Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 77


__ADS_3

“Baby Daren ... oh lucunya,” kata Atma yang langsung memberikan kecupan di seluruh wajah bayi gempal yang sempat menghuni ruang NICU.


“Mana kembar? Ante sama Om udah punya baby juga dong, bukan Atma aja sama Mama Amanda,” sahut Gita yang masih tetap menggendong Baby Daren yang sedang diciumi Atma.


“Kalah ganteng sama Tama ... kalau Baby Daren rambutnya pirang kalau Tama rambutnya hitam,” bela Atma yang memuji adiknya sendiri.


“Oh ya?” Kini Janu yang baru masuk ke dalam rumah langsung menggendong Atma lalu mengecup sayang Atma yang baginya tetap anak pertama.


Kasih sayang anggota keluarga sejak awal tercurahkan ke Atma, karena bagi mereka Atma adalah anak yang luar biasa di umur yang masih kecil dengan perjalanan hidup yang sudah ia jalani bersama Amanda dan pemikiran dewasanya.


“Jantung Atma sudah sehat?” tanya Janu ketika Atma sedang dalam gendongannya.


“Alhamdullilah, Om. Sehat ... Cuma enggak boleh capek sama Om Dokter.”


“Nurut sama Dokter, okey?!”


“Siap, Om!”


Amanda dan Rama keluar dari kamar menggendong si kembar, pertemuan keluarga yang sangat berkesan ketika semua cucu Abi dan Ummik berkumpul, tak terkecuali Bu Ratih—Mama Rama yang juga ikut dalam pertemuan di rumah sang anak.


Rencana berkumpul di rumah Abi dan Ummik berubah, Atma meminta Baby Daren yang main ke rumahnya agar bisa menunjukkan koleksi mainan yang ia miliki walaupun Daren belum paham. Tetapi, untuk menyenangkan Atma, orang dewasa di keluarga itu mengikuti.


“Sepertinya ketiga bayi lebih nyaman di kamar deh, Ram,” kata Bu Ratih.


“Iya nih, aku juga mau ngasih ASI ke Daren,” tambah Gita yang melihat Daren sudah gelisah menahan haus.


“Ya sudah, ayo Omma kita bawa ketiga bayi ke kamar lagi.” Amanda langsung melangkah lebih dulu kembali ke kamar diiringi Gita dan juga sang Mama mertua.


“Abi sama Ummik di sini saja deh, mau ngobrol sama para mantu,” sahut Abi yang duduk di samping Ummik berhadapan dengan Rama.


“Atma sama Eyang Abi dan Eyang Ummik,” kata Atma yang duduk dipangkuan Rama, menjadikan tubuh Rama sofa untuknya, tempat ternyaman.


“Abi dan Ummik bersyukur melihat kalian sudah memiliki kebahagiaan dengan keluarga masing-masing, memiliki buah hati yang sehat dan juga rumah tangga yang harmonis,” kata Abi mengawali pembicaraan mereka.


“Ini semua berkat doa Abi dan Ummik, Janu bahkan tidak menyangka bisa berjodoh dengan anak Ummik dan Abi yang unik,” sahut Janu tersenyum lebar.


“Kamu memang beruntung Janu,” timpal Rama yang mulai angkat bicara.


“Hei! Kamu yang beruntung, bisa menikah dengan Amanda ketika beberapa saat akan menikah denganku,” sindir Janu yang bersedekap dada sambil menaik turunkan alis, meledek Rama.


“Hahhh ... aku sudah sering berterima kasih padamu, Janu. Sudahlah jangan diungkit,” keluh Rama yang membuat Janu terkekeh.


“Just kidding, Ram. Jangan diambil hati.”


“I see.”


“Melihat Atma, Amanda dan kamu bahagia bersama si kembar sudah membuatku bahagia. Toh ... kita sekarang menjadi keluarga, saudara yang tak akan pernah ada kata mantan.”


“Om ...,” sela Atma.


“Apa sayang?”


“Om Janu tetap sayang sama Atma walaupun ada Baby Daren, ‘kan?” tanya Atma mengerjapkan mata.


