Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 27


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...💕 Like dan komentar 💕...


...Happy reading...


...♥️♥️♥️...


"Amanda, apa kamu tidak berkeinginan menggelar pesta pernikahan?" tanya Ibu padaku saat kami sarapan. Hari ini usia pernikahan kami tepat dua bulan.


"Amanda tidak berniat mengadakan pesta Bu, tidak apa-apa 'kan? Lagi pula kami sudah beberapa kali menggelar makan malam bersama teman untuk memberi tahukan status kami." 


"Jangan dipaksakan Bu, mungkin Amanda malu bersanding dengan Rama di pelaminan," ucap Rama santai sambil menyuapi Atma makan, beberapa hari ini nafsu makan Atma berkurang sehingga Rama yang merayu Atma untuk makan. Atma semakin manja dengan Rama.


"Bukan seperti itu Mas, lebih baik uangnya kita tabung, atau membeli sesuatu yang berguna, misal mobil." Aku memberikan alasan dibalik penolakan menggelar pesta pernikahan.


"Tidak ya istriku ... setiap hari akan ada yang mengantar dan menjemput kamu dan Atma, Aku nggak akan biarkan kalian keluar sendiri."


Sejak pertemuanku dan Denis di rumah sakit, Rama semakin menjaga Aku dan Atma. Beberapa kali Rama mendampingi Atma untuk bertemu Denis, entah bagaimana atmosfer pertemuan mereka, yang jelas pasti tidak mengenakkan. Kalian tahu 'kan bagaimana ekspresi dingin dan kaku Rama? Mengingat hal itu Aku bergidik ngeri membayangkannya, sikap hangat Rama hanya untuk keluarga, Atma dan juga Aku. Selebihnya sikapnya tetaplah kaku, dingin dan irit bicara.


Selama beberapa kali pertemuan, Denis tetap mengaku sebagai temanku dan juga Rama, ia menuruti permintaanku untuk menyembunyikan identitasnya sebagai Papa kandung Atma untuk menjaga perasaan Atma tentunya.


"Biar Denis menjadi urusanku, Aku tidak mengijinkan kamu bertemu dengannya bahkan Atma tidak akan bisa menjadikan alasan untuknya sering bertemu denganmu," ucap tegas Rama kala itu, beruntung saat Denis muncul kembali dalam hidupku, status Aku dan Rama sudah menikah sehingga Aku merasa tenang dan terlindungi olehnya.


"Siapa yang akan menjemput Aku, Pa?" tanya Atma di sela perbincangan kami.


"Hari ini Papa ke Bandung sayang, jadi Papa nggak bisa jemput kamu ya, nggak apa-apa 'kan?" Atma memanyunkan bibir mungilnya. "Nanti biar Mama yang jemput, Papa akan menyuruh orang menjemputmu dan Mama, jangan marah sama Papa, okey? karena hari ini Papa ada pertemuan penting sayang."


"Berapa hari kamu disana Mas?"


"Hanya dua hari istriku, kenapa memangnya ? Jangan merindukan Aku nanti!"


"Duh Rama, ini masih pagi, jangan gombalin istrimu deh, lihatlah wajahnya mulai merona," sahut Ibu. Aku hanya bisa tersenyum malu ke arah Ibu.


"Bagaimana kalau Om Denis yang menjemput? Kata Om Denis, Aku bisa meminta tolong padanya kapan pun dibutuhkan." Kulihat rahang Rama mengeras ketika mendengar nama Denis.


"Sudah jangan diteruskan, Omma yang akan mengantar dan  menjemput kamu hari ini sayang, habis itu, pulang sekolah kita main ke rumah Tante Gita, Omma ada urusan penting dengan Nenek." Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan Rama dan Denis, Rama seperti sangat membenci Denis. Pasti banyak ucapan provokatif yang diucapkan Denis padanya sehingga hanya mendengar namanya disebut seketika wajah Rama yang putih akan terlihat memerah.


"Baiklah." ucap Atma tidak bersemangat, dan pamit lebih dulu kepadaku dan Rama sebelum berangkat bersama Ibu. 


"Mas .... " Aku menggeser tubuhku agar posisi kami berhadapan. "Apa saja yang diperbuat Denis sehingga kamu sangat khawatir pada kami jika pergi tanpa pengawasanmu?" lanjutku bertanya pada Rama.


"Aku khawatir obsesi Denis terhadapmu dan Atma akan membahayakan kalian." ia mengelus pipi dan membawaku dalam pelukan hangatnya. "Saat ini dan selamanya kalian adalah prioritas untukku, tak peduli seberapa besar masalah yang Aku hadapi nantinya," ucap Rama yang membuat aku mengernyitkan dahi.


