Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 59


__ADS_3

Pesan demi pesan di terima Denis dari nomor Rama, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa ketika fisiknya terasa sangat lemah.


“Bagaimana kondisimu? Sudah lebih baik?” tanya Bu Sinta yang kini duduk di kursi samping ranjang.


“Sedikit lebih baik, tapi masih terasa pahit di lidah dan kepala rasanya berputar.”


Bu Sinta memperhatikan lamat-lamat wajah sangat Anak yang tampak pucat, rasa khawatir menggunung ketika mendengar vonis dokter yang mengatakan bahwa anak semata wayangnya terdiagnosa penyakit yang cukup serius dan mengancam jiwa.


“Apa kamu sudah memberitahukan kondisimu pada Atma? Rama? Atau Amanda?”


Denis masih diam, belum menjawab pertanyaan ibunya. Pikirannya melayang, ia pun bingung harus berbuat apa. Ia ingin berada di samping Atma saat ini, memeluknya dan menciumi seluruh sisi wajah sang anak.


Namun, ia masih memikirkan kondisi tubuhnya dan saran dari dokter agar ia tetap di rawat sampai keadaan benar-benar pilih.


“Aku ingin bertemu dengan Dokter, Ma.”


“Apa yang ingin kamu lakukan?”


“Meminta izin agar diperbolehkan keluar sebentar saja untuk menjemput Atma dari rumah sakit setelah itu kembali ke ruang ini untuk melakukan semua tahap pengobatan,” kata Denis.


“Tidak, Nak. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu? Mama tidak setuju.”


Mana mungkin Bu Sinta menyetujui ketika melihat wajah anaknya yang masih pucat untuk keluar dari rumah sakit.


“Aku tidak ingin Atma kecewa, Rama sudah berbaik hati meyakinkan Atma untuk bertemu denganku, tolong untuk kali ini, Ma. Dokter pasti tahu apa saja yang akan dilakukan ketika mengizinkan aku keluar sebentar dari ruang perawatan, Ma. Demi Atma...,” pinta Denis yang kini seperti memohon.


Bu Sinta akhirnya mengalah, ia berdiri menekan tombol agar perawat datang ke ruang rawat. Tidak berapa lama seorang perawat datang dengan tersenyum ramah.


“Ada yang bisa kami bantu, Bu?”


“Adakah Dokter penanggung jawab anak saya, Sus?”


“Ada masalah, Bu?”


“Ada yang ingin ditanyakan oleh anak saya.”


Perawat melihat jam yang tertempel di dinding sebelum memberikan jawaban.


“Sebentar lagi Dokter selesai praktek di poliklinik, nanti akan kami jadwalkan mengunjungi ruangan.”


“Baik, Sus.”


Sepeninggal Suster, Denis kembali memejamkan matanya. Pusing dan mual kini kembali melanda, sudah hampir seminggu ia tidak bisa mengkonsumsi banyak makanan. Wajahnya terlihat sedikit tirus, Bu Sinta di buat cemas. Khawatir terjadi sesuatu, Denis adalah satu-satunya harapan dan kebanggaan yang ia miliki.

__ADS_1


Bu Sinta sudah membayangkan yang tidak-tidak ketika melihat kondisi Denis yang sekarang terlihat tak berdaya, doa pun dipanjatkan untuk kesehatan sang anak. Istri tak punya, anak tidak berada di sisi membuat sang Ibu merasa sangat bersalah berkali-kali lipat jika seperti ini.


Mereka hanya diam meski dalam satu ruangan, larut dalam pikiran masing-masing.


Selang hampir satu jam, akhirnya Dokter hadir di ruangan. Denis tersenyum penuh harap, sedari tadi inginnya langsung melepas jarum infus di tangan dan berlari agar secepatnya bertemu Atma yang dikabarkan sudah pulih.


“Saya mohon, Dok.”


“Tapi Pak Denis masih terlihat pucat dengan mata yang terlihat kuning, saya khawatir terjadi sesuatu dengan anda. Tolong ikuti apa pun yang saya anjurkan.”


“Kali ini saja, Dok. Anak saya baru keluar dari rumah sakit, saya ingin melihat kondisinya dan menyalurkan rasa rindu. Anda di rumah punya anak ‘kan? Pasti tahu rasanya rindu dengan anak.”


Sesaat Dokter terdiam, tidak tega rasanya melarang seorang Ayah yang ingin bertemu dengan anaknya.


“Baiklah, perawat home care akan menemani anda. Selang infus tetap tertancap selama perjalanan, ketika ingin keluar mobil baru bisa dilepas. Setelah urusan selesai, perawat akan menancapkan infusan anda kembali, “ putus Dokter dengan berat hati tapi langsung mendapatkan cengiran bahagia Denis.


“Atma... Papa akan datang menjemputmu, Nak.”


Setelah segala persiapan sudah selesai, Denis, Bu Sinta dan seorang perawat akhirnya bersama menuju rumah sakit.


Atma dijadwalkan sejam lagi baru akan keluar dari ruang rawat inap, Denis masih memiliki waktu untuk menemui sang anak walaupun hanya sebentar setidaknya mengobati kerinduan.