“Sayang dong ... kalau memang Atma udah sehat dan diperbolehkan Dokter naik pesawat, Om mau ajak Atma ke Australia seperti dulu, kita akan keliling kota bersama kembar dan Baby Daren.”


“Benarkah?”


“Ya ... tentu saja. Om janji,” kata Janu yang membuat Atma semakin merasa bahagia.


“Yeee!” sorak Atma setelah mendengar janji Janu padanya.


“Makanya Atma harus ikutin apa kata dokter biar sehat,” kata Janu menyemangati karena Atma masih tetap dalam pantauan Dokter meskipun tampak dari luar sudah terlihat sehat.


“Janji, Om.”


“Pintar anak, Papa,” puji Rama mencium pipi Atma yang semakin berisi ketika hari-hari di isi dengan makan dan istirahat.


Di sisi lain, Amanda dan Gita sedang menidurkan bayinya setelah memberikan susu hingga ketiga bayi itu merasa kenyang dan sudah mulai mengantuk kembali.


“Aku bahagia, Kak. Menikah dengan seseorang yang lebih dewasa sungguh membuatku merasa beruntung.”


“Duh! Cintanya sudah besar banget nih kayaknya sama Kak Janu,” ledek Amanda yang membuat Gita tersipu malu.

__ADS_1


“Besar banget, Kak. Kak Janu suami dan ayah siaga untuk Darren, bahkan aku merasa selalu merepotkannya dengan keluhan ini dan itu. Beruntung Kak Janu tidak pernah marah,” kata Gita yang saat mengatakan hal itu sambil tersenyum sumringah.


“Kak Janu dan Mas Rama adalah lelaki hebat, karena mereka selalu memuliakan wanita dengan kelemahlembutan dan kasih sayang.”


“Terima kasih, Kak.”


“Untuk?”


“Karena Kakak, aku mengenal Kak Janu—suamiku, walaupun awalnya penuh dengan keraguan, tapi ternyata Kak Janu memang pantas dicintai.”


“Duh! Kenapa kita jadi melow?” keluh Amanda yang memeluk Gita, akhirnya mereka saling melempar senyum.


“Bukan hanya kalian yang beruntung, melainkan kedua pria itu pun beruntung mendapatkan bidadari seperti kalian,” sela Bu Ratih yang menghampiri lebih dekat setelah meletakkan Amara yang sudah tertidur pulas di ranjang paling ujung kamar bayi.


“Amanda yang beruntung mendapatkan mertua yang super duper baik,” puji Amanda yang memeluk sang Mama mertua sambil tersenyum lebar.


“Benarkah?”


“Enggak ada drama mertua jahat dan menantu cerdik,” kelakar Amanda yang disambut tawa renyah Bu Ratih.


“Mana mungkin Mama jahat, melihat anak bahagia ya sudah sebagai seorang ibu tinggal mendoakan dan turut bahagia. Kamu juga menantu yang baik, kenapa mama harus jahat?”


“Belum tentu juga Tan, lah itu mamanya Denis jahatnya minta ampun,” celetuk Gita yang kembali dalam mode ceplas-ceplos.


“Sudah tobat dia, Ta,” kata Bu Ratih yang hanya ditanggapi senyum tipis Amanda.


Gita belum mengetahui kejadian antara Denis, Amanda, Rama dan Atma serta sang manta mertua. Akhirnya Amanda dan Bu Ratih menceritakan dengan gamblang apa yang telah terjadi.


“Itulah hukum tabur tuai, syukurlah mereka sudah sadar semoga saja sadar beneran dalam arti tidak berbuat ulah lagi atau sedang bersandiwara untuk menghancurkan keluarga Kakak dan Mas Rama.”


“Insyaallah, Enggak kok Ta ... kami semua sudah dalam keadaan baik-baik saja,” kata Amanda yang meyakinkan Gita agar tidak khawatir.


