Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 84


__ADS_3

“Denis!” pekik Vanya ketika tubuhnya di gendong dan di letakkan ke bath up dengan pelan dan tersenyum lebar, pada akhirnya Vanya mengalungkan tangan di leher Denis dan membiarkan Denis melakukan apa pun yang ia inginkan.


“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,” kata Denis sambil menaruh tubuh Vanya ke dalam air hangat yang terasa menyegarkan tubuh Vanya setelah pertempuran mereka tadi malam.


“Terima kasih,” ucap Vanya mengulum senyum, Denis menangkupkan kedua tangan di sisi wajah Vanya dan mengecup kening Vanya cukup lama sambil memejamkan mata.


“Aku yang harusnya berterima kasih, kamu memberikan hakku semalam penuh sampai kamu menyerah,” ledek Denis, membuat pipi Vanya merah merona.


“Jangan meledek seperti itu, aku malu!” tegur Vanya sedangkan Denis terkekeh melihat istrinya malu-malu.


“Mau dimandikan, atau aku yang mandikan?” tawar Denis menyeringai sambil mengedipkan mata.


“Denis!” protes Vanya menyipratkan air ke arah Denis.


“Oke-oke ... aku sudah mandi tadi, setelah mandi keluar kamar, aku akan memasakkan makanan untukmu,” kata Denis melangkah ke luar kamar mandi menuju dapur rumah mereka.


Mbok yang sedang bersiap-siap memasak untuk sarapan pagi ini, menoleh ketika Denis yang tidak biasanya ke dapur kini berada di sampingnya.


“Pak Denis.”


“Biar saya yang masak pagi ini, Mbok.”


“Tidak perlu, Pak.”


“Saya ingin memasakkan makanan sendiri untuk nyonya Narendra,” kata Denis yang diangguki Mbok dan langsung memundurkan langkah.


“Saya mengurus Bu Sinta jika seperti itu, Pak.”


“Silahkan, Mbok.”


Mbok pun melangkah pergi, meninggalkan Denis dengan aktivitas masak yang belum selesai walaupun ada terbersit rasa ragu sang majikan bisa memasak.


Benar saja setelah selesai mandi, Vanya langsung melangkah keluar kamar setelah selesai aktivitas dalam kamar. Vanya menarik kursi meja makan, melihat punggung tubuh Denis yang sedang disibukkan dengan bahan makanan dan juga ponsel yang tidak berada jauh di sampingnya, diletakkan di tempat yang aman.


Vanya tak henti tersenyum, memandang Denis yang sejak bangun tidur tampak bahagia. Ia bahkan yang menyiapkan sarapan untuk sang istri, melayani Vanya untuk pertama kali di dapur.


“Aku tak yakin kamu bisa memasak, Denis. Biar Mbok atau aku yang masak.”


“Tidak! Tidak! Kamu harus menjadi ratu hari ini, diam dan lihat aku saja tanpa kedip.” Denis tersenyum semringah.


“Biar aku bantu.”


“Stop di situ, duduklah!”


“Baik ... baik,” ucap Vanya menyerah dan duduk kembali.


“Apa yang kamu masak, hmm?”


“Hanya nasi goreng seafood, kesukaanmu, tunggu sebentar lagi akan matang dan kita nikmati bersama.”


Vanya diam menunggu sampai Denis benar-benar selesai dengan aktivitasnya yang terlihat sibuk, peralatan dapur berantakan bahkan bumbu-bumbu yang sudah di pakai di letakkan sembarangan begitu saja karena ia harus mempercepat gerakan ketika masak sambil melihat tutorial.


“Sudah jadi, siap dinikmati ...,” kata Denis meletakkan dua piring yang sudah berisi nasi goreng spesial buatannya di atas meja.


“Sepertinya, enak,” kata Vanya mengambil sendok dan langsung menyicip makanan yang sudah tersaji dihadapannya.


“Bagaimana?” tanya Denis yang penasaran bdengan rasa makanan yang ia masuk penuh cinta.


“Hmmm ... lumayan enak.”


