
...Tinggalkan jejak...
...Like dan Komentar...
...💕 Happy Reading 💕...
"Amanda .... " Seseorang memanggil namanya, Amanda hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Dulu dan sekarang tetaplah jadikan aku, bulan dan bintang dikala malam serta bumi yang akan selalu menjadi pijakan, begitupun denganku, jadi ... saat kamu merindukanku cukup lihatlah langit malam, Aku akan selalu melihatmu dari kejauhan meski gelap menyapa."
"Aku akan menepati janjiku, menjadikan kamu pengantin paling cantik dan mempesona hari ini, dan menjadikanmu seorang istri dari seorang pria yang beruntung."
Sungguh Amanda hanya bisa diam, dan tidak mau membuka matanya meresapi semua kalimat yang diucapkan Kak Janu untuknya, bahkan air mata pun lolos tak tertahankan lagi dari pelupuk matanya yang tetap terpejam.
"Melepaskan Aku lebih mudah untukmu, melupakan Aku sangat mudah karena Aku hanya singgah di hatimu tetapi tidak akan menetap di sana, dan akan menorehkan sedikit luka untukmu, akan lebih baik dibandingkan Aku bertahan tetapi menorehkan luka dalam untukmu dan juga Atma. Insyaallah kamu akan bahagia bersamanya," Janu mendekati Amanda, ia menghapuskan air mata yang membasahi pipi Amanda. "maafkan keputusan sepihak yang Aku ambil, meskipun nantinya kamu akan tetap terluka, Aku hanya menginginkan kebahagiaan untukmu dan juga Atma."
Tubuh Amanda gemetar, ia tidak bisa menahan Isak tangis yang keluar dari bibirnya. Tamu yang hadir seketika terdengar riuh di dalam ruangan, Amanda membuka matanya sebelum dia bisa melihat senyum getir dari seseorang yang mengucapkan kalimat itu, dia menutup mulutnya agar tangisnya tidak semakin pecah ketika melihat punggung seseorang yang dia sayangi menuruni panggung.
"Apa yang terjadi?"
"Apa pernikahan ini batal?"
"Kenapa pengantin Pria meninggalkan panggung?."
Semua tamu tercengang, kaget, dan bingung ketika Adnan Januzaj menuruni panggung, berjalan turun dan berpaling dari Amanda yang sudah berurai air mata bahkan terlihat sembab. Janu tidak keluar, ia berbalik arah menuju seseorang yang sedang duduk tepat di depan panggung, mendekat ke Rama yang tengah memangku Atma.
Jantung Amanda seakan berhenti, ketika Janu berada tepat di depan Rama dan Atma, mengambil alih Atma dengan menggenggam tangannya disebelah kiri, dan mengulurkan tangan kanannya ke arah Janu, dada Amanda terasa sesak ketika senyum tulus terukir diwajah Janu, bagaimana pun Janu seseorang yang ia sayangi dan dekat dengannya, ia merasakan apa yang dirasakan oleh Janu yaitu rasa sakit pada hatinya ....
"Ayo saya antar kamu ke atas panggung menemui calon istrimu," ajak Janu. "Jangan biarkan ia sendiri terlalu lama diatas panggung."
Amanda terus saja menangis tanpa henti, ia tidak sanggup melihat bagaimana Janu melepaskan dirinya dan memberikan seseorang yang dicintainya kepada orang lain, Amanda tidak menyangka Janu melakukan hal ini, pengorbanan yang sangat besar, rasa sakit yang pastinya sangat dalam.
"Apa yang kamu lakukan?" seru Rama. Ekspresinya bercampur aduk, bingung dan juga terluka.
"Hari ini kamu akan menjadi mempelai Pria yang menikahi Amanda, tolong jangan mendustai dirimu lagi, kamu mencintai Amanda sejak lama dan juga sebaliknya."
