
“Atma ketemu Papa Denis?” tanya Amanda yang menghapus jejak air mata di pipinya.
Atma memejamkan mata dan mengangguk, memastikan dirinya kalau ia benar-benar siap bertemu dengan seseorang yang sudah menyia-nyiakan dirinya dan membuat ia takut dengan kejadian terakhir bersama mamanya.
“Apa Atma tidak merasa takut, hmm? Kalau Atma masih merasa takut dan ragu, tidak apa nanti terpenting Atma sudah ada niat memaafkan Papa Denis,” tanya Amanda sangat memahami kegelisahan Atma dari mimik wajah sang anak.
Atma mengambil napas dalam lalu mengembuskan perlahan, tangannya terulur mengelus pipi Amanda yang masih sedikit basah oleh air mata.
“Asal ada Mama dan Papa Rama yang menemani,” kata Atma yang akhirnya tersenyum menampilkan deretan giginya yang tampak beberapa gigi yang gigis tapi membuat ia semakin menggemaskan.
“Anak pintar, anak salih Mama Papa.” Kecupan seluruh sisi wajah Atma pun diberikan untuk kesekian kalinya.
“Tuhan tambah sayang ‘kan sama Atma?”
“Tentu saja, bahkan Mama, Papa dan semuanya tambah sayang sama Atma.”
Atma kembali tersenyum hangat, bermanja ria dengan Amanda dan senyumnya pudar kala petugas laboratorium masuk ke dalam ruangan. Atma mengembungkan pipi, menatap takut-takut petugas medis padahal mamanya adalah seorang Dokter, tapi tidak membuat ia takut dengan jarum suntik.
[Denis ... datanglah keruang rawat inap, Atma ingin bertemu denganmu.] Pesan Amanda yang terkirim ke nomor Denis.
[Benarkah, Amanda?]
[Tentu saja.] Balas Amanda sambil mengambil foto Atma yang tengah terbaring.
Setelah itu Amanda mengirimkan pesan untuk sang suami agar datang lebih dulu dari Denis dan mengatakan jika Atma ingin bertemu Denis.
Dengan seribu langkah, Denis kembali ke rumah sakit setelah beberapa saat yang lalu meninggalkan rumah sakit pasca mendonorkan darah. Hatinya begitu bahagia mendapatkan kabar dari Amanda, untung saja pesan itu langsung terbaca meskipun Denis tengah mengendarai mobil, kebetulan mobil tengah berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
“Siang adik tampan, Om pinjam telinganya dulu ya, tes koagulasi dulu ya, cek pembekuan darah persiapan operasi.”
“Sakit lah, Om.”
“Seperti di gigit semut telinganya, hanya sebentar.”
“Atma enggak mau!”
Anak usia hampir 7 tahun itu merajuk, memeluk Amanda sambil menggelengkan kepala kuat.
“Biar Mama yang melakukan tes koagulasi, bagaimana?” tawar Amanda pada anaknya.
Pintu terbuka menampilkan Rama diambang pintu yang langsung melangkah cepat ke dalam ruangan, “Ada apa ini?” tanya Rama panik melihat Atma memeluk erat Amanda.
“Atma tidak ingin tes laboratorium, Mas.”
“Jagoan Papa enggak boleh takut, biar cepat sembuh. Setelah operasi Atma bisa bermain puas dengan adik kembar di rumah, kalau Atma tidak nurut nanti lama dong sembuhnya. Ayo, Nak! Semangat jagoan,” kata Rama yang memberikan penguatan.
Perlahan dekapan erat Atma merenggang, ia langsung tertunduk lesu. Lelah dari kemarin harus merasakan sakitnya jarum suntik, lelah menahan nyeri di bagian dada tapi semangat ketika kedua orangtuanya selalu membuat ia semangat.
“Biar Papa yang meluk Atma, dan Mama yang akan melakukan tes,” saran Amanda yang langsung membuat Atma mengangguk setidaknya mamanya tidak akan menyuntikkan jarum sangat sakit untuknya, pikir Atma.
__ADS_1
“Biar saya yang melakukan tesnya, Mas,” kata Amanda pada petugas laboratorium yang memegang mengenal perempuan di depannya berprofesi sebagai Dokter.
Amanda melakukan penusukan sedikit di bagian telinga lalu secepatnya mengusap kapas beralkohol, sementara Atma sudah memejamkan mata karena ngeri melihat jarum.
“Sudah,” kata Amanda mengakhiri sambil tersenyum menyerahkan hasil penyuntikan pada petugas laboratorium.
“Jagoan Papa,” kata Rama yang melepaskan lingkaran di tubuh Atma yang terbaring.
“Adik sedang apa, Pa?”
“Kamu kangen?”
Atma mengangguk, tentu saja kangen dengan si kembar.
“Biasanya pulang sekolah langsung bermain dengan Tama dan Amara,” ucap Atma sambil membayangkan wajah lucu adik kembarnya.
Rama langsung menyambungkan telepon, melakukan VC pada Omma dan Eyang Putri yang kini tengah di rumah mengurusi si kembar selama Amanda fokus pada sang anak.
“Ma, mana si kembar?” tanya Rama yang mendapatkan tatapan dengan binar bahagia dari Atma.
“Omma!” teriak Atma tersenyum sambil tetap posisi berbaring.
“Sayang, Atma harus kuat ya.”
“Iya, Omma. Tuhan tambah sayang sama Atma kok, pasti sembuh, “ kata Atma dengan oenuh keyakinan dan tampak bahagia.