“Hanya lumayan?” tanya Denis kecewa, ia mengharapkan makanan yang ia masak dinilai sangat enak bukan hanya dengan kata lumayan saja .


“Baiklah, enak banget,” kata Vanya menarik kedua sudut bibir ke atas.


“Gitu dong,” ujar Denis menarik pipi Vanya yang tengah mengunyah makanan dalam mulutnya.”


“Awww Denis sakit!” pekik Vanya mengelus bekas cubitan Denis, “oh iya! Mama sudah sarapan?”


“Sudah kok, Mbok yang mengurus tadi.”

__ADS_1


“Kapan kita mulai terapi lagi di rumah sakit Indonesia?”


“Sedang aku urus untuk hal itu, ahli fisioterapi sepertinya akan melakukan terapi di rumah jika memang tidak memerlukan alat medis yang digunakan jadi Mama lebih nyaman.”


“Ide bagus,” kata Vanya yang sudah menandaskan makanan yang disuguhkan.


Pintu utama terbuka, Denis dan Vanya menoleh ke belakang dan tersenyum lebar saat mengetahui siapa yang datang.


“Papa! Mommy!” pekik Atma yang muncul di hadapan mereka, dengan cepat Denis menghampiri dan menggendong Atma lalu memeluk erat serta menciumi seluruh sisi wajah Atma dengan sayang.


“Sama siapa?” tanya Denis pada Atma, Vanya pun mendekat guna memberikan sapaan hangat untuk anaknya, melalu kecupan di pipi dannekusan lembut di puncak kepala karena posisi Atma sedang digendong oleh Denis.


“Kamu sama siapa, Sayang?” tanya Vanya juga ikut menimpali sementara Atma tak menjawab hanya melihat bergantian Mommy dan papanya.


“Coba tebak,” kata Atma nyengir lebar.


“Pagi semua,” sapa seseorang yang membuat Denis mendongakkan kepalanya ke arah pintu.


Amanda dan Rama yang sedang menggendong si kembar sedang tersenyum, wajah Vanya berbinar ketika melihat dua bayi lucu kini datang ke rumah.


“Surprise!” kata Amanda lagi.


“Wah! Tamu kehormatan pagi hari, Amanda ...,” sapa Vanya menghampiri dan langsung memberikan pelukan.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Amanda kemudian.


“Sangat baik.”


Sementara Denis pun menyambut kedatangan Rama sambil tetap menggendong tubuh Atma bak anak kecil.


“Turunkan aku dong, Pa! Aku bukan adik kembar yang masih bayi,” protes Atma membuat Denis terkekeh.


“Papa kan kangen sama anak tampan yang satu ini,” kata Denis menarik pipi Atma.


“Aku enggak kangen sama Papa, kangennya sama Mommy,” ledek Atma memeluk pinggang Vanya, “oh iya! Kok perut Mommy masih rata, belum besar? Belum buat dedek bayi ya?” cecar Atma kemudian mengelus perut Vanya yang masih rata dengan tatapan bingung.


Kedua pasangan suami-istri itu hanya meneguk saliva, bingung menjelaskan pada Atma.


“Tuhan kok lama ya ngasih adik ke perut Mommy Vanya?” tanya Atma lagi yang sukses membuat 4 orang dewasa yang berada di dekatnya menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.


“Oh iya, Atma bukannya mau menjenguk Nenek? Katanya mau lihat keadaan Nenek?” tanya Rama mengalihkan pertanyaan Atma tentang adik yang seharusnya diberikan dari pasangan papa kandungnya.


Mungkin Atma pikir tanpa proses saat membuat seorang wanita mengalami kehamilan, mungkin pikirnya Atma bayi akan turun dari langit dan masuk ke dalam perut seorang wanita lalu dilahirkan begitu saja, pemikiran seorang anak yang membawa situasi absurd pada 4 orang dewasa yang berada di sampingnya.