“Rama pasti lebih cerdas jika ada sesuatu yang mencurigakan, anak Tante sangat cerdas dan cekatan jika mengenai kebahagiaan keluarga kecilnya, Tante sih tenang ... Rama bisa melindungi orang-orang yang ingin berniat jahat pada kami,” sahut Bu Ratih yang membanggakan sang anak karena Rama patut diandalkan.


Sementara di ruang tamu, Janu membelalakkan mata ketika melihat kedatangan Denis. Perkembangan hubungan Denis, Rama, Amanda dan Atma sama sekali belum ia ketahui. Kedatangan Denis cukup membuatnya terkejut bukan kepalang, Janu langsung berdiri. Bersiap memberikan pelajaran jika memang Denis memiliki niat jahat pada keluarganya.


“Kamu?!” Suara Janu menyapa dengan mata melotot lebar.


“Tenang Jan, kita semua sudah baik-baik saja.” Rama menenangkan Janu.


Denis memeluk Atma dengan sayang, mencium seluruh sisi wajah Atma seperti biasanya. Sesuatu yang membuat Janu membuka mulut tak percaya dengan sesuatu yang ia lihat.


“Ini nyata kan, Ram?” tanya Janu.


Abi dan Ummik menahan tawa melihat Janu yang begitu terkejut dengan apa yang ia lihat, sudah banyak perkembangan di Indonesia yang tidak ia ketahui. Ummik dan Abi pun tidak menceritakan pada Janu dan Gita agar fokus pada keluarga kecil mereka. Rama hanya mengangguk, belum bisa menjelaskan secara detail apa yang terjadi.


Kejadian saat Atma dan Amanda dalam bahaya ketika ia dan Abi menolongnya pun melintas, membuat Janu seketika geram tapi ia menahan emosi dalam dada melihat senyum mengembang Atma yang seolah tidak terjadi apa pun di masa lalu.


“Masuk, Den,” kata Rama mempersilahkan begitu pun Abi, sedangkan Ummik masuk ke dalam kamar menyusul ketiga perempuan yang lebih dulu masuk ke dalam kamar bayi. Lebih baik melihat ketiga cucunya tidur dibandingkan melihat wajah Janu yang penuh keterkejutan, pikir Ummik.


“Ayo, Pa masuk. Kenapa Papa baru datang? Memang tidak kangen sama Atma? Hanya menelepon saja, biasanya tiap minggu Papa datang,” cerocos Atma yang sedikit kesal ketika beberapa minggu ini Denis tidak menjenguk, hanya menelepon dan mengirimkan mainan atau makanan kesukaan Atma lewat kurir.


“Papa kan habis berobat terapi Nenek agar pulih, maaf ya, Sayang.”


“Bagaimana Nenek? Sudah bisa dijenguk belum?” tanya Atma lagi sementara yang lain hanya melihat interaksi ayah dan anak di depannya.


“Sudah lebih baik, berkat doa anak salih—Atma. Kalau mau Papa ingin mengajak Atma menginap di rumah, menemani Nenek nanti Senin pagi Papa yang antar Atma ke sekolah, bagaimana?” tanya Denis yang mendapatkan anggukan serta cengiran Atma.


“Tidak! Tidak! Aku tidak yakin kamu menjaga Atma, atau bisa jadi kamu akan memberikan obat dosis tinggi dan membahayakan Atma seperti waktu itu,” tolak Janu yang membuat Denis menghela napas panjang.


“Janu, tolong! Aku sudah memperbaiki semuanya, berubah menjadi lebih baik dan meminta maaf setulus hati,” mohon Denis agar tak terjadi pertengkaran.


“Apa peduliku?”


“Jan ... sudah tidak baik bertengkar di depan Atma, nanti akan aku jelaskan,” ucap Rama berbisik menghentikan perdebatan.


“Sudah-sudah, Janu ... sebaiknya kita berbicara di ruang tengah, biar Abi yang menjelaskan,” putus Abi yang berdiri dan merangkul pundak sang menantu, beliau sangat memahami keberatan akan kehadiran Denis karena ia pernah menjadi saksi kejahatan Denis yang hampir saja membuat Atma meninggal karena over dosis obat tidur yang ia berikan beberapa waktu lalu.


