Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 58


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


“Biar urusan perusahaan Daddy yang menghandle semuanya.”


“Maaf, Dad. Jadi merepotkan Daddy, Janu akan tetap mengontrol perusahaan dari seluruh laporan yang masuk ke dalam email Janu.”


“Kan ada Mommy yang membantu Daddy juga, kamu fokus pada istrimu dan Baby Daren saja.”


“Iya, Mom.”


“Jangan sampai Gita terkena baby blues atau postpartum depression nantinya, terlebih umur Gita masih muda. Seharusnya masih menikmati masa muda setelah lulus kuliah kini hanya mengurus bayi di rumah, Nak,” timpal Mommy Janu.


“Betul, Nak. Terlebih ia jauh dari orang tua, biasanya setelah melahirkan seorang perempuan akan lebih nyaman didampingi orang tuanya bukan mertua,” kata Daddy.


“Iya, Mom, Dad ... aku akan berusaha menjadi suami siaga, hahh! Ternyata sulit juga ya menikah dengan perempuan yang usianya jauh lebih muda, tapi ya mau gimana lagi ... Janu—"


“Ekheemm!” dehaman kencang dari arah belakang Janu dan kedua orangtuanya terdengar.


Gita mendengar apa yang dikatakan Janu, ekspresi Gita langsung berubah menjadi menyeramkan. Sesaat kemudian Gita masuk ke dalam kamar kembali, padahal niatnya ingin mengambil air karena kerongkongan terasa kering.


“Argh! Masalah lagi!” geram Janu menepuk keningnya.


Orang tua Janu hanya mengulum senyum melihat anaknya kini frustrasi.


“Ayo, Mom! Sebaiknya kita langsung berangkat ke kantor, temani Daddy jadi sekretaris pribadi,” ajak Daddy yang langsung berdiri dan mengulurkan tangan yang langsung di sambut sang istri.


“Tentu, biarkan lelaki dewasa di samping kita menaklukkan hati Gita.”


Mereka akhirnya terkekeh sambil meninggalkan Janu yang tengah mengacak rambutnya, mengembuskan napas, lalu menarik napas dalam, embuskan lagi ... begitu terus yang dilakukan Janu sebelum masuk ke dalam kamar menerima amukan Gita yang pasca melahirkan menjadi sensitif.


“Sayang, kamu mau memakan sesuatu?” tanya Janu saat membuka pintu kamar, bersikap biasa saja menyembunyikan kekhawatiran akan amukan Mama muda didepannya.


“Pergi! Cari saja istri yang usianya seusiamu atau mungkin lebih tua jadi kamu tak perlu bersusah payah mengurus anak dan istri, mendapatkan istri mandiri bukan sepertiku yang manja. Pergi!” bentak Gita yang membuat Janu terjengkit kaget.


Perlahan ia maju melangkah, mendekati Gita yang kini memunggungi dirinya dengan tubuh bergetar hebat karena menangis.


“Sayang.”


Tangan Janu langsung ditepis ketika baru saja menyentuh pundaknya.


“Kamu dengarkan dulu lanjutan ucapanku,” kata Janu yang langsung mengeratkan lingkaran tangan di tubuh sang istri.


“Ternyata sulit juga ya menikah dengan perempuan yang usianya jauh lebih muda, tapi ya mau gimana lagi ... aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu, sangat cinta malahan. Kamu itu unik, cantik, menggemaskan, selalu bisa membuatku bahagia,” puji Janu.


Tangisan Gita langsung mereda, ia membalikkan tubuh menatap suaminya, mencari kebohongan dari mata sang suami, menyelami tatapan itu lebih dalam.


“Sungguh, Sayang. Tidak akan aku menyakitimu, hal yang wajar jika kamu sedikit rewel setelah melahirkan. Aku sangat memahami bahkan bertambah cinta ketika melihat perjuanganmu melahirkan Daren, perjuangan yang luar biasa. Kamu hebat, sayang ....”


Gita menghapus jejak air matanya lalu sedikit tersenyum mendengar hal itu.


“Benarkah?”


“Sungguh.”


Kini Gita langsung menghambur kepelukan Janu.


“Maaf jika aku merepotkanmu, membuatmu lelah atau membuatmu kesal dan bisa jadi ma—"


Cup!


Janu langsung memberikan kecupan di bibir sang istri agar tidak meneruskan ocehannya yang malah merasa bersalah.


“Jadilah dirimu sendiri, tak perlu merasa bersalah, okey?!”


“Love you so much, Kak Janu.”


