
💕 Happy reading 💕
“Kamu tidak bekerja, Mas?” tanya Amanda pada Rama yang masih setia memeluk bayi kembarnya di ranjang king size kamarnya.
Setelah memandikan dan memberikan susu lalu kedua bayi kembar itu kembali tertidur lelap, Rama membawa tubuh bayi itu ke ranjang miliknya. Sementara Atma sudah berangkat ke sekolah pagi tadi di antar oleh supir pribadi.
“Semenjak ada twin, malas berangkat bekerja. Ingin selalu berada di samping mereka seperti ini.”
“Baiklah, itu berarti aku yang akan kembali bekerja.”
“Mana bisa seperti itu?” tanya Rama yang langsung bangkit dari posisinya.
“Loh memang benar, Mas. Ini sudah hampir 3 bulan, minggu depan jatah cutiku sudah habis. Waktunya sekarang melanjutkan aktivitasku, mengemban tanggung jawab sebagai seorang dokter.”
Rama berdiri melingkarkan tangannya ke depan tubuh Amanda, menelusupkan wajah di ceruk leher hingga napas hangat menerpa.
“Ada keinginan mengambil dokter spesialis tidak?” tanya Rama.
Mata Amanda berbinar bahagia mendengar hal itu.
“Bolehkah?” tanyanya antusias.
“Tentu saja, hadiah untuk istriku setelah berjuang mengandung dan melahirkan twin, menjadi ibu yang baik untuk ketiga anak kita.”
Amanda langsung membalikkan tubuh, menatap lekat sang suami lalu menangkupkan tangan di kedua sisi wajah Rama sesaat kemudian mengecup seluruh sisi wajah suaminya.
“Kurang,” gumam Rama yang menunjuk bibir.
“Sudah cukup! Nanti kamu keterusan,” tolak Amanda mengulum senyum.
Rama hanya terkekeh mendengar hal itu.
“Kita akan konsultasi dengan Dina,” kata Rama.
“Untuk apa, Mas?”
Tuk!
Kening Amanda di sentil pelan oleh Rama.
“Memasang KB yang tepat, bagaimana kalau kamu hamil dalam kondisi tengah melanjutkan pendidikan? Memangnya kamu mau mengandung sambil menyelesaikan tugas-tugas kuliah yang pastinya menumpuk belum lagi harus tetap praktek di rumah sakit nantinya?”
Amanda langsung menggelengkan kepala dengan tegas, membayangkan betapa repotnya saja Amanda sudah di buat pusing tujuh keliling. Melanjutkan pendidikan kedokteran bukanlah hal yang mudah. Ia harus menjadi dokter residen untuk mendalami ilmu kedokteran subspesialis yang akan diambil olehnya.
“Siang ini kita ke Dina,” putus Amanda.
“Berarti aku cuti hari ini, biar nanti Rio yang mengambil alih tugasku,” sahut Rama.
“Atma?” tanya Amanda yang bingung apakah Atma diajak ke rumah sakit atau tidak.
Jika tidak di ajak, Atma pasti akan mengamuk karena setelah pulang sekolah yang ia inginkan bermain dengan adik kembarnya yang menggemaskan walaupun sang adik belum mengerti apa yang dimainkan sang Kakak tapi si kembar tidak akan rewel jika ada Atma di sisi mereka. Walaupun beda Ayah, mereka tetap terlahir dari rahim yang sama.
“Kita akan ajak jagoan pertama kita tentunya, you know lah bagaimana Atma menyayangi adiknya. Bahkan kemarin saat aku pulang kerja dan langsung mencium si kembar mendapatkan larangan darinya.”
__ADS_1
“Kenapa, Mas?”
“Aku kotor, bau dan membawa virus penyakit untuk si kembar. Kamu tahu ia bilang apa padaku?”
“Memang apa yang dikatakannya?”
“Mereka berdua calon dokter jadi harus steril, jangan seperti Papa dan dirinya yang akan menjadi pengusaha, cerdas ‘kan anak kita?”
