
Setelah membaca
Jangan lupa
Tinggalkan jejak like dan komentar
❤️ Selamat membaca ❤️
Kulihat Atma sudah tenang dan tidak menangis, setelah membersihkan tubuh, dan menyuapinya makan, Atma kuminta beristirahat dengan membaringkan tubuhnya dikasur karena ia terlihat lelah setelah lama menangis ....
Drtttt ... drttt ... drtttt ....
Ponselku berbunyi, Kak Janu melakukan panggilan video, kugeser layar ponsel, tidak berapa lama layar ponselku menampilkan sosok wajah Kak Janu yang sudah terlihat segar dengan kaos dan handuk yang masih menggantung dilehernya.
"Assalamualaikum, sore cantik, lagi dimana?"
"Wa'alaikumsalam Kak, lagi dikamar bersama jagoan." kugeser ponsel kearah Atma yang juga ikut tersenyum menyapa Kak Janu.
"Hai tampan, sepertinya ada yang habis ngambek ya? Kamu diapain sama Mama Amanda, hmm? Wajahnya ditekuk seperti itu," Atma hanya menutupi wajahnya dengan tangan karena malu "hei boy, anak laki-laki jangan menangis, kalau Atma lemah siapa yang akan menjaga Mama Amanda? Om Janu tidak bisa menjaga kalian, oh iya kenapa Mama dan Atma tidak mengantar Om kemarin?"
Deg... Pertanyaan Kak Janu mengingatkan kesalahan yang Aku lakukan kepadanya kemarin malam, Aku harus jujur meskipun nantinya ia akan kecewa.
"Kak, Maaf aku sudah berencana untuk mengantar bahkan mengambil tugas rumah sakit pagi hari agar bisa mengantar kakak, tapi ...." Kalimatku terhenti, Atma menggeser layar ponselku.
"Om, ini salah Atma jangan marah sama Mama lagi, cukup Tante Tasya yang memarahi Mama. Atma meminta Mama merawat Papa Rama yang sedang sakit, dan Atma tertidur dirumah Papa Rama."
"Tante Tasya siapa sayang?"
"Wanita yang akan menikah dengan Papa Rama." Aku hanya bisa pasrah ketika Atma menceritakan semuanya kepada Kak Janu, Atma sangat polos bercerita tentang semua yang terjadi dan akhirnya iapun kembali menangis.
"Sudah ya Atma jangan menangis lagi, bukan salah Atma, dan Om tidak akan marah sama Mama Amanda, temani dan jaga Mama Amanda ya selama Om Janu tidak berada di Indonesia, okey?," Atma menganggukan kepalanya dan senyum mengembang diwajahnya "sudah ya, Om ada urusan kerja diluar, mau berangkat dulu, Atma istirahat ya, dadah anak tampan dan Mama Amanda, wassalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam dadah Om." Atma pun memutuskan panggilan dan menyerahkan ponsel padaku, tidak berapa lama ada pesan yang masuk di ponsel, ku buka pesan itu ....
[Jangan merasa bersalah karena tidak bisa mengantarku kemarin, Aku hanya berharap kamu menjaga kepercayaanku selama Aku tidak berada disisimu, yang selalu mencintaimu, Adnan Januzaj.] kalimat Kak Janu membuat Aku semakin merasa bersalah padanya, kenapa rasa cinta untuk Mas Rama hadir disaat Aku akan memulai kehidupan baru dengan Kak Janu, seandainya waktu bisa berputar kebelakang, Aku tidak akan pernah masuk ke kehidupan Ibu, Mas Rama dan juga Tasya.
Mengenai Mas Rama, aku menghubungi perawat untuk mengurus dan memantau kondisi kesehatannya di rumah. Hari ini Aku mendapat tugas sore di rumah sakit hingga malam, waktu menunjukkan sudah pukul dua siang, Aku segera berangkat untuk menjalankan tugas profesiku sebagai dokter, baru saja Aku tiba diruangan dan memakai snelli putih yang biasa Aku gunakan, seorang perawat menghampiriku,
"Dok, ada pasien yang harus segera diperiksa diruang IGD"
"Baiklah" aku mengikuti langkah perawat menuju ruang IGD, aku berdiri disamping brankar pasien, pasien yang aku tangani saat ini adalah seseorang yang sangat kukenal, dia adalah Tasya, seseorang yang tadi pagi menghina dan merendahkan aku.
"Tolong lakukan test darah komplit termasuk urin," perintahku kepada salah seorang perawat, "jika sudah ada hasil laboratorium yang saya minta, berikan langsung pada saya!"
__ADS_1
"Baik dok." kulihat Tasya tengah tertidur, aku memeriksa pasien lainnya yang membutuhkan pertolongan tindakan dariku.
Setelah kurang lebih satu jam, hasil laboratorium tasya telah selesai dan berkas sudah dalam genggamanku, Aku langsung menemui Tasya di ruang IGD, kulihat ia sudah sadar dari tidurnya,
"Kita ketemu lagi Tasya, bagaimana sudah lebih baik?"
