Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 48


__ADS_3

đź’• Happy reading đź’•


Pengasuh si kembar refleks menutup mata, Rama hanya melirik kelakuan pengasuh yang masuk tanpa mengetuk pintu. Sontak penyatuan bibir mereka terlepas.


“Titip anak-anak, Mbak,” kata Rama yang bersikap biasa saja sementara Amanda langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rama dengan tetap merekatkan lingkaran tangannya yang masih melingkari leher.


“I-iya, Pak.”


“Malam ini tidak ada kata gagal, Sayang,” desis lirih Rama saat menggendong Amanda ke kamar pribadi mereka.


Tubuh Amanda ditaruh perlahan di atas kasur, Rama sudah mulai bergerilya ke seluruh inchi tubuh sang istri. Memberikan tanda kepemilikan di sekitar leher dan dada.


Mata Amanda sudah terlihat pekat oleh hasrat, Rama tersenyum puas ketika setiap sentuhan yang memabukkan membuat sang istri terbang melayang.


Rama menyentuh Amanda penuh kelembutan dan penuh cinta.


“Ahhh ... Mas,” desah Amanda.


Desahan yang membuat hasrat Rama semakin menggebu, mereka berada di bawah selimut yang sama. Pelepasan titik klimaks pun akhirnya terjadi, benda kokoh itu masuk dan keluar dengan ritme teratur, lambat laun semakin cepat dilakukan Rama hingga erangan keduanya terdengar mengisi seluruh ruang, lahar Rama akhirnya tumpah membawa kenikmatan untuk mereka berdua.


Sekali ... belum merasakan kepuasan.


Kedua ... masih merasa ingin.


Malam pertama setelah nifas Amanda selesai, saat ingin melakukan yang ketiga kali, suara dering ponsel Amanda memekakkan telinga, mengganggu keromantisan mereka.


“Arghh! Siapa sih yang menelepon semalam ini,” keluh Rama yang akhirnya menarik diri dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri.


“Sabar, Sayang, barangkali penting.”


Amanda langsung mengambil ponsel di laci nakas, nama seseorang yang sangat dekat dengannya terpampang di sana. Tinggal di negara berbeda, tanpa pikir panjang Amanda menerima panggilan.


“Asslamualaikum, Gita.”


“Wa’alaikumsalam, Kak. Guten Morgan,” pekik Gita di seberang telepon


Karena usil, Rama menempelkan tubuhnya, kembali menggoda Amanda dengan sentuhannya.


“Ahhh ... Mas!” keluh Amanda dengan sedikit desahan.


“Wowww! Kalian lagi itu ya?! Ya ampun aku lupa sekarang di Indonesia malam ya, Kak?!”


“Ah iya.”


“Iya itunya, Kak?” cecar Gita.


“Gita!”


Tawa renyah terdengar.


“Kak Januuuu, jangan kerja ya, aku juga ingin seperti Kak Amanda dan Mas Rama.”

__ADS_1


Rama yang mendengar suara cempreng Gita yang terdengar kekanakan akhirnya terkekeh geli, tanpa aba-aba merebut ponsel, mematikan panggilan lalu menelepon kembali dengan panggilan video.


“Mas, ish kita hanya menutupi tubuh dengan selimut,” tolak Amanda.


“Kepala saja yang akan kita perlihatkan, selimut sebatas leher.”


Amanda hanya menggelengkan kepala, begini lah hubungan mereka sekarang. Sangat dekat tanpa sekat, sudah tidak ada rasa cemburu lagi yang Gita tunjukkan ketika Janu dan Amanda bertemu. Komunikasi pun mereka lakukan dengan intens.


Sambungan video di terima, mata Gita terbelalak melihat gambar yang memenuhi layar ponselnya.


“Ya ampun! Kalian ini ya!” pekik Gita.


“Kak Janu!” panggil Gita.


“Oh My God Gita!” sahut Janu yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya dilengkapi sweeter yang digantung pada lengan.


Menatap layar ponsel sang istri, Janu hanya menggelengkan kepala.


“Please Rama! Jangan mengotori pikiran kami.”


Rama tertawa, “Istrimu sungguh mengganggu, Indonesia masih malam,” katanya.


“Fix kalian membuatku malas berangkat bekerja,” celetuk Janu.


“Aku tidak ada niat mengganggu, hanya ingin mengatakan bulan depan kami pulang ke Indonesia,” kata Gita yang merapatkan tubuh dekat Janu sehingga wajah mereka berdua terpampang di layar.


Gita mengambil foto bayi yang masih berada di inkubator, Rama dan Amanda saling bertatapan. Berita baik kehadiran anggota keluarga baru yang akan menjadikan mereka keluarga besar.


