Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 13


__ADS_3

Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar setelah baca part ini ya .... ❤️


Happy Reading


"Mama nanti Atma ingin kerumah Omma ya sehabis pulang sekolah."


"Loh Omma bukannya sama Nenek nanti siang ke Bandung?"


"Kan ada Papa Rama, Atma kangen sama Papa Rama, boleh 'kan ma?"


"Memang Papa Rama ada dirumah Omma?"


"Atma tidak tahu, Mama telepon Papa dong, tanya Papa ada dimana, Atma kangen sama Papa, semalam Atma mimpiin Papa." pinta Atma merengek padaku, sepertinya ia benar-benar kangen sama Mas Rama sampai terbawa mimpi, akupun menelepon Ibu untuk menanyakan keberadaan mas Rama tapi tidak ada jawaban, begitupun dengan nomer ponsel Mas Rama.


"Tidak diangkat sayang," kulihat mata Atma mulai berkaca-kaca "baiklah gimana kalau kita datang saja kerumah Ommah nanti sepulang kamu sekolah."


"Benarkah? Janji?" Ucap Atma bersemangat


"Iya anak Mama yang paling tampan, ayo kita berangkat sekarang!" Kucubit pipi Atma yang berisi sambil tersenyum.


Kulajukan mobil menuju sekolah Atma, Atma bersekolah di taman kanak-kanak, tidak jauh dari rumah sakit tempatku bertugas, kebetulan Aku bertugas dari pagi sampai jam satu siang untuk Minggu ini, sedangkan Atma akan pulang jam dua setiap harinya, sekolah Atma mempunyai program khusus untuk peserta didik, bukan hanya belajar membaca dan menghitung, Atma diajarkan ilmu agama, dan berbagai jenis kegiatan dan keterampilan yang baik untuk anak seusianya. Aku, Ummik, Abi dan Gita selalu mengatur waktu agar bisa mengantar ataupun menjemput Atma, kami sepakat tidak menggunakan jasa pengasuh, kami ingin selalu mendampingi Atma dalam setiap tumbuh kembangnya jadi kami benar-benar membagi waktu dan saling bergiliran mengasuh Atma disesuaikan dengan kegiatan kami masing-masing.


"Dokter ada pasien rawat jalan yang harus dikunjungi diruang rawat sakura lima," ucap seorang perawat sambil memegang berkas-berkas rekam medis serta hasil lab ditangannya "Kontrol kondisi jahitan dibeberapa bagian, pasien korban kecelakaan semalam, dokter spesialis Ortopedi tidak bisa datang hari ini sesuai jadwal, dokter Amanda diminta mewakili beliau untuk mengontrol keadaannya dan memberikan laporan kondisi pasien kepada beliau."


"Baiklah," akupun keruang rawat inap untuk mengontrol pasien yang disebutkan perawat tadi "permisi, saya akan mengecek kondisi anda Bu." perempuan setengah baya itupun menoleh kearahku, betapa kagetnya saat melihat wajah itu, seseorang yang telah menghina dan menghancurkan kehidupanku serta membuang Atma dari kehidupannya.


"Amanda, apakah benar kamu Amanda?" Ucapnya tidak kalah kaget seperti Aku, dia adalah mantan ibu mertuaku, sebisa mungkin Aku menetralkan emosi, bekerja secara profesional sebagai seorang dokter, saat ini posisiku sebagai dokter dan pasien.


"Perkenalkan saya Amanda dokter jaga saat ini, apa Ibu memiliki keluhan? Apa ada yang dirasa sangat sakit dibeberapa bagian?"


"I-iya, terasa sakit dibagian tangan, sulit sekali digerakkan." ucapnya


"Itu karena efek kecelakaan semalam, berdasarkan hasil Rontgen ada beberapa bagian tulang yang retak, untuk tindakan lanjutan nanti akan ditangani dokter spesialis bedah orthopedi, apa ibu merasakan pusing? Atau mual?"


"Pusing dan sangat mual."


"Baiklah, suster tolong siapkan obat berbentuk ampul untuk lambungnya," Aku menuliskan beberapa resep obat, setelah itu Aku minta perawat mengambilkan obat yang kuminta di bagian farmasi, perawat pun pergi dari ruangan ini untuk mempersiapkan obat yang dibutuhkan, ketika Aku ingin melangkah pergi ....


"Amanda, Ibu tidak menyangka kamu akan menjadi seorang dokter seperti sekarang, bagaimana kabarmu?" Ia menyebut dirinya Ibu, tentu saja aku keberatan dengan panggilan itu, rasanya ia tidak pantas Aku panggil dengan sebutan ibu, mengingat apa yang telah ia perbuat di masa lalu

__ADS_1


"Anda hanya mantan ibu mertuaku, rasanya tidak pantas aku memanggilmu dengan sebutan Ibu, terlebih dengan apa yang telah terjadi antara kita dimasa lalu, kabar saya sangat baik Tante."


"Tapi bagaimanapun saya Nenek dari anakmu."


"Masih pantaskah anda dipanggil dengan sebutan Nenek?" Aku memicingkan mata kearahnya, ia pun meremas selimut digenggaman tangannya,


"Bolehkah i-bu ah Tan-te meminta maaf padamu dan anakmu Amanda? Sudah lama Tante menyadari kesalahan yang telah Tante lakukan terhadapmu dan anakmu, Tante ingin memperbaiki semuanya"


"Saya sudah memaafkan Tante, karena saya menyadari kebencian akan menghancurkan diri saya dan itu perbuatan yang tidak berguna sama sekali, bahkan kalau boleh saya sangat berterimakasih." 


