pun mau mengganti baju, terasa lengket,” kata Amanda yang memang terlihat lusuh wajahnya begitu pun Rama.


“Ayo, aku antar,” kata Rama yang berdiri lebih dulu, bermaksud mengantar Denis dan Vanya ke dalam kamar Atma.


“Baiklah,” kata Denis yang berjalan beriringan dengan Vanya juga.


“Amanda, apa Atma akan menerimaku?” tanya Vanya ragu yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Amanda.


“Keluarkan sisi keibuanmu, Vanya. Atma anak yang sulit di tebak jalan pikirannya, tapi satu hal yang pasti, ia bisa merasakan ketulusan hati seseorang,” kata Amanda sebelum Vanya melangkahkan kaki menuju kamar Atma.


“Ada kami, kalian berbicara saja dulu. Nanti kami yang akan memberikan pengertian pada Atma jika memang ada penolakan dari Atma,” timpal Rama yang disetujui Denis.


Bagaimana pun Rama dan Amanda yang paling tahu menaklukkan hati Atma, Denis hanya usaha sebisa mungkin untuk memperkenalkan dan meyakinkan Atma tentang kehadiran Vanya di tengah mereka nantinya.


“Masuklah, aku akan memberikan kalian kesempatan berbicara dengan Atma.”


Rama meninggalkan kamar, membiarkan mereka berbicara tanpa campur tangan Rama karena ia menganggap Denis bisa mengendalikan keadaan termasuk menaklukkan hati Atma.


“Papa?!” pekik Atma yang langsung turun dari ranjang dan berlari ke arah Denis lalu memeluknya erat.


“Kangennya Papa sama kamu, Nak,” kata Denis di tengah pelukannya.


“Kok sudah pulang?” tanya Atma yang bingung pasalnya Denis mengatakan sebulan baru akan kembali ke Indonesia.


“Tidak bahagia papa pulang?”


“Bahagia dong,” kata Atma yang mengecup pipi Denis sekilas.


“Oh iya, perkenalkan ini Tante Vanya, Atma sudah pernah bertemu sebelumnya ‘kan?”


“Hai Tante, kita bertemu lagi,” sapa Atma yang melambaikan tangan dan tersenyum hingga gigi gigisnya terlihat.


“Hai sayang, bagaimana kabarnya?”


“Baik.”


Atma mengulurkan tangan lebih dulu, mencium punggung tangan Vanya dengan takzim seperti apa yang diajarkan Amanda dan Rama.


“Boleh Papa berbicara?” tanya Denis yang kini memangku Atma.


“Tentu saja.”


“Tante Vanya dan Papa akan menikah, Sayang. Dan nanti Tante Vanya akan jadi Mama untuk Atma,” terang Denis hati-hati sekali saat menjelaskan hal itu.


Atma terdiam, ia melirik Denis dan Vanya bergantian dengan tatapan mata yang sulit diartikan, sementara tatapan itu membuat Denis seketika menjadi cemas.


~Bersambung~


Atma menerima enggak ya dengan status baru Vanya nantinya?

__ADS_1


Like dan komentar, ikuti terus kelanjutannya. Terima kasih untuk support dalam cerita pasca cerai, ikuti terus sampai Tamat. ❤️


__ADS_2