
...Tinggalkan jejak...
...💕 Like dan komentar serta vote 💕...
...Happy reading...
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
PoV Denis
"Sekarang hanya ada dua pilihan, mana yang kamu pilih, ibu atau istri dan bayi buta itu?" ucap Ibu kala itu memberikan pilihan untuk rumah tanggaku, pilihan yang sangat sulit, Aku sangat mencintai istriku Amanda tapi Aku juga tidak bisa menerima kehadiran anak itu, anak yang sejak lahir penyakitan dengan kelainan jantung bocor dan juga terancam Buta, bukankah itu sangat memalukan? Sedangkan Aku dan Amanda pasangan suami istri yang sempurna secara fisik. Apa kata orang jika mereka mengetahui anakku terlahir cacat dan penyakitan seperti itu.
"Denis mohon jangan memberikan pilihan sulit untuk ku seperti itu."
"Ibu tidak mau menanggung malu karena kamu memiliki anak yang buta." ucap ibu dengan penuh penekanan, Aku hanya bisa terdiam karena betul juga yang dikatakan Ibu, pasti Aku malu kepada kerabat serta rekan bisnis jika mengetahui kondisi anakku.
"Bagaimana pun keadaan nya dia tetaplah anakku, darah daging mas Denis yang juga cucu ibu, teganya ibu berkata itu!" jawab Amanda, menyadarkan Aku dari lamunan, air mata terlihat sudah membasahi pipinya.
"Bu, tolong beri kami waktu." pintaku pada Ibu.
"Tidak Denis, istri mu harus memilih kali ini, meninggalkan bayi itu agar tetap bersama kita atau tetap bersamanya tanpa kita."
"Walaupun seisi dunia ini tidak mengakuinya, membuang bahkan menghinanya, bayiku tetaplah darah dagingku, makhluk sempurna yang Allah ciptakan, dibalik kekurangannya Amanda yakin ia akan memiliki kelebihan dan bisa dibanggakan, tidak sehina yang ibu bahkan orang lain pikirkan" jawab Amanda tegas, yang membuat Aku geram, Aku tidak ingin kehilangannya, dia wanita yang aku cintai.
"Jangan memberikan keputusan apapun Amanda!!!" ucapku.
Ternyata semua keputusan Amanda tidak bisa diubah, dia memilih anak itu dibandingkan Aku, padahal jika dia menginginkan bisa saja kita menyembunyikan keberadaannya dan kami akan tetap menjadi sepasang suami istri. Aku tidak mungkin membantah Ibu, Aku tidak ingin dicoret dari daftar penerus semua kekayaan Ibu. Kalau Aku memilih Amanda dan anak itu pasti hidupku akan susah, belum lagi membiayai pengobatan anak itu.
Sebelum talak perceraian terucap, Amanda memintaku untuk menjadi Papa yang baik selama sehari untuk anak kami, dia bernama Danish Atma Narendra. Kali ini Aku akan menuruti keinginannya, hari itu Aku habiskan mengurus buah hati kami, ada gelenyar aneh dalam hatiku saat menggendongnya, sisi orang tua yang menyayangi anaknya muncul dalam diri ini, anak yang tampan dan menggemaskan saat ia tertidur.
"Sepertinya ketampananku menurun padamu boy, lihatlah saat tidur begitu menggemaskan dan tampan, papa tidak rela jika kamu tidur, ayo bangun temani papa," ucapku kala itu. "Amanda, Aku tidak tahu apakah sanggup tanpamu dan juga anak kita setelah ini, sehari bersama Danish terasa hangat dan menyenangkan disudut terdalam hatiku namun keadaan yang memaksaku, ibu menjadi alasan aku bersikap seperti ini, aku tidak ingin melihat kamu selalu mendapat omongan tajam bahkan hinaan dari ibuku jika kita tetap bersama dengan anak kita, namun apakah kita akan bahagia tanpa satu sama lain?"
Dan benar yang Aku katakan saat itu pada Amanda, setelah perceraian terjadi Aku tidak bisa menghapus bayangan Amanda dalam pikiranku, terlebih rasa bersalah saat Aku menolak menjadi pendonor darah untuk anakku sendiri, saat itu Aku menolak bukan karena tidak mau membantu hanya saja Aku tidak ingin Ibu kecewa karena pernikahan kedua yang akan Aku jalani gagal.