"Maksud kamu?" Ucapnya terlihat bingung


"Jika Tante tidak menyuruh anak Tante untuk membuang kami dari kehidupan kalian, mungkin saya tidak akan pernah menjadi seorang dokter, sesuai dengan cita-cita saya, jika saya masih menjadi istri anak anda saat ini saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang hanya mendapatkan hinaan demi hinaan dari anda, bukankah selalu ada  kebahagiaan dibalik sebuah kesedihan?" Ia hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun, entahlah apa yang ia pikirkan aku tidak peduli, yang jelas tergambar ekspresi penyesalan diwajahnya.


Krekk....pintu ruangan terbuka, aku melihat sosok Vanya diambang pintu,


"A-aman-da" ucapnya terbata, Aku hanya bisa menganggukkan kepala, berniat ingin meninggalkan ruangan ini karena memang pemeriksaan sudah selesai dilakukan "boleh kita bicara Amanda? Sebentar saja." akupun menyetujui permintaan Vanya, kami saat ini sedang di kantin rumah sakit.


"Langsung saja, apa yang ingin kamu bicarakan? Aku tidak mempunyai banyak waktu!"


"Rumah tanggaku dengan Denis tidak harmonis."


"Lalu?"


"Apa maksud kamu mengatakan ini semua kepadaku? Aku sudah bukan bagian hidup Denis lagi jika kamu lupa, tidak sepantasnya kamu membuka aib rumah tanggamu kepadaku." 


"Aku hanya ingin mengatakan, Aku rela kalian bersatu kembali jika membuat Denis bahagia." mataku terbelalak mendengar ucapan Vanya, kembali pada Denis sama sekali sedikitpun tidak terbersit dalam benakku, lebih baik Aku menjadi janda dibandingkan harus kembali kepada seseorang yang sudah membuangku dan anakku.


"Jika kamu sudah menyerah dengan rumah tangga yang kamu jalani bersama Denis, menyerahlah dengan sebuah perceraian, tapi jangan libatkan Aku dalam masalah kalian apalagi sampai memintaku untuk kembali padanya, bagiku kalian hanya masa lalu, lagipula Aku akan menikah dalam waktu dekat, hentikan semua omong kosong dan pemikiran anehmu Vanya."


"Denis pasti akan mengejarmu kembali Amanda, dia masih sangat mencintaimu, terlebih ia juga Papa dari anakmu."


"Aku akan menghadapi Denis tapi tidak untuk menerimanya kembali, aku permisi." sebaiknya Aku akhiri pembicaraan yang menurutku tidak berguna dan membuang waktuku saja, Aku kembali melanjutkan kegiatanku sebagai dokter di rumah sakit ini.


Drtttt.... drtttt.... Menampilkan panggilan dari ibu


"Assalamualaikum Bu."


"Wa'alaikumsalam sayang, kamu tadi menelepon Ibu?"

__ADS_1


"Hmma iya bu, Atma merengek minta bertemu dengan Mas Rama."


"Wah cucu Ibu rindu ya sama Papa Rama."


"Sangat rindu Bu, sampai terbawa mimpi." terdengar Ibu tertawa setelah mendengar perkataanku,


"Rama ada kok dirumah Jakarta, kemarin ia bilang akan menetap seminggu dirumah, mungkin Minggu depan baru akan kembali ke Bandung."


"Ya sudah nanti Amanda ajak Atma kesana."


"Baiklah, disana ada Bik Tarsiha yang akan mengurus keperluan rumah, Ibu dan juga Ummik akan kembali lusa, sudah dulu ya Amanda, ibu ada tamu."


"Iya Bu, jaga kesehatan, bilang Ummik untuk mengaktifkan ponselnya, wassalamu'alaikum."


"Iya sayang, wa'alaikumsalam." suara panggilan pun berakhir.


Waktu bekerja telah usai, Aku melepaskan snelli putih yang kupakai dan bersiap-siap untuk pulang, saat ini Aku menuju sekolah Atma untuk menjemput dan mengantar Atma ke Mas Rama sesuai janjiku kepadanya. 


Saat ini Aku sudah berada dirumah Ibu, Bik tarsih membukakan pintu untuk kami,


"Bik, apa Mas Rama ada dirumah?"


"Ada Mbak, dari pagi tidak keluar kamar, ditawarkan makan hanya mengangguk saja."


"Bibik tidak nanya, kenapa gitu?"


"Bilangnya hanya ingin istirahat Mbak."


"Papa dikamar 'kan bik?" Tanya Atma


"Iya aden ganteng." jawab Bik Tarsih.


"Atma boleh langsung masuk kamar Papa ga?" Tanya Atma padaku.


"Tunggu Papa bangun aja ya sayang, gimana?"


"Atma kangen sama Papa." tanpa menunggu persetujuanku ia langsung berlari menaiki anak tangga, Aku hanya menghela nafas melihatnya, dua Minggu tidak bertemu rasa rindu Atma benar-benar telah memuncak.


"Mamaaaaaaaa" suara Atma menggema dari lantai atas kamar mas Rama, aku berlari kearah Atma, ya tuhan apa yang terjadi sampai Atma berteriak histeris seperti itu?

__ADS_1


~ bersambung


Ada yang bisa nebak apa yang terjadi? Bahagia ga dengar kabar sang mantan Amanda, papa kandungnya Atma? 


__ADS_2