Janu langsung membawa kepala Gita ke dada bidangnya, melihat hal itu membuat Amanda dirundung kesedihan. Berita baik dan juga buruk sekaligus dalam satu waktu. Amanda sangat paham bayi yang dimasukkan ke dalam NICU bukanlah bayi yang sehat dan tidak dalam kondisi stabil.


Ruang NICU mengingatkan Amanda akan kelahiran Atma ... kelahiran yang membuat hidupnya berubah ketika merasakan kebahagiaan dan kesedihan dalam satu waktu.


"Kami selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian," kata Amanda.


"Terima kasih, Kak."


"Jangan lupakan skrining bayi prematur, jangan lupakan memerah ASI setiap 2 jam," kata Amanda memperingatkan lagi.


"Baik, Bu Dokter," sahut Janu.


Gita sudah melingkarkan tangan di tubuh atletis Janu, tubuhnya pun bergetar. Di balik keceriaannya menyimpan kesedihan, ibu mana yang tidak sedih ketika melahirkan tapi tidak bisa membawa bayi yang dilahirkan ke rumah dan harus melihat tubuh mungil itu di pasang alat penunjang kehidupan.


"Kak ... titip adik kesayanganku," pinta Amanda yang matanya sudah terlapisi bulir bening.


"Tanpa diminta, Amanda. Jangan lupakan Gita adalah perempuan yang sangat kucintai," ungkap Janu dengan senyuman hangatnya.


Setelah melakukan obrolan kecil, akhirnya sambungan telepon pun berakhir, Amanda tertidur, lengan Rama ia jadikan bantal hidup yang menyamankan tidurnya.


**


"Bu Vanya ingin bertemu, Pak," kata asisten Denis yang masuk ke dalam ruangan kerja, ada kertas dan pulpen dalam genggaman tangan sang asisten.

__ADS_1


"Persilahkan masuk," titah Denis.


Sang asisten keluar dari ruangan dan kembali bersama Vanya, seseorang yang sebentar lagi berstatus mantan istri Denis.


"Silahkan duduk Vanya," sapa Denis yang langsung mempersilahkan Vanya untuk duduk.


"Kenapa kamu tidak datang ke pengadilan sehingga proses perceraian semakin mudah."


"Tidak sempat."


"Sampai kapan kamu tidak memedulikan keberadaanku, Denis? apa dihatimu hanya ada Amanda, Amanda dan Amanda?!"


Denis tertawa sumbang.


"Aku tidak perlu menjawab 'kan?"


Hati Vanya seperti tersayat sembilu, sakit. Sejak awal pernikahan tidak sekali pun Denis menganggap dirinya ada, perempuan mana yang tak sakit hatinya? Mengharap dicintai tapi nyatanya ia yang mencintai tanpa dicintai pasangannya.


"Sampai kapan kamu bermimpi, Denis?"


"Entah."


Melihat ekspresi sedih Vanya tak terelakkan membuat Denis tak tega, tapi ia tidak bisa menahan Vanya lebih lama lagi. Lebih baik seperti ini, agar Vanya tidak tersakiti lebih dalam lagi nantinya.


"Aku ... akan meninggalkan Indonesia lusa, urusan perceraian sudah kuserahkan pada kuasa hukum."


Denis diam ....


'Bolehkah aku berharap kamu tetap tinggal di sini, Vanya?' Denis membatin, menatap Sendu Vanya yang tengah mengusap sudut matanya.


"Jangan menyesali seseorang yang sudah pergi, sementara kamu menyia-nyiakan seseorang yang siap menuntunmu menuju kebahagiaan bukan keterpurukan. Aku selalu menunggu hatimu terbuka untukku walaupun kamu tidak pernah menginginkanku."


Vanya berdiri, air matanya luruh. sesakit ini ketika mencintai tapi tidak dicintai ....


"Carilah kehidupan yang akan membahagiakanmu, tapi bukan bersama denganku," ucap tegas Denis.


Kini air mata luruh membasahi pipi, Vanya mengusap cairan bening di pipi dengan kasar. Setelah itu langsung melangkah keluar ruangan Denis tanpa berkata.


'Maaf ... aku hanya tidak ingin kamu lebih tersakiti, Vanya. Berbahagialah, biarkan diriku sendiri larut dalam penyesalan dan kesedihan, tidak untukmu. kamu berhak bahagia.'


Denis memejamkan mata, wajah Vanya yang tengah tersenyum hadir di pelupuk mata.


~Bersambung~


Double update ya ....


Up lagi lusa, ada kegiatan dunia nyata.


Hadiah, Vote, like dan komentar jangan lupa supaya terbaca sistem dan semakin banyak yang baca.


Terimakasih untuk komentar pembaca yang jadi mood booster menulis. ❤️

__ADS_1


Bisa double up lagi kalau komentar 200. 🤭✌️


__ADS_2