**


Amanda dan Vanya di dapur, mempersiapkan cemilan untuk kedua lelaki yang sedang berbincang serius di teras samping rumah Denis yang terdapat kolam kecil dan terdengar gemericik air yang membuat suasana lebih nyaman untuk berbicara.


“Mereka serius sekali,” kata Vanya mengaduk teh yang sedang ia buat, sedangkan Amanda memotong beberapa buh dan menata di piring.


“Tidak jauh soal perusahaan sepertinya, kamu tahulah Vanya mereka berdua itu sebenarnya satu tipe. Sama-sama pekerja keras.”


“Ya ... aku sangat paham akan hal itu, setiap hari disibukkan teleponz email dan data perusahaan. Saat di Austria pun seperti itu, Amanda. Kadang aku merasa tak diperhatikan olehnya. Setiap malam Denis selalu menghindar.”


“Tapi sepertinya semalam ada yang sukses,” kata Amanda menaik turunkan alisnya sambil menoel-noel pundak Vanya.


“Iya ... Denis berhasil,” kata Vanya semringah dengan pipi merah merona.


“Adik Atma on the way sepertinya,” kata Amanda yang tersenyum lebar, bahagia mendengar Denis bisa keluar dari rasa takut setelah treatment obat dan psikoterapi.


“Doakan, ya Amanda,” kata Vanya tersenyum hangat yang langsung mendapatkan pelukan persahabatan dari Amanda.


“Bahagia selalu Vanya dan Denis, aku selalu berharap dan berdoa untuk kebahagiaan kita dan kita akan tetap akur seperti ini tanpa masalah apa lagi cemburu dengan pasangan mengingat aku dan Denis adalah mantan. Selama ini itulah yang aku khawatirkan,” kata Amanda mengungkapkan kekhawatirannya.


“Aku percaya padamu, Amanda. Aku paham kalian harus tetap berhubungan baik semua seseorang yaitu Atma, agar tidak ada yang namanya korban perceraian. Kita semua bisa berbahagia, menutup masa lalu dan membuka lembaran baru tanpa dendam dan kebencian.”


Mereka saling melempar senyum, saling menyemangati, saling menguatkan satu sama lain. Denis yang kebetulan masuk ke dalam rumah menatap bahagia dua wanita yang berstatus mantan dan juga istrinya terlihat bersahabat, tak ada kebencian atau rasa tidak suka satu sama lain.


“Tetaplah seperti ini ... thanks God sudah memberikan kebahagiaan untukku, setelah kesalahan yang sudah kulakukan. Aku masih bisa merasakan apa itu bahagia, meski bukan dengan Amanda, wanita yang pertama kali kucintai, Engkau menghadirkan Vanya untuk menemaniku,” gumam Denis penuh syukur.

__ADS_1


**


Vanya melihat kalender yang berada di meja riasnya, ia tersenyum ketika menghitung sudah telah 14 hari tetapi ia belum berani memberitahukan Denis akan kabar ini. Rencananya Vanya akan memberikan surprise, pada Denis mengenai kehamilannya ini dengan pemeriksaan fisik yang sudah komplit dan hasil yang jelas nantinya.


Bukan hanya menduga-duga kehamilan, khawatir Denis nantinya akan kecewa ketika hasil tak sesuai harapan. Dengan langkah pasti Vanya mengemasi bekal untuk sang suami tercinta.


“Kenapa tersenyum sedari tadi, hmm?”


“Rahasia,” sahut Vanya tersenyum cantik.


“Baiklah jika memang tidak ingin berbagi rahasia denganku, maka aku akan menahanmu di sini sampai besok,” ancam Denis dengan candaan.


“Mana bisa, lihatlah berkas masih menumpuk di meja,” ledek Vanya.


“Ahh iya, terkadang melelahkan tapi ini demi masa depan kita. Aku harus ekstra mengawasi perusahaan agar tetap stabil, ada banyak kehidupan keluarga karyawan di sini bergantung padaku, maaf jika waktu untukmu sangat kurang,” sesal Denis.