Tanpa mendengar jawaban dari Rama, Janu menarik tangan secara paksa dan menuntunnya berjalan melewati para tamu yang masih bingung dengan apa yang terjadi, bingung ketika mempelai pria menarik tangan pria lain untuk duduk berdampingan dengan mempelai wanita. Para tamu saling bertukar pandang satu sama lain untuk mencari sebuah jawaban.
"Hari ini yang akan menikah adalah Rama Alfares dan Amanda Ayudya Prameswari, Pak penghulu silahkan lakukan ijab kabul." pinta Janu tegas.
"Bagaimana bisa? Di data yang saya miliki tertera nama Adnan Januzaj dan Amanda Ayudya Prameswari." Pak penghulu nampak bingung seperti tamu yang lain, tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Lelaki ini adalah mempelai pria yang akan menikah hari ini." Janu menepuk pundak Rama.
"Rama Alfares yang akan menikah dengan saya, Pak."
__ADS_1
Suara seseorang menyela pembicaraan, suara yang terdengar lirih dan gemetar, Amanda membuka matanya perlahan, air mata terus membasahi pipinya, bahkan matanya kini terlihat sembab. Rama terhenyak menatap Amanda, matanya pun memanas dan berkaca-kaca mendengar ucapan Amanda.
"Amanda?" ucap Rama seakan meminta penjelasan.
"Kamu mau 'kan menikah denganku?" tanya Amanda.
"Tapi ... Kamu dan Janu?" Rama menatap Amanda dan Janu bergantian.
Janu menggelengkan kepalanya dan berucap, "Ini adalah pilihan hidup dariku untuk kebahagiaan Amanda dan Atma, dia tidak akan pernah bisa memilih kebahagiaannya sendiri dengan menyakitiku, Aku harap Kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini," Ia melirik seseorang yang berada disampingnya. "Pak penghulu saya minta ijab kabul segera dilakukan!"
"Kak ... " Air mata Amanda masih terus mengalir, Janu memilih berpaling tidak mau mendengarkan apa yang akan diucapkan Amanda, dengan cepat ia berjalan menuruni panggung.
"Om Janu ... " Ucap Atma mendekat kearahnya, kemudian ia memeluk Janu, bersama menuruni panggung dan duduk di tempat yang Rama tempati sebelumnya. "Apa Om baik-baik saja?" Pertanyaan Atma seakan ia memahami perasaan yang sedang dirasakan Janu saat ini, Janu hanya membalas dengan senyuman seraya mencium pucuk kepala Atma dengan sayang.
"Iya, semoga Om baik-baik saja dan bisa tersenyum melihat kalian bahagia."
"Terimakasih Om, sudah mengijinkan Papa Rama menjadi Papa untuk Atma, tapi Om jangan sedih ya ... " Atma memeluk Janu dan menenggelamkan wajah dileher Janu, "Atma sayang Om Janu, maafkan Atma sudah buat Om Janu sedih."
Flashback on ....
"Om ... " Ucap Atma mengawali pembicaraan saat mereka sedang berdua di kamar ketika baru tiba dari Australia saat Atma sakit.
"Iya, apa sayang?"
"Boleh Atma meminta sesuatu?"
"Atma ingin Papa Rama yang menjadi Papa untuk Atma, Atma sangat menyayangi Papa Rama, bisakah Om mengabulkan permintaanku?" ucap Atma dengan wajah polosnya "Atma mendengar dari Tante kalau Papa Rama sangat mencintai Mama, bahkan sebelum Atma terlahir ke dunia ini."
"Benarkah yang dikatakan Tante Gita?"