Saat bertemu di sebuah rumah sakit, Aku tidak bisa menahan hasratku untuk memeluk Amanda, tetapi justru Aku mendapatkan penolakan darinya bahkan mendapat bogem mentah dari seorang pria yang saat itu dekat dengannya. Ternyata pria yang dulu memberikan bogem mentah pada wajahku kini sudah menjadi suami Amanda dan Papa untuk anakku. 'Aku tidak akan membiarkan ini terjadi, Aku harus mendapatkan Amanda dan anakku lagi, bagaimana pun caranya' niatku dalam hati.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di Bandung bersama suami Amanda yang bernama Rama, Aku kembali ke Jakarta, mencari informasi dari beberapa orang suruhan yang sengaja Aku sewa untuk memata-matai rumah Abi dan Ummik, keesokan paginya, Aku melajukan mobil menuju rumah Abi dan Ummik setelah mendapat informasi bahwa anakku saat itu berada di sana. Ketika ingin sampai di tempat tujuanku, ada seorang anak kecil menangis ditengah jalan, Aku memberhentikan mobil yang Aku kendarai tepat di depannya serta mendekati anak itu.
"Hai .... kenapa menangis? Kamu terjatuh ya?" Ku elus pucuk kepalanya agar ia tenang.
"Sakit Om .... " anak kecil itu menunjuk kaki yang terlihat berdarah.
__ADS_1
"Sini biar Om gendong dan antar ke rumahmu menggunakan mobil."
"Tidak usah Om, kata Mama, Aku tidak boleh ikut dengan orang yang tidak di kenal."
"Tenang saja Om hanya ingin membantu, dimana rumahmu? Kenalkan nama Om, Denis." Aku menjulurkan tangan untuk bersalaman dengannya agar ia tidak merasa takut.
"At-ma" ia menjulurkan tangannya juga. "rumahku sudah dekat Om, lima rumah lagi sudah sampai."
"Oh, baiklah bagaimana kalau Om gendong jika kamu tidak ingin menaiki mobil milik Om, kamu tidak bisa berjalan 'kan?"
"Hu'um .... tapi om nggak jahat 'kan?" jawabnya ragu, anak yang cerdas pikirku, meskipun memakai kacamata ketampanan anak itu sangat terlihat, mata bulat, lesung pipi, tubuh berisi, kulit putih. 'apakah anakku setampan dia?' tanyaku dalam hati.
"Apa Om ada tampang penjahat?" Ia menggelengkan kepalanya.
"Om terlihat tampan seperti Papa. Tidak, tidak! Lebih tampan Papaku dibandingkan Om Denis."
"Benarkah?"
"Tentu saja, Papa Rama paling tampan dan baik untukku" jawabnya tanpa ragu. Mendengar nama Rama mengingatkan Aku pada suami Amanda, 'apakah yang anak ini maksud adalah Rama yang kukenal?' Monologku dalam hati.
"Ya, terserah kamu sajalah. Ayo, Om antar pulang, sini Om gendong!" Iapun akhirnya setuju. Dan benar saja rumah yang ia tunjukkan adalah rumah Abi dan Ummik,
"Apakah Amanda adalah Mama kamu?"
"Dia .... " Sebelum Aku menjawab kulihat sosok Abi di halaman rumah mereka, tanpa ragu Aku masuk kedalamnya, dan Abi terlihat terkejut dengan kedatanganku. Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku untuk mencium punggung tangannya, tapi Abi tidak menerima uluran tanganku, pandangannya beralih ke kaki Atma yang terluka.
"Cucu Kakek kenapa? Mana sepedamu? Bukankah tadi Atma hanya ijin ke taman sebentar?"
"Iya Kek, Atma terjatuh, berdarah dan terasa sakit," dengan khawatir Abi mengambil alih tubuh Atma dari gendonganku. "Om Denis yang menolong Atma tadi, Kek."
"Gita ....Ummik ...." Teriak Abi memanggil Gita dan Ummik. Merekapun keluar dari dalam rumah, dan kaget melihat keberadaanku sekarang. "Tolong, obati Atma, ia terjatuh." Pinta Abi, Gita yang dengan cekatan menggendong tubuh Atma untuk masuk kedalam rumah.
"Silahkan kamu pergi!!!" Ucap Abi
"Tolong jangan ganggu kebahagiaan Atma dan Amanda, Ummik mohon." ucap Ummik.
"Saya tidak akan pergi sebelum bertemu Amanda,"
"Amanda sedang tidak di rumah," jawab Abi ketus. "Jangan pernah menunjukkan dirimu lagi di rumah ini!"
"Saya mempunyai hak bertemu dengan Denis Atma Danendra, karena ia adalah anak kandung saya, kalian tidak mempunyai hak untuk melarangnya."
__ADS_1
"Apa kamu tidak malu? Mengakui Atma anakmu setelah kamu tidak mengakuinya sebagai anak, hah?" Abi terlihat sangat emosi. Namun ia meredam amarahnya ketika melihat Atma keluar dari dalam rumah,
"Om Denis, terimakasih ya sudah menolong Atma. Kakek dan Om saling kenal ya?" tanpa menjawab pertanyaannya, Aku langsung memeluknya, dia anakku yang pernah tidak kuakui keberadaannya, saat ini Aku sadar dan menyesali semua yang telah Aku lakukan padanya dan juga Amanda. Aku akan berusaha mendapatkan mereka lagi, apapun konsekuensinya.