“Jangan dipikirkan, aku tidak apa-apa. Sudahlah aku akan ke pulang dulu, sampai ketemu di rumah,” pamit Vanya mengecup pipi sang suami dan bibirnya sekilas.


“Hati-hati.”


“Siap Bos Denis,” kata Vanya memberikan hormat sambil tetap menampilkan senyum lalu melangkah keluar kantor Denis menuju rumah sakit.


Langkah Vanya terhenti ketika Vanya melihat seseorang yang sangat ia kenali bersandar di mobilnya.


“Mommy,” sapa Vanya yang terkejut mengetahui keberadaan Mommy-nya di saat baru saja keluar dari lobi kantor mengantar bekal makanan untuk Denis seperti biasanya semenjak mereka kembali dari Austria, menikmati hari-hari bersama dan sangat harmonis.


Sejak Vanya keluar dari rumah megah Denis, sang Mommy mengikuti hingga selepas Vanya memberikan bekal dan makan siang bersama sang suami tanpa diketahui Vanya.


“Hebat ya kamu, Vanya. Bisa meninggalkan Mommy begitu saja tanpa menanyakan kabar atau mengunjungi mommy beberapa bulan ini, tak tahu terima kasih,” cibir Mommy Vanya yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala.


Bukan tidak ingin mengunjungi, tetapi Denis melarang Vanya untuk bertemu dengan mommynya padahal ia tahu, sang Mommy sudah kembali ke Indonesia dengan alasan demi keselamatan.


Ya ... keselamatan, Denis sangat tahu kalau mommy Vanya bisa berbuat nekad jika tidak menyukai sesuatu.


Sekarang mereka hanya berbicara di parkiran kantor Denis saat Vanya ingin memasuki mobil, langkah Vanya tertahan ketika tangannya di cekal.


“Ikut Mommy tinggalkan Denis!” titah mommynya yang langsung ditolak mentah oleh Vanya dengan menghentakkan tangan sekuat tenaga hingga cekalan tangan terlepas.


“Tidak, Mom. Lepas. Aku akan tetap bersama Denis sampai kapan pun.”


“Pulang bersama Mommy,” tegasnya lagi menarik cepat Vanya ke dalam mobil yang terparkir tepat di samping Vanya.


“Tidak Mom!” tolak Vanya lagi.


“Kamu benar-benar tidak tahu terima kasih! Menurut atau Mommy akan bersikap tegas,” kata mommynya dengan mata menyalak tajam dan dada naik turun.


Melihat dan merasa sesuatu berbahaya, Vanya mendorong tubuh mommynya dan berlari menuju pos keamanan yang terletak tidak jauh dari tempat Vanya saat ini. Tarik menarik pun tak terelakkan.


“Tolong!” teriak Vanya kencang sehingga mengundang orang yang kebetulan lewat melihat kearahnya.


“Hentikan teriakkanmu Vanya!” ancam Mommynya.


Telat ... petugas keamanan sudah berlari ke arah mereka, seketika mommy Vanya panik dan mendorong tubuh Vanya hingga kehilangan keseimbangan dan terjatuh duduk di aspal. Pekikkan Vanya tak terelakkan, ia terkejut sekaligus merasakan sakit di bagian punggung.


“Arghhhh!” pekik Vanya.


Tidak berapa lama ada cairan hangat yang merembes, Vanya meraba dalam rok dan membulatkan mata melihat apa yang berada di tangannya saat ini.


“Darah,” desis Vanya.


Mommy Vanya yang kalut langsung buru-buru masuk ke dalam mobil, meninggalkan Vanya dan pihak keamanan yang terlihat semakin dekat. Kejadian yang sangat cepat dan tak terelakkan.


“Denis,” ucap lirih Vanya memegangi perutnya dengan air mata yang sudah berduyun-duyun turun dari pelupuk mata.


~Bersambung~


Like dan komentar 😍


Terima kasih untuk supportnya di karya ini, love banyak untuk semuanya 😍❤️❤️❤️

__ADS_1


Bisa add FB Lisfi atau masuk ke dalam group biar saling mengenal ya ....


__ADS_2