"Hmm, iya ... Atma pernah mendengar kalau Mama juga sayang sama Papa Rama." ini bukan pertama kalinya ia mengetahui kalau Amanda mencintai Rama, tetapi tetap saja membuat Janu merasa menjadi orang ketiga diantara mereka, terutama memisahkan Atma dengan Rama adalah hal yang menjadi beban untuknya. Janu mengetahui kebahagiaan Amanda terletak pada kebahagiaan Atma, bagaimana ia bisa membahagiakan Amanda jika seseorang yang menjadi kunci kebahagiaannya merasakan kesedihan? Meskipun Amanda berpikir hanya persoalan waktu, tetapi Janu pesimis akan hal itu mengingat Atma dan Rama sangat dekat dan saling menyayangi.
"Om sangat menyayangi Mama Amanda, jika Atma berjanji akan menjadi anak yang baik, dan penurut, Om akan kabulkan permintaan Atma." jawab Janu tersenyum tipis. Suatu hal besar telah menjadi keputusannya saat itu, selama ini Janu telah berusaha agar Atma menerima dirinya sepenuh hati. Namun, Rama yang menguasai hati Atma, mereka sudah menyatu layaknya orangtua dan anak, Janu tidak bisa menggantikan posisi Rama di hati Atma. Ia memilih menyerah dengan keadaan, meskipun ia tahu Amanda akan menolak keputusannya.
Flashback off ....
Janu akhirnya menepati janji kepada Amanda untuk tidak akan membatalkan acara pernikahan, dan menjadikan Amanda menjadi seorang isteri dari seorang pria yang beruntung.
Netra Amanda dan Janu bertemu, mereka saling bertatapan dari kejauhan, tatapan mereka terlepas ketika tangan Rama menjabat erat tangan wali hakim pernikahan untuk melakukan ijab kabul.
"Saya nikahkan engkau Rama Alfares bin almarhum Hermawan dengan Amanda Ayudya Prameswari binti fulan, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Sebulir air mata lolos dari pelupuk mata Amanda ketika Rama menyahuti,
"Saya terima nikahnya Amanda Ayudya Prameswari dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
__ADS_1
"Sah."
"Sah."
"Sah."
Sahut bersamaan para saksi pernikahan, mengesahkan bahwa ijab kabul sudah sesuai dengan syari'at agama.
Amanda tidak tahu bereaksi apa, setelah semua kejadian sebelum ijab kabul berlangsung, mungkin para tamu merasakan apa yang dirasakan Amanda saat ini, para tamu tidak bisa menampik kebingungan yang melanda. Amanda hanya bisa mengangkat menengadahkan tangannya seraya berdoa untuk kebaikan pernikahan yang akan ia jalani bersama Rama, berdoa kepada Allah sang maha pencipta yang mengetahui segala isi hatinya.
"Amanda."
Amanda memalingkan wajah kemudian berusaha menampilkan senyuman kepada Rama yang duduk disampingnya, kepada pria yang direstui Allah untuk menjadi suaminya saat ini. Amanda menjulurkan tangan dan meraih punggung tangan Rama lalu mencium punggung tangannya.
Sebelum Amanda berucap, Rama menarik tubuh Amanda ke dalam pelukannya, ia membenamkan wajah di lengkuk leher Amanda.
"Aku mencintaimu, sungguh Aku sangat mencintaimu." Rama mengulangi perkataannya, membuat semua tamu terhenyak dalam diam melihatnya.
Amanda mengelus punggung tubuh kekar Rama dengan tangannya "Iya, aku tahu."
Melihat semuanya Janu nampak menarik napasnya dalam, dan kemudian memaksakan diri untuk tersenyum, netra Amanda tidak lepas darinya, Janu akhirnya melangkah ke pintu luar ruangan. Tanpa berbalik, punggung Janu semakin mengecil dari pandangan Amanda dan akhirnya punggung itu tak terlihat lagi, ia telah pergi dari ruangan ini.
Amanda menarik napas panjang setelah melihat kepergian Janu dari ruangan, saat ini rasa bersalah menghantui perasaan Amanda, dia memikirkan perasaan seorang Adnan Januzaj yang pasti telah hancur berkeping-keping saat ini.
