Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 79


__ADS_3

“Tidak! Aku bukan pengecut Vanya.” Denis berdiri, melangkah menghadapi Frans yang kini juga melangkah ke arahnya.


Tante Dira memposisikan diri tepat di sebelah Frans, ia tersenyum karena merasa ada seseorang yang kini berada dipihaknya.


“Untung saja kamu datang Frans, tolong kamu kasih pelajaran pada mantan anakku supaya ia sadar posisinya saat ini,” kata Tante Dira dengan kalimat provokasi.


“Kamu sudah tidak punya otak, Denis? Atau urat malumu sudah putus? Menceraikan tapi kini malah mengejar Vanya yang sudah jelas akan menikah denganku secepatnya,” ucap Frans dengan kepercayaan diri yang tinggi.


Mendengar kata-kata Frans, Denis hanya tertawa sumbang. Sedangkan Vanya langsung membelalakkan mata, karena ia sama sekali belum mengiyakan lamaran dari Frans sama sekali.


“Aku tidak berniat sama sekali menikah denganmu, Frans. Jadi tolong jangan mengada-ada, sampai saat ini aku masih mencintai mantan suamiku, bukan kamu atau siapa pun,” tegas Vanya ketika sudah berhasil menguasa diri dari kesedihan atas kenyataan yang baru saja ia dapatkan dari Denis.


Walaupun cukup terpukul dengan kebenaran yang disampaikan Denis, Vanya cukup bisa mengendalikan dirinya. Sikap Tante Dira terhadapnya yang ketus dan juga terkadang tanpa perasaan akhirnya terjawab sekarang.


“Kamu bodoh Vanya!”


“Iya, Mommy benar ... aku bodoh sampai tidak tahu kebenaran ini hingga puluhan tahun, pantas Mommy tak pernah dengar keluhanku, selalu memaksakan kehendak, bahkan sejak kecil aku hanya dibiarkan hidup dengan pengasuh, apa Mommy pernah menggendongku? Menyuapi? Atau tidur sekamar denganku? Tidak kan?!”


“Tidak tahu terima kasih, sudah beruntung kamu bisa hidup dengan layak Vanya, kamu tahu ... ibumu hanya wanita miskin yang akhirnya meninggal setelah melahirkanmu akibat ia mengambil suamiku. Wajar jika saat kamu dewasa membalas budi dan melakukan apa pun yang Mommy pinta tanpa penolakan, sebanding dengan apa yang sudah mommy berikan selama ini untuk kehidupan layak untukmu. Jika bukan karena kasihan, saat kamu bayi sudah mommy buang ke tong sampah karena kamu hanya anak selingkuhan. Tapi Mommy tidak melakukan hal itu, karena masih ada rasa kasihan. Tidak ada wanita yang seperti Mommy, mau menerima anak selingkuhan dan hidup dalam satu atap walaupun sang suami yang telah berkhianat sudah tiada.” Tante Dira mengatakan hal itu dengan tatapan tajam penuh kesal ke arah Vanya yang kini berdiri bersisian dengan Denis.


“Ingat kebaikan Tante Dira, jangan hanya mendengar hasutan mantanmu, Vanya,” tambah Frans yang juga menatap sinis Denis dan Vanya bergantian.


“Diam kamu, Frans!” bentak Denis.


“Sudahlah pria penyakitan sepertimu sebaiknya enyah, tanpa banyak bicara sebelum pukulan yang akan berbicara,” kata Frans dengan nada ancaman.


“Aku tidak akan pergi dari apartemen ini sebelum membawa Vanya ikut bersamaku, kalian tidak akan kubiarkan menyakiti Vanya. Tidak akan ada pernikahan antara dirimu dan Vanya, Frans. Karena Vanya hanya mencintaiku bukan dirimu yang licik dan penuh siasat jahat hanya demi materi. Tidak akan kubiarkan kamu sukses dengan semua rencanamu, Frans,” jelas Denis yang membuat Frans mengeraskan rahangnya.


“Oh ya?” Frans maju selangkah demi selangkah semakin mendekati Denis.


Vanya melingkarkan tangan di lengan Denis, ia sudah mulai khawatir dengan tatapan yang Frans tunjukkan. Beberapa kali bertemu dengan Frans membuat Vanya paham dengan karakter asli Frans yang kasar, pernah sekali pipi Vanya di tekan kuat dengan tangan Frans kala Vanya membantah ucapannya saat meminta Vanya untuk memakai cincin yang sudah ia belikan beberapa waktu lalu.


“Frans! Jaga sikapmu!” Vanya memperingatkan dengan perasaan ketar-ketir.


