Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 24


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak...


...💕 like dan komentar 💕...


"Hei ...."


Rama mengelus keningku, Akupun mengerjapkan mata, memulihkan kesadaranku, jantungku kembali berdetak kencang saat melihat wajah Rama sangat dekat, sehingga Aku mengingat kilasan kejadian semalam. Rama menatapku dengan khawatir,


"Kamu nggak apa-apa 'kan?" tentu saja mataku membulat mendengar pertanyaannya.


"Owhh, anu, nggak apa-apa kok ...." Rama tersenyum mendengar jawabanku, ia mengelus pucuk kepalaku dengan lembut dan mencium keningku


"Terimakasih ya untuk semalam." pipiku bersemu merah. Ahh, Rama ternyata semanis ini sikapnya, Aku kira ia sangat kaku dan dingin.


"Sudah nggak marah 'kan, Mas?" 


"Marah? Untuk apa?"


"Ucapan Denis kemarin."


"Hmm, marah sama Denis tapi tidak denganmu Istriku."


"Tapi ... kemarin kamu hanya diam saja, Aku takut kalau kamu diam seperti itu Mas."


"Sengaja." jawabnya santai


"Hah?"


"Iya sengaja, biar kamu takut lalu melakukan kewajibanmu sebagai istri, dan Aku mendapatkan hak sebagai suami, adil 'kan?" Seketika Aku melempar bantal ke arah Rama.


"Jadi itu hanya trik kamu Mas? Ckkk menyebalkan."


"Ya nggak apa-apa Amanda, halal, kalau nggak terpaksa kamu pasti masih enggan dan malu-malu, ya 'kan?" Iapun tersenyum.


Tanpa menjawab Aku bangkit berniat untuk membersihkan tubuhku, tapi tangan kekarnya melingkar erat di pinggangku, ia menelusupkan wajahnya dileherku,


Tring ... Suara pesan masuk ke dalam ponselku,


"Sebentar Mas, Aku periksa ponselku khawatir ada pesan penting" Aku melepaskan pelukan Rama dan segera mengambil ponsel.


Kak Janu


[Ada sesuatu yang ingin Aku bicarakan, bisakah kita bertemu? Itupun jika suamimu tidak keberatan.] 


"Mas, bolehkah Aku bertemu Kak Janu" Rama mengangkat ke dua alisnya.


"Janu?"


"Hmm ...."


"Boleh asal pergi denganku"


"Untuk pertemuan kali ini saja Mas, Aku ijin sendiri menemuinya, karena khawatir ada sesuatu sangat pribadi yang akan Kak Janu bicarakan" Rama menghela nafas panjang.


"Rasanya seperti mimpi bisa bersamamu seperti ini, asal kamu tahu, melihatmu dengan orang lain itu sangat menyakitkan,"

__ADS_1


"Aku harap kamu tidak egois Mas, hanya mementingkan perasaanmu saja, melihatku dengan orang lain terasa menyakitkan, lalu bagaimana perasaan Kak Janu saat merelakan Aku untukmu? Aku mengharapkan dalam rumah tangga kita ada saling percaya satu sama lain" tanpa mendengar jawabannya Aku berlalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh dan setelahnya membuat sarapan.


Aku dan Bik Tarsih memasak bersama di dapur, aktivitas yang biasa Aku lakukan selama beberapa tahun saat tinggal di Bandung, tapi kali ini berbeda, Aku memasak untuk suamiku. Kami dengar ada yang memencet bel rumah saat sedang memasak,


"Biar Amanda saja yang buka, Bik." Aku bergegas membuka pintu untuk melihat tamu yang datang pagi-pagi. 


"Tasya." Aku dibuat terperanjat dengan kedatangannya. "Mau apa kamu kesini?"


"Ohh Amanda, kebetulan sekali ya kita bertemu, apa ada calon suamiku?"


"Siapa sayang?" Ucap Rama yang berada di belakangku. "Tasya, mau apa kamu datang?"


"Wah, kenapa kalian kompak menanyakan maksud kedatanganku?" Tasya tersenyum sinis, Rama merangkul pundakku. "Aku datang kesini untuk meminta pertanggungjawaban darimu Rama, sejak awal aku tidak menerima pembatalan pernikahan kita."


"Aku sudah membatalkannya, dan berbicara langsung dengan kedua orangtuamu, serta memberikan alasan kuat mengapa Aku membatalkannya."


"Aku tidak mau anak ini lahir tanpa ayah."