"Apa perusahaan keluarga Denis sedang melakukan hal buruk terhadap perusahaanmu?" Aku mengendurkan pelukannya agar melihat wajah Rama.

__ADS_1


"Jangan khawatirkan apapun, Aku pasti bisa menyelesaikan semua permasalahan yang terjadi di perusahaan akibat ulah Denis. Percayalah ...."


"Maaf Mas jika kehadiranku dan Atma membuat kamu berada dalam masalah." Rasanya ingin menangis saat ini, dengan kekuasaan perusahaan keluarga Denis pasti Rama dihadapkan masalah besar.


"Hei, kenapa malah menyalahkan dirimu sayang? Asal kamu tahu, memiliki kamu dan Atma masih terasa mimpi untukku, karena selama ini rasanya sulit untuk menggapai kalian. Dan sekarang setelah kalian menjadi milikku, sangat wajar jika tuhan memberikan ujian untuk kita, karena terkadang kebahagiaan harus di uji dengan kesusahan dan kesedihan agar hubungan kita semakin kuat dan harmonis, anggap saja kehadiran Denis untuk menguatkan rasa cinta kita, sayang...." Akhirnya air mataku menetes juga, terharu mendengar ucapan Rama, beruntungnya Aku memiliki dirinya yang sangat menyayangi Atma dan mencintaiku.



"Amanda, bagaimana kalau kamu mengikuti beasiswa agar bisa melanjutkan pendidikan menjadi seorang dokter spesialis sepertiku?"



"Sepertinya telat deh Din, seharusnya Aku melakukan hal itu saat belum menikah dan memiliki anak sepertimu."



"Salah sendiri terburu-buru menikah hingga tidak menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu, terkadang Aku kesal denganmu Amanda, dulu kamu kenapa bisa sebodoh itu? Hanya karena cinta meninggalkan pendidikan."



"Please deh Din, jangan bahas itu, karena sudah menjadi bagian jalan hidupku, yang terpenting sekarang Aku bahagia, mewujudkan cita-cita menjadi dokter, memiliki anak yang tampan, dan suami yang sangat mencintaiku." 



"Ya ya ya .... " Dina memutar bola matanya malas. "Aku memiliki profesi dokter spesialis tapi tidak memiliki keluarga kecil yang utuh, bahkan menikah pun belum, itu 'kan maksudmu?" Aku hanya tertawa mendengar nada sinis Dina yang merasa tersinggung. "Oh iya kamu masih rutin konsumsi obat yang aku berikan 'kan?" lanjut Dina, Akupun menganggukan kepala sebagai jawabannya. "Aku harap TORCH itu tidak akan bersarang ditubuhmu, dan kamu akan segera memberikan adik untuk Atma."




"Aamiin, Aku membutuhkan seorang sahabat sepertimu yang selalu bisa mendukung Aku dalam keadaan apapun, Amanda." 



Aku dan Dina berteman dari kami sama-sama kuliah di perguruan tinggi yang sama, setelah Aku mengambil cuti kuliah, komunikasi dengan Dina terputus, hingga akhirnya pertemanan kami kembali seperti sebelumnya saat Aku bekerja di rumah sakit yang sama dan meminta dia menjadi dokter spesialis kandungan yang akan memantau kondisi kesehatanku.



[Jika kamu mau Atma kembali, temui Aku!!! Ingat, jangan mengajak siapapun!!!] 


Pesan dari seseorang yang tidak kukenal, apakah dari Denis? Bagaimana mungkin dia bersama Atma, bukankah Atma masih di sekolah? tanyaku dalam hati, beberapa detik kemudian, nama Ibu tertera dalam layar ponselku, segera aku menggeser layar itu untuk mengangkat panggilan,


"Amanda, tolong Ibu. Atma tidak Ibu temukan di sekolah, menurut gurunya tadi Papanya menjemput, tidak mungkin yang dimaksud Papa Rama, karena Rama saat ini berada dibandung 'kan?" Mendengar ucapan ibu yang terdengar panik dari seberang telepon, membuat lututku terasa tak bertulang, tubuhku lemas.


"Bagaimana semua ini bisa terjadi Bu? Rama sedang ada pertemuan dengan klien, ponselnya sengaja tidak diaktifkan, siapa yang akan menolong Atma?"

__ADS_1


"Sayang tenang ya, kamu jangan gegabah, kita laporkan ke polisi atas tindakan penculikan."


"Tidak Bu, Aku tidak mau membahayakan Atma, pasti Denis yang membawa Atma. Aku akan menemuinya."