Frans membisikkan sesuatu di telinga Tante Dira yang mendapatkan anggukan, beberapa saat kemudian Tante Dira maju dan langsung menarik kuat lengan Vanya hingga terpekik kaget dengan apa yang dilakukan Tante Dira.


“Masuk!” titah Tante Dira yang langsung mendapatkan perlawanan Vanya, Denis tidak melepaskan cekalan tangannya, ia tetap mempertahankan Vanya.


“Lepasin, Mom. Enggak Vanya enggak mau nurut apa yang dikatakan Mommy. Lepas, biarkan Vanya bahagia bersama Denis.


Plak!


Tamparan cukup kencang didaratkan Tante Dira tepat di pipi kanan hingga terasa panas, Denis tak terima Vanya diperlakukan kasar seperti itu langsung menarik lebih kencang tangan sang mantan istri.


“Tante benar-benar keterlaluan! Kurang berbakti apa Vanya pada Tante? Dia tulus menyayangi Tante, tak seharusnya Tante berbuat seperti ini,” kata Denis yang berhasil menarik Vanya dan merengkuhnya dalam dekapan.


Ingin rasanya Vanya memberontak, tapi rasa sayang pada mommynya lebih besar dari rasa benci. Walaupun ia kini tahu Tante Dira bukanlah ibu kandungnya, tapi ia tetap menganggap Tante Dira adalah ibu kandungnya meskipun tak pernah menerima perlakuan manis dari sang Mommy.


“Jangan terlalu banyak bicara kamu, Denis,” sanggah Frans yang langsung melepaskan pelukan Vanya.


Hati Frans terbakar cemburu ketika melihat Denis memeluk Vanya, wanita yang berstatus mantan pacar dan kini tengah ia perjuangkan meski bukan karena cinta tapi materi semata. Namun, ia tetap tak rela Denis bisa menyentuh wanita yang kini menjadi targetnya itu.


“Masuk!” titah Frans yang langsung menarik Vanya dan berhasil lalu memasukkan Vanya ke dalam kamar di bantu Tante Dira lalu menguncinya dari luar. Denis ikut membantu tapi gerakan dan tenaga Denis tidaklah besar. Ia masih harus menjaga bekas jahitan transplantasi hati yang masih memerlukan perlakuan khusus.


“Buka, Denis, tolong!” teriak Vanya dari dalam kamar yang membuat Denis terenyuh, ingin rasanya mendobrak pintu itu, memberikan pelajaran pada Frans tapi itu hanya khayalan semata karena pada nyatanya Denis masih terlalu lemah.


“Tante ... tolong lepaskan, Vanya. Biarkan Vanya bersama Denis, memulai semuanya dari awal, kami akan bahagia,” mohon Denis dengan suara pelan, memohon agar hati Tante Dira tergerak.


Bukan menjawab Tante Dira, tertawa cukup kencang dengan apa yang dikatakan oleh Denis.

__ADS_1


“Jangan mimpi, Denis.”


“Denis mohon, Tan. Kasihan Vanya.”


“Kalau kamu kasihan sama Vanya pergi dari apartemen saya sekarang!” kata Tante Dira yang langsung mengusir keberadaan Denis.


“Tidak akan jika tanpa Vanya,” sahut Denis bersikukuh.


Mendengar jawaban Denis yang menantang membuat Frans tersulut emosi, ia maju menarik kerah baju Denis dengan tatapan nyalang. Hanya bisa pasrah yang Denis lakukan, dalam hati tak ada rasa takut sedikit pun yang di rasa. Melainkan sorak bahagia dalam hati, karena ini adalah bagian dari rencananya.


Bugh!


Bugh!


Bogeman mendarat sempurna di wajah Denis, ada rasa nyeri di bagian bekas operasi begitu pun di bagian wajahnya.


“Berhenti! Tetap pada posisi,” titah seseorang yang hadir membuka lebar pintu apartemen.


Denis tersenyum penuh kemenangan, bodyguard serta pihak keamanan hadir di sana. Sesuai permintaan Denis sebelumnya jauh sebelum ia nekad mendatangi apartemen Tante Dira dan Vanya seperti sekarang.


“Jangan bertindak sendirian di negeri orang, libatkan pihak keamanan agar posisi kita kuat.” Pesan Denis pada anak buahnya.


Kepala Denis terasa berputar, ia memundurkan tubuh bersandar pada tembok sementara pihak keamanan langsung menahan lengan Frans dan Tante Dira melebarkan mata terkejut dengan kedatangan pihak keamanan.