Gita menangkupkan kedua tangan disisi wajah suaminya lalu memberikan kecupan di setiap inchi wajah tampan suaminya yang membuat lelah Janu sedari malam entah menguap kemana.

__ADS_1


“Stop!” kata Janu menghentikan tindakan Gita.


“Why?”


“Jika terlalu lama kamu justru menyiksaku, Sayang,” jawab Janu lirih.


Sesaat Gita terdiam, tersiksa ... kata yang membuatnya terusik tapi melihat mata Janu yang menyiratkan hasrat dan melirik sekilas sesuatu di bawah sana menegang membuat tawa Gita akhirnya pecah.


“Oh my God, sorry dear ... masa nifasku 3 minggu lagi sepertinya, bersabarlah. Suami sabar di sayang istri,” kata Gita penuh kemenangan.


Janu langsung bangkit tanpa pamit menuju kamar mandi.


“Kak mau ngapain?” tanya Gita sok polos.


“Meredam!” teriak Janu.


“Sekalian berendam, Dear!” tawa Gita kembali pecah.


“Damn!” rutuk Janu ketika sudah masuk ke dalam kamar mandi dan masuk ke dalam bathtub.


****


Sore ini rencananya Atma akan pulang setelah hampir seminggu di rawat pasca operasi jantung, senyum tak lepas dari wajah tampan yang memakai kacamata itu. Amanda mengemasi barang diruangan, Rama senantiasa menemani Atma. Seluruh urusan pekerjaan di serahkan pada Rio selama ia mengurus dan menemani Atma di rumah sakit.


Denis?


Atma sudah mempersilahkan Denis untuk menemuinya, tapi sejak kepulangannya pasca Atma selesai operasi, Denis belum menampakkan diri. Amanda dan Rama sudah menghubungi Denis berulang kali, mengabarkan kabar baik itu tapi tak ada tanggapan.


Pesan yang terkirim hanya centang 2 berwarna biru, Amanda dan Rama pun bingung dengan sikap Denis. Bukankah ia sangat menginginkan dekat dengan Atma? Lalu kenapa sekarang terkesan mengacuhkan? Padahal mereka sudah membujuk Atma sedemikian rupa agar mau bertemu dengan papa kandungnya sebagai terapi psikologi dengan pendekatan emosional.


[Denis, kamu jadi menjemput Atma tidak?]


[Sore ini kami tunggu di rumah sakit.]


[Balaslah!]


Pesan yang Rama kirimkan beberapa jam yang lalu dan tetap tidak mendapatkan balasan, Rama jadi geram dengan sikap Denis kali ini. Khawatir jika Atma berubah pikiran dan menganggap tidak diinginkan lagi oleh papa kandungnya.


Urusan Denis, Amanda serahkan pada Sang Suami. Ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman dalam rumah tangganya, bagaimana pun Denis seseorang yang ada di masa lalunya. Amanda selalu berusaha menjaga perasaan Rama yang sudah begitu baik dan bijaksana, tidak mementingkan ego semata.


“Sudah ada kabar, Mas?” tanya Amanda berbisik agar Atma tidak mendengarkan obrolan mereka.


Rama menggelengkan kepala mendengar pertanyaan sang istri, “Aku jadi kesal sendiri jadinya,” gerutu Rama.


“Bisa jadi Denis berubah pikiran, Mas.”


“Mana mungkin, Sayang.”


“Nothing impossible, Mas.”


“Tapi ini keinginannya sejak dulu, tidak mungkin Denis menyia-nyiakan kesempatan ini begitu saja,” tukas Rama.


Amanda hanya mengendikkan bahu, acuh ....


“Mungkin juga sedang sibuk di perusahaan, kamu tahu sendiri perusahaan Narendra bukan hanya di Indonesia saja. Bisnis retail yang sudah merambah kebeberapa negara.”


“Ya ... dia memang sekaya itu, tidak sepertiku yang hanya memiliki perusahaan jasa arsitektur dan itu hanya di Indonesia,” cetus Rama.


Mata Amanda membulat sempurna, ia mengelus rahang kokoh Rama yang ditumbuhi rambut halus itu dengan tatapan khawatir.


“Aku tidak menyinggung dan membandingkan materi, Mas. Apa kamu tersinggung?” tanya Amanda hati-hati.


Rama menahan senyum melihat ekspresi Amanda yang menyiratkan kekhawatiran itu, ia pun hanya asal ceplos saja tidak bermaksud apa pun karena tahu karakter Amanda seperti apa.


“Bohong!”


“Ya ampun, Mas. Kamu sungguhan tersinggung dengan ucapanku?” tanya Amanda yang sudah merasa tidak enak.