"Tapi Aku tidak pernah menyentuhmu dan anak yang ada di dalam rahimmu bukan anakku. Asal kamu tahu, Aku sudah menikah dengan Amanda, dia sekarang istriku." kulihat Tasya melebarkan matanya. "jadi tolong jangan ganggu kami."


"Sejak awal kamu memang perusak hubunganku dengan Rama, dasar perempuan licik, Aku nggak akan biarkan kalian bahagia, ingat itu!"


"Silahkan kamu pergi!!!" Ucapku, Tasya langsung meninggalkan rumah dengan amarahnya, netranya menatap kami tajam. Sepeninggal Tasya, Aku dan Rama masuk kedalam untuk sarapan, nafsu makanku hilang seketika.


"Mas, anak yang dikandung Tasya benar bukan anakmu 'kan?"


"Baru saja tadi kamu mengharapkan dalam rumah tangga kita ada saling rasa percaya satu sama lain, nyatanya kamu sendiri yang tidak mempercayai Aku. Ahh, wanita itu sangat rumit ternyata."


"Ishh, Aku 'kan hanya memastikan."


"Selesai makan kita kembali ke Jakarta, Aku kangen Atma, dan kamu boleh menemui Janu karena Aku juga akan menemuinya untuk mengucapkan terimakasih padanya telah merelakan wanita yang ia cintai hidup denganku, dan nanti Aku akan meninggalkan kalian berdua untuk berbicara tapi Aku akan melihat kalian dari jauh"


"Nggak boleh berpikiran negatif sama suami sendiri." ia menyentil keningku sambil tetap tersenyum.


Kami akhirnya pulang menuju Jakarta, langsung kerumah Abi dan Ummik untuk menjemput Atma yang menginap disana.


"Assalamualaikum anak Papa." Rama langsung memeluk dan menggendong Atma, Aku juga menciumi pipi Atma.


"Mana adek bayi untuk Atma?"


"Sepertinya itu tugas kamu menjelaskan ke Atma deh Mas." bisikku ditelinga Rama, sementara Rama hanya menepuk keningnya bingung memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Atma, Aku berlalu masuk ke dalam rumah sambil tertawa melihat dua laki-laki yang sangat berarti dalam hidupku saat ini.


"Amanda." Abi menyambut kedatanganku, Aku langsung menghampirinya dan mencium punggung tangan Abi dan juga Ummik. "Ada kabar tidak baik untukmu." lanjut Abi terlihat gelisah.


"Ada apa Abi?"


"Sudahlah Abi, nanti saja bicaranya mereka baru saja sampai, biarkan mereka istirahat dulu." Ucap Ummik.


"Tidak apa-apa Mik, Amanda juga penasaran dengan yang disampaikan Abi."


"Mama ... " Atma turun dari gendongan Rama dan berlari ke arahku. "Tadi Aku berkenalan dengan Om Denis, ia menolongku tadi, setelah tahu Aku anak Mama, ia mencari Mama juga, dia memeluk Atma, itu teman mama ya? Atma baru melihat dan mendengar nama Om Denis" Tubuhku seketika membeku mendengar ucapan Atma, 'apa lagi yang akan dilakukan mantan suamiku itu?'


"Atma, ikut Tante yuk, kita main game terbaru milik Tante," Gita muncul dari balik pintu luar rumah, mengajak Atma menjauh dari kami. "Selesaikan pembicaraan kalian, biar Atma bermain denganku." ucap Gita sebelum berlalu.


"Denis sudah sering datang ke rumah ini mencarimu dan juga Atma."

__ADS_1


"Iya, Amanda tahu itu Abi, kenapa Atma bisa bertemu dengannya kali ini?"


"Mungkin itu sudah menjadi jalannya Denis bisa bertemu Atma. Atma bermain sepeda mengelilingi lingkungan rumah dengan temannya, kebetulan ia terjatuh dan terluka serta menangis, lalu Denis menolongnya dan mengantarkan Atma pulang, ternyata anak yang ia tolong adalah anak kandungnya yang ia cari selama ini. Abi dan Ummik tidak bisa melakukan apapun."


"Kemarin Amanda bertemu di kantor Mas Rama, kami sempat berdebat Abi, ia bilang tidak akan melepaskan Amanda dan juga Atma"


"Sudah Amanda, tenang, Aku akan melindungi kalian, biar itu menjadi urusanku dengannya" ucap Rama menenangkan Aku.


"Aku juga nggak akan membiarkan Denis menyakiti Atma, meskipun Aku khawatir Denis melakukan hal buruk untukku dan Atma."