“Teruskan ke pihak berwajib, saya sudah dianiaya oleh dia,” kata Denis di tengah kondisinya menahan rasa sakit.


“Sial kamu Denis!”


Bodyguard Denis yang fasih berbahasa jerman—bahasa yang dipakai di Austria langsung memberikan penjelasan pada pihak keamanan agar segera ditindaklanjuti. Beberapa saat kemudian Frans digiring ke kantor keamanan untuk diserahkan ke pihak kepolisian di wilayah itu.


“Aku akan lolos, akan kupastikan itu, Denis!” teriak Frans yang hanya diabaikan Denis karena hukum yang akan berbicara.


“Anda baik-baik saja, Pak?” tanya orang kepercayaan Denis yang merangsek masuk ke dalam apartemen menggantikan bodyguard Denis yang mengawal Frans.


“Denis!” pekik Vanya yang melihat kondisi Denis yang tidak sadarkan diri tergeletak di atas lantai dengan anak buahnya yang setia mendampingi.


“Ambulance akan segera datang, Bu. Jangan khawatir,” kata anak buah Denis menenangkan Vanya.


“Jika terjadi sesuatu dengan Denis, aku tidak akan mau bertemu dengan Mommy lagi. Kita bukan siapa-siapa ‘kan? Maka aku akan mewujudkan semuanya, saat ini juga jangan pernah anggap aku anak lagi, Mom. Aku bukanlah alat untuk memenuhi semua ambisi Mommy, Denis benar sudah cukup aku berbakti, cukup menuruti apa pun keinginan Mommy dan mengorbankan kebahagiaanku,” kata Vanya penuh emosi, hilang sudah rasa hormatnya pada Tante Dira terlebih mengetahui kalau ia bukanlah anak kandung wanita itu.


Di balik sifat keras pada Vanya, juga sifat ketusnya kini Vanya mengetahui alasan mendasar Tante Dira yang suka mengabaikan dirinya sejak kecil. Sangat menyakitkan, tapi inilah kenyataan pahit yang harus Vanya terima.


“Vanya—“


“Tidak perlu berbicara Mommy!” larang Vanya yang sudah memangku kepala Denis dengan perasaan khawatir.


Setelah menunggu beberapa saat, tim medis akhirnya datang dan membawa tubuh Denis ke rumah sakit terdekat. Denis langsung menjalani pemeriksaan laboratorium untuk menguatkan bukti penganiayaan sesuai saran dari pengacara pribadinya. Orang-orang kepercayaan Denis melakukan tugasnya dengan baik, saat kondisi tak sadarkan diri pun semua proses hukum tetap berjalan dengan semua prosedur pembuktiannya.


Tante Dira pun di giring oleh polisi setempat setelah Denis dibawa ke rumah sakit untuk dimintai keterangan dan berstatus sebagai saksi. Vanya menanti Denis dengan cemas di ruang tunggu, ia pun merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Denis sekarang.


Dokter menyatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan atas apa yang terjadi dengan Denis, semua test laboratorium organ dalam bagian dada baik-baik saja hanya memang lebam di kedua sisi wajah Denis begitu kentara. Pukulan Frans sangat kuat, terjadi pendarahan di hidung tapi masih tergolong ringan karena tidak berpengaruh dengan syaraf yang berada di bagian kepala.


“Denis ... bangunlah,” kata Vanya yang sudah khawatir ketika Denis masih setia memejamkan mata padahal sudah berada di ruang rawat inap.


“Ini semua karena aku, maaf Denis. Kumohon bangunlah,” kata Vanya lagi menggenggam tangan Denis.


“Aku mencintaimu,” ungkap Vanya, “selalu mencintaimu.” Lanjutnya yang menghapus air mata yang membasahi pipi.


“Menikahlah denganku lagi, Vanya ... aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, aku takut kehilanganmu,” sahut Denis yang membuka matanya dengan senyuman tersungging di bibir.

__ADS_1


“Kamu sudah sadar?” tanya Vanya yang bingung ketika Denis merespon ucapan dengan cepat.


“Sejak tadi.”


“Kamu pura-pura? Dari tadi sudah sadar?”


Denis mengangguk kaku, sambil tersenyum lebar ke arah Vanya.


“Tega, aku kira kamu akan koma,” kata Vanya mencubit lengan Denis hingga mengaduh.


“Maaf ... maaf ... maaf ... aku hanya merasa bahagia saja dikhawatirkan kamu seperti ini. Rasanya ingin pingsan terus jadinya,” aku Denis yang membuat Vanya mencebik kesal.


