
Tinggalkan jejak
đź’• Like dan komentar đź’•
Happy reading ♥️
PoV Rama
Siang ini Aku membuat janji untuk bertemu Denis, mantan suami istriku, tanpa diketahui Amanda, Aku hanya tidak ingin hal ini menjadi beban untuknya.
"Jauhi istriku!!!" ucapku.
"Tidak akan, Aku akan mendapatkan Amanda dan anakku kembali apapun caranya termasuk menghancurkan perusahaan milikmu."
"Kau mengancamku?"
"Mungkin." ia tersenyum menyeringai. "Apa kau yakin Amanda mencintaimu? yang Aku dengar Amanda menikah denganmu karena sahabatnya yang meminta kau menjadi pengantin pengganti."
"Tahu apa kau tentang cinta? Aku tidak akan terprovokasi oleh perkataanmu, karena cinta hanya bisa dirasakan."
"Tetap saja Aku orang pertama di cintainya bahkan orang pertama yang menyentuh tubuhnya hingga kami bisa menghadirkan seorang anak yang tampan seperti Atma. Aku akan merebut milikku kembali."
"Brengsek!!! Kau kira Amanda sebuah barang, hah? Aku tak peduli menjadi Pria yang pertama atau kedua yang dicintainya, karena yang pertama belum tentu untuk selamanya, Aku yakin menjadi cinta untuk Amanda selamanya." Kulihat Denis mengepalkan tangan, sepertinya ucapanku memancing emosinya.
"Aku akan tetap merebut Amanda dan Atma darimu, ingat itu!!!"
"Dan perlu kau ingat juga, Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, jangan harap kamu bisa melakukannya, sesuatu yang telah Aku miliki tidak akan pernah bisa disentuh ataupun dimiliki orang lain." Aku berlalu meninggalkannya, percuma berbicara dengannya karena Aku rasa ia sudah tidak waras.
Amanda menyetujui permintaan Denis untuk memberi waktu untuknya bertemu Atma, baiklah Aku terima keputusan itu, bagaimanapun Denis adalah Papa kandung Atma, tapi bukan berarti dia bisa leluasa bertemu Amanda. Setiap pertemuan hanya Aku yang mendampingi Atma, dalam pertemuan itu seringkali kami berdebat, terutama masalah waktu yang Aku batasi dan Aku tidak pernah mengijinkan Atma dibawa sendiri olehnya, sering kali Aku dan Denis bersitegang untuk hal ini tanpa diketahui Atma.Â
"Pa, pulang yuk, Atma lelah!"
"Nanti ya sayang, Om Denis masih kangen sama Atma."
"Atma sudah lelah Om." Atma melingkarkan tangannya di leherku. "Pa, Atma ngantuk."
"Ya sudah pejamkan matamu, kita pulang."
__ADS_1
"Rama, ini belum satu jam." Protes Denis kala itu.
"Apa kau tidak melihat Atma sudah lelah dan mengantuk?"
"Baiklah Atma sayang nanti kalau butuh bantuan atau apapun hubungi Om Denis, oke?" Atma hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. "Aku tidak akan membiarkanmu semakin dekat dengan anakku." Bisik Denis di telingaku, Aku tidak menggubris perkataannya, dan berlalu meninggalkannya dengan menggendong Atma.
Aku bersikap possesif pada Amanda dan Atma karena Aku mengetahui selama ini Denis menyewa beberapa orang untuk mengikuti aktivitas Amanda dan Atma, beberapa kali Aku baku hantam dengan orang yang Denis sewa untuk memata-matai kami.Â
Pagi itu, Atma meminta Aku untuk mengantar dan menjemputnya seperti biasa, tapi Aku tidak bisa memenuhi permintaan Atma karena pagi ini ada pertemuan penting di Bandung. Perasaanku sudah gelisah saat itu ketika meninggalkan rumah, jam sepuluh pagi Aku sudah sampai di Bandung, rencananya akan langsung kembali ke Jakarta saat itu juga. Namun, Ayah Tasya datang ke kantor saat Aku ingin beranjak pergi.
"Tasya mogok makan dan ingin menggugurkan kandungannya, Om mohon kamu datang untuk menyemangati dia agar tidak melakukan itu semua, bagaimana pun kalian teman sejak kecil, keluarga kita sudah saling mengenal." ungkap Om Herman.
"Tasya bukan urusan saya lagi Om, kami tidak memiliki hubungan apapun," ucapku tegas.