"Jadi kamu bertugas di rumah sakit ini? Seandainya Aku tahu, Aku tidak akan ke rumah sakit ini, tapi Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena rumah sakit ini yang paling dekat dari rumah Rama."
"Terserah kamu ingin mengatakan apa, disini Aku sebagai dokter yang menanganimu."
"Baiklah langsung saja katakan apa yang terjadi padaku, tubuhku terasa sangat lemas dan mual."
"Berdasarkan hasil laboratorium, saat ini kamu tengah mengandung, untuk perkembangan janin silahkan lakukan USG ke spesialis kandungan." mengucapkan hasil pemeriksaan, membuat Aku teringat dengan Mas Rama, apakah hubungan mereka sudah seperti suami istri sampai membuahkan benih dalam rahim Tasya? Apakah ini salah satu alasan mereka mempercepat acara pernikahan? Aku merasa kecewa dengan fakta yang baru Aku ketahui, kenapa hatiku sekecewa ini? Mas Rama bukan siapa-siapa untukku, bahkan aku tidak akan berarti apapun untuknya.
"Baguslah, Rama akan lebih sayang padaku, dan posisi Atma akan tergantikan oleh anak yang Aku kandung, setidaknya ia tidak akan tertarik pada wanita berstatus janda sepertimu." mendengar perkataan Tasya membuat emosiku memuncak,
"Ckk ... lihatlah dirimu Tasya, yang patut direndahkan seharusnya bukan Aku tapi kamu, walaupun Aku seorang janda, tetapi Aku bisa menjaga kehormatanku, bagaimana denganmu? Kamu malah bangga atas dosa yang telah kamu lakukan bahkan dari dosa itu membuahkan benih dalam rahimmu, seharusnya kamu berkaca diri, siapa yang lebih menjaga kehormatan? Aku yang seorang janda? Atau kamu gadis tapi tidak perawan, yang menyerahkan kehormatanmu pada seseorang yang belum sah menjadi suamimu, permisi ...." Akupun pergi dari hadapannya menghindari pertengkaran yang akan diketahui pasien dan rekan kerjaku didalam ruangan ini.
💕💕💕💕
Sudah seminggu sejak kejadian dirumah Mas Rama berlalu, tetapi kesedihan masih menyelimuti Atma.
"Sayang hari ini Mama libur, kita jalan-jalan yuk sama Tante Gita, kebetulan Tante Gita juga libur kuliah, Atma ingin kemana?"
"Hei, ayo dong keponakan Tante yang ganteng, semangat ...." Gita menarik tangan Atma agar bersiap-siap.
Kami menuju kesalah satu pusat perbelanjaan dan permainan anak-anak, Atma sejenak melupakan kesedihannya, senyum terlukis diwajah polosnya, aku ingin melihat ia selalu tersenyum seperti sekarang dan selamanya karena Atma sumber kekuatan dan kebahagiaan dalam hidupku. Saat kami tengah asyik makan, kulihat wajah Atma terlihat sendu, ia menatap seseorang yang berada disamping kami, Aku menoleh mengikuti arah pandang Atma, disana ada seorang anak kecil dan kedua orangtuanya sedang bersenda gurau bersama, Aku memahami kesedihan yang Atma rasakan, jauh didalam lubuk hatinya, ia menginginkan keluarga kecil yang utuh.
"Sayang." Aku mengelus pipi Atma dan mencium keningnya. "maafkan Mama yang tidak bisa memberikan kasih sayang orangtua secara utuh seperti yang Atma lihat." Atma menganggukan kepalanya dan bulir air mata Itupun keluar kembali.
"Atma, sebentar lagi 'kan atma punya Papa, Om Janu akan menjadi Papa sambung untuk Atma." ucap Gita
"Iya Tante, Om Janu juga baik sama Atma, tapi seandainya Papa Rama yang menjadi Papa sesungguhnya untuk Atma, pasti Atma lebih bahagia, tetapi Papa Rama akan menikah dengan Tante Tasya, Papa Rama sudah tidak sayang Atma lagi, Atma harus menjauh dari Papa Rama seperti yang Tante Tasya katakan, saat ini Atma lagi belajar jauh dari Papa Rama."
"Oleh karena itu kamu sedih dan tidak semangat sayang?" Tanyaku pada Atma
"Iya Mama, rasanya kangen sekali dengan Papa Rama"
"Belajarlah untuk terbiasa tanpa Papa Rama, jangan menggantungkan kebahagiaan Atma pada seseorang kecuali Mama, karena mama menggantungkan kebahagiaan padamu sayang, jika Atma sedih, Mama juga ikut merasakan kesedihan Atma"
"Papa kandung Atma seperti apa ma'? Dia sayang tidak sama Atma? Kenapa dia meninggalkan kita? Apa Atma punya salah ma'?" Rentetan pertanyaan dari Atma membuat lidah ini terasa kaku untuk menjawabnya, karena mengungkit luka lama yang sudah lama aku berusaha melupakannya.