"Iya sayang, Mama Amanda teman Om," Kupandangi wajah tampannya, rasa sesal memenuhi rongga dadaku hingga terasa menyesakkan. "Nanti kita bertemu lagi ya, sekarang Om pamit, ada urusan yang harus Om selesaikan."
"Oke Om, hati-hati dan terimakasih." Ia tersenyum, melihat wajah polosnya membuatku rasanya ingin segera hidup dan tinggal bersamanya lagi memperbaiki semua kesalahanku.
"Abi, Ummik saya pamit, titip pesan untuk Amanda jika tidak menemuiku dalam waktu dekat, saya akan mengajukan gugatan hak asuh anak ke pengadilan"
"Benar-benar keterlaluan kamu Denis." ucap Abi.
"Tidak tahu diri." sahut Ummik. Aku hanya berlalu dari hadapan mereka tanpa mendengarkan umpatan yang mereka ucapkan.
Kulajukan mobil menuju tempat pengacara yang biasa menangani semua kasus mengenai hukum. Iya, Aku akan bersiap mengajukan proses gugatan hak asuh jika Amanda mengabaikannya, karena Aku memahami sifat Amanda, ia wanita yang keras meskipun pada dasarnya ia sangat lembut dan juga penurut. Memikirkan Amanda, Aku sudah tidak sanggup menahan rasa keinginanku untuk bersamanya lagi, terlebih sekarang ia terlihat sangat cantik, kecantikannya semakin bertambah setelah kami berpisah. Aku pasti akan bahagia jika Amanda dan Danish bisa bersama lagi, dan Aku bisa menebus kesalahanku yang telah menyia-nyiakan mereka selama ini. Aku sudah tidak peduli dengan kekayaan Ibu, ternyata kekayaan Ibu tidak membuat Aku bahagia. Kebahagiaanku saat ini adalah Amanda dan anakku, Danish Atma Narendra.
Keesokan harinya ada pesan dalam aplikasi hijau milikku dari seseorang yang tidak aku kenal,
[Jangan ganggu Amanda dan anakku!!! Kita bertemu di kafe XX siang ini, kita buat kesepakatan sebagai seorang pria sejati, jangan jadi seorang pengecut yang hanya berani mengancam Abi,Ummik dan Amanda.]
[Aku tidak takut denganmu, Aku pastikan akan datang.] Tanpa berpikir panjang, Aku membalas pesannya, dia adalah Rama. Enak saja menyebut Danish anak, dia anak kandungku, darah dagingku bukan anaknya.
Kulangkahkan kaki menuju ruang makan untuk sarapan bersama, dengan senyum mengembang, hari ini Aku sangat bahagia karena rencananya Aku akan melihat dari jauh Danish dan Amanda, Seseorang yang Aku sewa mengawasi gerak-gerik Amanda dan Danish selalu memberikan informasi padaku, Aku bisa leluasa mengetahui keberadaan mereka.
"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Vanya.
"Iya Denis, sepertinya aura wajahmu berbeda hari ini." sahut Ibu.
"Iya, Aku sangat baik, oh iya Vanya bersiaplah, Aku akan mengurus berkas perceraian kita, siapkan dirimu mengahadapi proses perpisahan kita di pengadilan."
"A-apa Mas?" Kulihat air mata menetes membasahi pipinya.
"Denis!!! Keterlaluan kamu berbicara itu pada Vanya."
"Aku akan mendapatkan Amanda dan anakku lagi, tidak mungkin Amanda mau kembali padaku jika Vanya masih menjadi istriku, mengertilah Bu!"
"Kamu gila Denis, Amanda tidak mungkin mau kembali lagi padamu setelah apa yang telah kita lakukan."
"Darimana Ibu bisa seyakin itu?"
"Ibu pernah bertemu Amanda, bukan hanya itu, bahkan Vanya meminta langsung Amanda untuk kembali padamu, tapi dengan tegas Amanda menolak. Jangan siksa dirimu seperti ini Denis, hargai Vanya, dia istrimu, jika kamu menginginkan anak, kamu bisa memilikinya dengan Vanya."
__ADS_1
"Aku tidak peduli, Aku masih sangat mencintai Amanda. Vanya tidak berarti apapun untukku, dia hanya jadi istri di atas kertas, dan itu hanya karena kemauan Ibu. Sekarang Ibu tidak bisa menyuruhku untuk tidak kembali pada Amanda dan anakku, Aku sudah tidak peduli dengan apa yang akan Ibu lakukan, jika Ibu menghalangiku, jangan harap Aku akan kembali ke rumah ini. Oh iya Ibu bisa mencoret namaku dari daftar penerima aset kekayaan yang Ibu miliki, Aku sudah tidak peduli, seharusnya Aku melakukan ini sejak awal." Setelah mengucapkan itu, Aku pergi meninggalkan rumah menuju tempat seseorang yang selalu Aku rindukan.
~bersambung