__ADS_1


Rama memasang tampang kesal padahal dalam hati, ia ingin terkikik geli melihat respon sang istri.


“Mas ...,” panggil Amanda sangat lembut, lembutnya melebihi halus kain sutra sepertinya.


Satu hal yang ia takutkan hubungannya merenggang ketika Denis hadir di tengah mereka, walaupun Atma lah sebagai alasannya bukan karena cinta lama bersemi kembali.


Rama dalam mode diam, tak menyahut panggilan Amanda.


“Tolong Mas, jangan tersinggung aku tidak mempunyai maksud apa pun.”


“Lalu apa maksudmu?” tanya Rama berusaha bersikap dingin, bahkan kedua tangannya sudah terlipat di depan dada.


“Ya ... tidak perlu mendesak Denis untuk menjemput Atma nanti sore. Habisnya kamu sangat terlihat kesal dengan Denis yang tak memberikan tanggapan, tidak ada hal lain yang kumaksud selain itu.”


“Benarkah? Bukan karena dia mantan?” cibir Rama.


Kini Amanda yang memberikan tatapan tajam ke arah suaminya itu, ucapan Rama sudah sukses membuat Amanda kesal baru saja ingin menyahut, Atma bangun dari tidurnya dan Rama langsung berdiri meninggalkan Amanda yang masih terduduk di sofa.


“Haus, Pa.”


“Sebentar Papa ambilkan, Sayang.”


Rama langsung memberikan gelas dan sedotan lalu menyodorkannya pada Atma.


“Sudah, Nak?”


Atma mengangguk.


“Mau apa lagi sayang?”


“Atma ingin istirahat, biar sore segar dan langsung bermain dengan kembar saat di rumah,” kata Atma yang kembali memejamkan mata.


“Oke, istirahatlah. Papa dan Mama menunggumu di sini.”


“Iya, Pa.” Atma kembali memejamkan mata dan mencari posisi nyaman, setelah terlihat pulas. Rama membalikkan tubuh, melihat sang istri kini menatapnya dengan tatapan sinis sementara Rama tersenyum yang membuat Amanda semakin kesal.


Ketika tatapan bertemu, Rama dengan seringai isengnya menaik turunkan alis, kembali bersikap biasa padahal sudah menyulut amarah Amanda.


Rama menghempaskan tubuh di samping Amanda, lalu merangkul dan sedikit menarik kuat tubuh Amanda yang menegang dengan ekspresi tak suka.


“Aku tak suka kamu berbicara seperti itu,” tukas Amanda.


Rama langsung meraih dan menggenggam tangan sang istri meredakan rasa kesal akibat perbuatan isengnya yang menggoda Amanda dan menyangkut mantan.


“Denis hanya mantan, aku pernah bersamanya dan menghadirkan sosok Atma tapi Denis bukanlah seseorang yang harus dimiliki selamanya. Ia hadir hanya untuk memberikanku sebuah pelajaran hidup, seseorang yang hadir dalam hidup tak selalu menjadi milik kita selamanya, Denis diciptakan hanya untuk memberikan pelajaran berharga dalam hidupku bukan ditakdirkan bersama dan dimiliki selamanya karena nyatanya kamulah masa depan dan kebahagiaanku, Mas.”


”You’re not my number one, you’re my only one.”(Kamu bukan nomor satu, kamulah satu-satunya bagiku)


Rama langsung membawa Amanda ke dalam rengkuhannya ....


~Bersambung~


By the way, kemarin mendapatkan laporan dari editor bahwa karya ini banyak yang melaporkan karena plagiat.


Hanya sekadar meluruskan, PASCA CERAI adalah murni karyaku yang sudah "Tamat" di 2 platform (PF hijau dan PF pink) setahun yang lalu dengan jumlah 44 bab.


2 bulan yang lalu ada pembaca kesulitan mengakses 2 platform tersebut karena koin dan candy. Boleh dicek akun Lisfi_triplets di sana, sudah banyak buku yang di tulis di 2 platform tersebut.


Sengaja ke noveltoon untuk menyapa pembaca di sini ... selain akun Lisfi_triplets silahkan report ya, tapi aku jangan di laporkan. Hikss


Pasca Cerai di Noveltoon berbeda tentunya, terbukti sudah hampir 60 bab.


Boleh follow Instagram Lisfi_triplets atau FB Lisfi untuk melihat profil.


Love sekebon lah untuk pembaca noveltoon, karya pertama di sini, mudah-mudahan cerita ini bisa diambil banyak maknanya.


Like dan komentarnya jangan lupa ....

__ADS_1


Terima kasih untuk supportnya 😘


__ADS_2