"Kali ini saja Rama, tolong bantu Om menenangkan Tasya, Om tidak mau terjadi sesuatu padanya dan juga anak yang di kandungnya, bantu Tasya sebagai teman kecilmu. Hanya kamu yang Om harapkan." Om Herman duduk bersimpuh, Aku sungguh kasihan terhadapnya. Akhirnya Aku mengiyakan permintaan Om Herman.Â
"Jangan bermain api Rama, ingat isterimu, jika dia tahu pasti akan kecewa." sebelum pergi Rio mengingatkanku.Â
"Kamu ikut denganku!"
"Kali ini Aku meminta bantuanmu. Atau jangan harap bekerja di perusahaan ini lagi." Akhirnya Rio menurut dengan perintahku. Kami berdua mengikuti mobil Om Herman dari belakang secara beriringan.
"Aku merasa akan terjadi sesuatu Rama," ia melirik Aku dibalik kemudi. "kita batalkan saja, gimana?"
"Semua akan baik-baik saja, tenanglah."
Setelah sampai di rumah keluarga Tasya, Aku dan Rio di persilahkan duduk dan di suguhkan minuman, sambil menunggu Tasya kami meminum minuman yang disuguhkan dan setelahnya mataku berkunang-kunang, terasa pusing dan mengantuk, sempat melihat bayangan Rio, iapun merasakan yang sama dengan apa yang Aku rasakan. Selang sejam mataku bisa terbuka kembali, Aku kembali tersadar meski masih terasa pening.
"Apa yang Om lakukan?"
"Rupanya kamu sudah sadar, kita hanya bersenang-senang sedikit." Ia tersenyum penuh arti. Aku berusaha mengingat apa yang terjadi tapi nihil, Aku tidak bisa mengingat apa pun.
"Jangan bermain denganku Om. Aku paling tidak suka jika dipermainkan." Om Herman hanya tertawa terbahak mendengar ucapanku.
"Kamu pikir Om akan takut?" Ia menatapku sinis. "Kamu telah menghancurkan hidup Tasya, apa kamu pikir Om hanya tinggal diam dengan keputusan dan sikapmu?"
"Dimana Tasya?"Â
__ADS_1
"Aku disini," Sebelum om Herman menjawab Tasya muncul dihadapanku. "Aku kira kita tidak akan bertemu lagi calon suamiku."
"Apa yang kalian rencanakan sebenarnya?"
"Tidak perlu kau tahu Rama, lihat saja apa yang akan Aku lakukan untuk menghancurkan rumah tanggamu dengan Amanda."
"Apa kau mengancamku Tasya?" Aku membalas tatapannya dengan tajam. "Kamu hanya bermimpi jika ingin menghancurkan rumah tanggaku."
"Baiklah kita lihat saja nanti." Ia dan Om Herman tertawa terbahak.
"Aku tidak pernah main-main dengan setiap ucapanku, ingat itu!!!" ucapku dan memapah tubuh Rio yang masih belum sadar sepenuhnya, dan meninggalkan rumah itu. 'pasti ada sesuatu yang mereka rencanakan, semoga semua yang mereka rencanakan tidak akan pernah berhasil menghancurkan kebahagiaan rumah tanggaku.' ucapku dalam hati.
Kejadian di rumah Tasya sama dengan kejadian saat Denis menculik Atma dan Amanda, itulah sebabnya ada rasa penyesalan dalam hatiku, ketika Amanda dan Atma membutuhkan pertolongan Aku malah tidak sadarkan diri di rumah Tasya. Dan yang menolong mereka bukanlah diriku melainkan Janu, setelah sampai di rumah sakit, hatiku terasa panas ketika melihat Amanda sangat dekat dengan Janu. Aku merasa tidak berguna saat itu, kecewa pada diri sendiri.
Setelah sebulan kejadian di rumah Tasya, tidak terjadi hal apapun dalam rumah tangga kami, Aku kira Tasya dan ayahnya mengurungkan niat mereka untuk menghancurkan rumah tanggaku, ternyata Aku salah. Sepulangnya dari Bandung setelah dua hari menetap di sana, siang itu tubuhku terasa lemas dan mual, sudah seminggu Aku merasakannya, entahlah apa yang terjadi dengan tubuh ini.
Tiba di pintu masuk rumah tidak ada yang menyambut kedatanganku, ternyata Amanda sedang bersantai dan fokus pada salah satu program memasak, melihat tatapan Amanda yang antusias saat menonton salah satu chef bertato sedang memasak, membuat diri ini tidak terima, berlebihan memang, tapi Aku hanya ingin Amanda menjadikan Aku satu-satunya Pria yang ia kagumi dan cintai. Terdengar konyol, tapi itulah kenyataannya, Aku sangat mencintai Amanda.