Amanda hanya tertawa kecil mendengar hal itu, bukan tanpa alasan Atma seperti itu karena Rama lah yang selalu mengatakan perusahaan miliknya akan menjadi milik Atma dan nanti kelak dewasa Atma akan menjadi pengusaha serta arsitek seperti dirinya dan Atma menyambut gembira dengan rencana papanya, ketika melihat Rama membuat desain gedung membuat mata Atma berbinar kagum dengan keahlian papanya.
“Atma menjadikanmu panutan dan selalu menjadikanmu sebagai idola,” kata Amanda yang menyandarkan kepalanya di dada sang suami. “jadilah Papa yang baik untuk mereka, jadilah sosok papa dan suami yang penuh kasih sayang.” Lanjutnya sambil mendengar ritme detak jantung suaminya.
Rama meregangkan pelukan, menatap manik mata hitam Amanda yang selalu membuat ia jatuh cinta berkali-kali.
“Please, Sayang,” kata Rama yang membuat kening Amanda mengernyit.
“Aku pria normal, jangan bangunkan macan yang tengah tidur dengan sikap manismu,” kata Rama, lagi yang menaikkan kedua alisnya.
Spontan Amanda mencubit perut suaminya, “Please, Mas! Jangan menjadi Papa genit! Sungguh tatapanmu itu membuat bulu kudukku meremang seperti melihat hantu,” ledek Amanda yang langsung memutuskan kontak mata, sedangkan Rama terkikik geli.
Ponsel Rama berbunyi, menampilkan nama Rio di layar. Khawatir ada sesuatu yang penting, Rama langsung mengangkat telepon itu lalu sapaan dari seberang telepon terdengar. Amanda langsung melangkah jauh agar suaminya tidak terganggu, jika Rio yang menelepon pastilah tentang pekerjaan dan Amanda sangat memaklumi memberikan ruang berbicara untuk mereka.
“Bos ada kabar baik.”
“Ada apa?”
“Kita memenangkan tender dengan perusahaan besar, mereka menyetujui desain yang sudah lama anda buat dan beberapa waktu lalu saya coba memasukkan desain itu ke perusahaan retail group Narendra dan langsung mendapatkan tanggapan positif.”
Deg!
“Batalkan!”
“Apa?!” pekik Rio yang terkejut dengan keputusan bosnya.
“Apa saya harus mengucapkan 2 kali agar kamu mengerti, Rio?!” tukas Rama yang sudah memerah wajahnya.
Sungguh dia tidak ingin berhubungan lagi dengan apa pun menyangkut mantan suami Amanda.
“Gila ini keputusan gila! Tahu tidak bos?! Banyak perusahaan yang berharap bahkan kasak-kusuk dari dalam internal perusahaan Narendra agar memenangkan tender kali ini,” tolak Rio yang masih belum menerima keputusan.
“Aku di sini bosmu, Rio. Terlepas kita sahabat atau bukan! Jadi apa pun keputusan yang di ambil sudah selayaknya kamu mengikuti perintah!” Intonasi suara Rama mulai meninggi.
Mendengar ucapan Rama dengan nada tinggi membuat Amanda menoleh kearahnya, tatapan mereka bertemu tapi kali ini bukan tatapan hangat Rama seperti biasanya, mimik kesal Rama begitu kentara.
“Baiklah, aku akan membatalkannya walaupun sangat merugikan perusahaan ini. Bukankah kamu pemiliknya? Kamu bisa bebas memutuskan apa pun sekalipun hasil kerja keras bawahan sepertiku,” sahut Rio dengan nada kecewa, ia pun menutup sambungan telepon.
Ada rasa tidak enak hati mendengar ucapan terakhir Rio, tapi Rama tidak mau perusahaan keluarga Denis akan merugikan dirinya dengan cara licik.
“Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke dalam kehidupan rumah tanggaku dan menghancurkan semuanya, Denis! Atma dan Amanda adalah milikku dan tidak akan ada celah untukmu masuk ke dalam kehidupan kami sekali pun di dunia bisnis.” Monolog Rama menggenggam ponselnya erat.
Menyadari perubahan ekspresi sang suami, Amanda mendekat sambil menggendong bayi Amara yang sudah terbangun dari tidurnya dan kini tengah bersuara dengan gumaman ala bayi.
“Papa Rama kenapa ya, Sayang? Kok mukanya berubah jadi jelek?” tanya Amanda mengajak bicara salah satu bayi kembarnya tapi ucapan ditujukan untuk sang suami.