"Jangan Amanda!!!" teriak Ibu dari seberang telepon sebelum Aku menutup sambungan telepon darinya.


Aku langsung menuju rumah keluarga Denis mencari keberadaannya, tapi sebelum itu Aku menyalakan GPS pada ponselku dan mengirim Rama pesan dengan harapan jika terjadi sesuatu denganku Rama akan mengetahui keberadaan Aku dan juga Atma.


[Temui Aku dan anak kita di apartemen milikku, akan Aku share lokasi kami, ingat!!! jangan mengajak siapapun, Aku mengawasi semua sisi apartemen dengan CCTV dari dalam ruanganku.]


Walaupun Aku panik, sebisa mungkin Aku berpikir jernih, Aku teruskan semua pesan dari Denis ke Rama dan juga Abi selama Aku dalam perjalanan menuju tempat Denis berada. Dalam waktu sepuluh menit Aku tiba di apartemen Denis, menggunakan ojek motor online agar bisa secepatnya sampai. Dengan tergesa Aku masuk kedalam apartemen tersebut, kulihat Denis sudah berdiri diambang pintu dengan senyum menyeringai,


"Selamat datang Amanda, akhirnya kamu menemui Aku juga."


"Dimana Atma?"


"Ayolah kita masuk dan bersenang-senang." Ia mengikis jarak kami, tercium aroma alkohol dari mulut Denis.


"Jangan mendekat!!!" Namun, bukannya menjauh ia justru menarikku masuk kedalam apartemennya, kulihat Atma sedang terbaring di sofa panjang dalam apartemen Denis, "apa yang kamu lakukan pada Atma?"


"Tenanglah dia hanya tertidur, Aku tidak mungkin mencelakai anak kita sayang, beberapa pil obat tidur akan membuat mimpinya indah."


"Apa? Bagaimana kalau dosis yang kamu berikan mengancam jiwa Atma? Kamu sudah gila Denis, tolong biarkan Atma dan Aku pergi, Aku khawatir berpengaruh dengan jantung Atma, ia tidak bisa sembarangan mengkonsumsi obat Denis." 


Ucapanku tidak di gubris olehnya, ia malah mendorong Aku hingga tubuhku terlentang di atas kasur king size miliknya, dan mengunci tubuh dengan mencengkeram kedua tanganku.


"Berhentilah berbicara, dengarkan Aku. Aku sangat merindukanmu, sangat mencintaimu, sangat ingin memilikimu lagi, tapi Rama suamimu itu sama sekali tidak memberikan kesempatan untukku, dan cara inilah satu-satunya yang bisa Aku lakukan. Aku akan memilikimu lagi, Rama akan merasakan kehancuran seperti apa yang Aku rasakan."


"Denis berhentilah bermimpi, Aku mohon lepaskan kami, Atma harus segera mendapatkan pertolongan Denis."


"Jangan harap Aku melepaskan kalian, sebelum apa yang aku inginkan terpenuhi. Layani Aku layaknya seperti dulu kamu menjadi istriku, istri yang selalu membahagiakanku."


Plakkk ....dengan sekuat tenaga Aku melepaskan cengkeraman tangannya dan mendaratkan tamparan pada wajahnya, Aku sangat jijik dengan setiap kalimat yang Denis ucapkan.


"Tak kusangka kamu berani menamparku Amanda, sepertinya kamu benar-benar membangkang, hmm?!"


"Denis, Aku bukan istrimu lagi, sadarlah!"


"Ma-ma" kulihat Atma mengerjapkan matanya, setelahnya Atma mengeluarkan semua isi perutnya.


"Atmaaaa ...." Aku berteriak dan berusaha meraih tubuh Atma tapi Denis menarik tubuhku hingga terpental jatuh membentur lantai.


Brakkkk ....suara pintu didobrak oleh seseorang diikuti Abi dibelakangnya, kulihat seseorang itu masuk ke dalam ruang apartemen, menggendong Atma yang sudah terlihat lemas di sofa panjang yang letaknya dekat pintu. Dia memberikan tubuh Atma pada Abi, dan memberikan bogem mentah untuk Denis hingga tersungkur ke lantai, ketika ia menuju arahku, Aku hanya bisa tersenyum tipis kearahnya, sebelum akhirnya kesadaranku menghilang ....


~ Bersambung

__ADS_1


Siapa ya kira-kira yang menolong Amanda dan Atma? sebentar lagi cerita ini akan memasuki konflik ....


selamat membaca, semoga selalu suka dan mengikuti kelanjutan cerita ini. 😊


__ADS_2