Rama melingkarkan tangan di pinggang Amanda, mereka saling melempar senyum. Senyum penuh makna ketika apa yang mereka ajarkan pada Atma tidaklah sia-sia.
“Iya, Omma. Adik Atma mana?”
Kamera di geser menuju Tama dan Amara yang tengah aktif menggerakkan tangan dan kaki serta bertambah aktif ketika melihat sang Kakak, suara dan wajah yang selalu menemani mereka.
“Dek, doain Kakak sembuh ya, biar kita bisa main lagi. Nanti kakak bacakan dongeng si kancil, atau katak, atau kurcaci, ahhh! Nanti Adek pilih sendiri deh pas Kakak pegang buku dongeng bergambar nanti Adek tunjuk aja. Sekarang doain kakak aja ya. Kakak ... kangen,” kata Atma yang menciumi wajah kedua adiknya yang memenuhi layar ponsel.
Kedua adiknya bertambah aktif mendengarkan, Amanda menengadahkan kepala menahan bulir bening yang sudah siap menerobos pertahanan.
“Aamiin, Kakak Atma pasti sembuh,” kata Eyang dan Omma-nya, sementara Rama mengelus punggung tubuh Amanda dan juga mengelus puncak kepala Atma.
Pintu ruangan terbuka, Denis langsung masuk ke dalam ruang rawat dengan senyum mengembang.
“Sudah dulu ya, Eyang, Omma, doain Atma,” kata Rama yang diiyakan dan langsung menutup telepon.
Tubuh Atma menegang melihat kedatangan papa kandungnya, di tangan Denis sudah ada parsel buah dan juga sebuah hadiah mainan yang ia beli dadakan di dekat rumah sakit.
Atma memegang tangan Rama kuat-kuat, tangannya terasa dingin seketika.
“Sayang, Papa Denis, datang ...,” kata Amanda.
Denis semakin maju dan mengikis jarak.
__ADS_1
“Sayang ... ini papa bawakan mainan dan buah, Atma mau apa lagi? Mainannya coba dibuka, mudahan-mudahan Atma suka ya. Atau setelah Atma sembuh kita ke toko mainan , Atma bisa pilih apa pun yang Atma suka, bahkan kalau Atma mau papa belikan tokonya,” cerocos Denis dengan bersemangat, wajah bahagia begitu terpancar.
“Atma Cuma ingin di sayang Tuhan, Atma tidak ingin apa pun.” Atma menjawab dengan suara sedikit gemetar.
“Atma masih takut sama, Papa Denis?” tanya Amanda.
Atma mengangguk mengiyakan, Amanda menoleh ke arah Denis dengan senyum dan kedipan mata. Saatnya Denis meyakinkan sang anak.
“Apa yang membuat Atma takut?” tanya Denis, Rama melepaskan genggaman tangan Rama yang sebelumnya ia elus memastikan semua akan baik-baik saja ketika tatapan protes di mata Atma.
“Om Denis akan jahat sama Atma dan Mama.”
Denis kini terduduk di sisi ranjang, menggenggam tangan sang anak lalu mengecup punggung tangan itu berkali-kali.
“Maaf.”
“Maaf.
“Maaf.”
Gumam Denis berkali-kali sampai air mata tak terasa membasahi punggung tangan Atma.
“Om Denis menangis?” tanya Atma yang tangannya tertancap infus terulur perlahan menghapus jejak air mata itu.
“Bisakah Om Denis meminta satu hal?” tanya Denis hati-hati dengan menyesuaikan panggilan Atma dengan sebutan “Om” walaupun ketika memanggil dirinya sendiri dengan sebutan itu hatinya tersayat.
Atma mengangguk ragu.
“Panggil dengan sebutan Papa, bisakah?”
Atma melihat Rama dan Amanda bergantian, setelah melihat senyum di wajah Amanda dan Rama, Atma menghela napas, diam sejenak dan memperhatikan wajah Denis lamat-lamat.
Wajah yang mirip dengannya, Atma tersenyum tipis dalam pikirannya terbayang jika sudah dewasa wajahnya akan mirip seseorang yang kini dihadapannya.
“Papa Denis, maafkan Atma supaya Tuhan sayang sama Atma.”
Denis langsung memeluk Atma dengan tubuh bergetar, dikecupnya wajah tampan sang anak. Anak yang tidak diakui dirinya kini mengakui dirinya sebagai seorang Papa.
“Papa yang salah, Papa yang harusnya meminta maaf. Atma tidak salah, Tuhan pasti sayang sama Atma. Terima kasih, Nak. Terima kasih ....”
“Papa ...,” panggil Atma lagi yang kini diiringi air mata yang mengalir dari sudut mata yang tertutup kaca mata itu.
“Papa di sini, Nak. Maaf ... maaf ... maaf.”
Amanda memeluk Rama erat, bersatunya dua orang yang terikat oleh aliran darah tanpa ada kata mantan. Akan ada selalu kesempatan kedua untuk setiap orang yang mengakui kesalahan dan mau memperbaiki semuanya. Bersyukurlah untuk hari ini dan berbuat baiklah untuk hari esok agar tidak ada penyesalan pada sebuah akhir cerita.
~Bersambung~
Di tunggu komentar bawelnya, awal bulan di usahakan double up, cerita ini happy ending. outline 100 episode lebih, memuaskan ide berserakan yang berada di otak, siap baca 'kan? 🤭
__ADS_1
support terus cerita ini ya ... terima kasih dan love sekebon untuk semuanya. ❤️