__ADS_1
Rama mengambil napas dalam-dalam sebelum akhirnya mengembuskan perlahan.
“Papa baik-baik saja, Sayang. Sini papa gendong,” kata Rama yang mengambil alih tubuh Amara.
“Mas ... kamu tidak bisa membohongiku, apa yang terjadi sehingga kamu terlihat begitu kesal tadi saat menelpon Rio?” tanya Amanda hati-hati.
Rama bergeming, mengecup pipi Amara yang sedang memasukkan jarinya ke dalam mulut.
“Mas ... bukankah kita sudah mengatakan sejak awal dalam sebuah pernikahan harus terdapat kejujuran, tidak ada yang ditutupi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman?”
Rama mengembuskan napas kasar.
“Aku baru saja memutuskan menolak kemenangan tender desain untuk perusahaan Denis—mantan suamimu,” ungkap Rama.
Mendengar hal itu, Amanda memposisikan tubuh di belakang Rama lalu menyandarkan kepalanya di pundak sang suami lalu melingkarkan tangan ke arah depan tubuh Rama.
“Sampai kapan pun aku dan Atma milikmu, apa yang harus kamu takutkan? Bukankah perusahaan keluarga Narenda akan memberikan banyak keuntungan untuk perusahaanmu, Mas?”
“Apa materi sangat berarti untukmu?” tanya Rama bukan menjawab pertanyaan Amanda.
Amanda menggelengkan kepala, Rama berbicara sambil memainkan ekspresi di depan Bayi Amara, bercanda lewat ekspresi dan menyembunyikan rasa kesal atas jawaban yang diberikan Amanda yang juga sepertinya keberatan dengan keputusan Rama.
“Jangan salah paham, Mas. Aku tidak ingin kamu mengalami kerugian hanya karena mencampurkan urusan bisnis dengan permasalahan masa lalu antara diriku dan Denis,” kilah Amanda yang mengatakan dengan jujur.
“Bahkan aku rela jatuh miskin jika itu adalah salah satu cara untuk mempertahankan keluarga yang aku cintai, kerugian berapa pun akan kutanggung agar bisa tetap bersamamu, Atma dan si kembar. Aku tidak pernah peduli dengan keuntungan ketika dihadapkan dengan keluarga kecil kita,” kata Rama penuh ketegasan.
Mendengar hal itu, Amanda tersenyum dan mengeratkan lingkaran tangan di tubuh Rama. Ia tersenyum hangat, ucapan Rama menghangatkan hatinya. Amanda merasa benar-benar dicintai suaminya, sebegitu berarti dirinya untuk Rama.
Di lain tempat, Denis menggebrak meja hingga suara gebrakan mengisi seluruh ruangan.
“Omong kosong apa ini?!”
“Maaf Pak, itulah keputusan perusahaan jasa arsitektur Rama Alfarez. Kami sudah tidak bisa mengganggu gugat lagi karena sepenuhnya keputusan pihak perusahaan mereka.”
Tangan Denis mengepal kuat mendengar hal itu.
“Kalian semua tidak becus!” bentak Denis.
“Maaf,” cicit asisten Denis menundukkan kepala dalam.
“Jadwalkan pertemuan saya dengan Rama Alfarez, kali ini kalian tidak boleh gagal!” titah Denis kemudian.
“Baik, Pak.”
Denis membalikkan tubuh, melihat ke arah jendela kaca yang menampilkan tingginya gedung pencakar langit yang berada di sekelilingnya.
“Papa rindu kamu, Atma. Apa salah jika memberikan pekerjaan itu untuk Papa sambungmu sebagai salah satu cara Papa memberikan rezeki untukmu? Apa Papa tidak pantas mendapatkan maaf?” gumam Denis.
Rindu dan penyesalan begitu terasa menyakitkan ....
~Bersambung~
mudah-mudahan masih ada yang menunggu cerita ini ya ... setelah sebulan Off menulis karena fokus bulan Ramadan.
__ADS_1
komentar, like dan votenya ya jangan lupa, biar semangat menulis dan melanjutkan cerita ini komentar 200 double up.
terimakasih yang sudah setia menunggu 😍