“Om Janu marah ya, Pa?” tanya Atma pada Rama.


“Tidak sayang, hanya kaget.”


“Ooo ... pasti bohong! Atma kan cerdas, Om Janu kan baik jadi kalau marah kelihatan,” kata Atma yang diakhiri cengiran membuat Rama mati kutu karena dianggap berbohong.

__ADS_1


“Iya ... Papa Denis memang pantas dimarahin, karena Papa Denis dulu sangat nakal,” sahut Denis yang membuat Atma kini memahaminya.


“Ada yang ingin kamu sampaikan, Den?” tanya Rama yang melihat ekspresi berbeda Denis.


“Boleh tidak Atma ke kamar dulu, Papa ingin berbicara serius dengan Papa Rama,” pinta Denis, Atma langsung berdiri dan memberikan hormat ke arah Denis.


“Siap Pa, Atma mau godain tiga bayi di kamar,” kata Atma yang langsung membalikkan tubuh, antusias berlari menuju kamar menjalankan aksi usilnya pada si kembar dan Baby Daren yang akan membuat Amanda dan Gita kewalahan.


“Ada apa, Denis?” tanya Rama to the point.


“Aku sudah berobat mengenai penyakit organ vital-ku, Ram.”


“Lalu?”


“Sudah ada perkembangan walaupun belum signifikan,” keluh Denis kemudian.


“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Rama yang langsung bertanya apa yang akan Denis lakukan.


“Aku sudah resmi bercerai dengan Vanya, sekarang Vanya pun sudah bertolak ke Austria menyusul keluarganya yang sudah lebih dulu di sana. Aku takut kehilangannya, Ram. Tapi aku juga takut mengecewakannya dengan kekuranganku ini.”


“Bagaimana untuk sementara kamu pindah ke sana, Denis? Memberikan terapi untuk Bu Sinta, mengobati penyakitmu dan mendekati Vanya kembali terutama meminta maaf kepada keluarga Vanya yang sudah kamu kecewakan karena semua itu tidak mudah, kamu harus memperbaiki semuanya satu persatu agar kedepannya tidak ada aral membentang antara kamu dan keluarga Vanya,” saran Rama yang langsung disetujui Denis.


Terlalu banyak kesalahan yang Denis lakukan terhadap Vanya dan juga telah mengecewakan keluarga Vanya, walaupun sejak awal pernikahan mereka karena desakan keluarga tetapi Denis tetap berkewajiban membahagiakan Vanya bukan menyia-nyiakan Vanya seperti apa yang sudah ia lakukan selama berumah tangga.


“Hahh! Aku tidak tahu kalian sudah akur seperti sekarang, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa jika semua sudah memaafkan selain memaafkanmu juga,” sela Janu yang sudah hadir kembali di tengah mereka.


Denis berdiri, mengulurkan tangan dan memberikan pelukan khas pria dewasa.


“Terima kasih, Jan. Akan kupastikan tidak ada Denis yang bodoh dan jahat seperti dulu, aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang, diterima Rama, Amanda dan keluarga besar ini,” kata Denis yang mengucapkan sebuah janji.


“Ya ... aku percaya padamu, lebih tepatnya berusaha percaya padamu. Jika sedikit saja menyakiti Amanda, Rama dan Atma kamu akan berhadapan denganku, akan kupastikan bisnis Narendra hancur berkeping-keping di Australia, wilayah kekuasaanku,” ancam Janu yang membuat Rama bergidik ngeri. “jangan lupakan kalau Mommy dan Daddy-ku menguasai bisnis retail juga di sana.” Lanjutnya.


“Hanya orang bodoh yang melakukan kesalahan untuk kedua kalinya,” kata Denis.


“Kita balik ke pembicaraan awal, Den,” imbuh Rama ketika mereka semua sudah duduk bersama.