'Kenapa kamu melakukan ini semua Kak? Memilihkan jalan hidup untukku dan mengorbankan semua impianmu, Apakah aku sanggup bahagia diatas kesedihanmu?' Suara hati Amanda yang hanya diketahui oleh dirinya.
Acara pernikahan telah usai, tamu sudah membubarkan diri pulang kerumah masing-masing, rumah tempat diadakannya acara sudah mulai dirapihkan, Atma tidak lepas dari genggaman tangan Rama, mungkin mereka berdua yang sangat merasakan kebahagiaan atas pernikahan ini, senyum selalu mengembang di wajah Atma yang menambah kadar ketampanannya.
"Atma sini sama Kakek, biarkan Papa Rama membersihkan tubuh dahulu." Atma menghampiri Abi menuruti perintahnya untuk melepaskan Rama dari genggaman tangannya. Rama pamit untuk pergi ke kamar pada Abi dan Ummik serta Gita, ia berjalan menuju lantai atas di mana kamar Amanda berada, dengan ragu Rama membuka pintu kamar, setelah di buka ia melihat sosok perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya tengah berdiri menghadap jendela luar kamar dengan tatapan kosong.
"Amanda."
"Hmm, mas, kamu sudah di kamar rupanya, Aku sudah siapkan baju dan perlengkapan mandi untukmu." ucap Amanda membalikkan tubuhnya kearah Rama, bukan menjawab Rama mendekati Amanda, mengikis jarak mereka berdua, meletakkan tangannya di atas pucuk kepala Amanda, mengucapkan untaian doa, Amanda memejamkan mata seraya mengaminkan doa.
"Aku mencintaimu Amanda, sangat mencintaimu, terimakasih sudah menerima Aku menjadi suami dan juga Papa sambung untuk Atma," Rama memeluk erat Amanda. "Apa kamu bahagia?" Tanya Rama.
"Entahlah Aku tidak tahu apa yang Aku rasakan saat ini, bahagia diatas kesedihan seseorang menjadi beban tersendiri untukku, semua ini terasa mimpi, tidak pernah terpikirkan olehku menjadi istrimu Mas."
"Apa kamu tidak mencintaiku? Jawab Amanda, tolong jujur padaku!" Amanda hanya bisa terdiam, tidak menjawab pertanyaan Rama, sehingga membuat Rama kecewa dengan sikap Amanda, ia membalikkan tubuhnya untuk menjauh dari Amanda yang masih saja terdiam dengan perasaan berkecamuk di hatinya, baru beberapa langkah menjauh, Rama merasakan pelukan hangat dari belakang punggungnya membuat ia tersentak kaget dengan sikap Amanda saat ini, ia hanya diam terpaku berdiri, menggenggam tangan Amanda yang melingkar di pinggangnya.
"Jika aku tidak mencintaimu, Kak Janu tidak akan menyerahkan Aku menjadi istrimu Mas ... Aku juga mencintaimu." Perlahan Rama membalikan tubuhnya menghadap Amanda, netra mereka bertemu, saling menatap satu sama lain, Rama semakin mendekat menciumi seluruh wajah Amanda disetiap sisi dengan lembut, Amanda meresapi sentuhan yang diberikan Rama saat ini, baru saja ingin menyentuh bibir Amanda yang merah merona,
Krekkkk ... Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Atma diambang pintu dengan cengiran khasnya yang sangat polos. Rama mengusap wajahnya kasar memendam hasrat dalam dirinya tetapi tetap menampilkan senyuman untuk Atma, Amanda yang melihat hal itu tidak bisa menahan tawanya, sepertinya ini akan menjadi malam terpanjang seorang Rama menahan hasrat seorang Pria normal pada umumnya ....
~Bersambung~
__ADS_1
Komentar, like dan vote ya readers 😍
Hayuklah follow akun author, akan masuk cerita terbaru lagi dalam waktu dekat. Terimakasih 😍