"Ini mas." Ia memberikan amplop yang baru diterimanya dan membuka amplop itu, Aku dan Amanda terkejut dengan isinya, kulihat tubuh Amanda sudah tidak mampu untuk berdiri, ia terduduk lemas tanpa ekspresi dengan air mata yang mulai menerobos keluar dari pelupuk matanya, setelah kami tahu isi dari amplop itu tiga lembar fotoku dan wanita yang tidak sama sekali kukenal sedang dalam posisi tidur dengan tidak ditutupi sehelai benangpun, bukan hanya dengan satu wanita tapi setiap foto menampilkan wanita yang berbeda. Ternyata ini yang direncanakan Tasya dan ayahnya.
Aku sudah menjelaskan bahwa ini semua rencana Tasya dan ayahnya untuk menghancurkan rumah tangga kami, tapi sia-sia, Amanda tidak mempercayai ucapanku tanpa bukti. Aku tidak menyalahkan sikap Amanda, sangat wajar ia tidak mempercayai Aku setelah melihat foto itu, ia sangat paham dunia bisnis yang kujalani tidak jauh dari wanita bayaran sejak dulu, dan Aku pernah menjelaskan hal ini, terkadang klien yang ingin menggunakan jasa perusahaanku melakukan pertemuan di klub malam yang khusus menyediakan ruangan pertemuan dan jika diinginkan menyediakan wanita bayaran untuk menemani, tapi itu semua bukan atas keinginanku, yang mengatur semuanya mereka yang ingin meminta jasa perusahaanku untuk mendesain perumahan maupun bangunan gedung milik mereka.
Amanda terus saja menangis, ingin sekali memeluk atau menggenggam tangannya tapi selalu ia tepis, jijik itulah yang Amanda katakan saat Aku akan menyentuhnya. Aku hanya memaklumi, karena bukan hanya Amanda yang jijik, Aku juga sama jijiknya ketika melihat foto tubuhku sangat dekat dengan wanita bayaran bahkan lebih dari satu wanita. Tasya dan ayahnya benar-benar keterlaluan, Aku pasti akan membuat perhitungan pada mereka untuk setiap air mata yang istriku keluarkan.
Saat masih menangis, Janu dan Gita datang ke rumah untuk mengantar Atma, akhirnya mereka mengetahui permasalahan yang tengah kami hadapi, Janu terlihat emosi setelah melihat foto itu dengan menarik kerah bajuku, ingin rasanya Aku membalas dengan pukulan di wajah Janu, sikap saat melindungi Amanda, memperlihatkan masih ada cinta untuk istriku. Namun, Aku harus menekan emosi yang hadir dalam diri ini agar permasalahan tidak semakin rumit, terlebih ada Atma di dekatku, Aku tidak ingin Atma menilai buruk sikapku nantinya, Aku harus bisa menjadi contoh yang baik untuk Atma.
Aku hanya bisa diam ketika Amanda masuk kedalam mobil milik Janu dan meninggalkan Aku sendiri di rumah ini, biarlah ia menenangkan diri seperti apa yang ia katakan sebelumnya, Amanda butuh waktu.
Sepeninggal mereka dari rumah ini, tubuhku terasa sangat lemas, mual yang semakin menjadi-jadi, Aku hanya bisa memijit pelipisku sambil menyandarkan tubuh ini di pintu gerbang rumah. Memikirkan cara mendapatkan bukti untuk meyakinkan Amanda agar ia kembali kerumah ini bersama Atma, mereka adalah prioritas dan kebahagiaan dalam hidupku saat ini.
Aku melihat sebuah mobil berhenti tepat di depanku, menampilkan sosok Rio, ia langsung bergegas keluar mobil dan memegang tubuhku yang mulai kehilangan keseimbangan. Sebelumnya Rio sudah memberi tahukan Aku bahwa ia akan ke rumah untuk memberikan berkas yang tertinggal, selama beberapa hari kedepan ia akan menetap di Jakarta, karena ia akan melangsungkan pernikahan disini.
"Seandainya Pak Bos menuruti perkataanku untuk jangan mengikuti keinginan pak Herman pasti ini tidak akan terjadi." Rio terlihat sangat kesal, ia menjadi saksi dan juga korban minuman yang membuat kami tidak sadarkan diri. "Aku akan menemui Bu Bos menceritakan semuanya agar ia kembali ke rumah ini." ucapnya tegas.
"Jangan ... " jawabku. "Biarkan istriku menenangkan diri, jika kamu yang berbicara mungkin ia tidak akan mempercayainya dan menganggap kamu bekerjasama denganku, Aku akan benar-benar mencari bukti, Aku akan menemui Tasya dan ayahnya." Rio hanya menggelengkan kepala dan memijit pelipisnya, ia pun kebingungan memikirkan bagaimana cara membuktikan semuanya.
~ Bersambung
__ADS_1