“Aku akan mengikuti saran darimu, Ram. Aku tidak memiliki saudara yang bisa dipercaya dan dimintai tolong, kumohon bantu aku untuk mengawasi semua Bisnisku yang berada di Indonesia selama aku di Austria, memang menyusahkanmu tapi ini semua demi Atma, aku tidak ingin kepercayaan di salah gunakan oleh kaki tanganku di perusahaan, harus ada yang mengawasi mereka dan itu kamu. Bagaimana pun kamu juga pengusaha, walaupun kita dalam jalur bisnis yang berbeda tetapi inti keseluruhan tetaplah sama, kali ini aku mohon bantuanmu sebagai seorang saudara ...,” pinta Denis yang membuat Rama sejenak berpikir untuk menerima atau tidak.


“Baiklah ... aku akan membantumu,” kata Rama yang membuat Denis tersenyum lega, setidaknya selama ia bertolak ke Austria semua aman terkendali di bawah kepemimpinan Rama.


“Rama ... aku masih tidak menyangka kalian bisa bersahabat dengan masa lalu padahal masa lalu kalian bukanlah hal yang baik-baik saja.”


Denis dan Rama hanya saling melempar senyum ketika Janu masih melihat mereka dengan tatapan tak percaya, padahal jika ingin hidup bahagia jangan biarkan masa lalu mengusikmu, boleh melihat belakang tapi jangan membawanya kembali ke kehidupan sekarang.


**


“Tidak Mom, aku tidak akan menikah dengan Frans ... ini semua akal-akalan Frans untuk mengembangkan bisnisnya ketika nanti ia memiliki kekuasaan atas aset namaku selain milik Kakak,” kata Vanya yang tengah di desak oleh orang tuanya untuk menikah dengan Frans.


Frans tidak tinggal diam, ia bertolak ke Austria untuk meminta langsung Vanya kepada orang tuanya dengan sangat manis hingga orang tuanya mendukung niat Frans dan ikut mendesak Vanya agar mau kembali dan menikah dengan Frans.


“Itu hanya pemikiranmu saja, Vanya. Frans baik, dia sudah menjelaskan kronologi video yang Denis berikan padamu, itu hanya akal-akalan Denis saja. Sudahlah lupakan Denis,” kata Mommy Vanya—Dira.


“Mom, tolong jangan dengarkan Frans.”


“Kamu benar-benar dibutakan cinta oleh Denis, Vanya.”


“Ya! Aku memang mencintainya, bukankah dulu Mommy yang memaksaku untuk menikah dengan Denis? Lalu ketika Denis sudah menjadi seseorang yang kucintai kenapa Mommy melarangnya? Ini hati, Mom! Tidak seenaknya memerintah untuk mencintai atau melupakan dalam waktu cepat!” Vanya mulai tersulut emosi.


“Ya ... Mommy tahu! Maka dari itu tidak perlu persetujuan darimu, Mommy yang akan memutuskan karena kamu harus dipaksa agar tidak menjadi wanita bodoh yang hanya percaya pada satu cinta,” putus Mommy-nya yang langsung meninggalkan kamar Vanya.


“Mom!” panggil Vanya yang tak mendapatkan tanggapan Mommynya.


“Vanya tidak akan pernah mau menikah dengan Frans, jika mommy melakukan hal itu maka mommy akan melihat mayat Vanya!” ancam Vanya berteriak ketika pintu kamar dikunci dan dengan cepat ponselnya pun disita oleh mommynya.


“Mommy tidak takut dengan ancamanmu, omong kosong!” sahut mommynya dari luar kamar.


Tubuh Vanya luruh di balik pintu, ia menangis tergugu ketika untuk kesekian kalinya hanya dimanfaatkan dalam dunia bisnis oleh mommynya sendiri.


“Denis tolong aku, datanglah dan bantu aku ...,” kata Vanya di sela isak tangisannya.


~Bersambung~


Like dan komentar ....

__ADS_1


Maaf lama update, minta doanya supaya author kembali sehat, bisa mandangin layar lebih lama untuk menulis supaya setiap hari bisa update ... tetap terapkan prokes, keep healthy.


Terima kasih untuk supportnya di karya Pasca Cerai, ikuti terus sampai Tamat.


__ADS_2