“Anda harus memakai kursi roda, Pak.”


Bu Sinta ikut menemani anaknya menemui Atma, perasaannya tentu saja was-was. Khawatir tiba-tiba terjadi sesuatu dengan anaknya seperti seminggu lalu yang ditemukan tergeletak tak berdaya di kamarnya dengan wajah memar dan pendarahan di bagian hidung.


“Benar kamu tidak apa-apa, Denis?”


“Tidak perlu khawatir, Ma.”


“Ringan kamu berbicara seperti itu, sedangkan Mama rasanya ketar-ketir.”


Denis tersenyum tipis, tetap melangkahkan kaki perlahan menuju ruang rawat inap Atma. Di tangannya sudah menenteng mainan robot dan mobil remote yang memang sudah ia persiapkan beberapa hari lalu.


Ia langsung membuka pintu ruang rawat inap Atma dengan tersenyum dan tanpa ragu, mata Atma langsung melebar melihat kedatangan Papa kandungnya itu. Atma sedang duduk bersandar di tubuh Rama, senyum hangat pun tampak di wajah Bu Sinta.


Seperti biasa Amanda langsung mencium punggung tangan Bu Sinta dengan takzim, kebiasaan Amanda dan sekaligus mencontohkan Atma untuk memberikan salam pada seseorang yang lebih tua.


“Sehat, Bu?” tanya Amanda berbasa-basi.


“Alhamdullilah, Amanda.”


“Bagaimana keadaan anak Papa yang tampan?” tanya Denis menyapa Atma dengan hati-hati.

__ADS_1


Rama menggeser posisi dan langsung meminta Denis duduk di samping Atma sementara Rama berdiri di samping Amanda, melihat dengan seksama pertemuan ayah dan anak yang masih terlihat kaku walaupun tidak beku.


“Baik, Pa,” jawab Atma tanpa melihat wajah Denis tapi malah melihat kedua tangan yang ia tautkan sambil menunduk.


Ada rasa khawatir melihat respon Atma, Amanda menoleh ke arah Rama yang meminta pendapat dengan matanya apakah anaknya itu akan baik-baik saja? Rama menanggung dan menggenggam erat tangan sang istri sambil menyunggingkan senyum dan mengedipkan mata.


“Boleh Papa memelukmu, Sayang?”


Atma tetap menundukkan kepala dengan anggukan kecil yang terlihat, Denis langsung merengkuh tubuh anaknya menciumi seluruh sisi wajah sang anak dan mengusap-usap rambut itu dengan sayang.


“Papa sayang kamu, Nak.”


Tangan Atma masih ragu untuk membalas pelukan papanya, tangannya masih menggantung di udara belum menyentuh punggung tubuh belakang Denis.


Wajah yang menyembul di bahu papanya dan langsung bersitatap dengan Amanda dan Rama, Rama mengisyaratkan Atma untuk melingkarkan tangannya. Atma mengangguk patuh, dengan ragu ia mendekatkan tangannya ke tubuh Denis hingga menyentuhnya semakin lama sentuhan itu semakin mengerat.


Rasa hangat menjalar dihati keduanya, bulir bening dari sudut mata mereka pun luruh.


“Papa,” panggil Atma lirih.


Tubuh Denis bergetar menahan tangis, Bu Sinta langsung maju dan ikut bergabung memeluk Denis dan Atma. Denis meregangkan pelukan, kini Bu Sinta yang memeluk Atma sangat erat. Tangisan wanita yang sudah berumur itu pun akhirnya pecah.


“Maaf, semua ini salah Nenek, Nenek yang membuat kalian berpisah. Jika kamu mau benci, silahkan benci nenek, Nak. Papa Denis tidak bersalah ... tidak bersalah.”


Air mata Bu Sinta tak terbendung lagi, tangan Atma terulur ketika sang Nenek merenggangkan pelukan. Di elusnya pipi itu dengan jari tangan kecilnya, Atma tersenyum sangat tampan.


“Jangan nangis, Nek. Atma sudah memaafkan.”


“Terima kasih, Sayang.”


Bu Sinta mengecup lama kening Atma, Rama dan Amanda tersenyum lega. Kekhawatiran Denis menyia-nyiakan kesempatan ini sirna sudah, kini semua bisa tersenyum bahagia tanpa ada duka.


Kepala Denis terasa berputar, tangan kanan menekan pelipis dan memberikan sedikit pijitan berharap rasa sakitnya mereda. Bukan mereda yang ia rasakan, melainkan perut bergejolak hebat. Dekis bangkit dari duduknya, berharap ada waktu untuk meredakan apa yang tengah ia rasa agar tidak diketahui.


Baru berdiri dan maju 3 langkah tubuhnya ambruk seketika, Rama berhasil menangkap tubuh Denis.


“Denis!”


“Papa!”


Teriak semua orang yang berada di dalam ruangan, hidung Denis mengeluarkan darah segar yang menambah kepanikan ....


~Bersambung~

__ADS_1


Like plus komentar bawel penyemangat yaaa 😍


__ADS_2