Saat di IGD pun, Denis sudah sadarkan diri hanya saja memang tubuhnya terasa lelah sehingga memilih tidur tetapi Vanya menganggap Denis masih pingsan akibat bogeman mentah Frans saat di apartemen.


“Jawablah pertanyaanku.”


“Pertanyaan yang mana?”


“Maukah kamu menikah denganku lagi, Vanya?” tanya Denis penuh kesungguhan tanpa ragu saat mengatakannya.


“Apa kamu benar-benar mencintaiku, Denis? Bukan hanya pelampiasan semata atau karena kasihan terhadapku?” tanya Vanya yang masih ragu memberikan jawaban.


“Aku yakin, Vanya. Hanya saja aku pria lemah, apakah kamu bersedia menerima kelemahanku?”


“Jika aku tidak menerima kelemahanmu, bagaimana?” tanya Vanya yang membuat lidah Denis kelu.


“Maksudmu? Kamu menolakku? Iya?”


“Aku akan menikah denganmu dengan syarat kamu harus sembuh dari penyakitmu lebih dulu, aku tidak yakin kamu masih bersemangat sembuh jika aku menerima pernikahan ini terlalu cepat. Bisa jadi kamu akan mengabaikan pengobatanmu karena sudah bisa mendapatkanku kembali,” tegas Vanya yang berhasil membuat Denis mendesah frustrasi.


“Baiklah, aku akan berjuang di sini sampai sembuh lalu setelahnya kita menikah, kamu janji akan menerimaku ‘kan?” tanya Denis memastikan.


“Belum bisa berjanji, barangkali ada pria yang lebih menggetarkan hatiku, Denis.”


“Vanya!” tegur Denis dengan mata mendelik tajam yang ditanggapi gelak tawa Vanya.


“Kenapa kamu diam ketika Frans memukul wajahmu?” tanya Vanya yang tak habis pikir dengan sikap Denis, seharusnya Denis bisa menangkis, menghindar dan membela diri hingga tak perlu merasakan sakit di dada hingga tak sadarkan diri.


Denis mengarahkan satu telunjuknya ke kepala, “Cara untuk membuat Frans terkena pasal penganiayaan, dengan begitu aku lebih mudah menjauhkannya darimu,” kata Denis ringan yang membuat Vanya membuka mulut tak percaya dengan rencana ekstrim Denis yang sungguh membahayakan diri sendiri.


Dalam hidup manusia, selalu ada rintangan yang hadir, rintangan yang harus dilawan agar tetap bisa bertahan meskipun keadaan terdesak sekali pun. Terkadang butuh rasa kit untuk mencapai sebuah kemenangan menghadapi rintangan yang menyapa saat ingin melangkah menuju kebahagiaan.


“Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?”


“Setidaknya aku sudah berjuang untukmu, menebus rasa bersalah.” Denis menggenggam tangan Vanya dan menatapnya lekat.


Jantung Vanya berdegup dengan cepat mendapatkan perlakuan manis dari Denis untuk pertama kalinya.


“Semua orang bisa memberikan cinta tapi tidak semua orang tulus mencintai dan memberikan kesetiaan, hanya kamu Vanya ... wanita yang pantas kuperjuangkan. Temani aku sampai kita menua nantinya dan membesarkan anak-anak kita jika Tuhan menghendaki,” ungkap Denis yang membuat hati Vanya berdesir hebat.


Sisi romantis Denis yang baru Vanya temui selama ia mengenalnya, haru bahagia menyelimuti hati Vanya.


“Apakah aku bermimpi, Denis?” bukan menjawab Vanya malah bertanya dengan mata yang berkaca-kaca.


Denis menegakkan tubuh, merengkuh tubuh Vanya dalam dekapan. Keduanya saling memejamkan mata, merasa semua ini seperti mimpi. Dicintai seseorang memberi kekuatan, mencintai seseorang bisa memberi keberanian termasuk keberanian menerima rasa sakit.


Seorang pria mendambakan wanita yang sempurna, begitu pun sebaliknya tanpa menyadari sebuah pasangan bukan hanya memikirkan kelebihan pasangan, tetapi saling menyempurnakan dengan menutupi kelemahan dengan kelebihan pasangannya. Tak ada kata terlambat memulai awal yang baru ....


~Bersambung~

__ADS_1


Like dan komentar ... Love untuk semuanya, jaga kesehatan, perketat prokes. Jangan lupa bahagia 😍


Terima kasih supportnya untuk cerita pasca cerai, ikuti terus sampai tamat ya .... ❤️


__ADS_2