"Kamu tidak akan paham, kelak jika sudah dewasa kamu akan mengerti sayang."
__ADS_1
"Jangan pikirkan Papa kandungmu Atma, dia tidak layak disebut Papa."
"Gitaa ...." Aku memperingati Gita agar tidak berbicara tentang Papa kandung Atma yang akan membuat Atma sedih.
"Kakak harus menjelaskan kepada Atma, meskipun ia masih kecil, Gita yakin Atma mengerti, dan itu akan membuat dia menjadi anak yang kuat, percayalah Kak, Aku ini kuliah jurusan psikologi, Aku sangat tahu kalau Atma anak yang cerdas."
Gita tetap pada pendiriannya untuk memberi tahu semua kejadian masalalu Aku, Atma dan Denis.
"Papa dan Nenek Atma tidak menerima kehadiran Atma di dunia ini karena saat Atma lahir, Atma tidak sempurna, terancam buta dan memiliki kelainan jantung, kondisi Atma sangat lemah saat itu. Akhirnya Mama Amanda meninggalkan mereka dan lebih memilih membesarkan Atma sendiri dan menyembuhkan Atma sampai sehat dan pintar seperti sekarang, Papa kandung Atma akhirnya memilih berpisah karena Mama lebih memilih mengurus Atma."
Atma terlihat sangat antusias mendengar cerita Gita tentang Papa dan neneknya, Aku hanya bisa diam karena setiap cerita Gita membuat memori otakku merekam ulang ingatan tentang kesedihanku dimasa lalu, setelah mendengar semua cerita dari Gita, Atma memelukku sangat erat sampai Aku merasa sulit bernafas, Atma mencium seluruh wajahku yang masih basah dengan air mata,
"Atma janji akan buat mama bahagia dan bangga sama Atma, dan tidak akan menanyakan lagi Papa kandung Atma, karena dia sudah membuat mama menangis." setelah mengucapkan itu Atma kembali memelukku erat dan iapun menangis. Gita yang melihat kami ikut meneteskan air mata,
"Lihatlah Kak, jagoan kita kuat bukan? Ia bukan anak yang lemah." Aku hanya bisa tersenyum tipis, dan berdoa semoga Atma benar-benar kuat menghadapi kenyataan ini, kehidupan yang cukup rumit.
"Terimakasih Tante, Atma juga sayang Tante." Atma pun menciumi pipi Gita dengan penuh kasih sayang.
Kamipun melanjutkan kembali aktivitas berbelanja dan bermain-main diarea pusat perbelanjaan tersebut hingga malam, melupakan kesedihan kami, ponselku berdering, menampilkan nama Ummik dilayar ponselku, kau segera mengangkatnya,
"Assalamualaikum Ummik"
"Wa'alaikumsalam, Amanda kamu dimana, Nak?"
"Lagi disalah satu pusat perbelanjaan Ummik, bersama Gita dan Atma, ada apa mik?"
"Kebetulan sekali nak, Ummik minta tolong pulangnya kamu mampir ya ke rumah Ibu Ratri, untuk mengambil sampel bahan dan sketsa rancangan baju." mendengar permintaan Ummik membuat Aku menarik nafas panjang, yang paling aku hindari saat ini adalah rumah Ibu, aku tidak mau bertemu Mas Rama dalam waktu dekat. Namun, Aku tidak bisa menolak permintaan Ummik.
"Baiklah Ummik." jawabku tak bersemangat
Sekarang kami sudah berada didepan rumah ibu Ratri sesuai permintaan Ummik ditelepon,
"Ikut turun yuk, dek."
"Ish kakak apa-apaan sih kaya anak kecil aja minta antar."
"Atma tidak ingin turun." melihat ekspresi Atma yang ditekuk akupun mengalah masuk kedalam rumah sendiri tanpa Atma dan Gita, sepertinya Atma benar-benar berusaha menjauhi Mas Rama.
Pintu rumah tidak tertutup, akupun masuk tanpa memberi salam, Aku sudah terbiasa kerumah ini, walaupun sekarang terasa canggung mengingat kejadian Minggu lalu, samar-samar kudengar suara Ibu dan Mas Rama,
"Hentikan pernikahanmu dengan Tasya untuk kebahagiaanmu Rama! Jujur pada Ibu, kamu mencintai Amanda 'kan? Bukan Tasya!"
"Iya Bu, Aku sangat mencintai Amanda tapi sampai kapanpun Aku tidak bisa memilikinya, Janu akan menikah dengannya." langkahku terpaku, Aku diam membeku, Aku bingung harus melakukan apa saat ini setelah mendengar pengakuan perasaan Mas Rama, ternyata yang dikatakan Ibu benar, Mas Rama mencintaiku, pikiranku berkecamuk saat ini, bagaimana dengan kehamilan Tasya? Ia mengaku mencintaiku tapi nyatanya ia menghamili Tasya, bolehkah Aku bilang Mas Rama itu munafik? Perasaanku seperti dipermainkan olehnya, yang jelas rasa kecewaku sangat besar untuknya saat ini ....
__ADS_1