"Sebelum Denis pergi, dia meminta Ummik menyampaikan bahwa dia akan mengadukan ke pengadilan bahwa kamu melarang dan menghalangi dia untuk bertemu anaknya" ucap Ummik gelisah. "Sepertinya kalian berdua harus menghadapi Denis dan memberikan pengertian ke Atma"


Rama memeluk Aku untuk memberikan ketenangan, untung saja Aku sudah menikah, setidaknya ada yang melindungi Aku dan Atma selain Abi dan Ummik, saat ini Aku hanya bisa mengambil nafas panjang untuk menenangkan perasaanku. 


Setelah dari rumah Ummik dan Abi untuk menjemput Atma, kami menuju kesebuah pusat perbelanjaan untuk menemui Kak Janu, Kak Janu terlihat sudah duduk menunggu, melihatnya Aku merasakan kesedihan masih terpancar di wajahnya meskipun ia berusaha menyembunyikannya dari kami.


"Aku akan kembali ke Australia,"


"Kak, Maaf ... " Ucapku menundukkan kepala.


"Om, nanti Atma dan Mama boleh main 'kan kesana? Nanti ajak Atma jalan-jalan lagi ya seperti waktu itu." Ucap Atma bersemangat


"Iya sayang, nanti Om, Papa Rama, Mama dan Atma jalan bersama, oke?"


"Oke Om." Atma memeluk Janu.


"Terimakasih, sudah merelakan Amanda untukku, Aku tidak menyangka kamu melakukan semua ini untuk mempersatukan kami, boleh Aku memelukmu sebagai tanda persahabatan kita?" Janu dan Rama berpelukan membuat Aku terharu melihatnya, dua pria yang memiliki cinta yang sama untukku. Kemudian Rama mengajak Atma bermain dan meninggalkan Aku dan Janu.


"Kak ... " Belum sempat Aku mengucapkan kalimat, air mataku keluar dari pelupuk mata.


"Jangan berkata maaf dan terimakasih lagi Amanda, Aku bosan mendengar kata itu darimu."


"Kak Adnan Januzaj adalah seseorang yang aku sayangi dari dulu, bagaimana mungkin Aku acuh atas perasaan hancur yang kakak rasakan saat ini, hmm? Kenapa kakak memilihkan jalan hidup untukku?" Aku menangis mengucapkan hal itu.


"Hapus air matamu Amanda, hati Kakak memang terasa sakit saat ini tapi akan lebih sakit jika pengorbanan yang Kakak lakukan tidak membuat kamu bahagia dengan Atma dan Rama. Tolong jangan biarkan semuanya menjadi sia-sia, bahagialah dengan Rama itu saja yang Kakak minta darimu."


"Tapi Aku merasa bersalah Kak."


"Jaga dirimu dan Atma baik-baik, Ah ... " Janu menepuk bibirnya sambil tertawa kecil. "Kenapa aku harus mengucapkan itu, sudah pasti 'kan Rama akan menjaga kalian." mataku mulai memanas, kalimat Kak Janu melukai hatiku dan membuat Aku sedih.


"Maafkan Aku."


"Lagi?" Kak Janu terlihat kesal dengan ucapanku. "Aku yang menentukan pilihan dan atas kehendakku sendiri, jangan menghukum diri sendiri, cukup jalani kehidupan kalian dengan kebahagiaan, itu sudah cukup, memang terdengar klise dan konyol tapi itu adalah doa terbesarku untuk kalian" air mataku kembali akan turun dari pelupuk mata tapi Aku segera menghapusnya.


"Berjanjilah Kak."


"Janji?"


"Berjanjilah Kakak akan menemukan kebahagiaan dengan wanita lain yang lebih baik dari Aku, dan Kakak akan kembali kesini untuk melihat Aku bahagia. Kakak kembali menjadi seseorang yang aku sayangi sebagai saudara, sahabat dan teman untukku."


"Tentu saja Amanda, masih banyak wanita yang antri untuk Kakak nikahi" ia terkekeh geli, aku pun tersenyum mendengar jawabannya. "Mommy dan Daddy kecewa dengan keputusanku, mereka menjodohkan Aku dengan seseorang, sepertinya Aku akan pasrah dengan keputusan mereka."


"Siapapun wanita itu, jangan pernah menyia-nyiakannya Kak."


"Tentu, jangan khawatirkan hal itu, Kakak akan berusaha mencintainya juga seperti Kakak mencintaimu selama ini."

__ADS_1


"Kita masih dibawah langit yang sama 'kan Kak?"


"Masih dan akan selalu berada di langit yang sama." Aku dan Kak Janu saling menatap sejenak sebelum kami mengambil jalan pulang dengan arah yang berlawanan.


__ADS_2