Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 76


__ADS_3

“Mama sudah merasa lebih baik, Denis.”


“Kita harus tetap berobat ke luar, Ma. Denis harus memberikan pengobatan yang terbaik untuk Mama.”


“Lalu bagaimana dengan proses sidang ikrar talak yang akan kamu hadapi? Benar kamu akan membiarkan Vanya pergi?” tanya Bu Sinta yang menatap Denis, menunggu jawaban anaknya itu.


Dalam hati beliau tetap berharap Denis dan Vanya bisa bersatu kembali, tetapi ia tidak mau memaksakan kehendak seperti dulu. Semua keputusan diserahkan pada Denis dan Vanya, berharap semua yang mereka ambil adalah memang yang terbaik tidak ada penyesalan setelahnya.


“Biarkan proses itu berjalan sampai akhir, Ma. Ketika waktunya tepat, Denis akan memperjuangkannya.”


“Bagaimana kalau kamu terlambat, Denis?” tanya Bu Sinta ragu, ia khawatir Vanya sudah menemukan pengganti Denis sebelum anaknya itu memperjuangkannya.


“Jika sebelum aku memperjuangkannya, Vanya bertemu dengan pria yang benar-benar mencintai dan membahagiakannya, Denis tidak masalah, Ma. Berarti kami belum jodoh, sesimpel itu yang Denis pikirkan. Sekarang hanya bisa menjalani saja, tapi tetap Denis akan usaha memperjuangkannya. Ada yang lebih diprioritaskan, yaitu Mama.”


Mendengar ucapan tulus Denis membuat Bu Sinta terharu, matanya sudah dilapisi bulir bening. Tangannya terulur menyentuh kepala Denis.


“Entah kebaikan apa yang mama lakukan hingga mendapatkan anak yang berbakti sepertimu, Denis,” kata Bu Sinta menahan bulir bening yang rasanya siap menerobos membasahi pipi.


“Ma ....”


“Mama bahagia, sangat bahagia dan juga bersyukur.”


“Mama hanya punya Denis, siapa lagi yang bisa membahagiakan Mama kalau bukan Denis?”


“Ya, tidak ada yang salah jika kamu berpikir seperti itu, Sayang. Hanya saja, boleh Mama minta sesuatu padamu?”


“Katakan, Ma. Denis akan berusaha menuruti apa pun yang Mama inginkan.”


“Kirim Mama ke panti jompo dan hiduplah dengan bahagia sesuai apa yang kamu inginkan tanpa memberatkan Mama,” pintanya lirih tapi cukup tegas tanpa keraguan.


“Apa yang mama pikirkan, hmmm? Anak tetaplah anak, sebesar apa pun setua apa pun umur anak ia akan tetap menjadi anak bagi orangtuanya.”


“Cukup jadikan Mama prioritas, sekarang prioritaskan kebahagiaanmu, Denis. Cukup Mama menyusahkanmu.”


“Ma ... kebaikan apa pun yang Mama atau pun almarhum Papa lakukan di masa lalu mungkin bisa jadi salah satu alasan Tuhan memberikan Mama anak yang berbakti sepertiku, lalu jangan larang aku untuk berbakti padamu karena kelak anak-anakku pun akan berbakti padaku, seperti Atma ... terlepas bagaimana Amanda dan Rama mendidiknya. Namun, Tuhan punya rencana-Nya untuk melembutkan hati Atma dan menerimaku kembali. Apa yang kita tanam itulah yang kita tuai, jangan larang aku melakukan kebaikan terlebih pada wanita yang sudah melahirkanku ke dunia. Percayalah ada waktunya, Denis akan memperjuangkan kebahagiaan,” terang Denis yang membuat Bu Sinta menangis tergugu mensyukuri nikmat memiliki anak yang yang begitu berbakti padanya.


**


“Mama ... memang Tante Gita, Om Janu dan Baby Daren akan ke Indonesia?” tanya Atma selesai makan malam dengan Amanda dan Rama.


“Iya, Sayang.”


“Terus nanti tinggal di rumah Eyang Ummik, Eyang Abi?” tanya Atma lagi.


“Sepertinya begitu, Sayang. Memang kenapa?”


“Atma mau menginap juga di rumah Eyang bareng Baby Daren. Amara dan Tama juga di sana kita ngumpul di rumah Eyang. Weekend nanti Papa Denis enggak ke rumah, katanya ada urusan.”


“Memang itu rencana Papa, Sayang. Kita akan ngumpul di rumah Eyang, pesta kecil di rumah Eyang. Pasti menyenangkan,” kata Rama.


“Ye!” sorak Atma.


Ponsel Rama berdering, telepon dari Rio yang tanpa pikir panjang diterima Rama.


“Kenapa Rio?”


“Ada kabar duka entah duka atau suka sebenarnya, Ram.”


“Ada apa?”


“Pengacara menghubungiku, kata kaki tangan yang kita percayai memberikan laporan kalau terjadi sesuatu pada Tasya,” ucap Rio menginformasikan pada Rama.


“Tidak penting sama sekali, Rio. Yang kutekankan Herman mendapatkan hukuman yang setimpal, jika mereka mengajukan banding maka tim pengacara kita mengajukan banding juga. Tidak ada hukuman ringan dan ampun untuk Herman sekarang.”


“Ya ... aku sudah paham akan hal itu, dengarkan dulu!”


“Baiklah, apa yang ingin kau sampaikan?”


“Tasya meninggal tadi pukul 7,” terang Rio yang membuat mata Rama membola, ia tak habis pikir bagaimana mungkin Tasya bisa bunuh diri sedangkan setahu Rama Tasya berada di rumah sakit jiwa dengan pengawalan ketat.


“Innalillahi wa’innailahi roji’un,” desis Rama yang membuat Amanda dan Atma saling pandang, penasaran siapa yang meninggal setelah mendengar ucapan lirih Rama.

__ADS_1


“Kamu mau melayat atau tidak?” tanya Rio yang bertanya pada Rama dari seberang telepon.


“Akan aku usahakan.”


“Baiklah, sampai jumpa besok pagi.”


“Terima kasih untuk informasinya, Rio.”


“Its okey!”


Sambungan telepon pun berakhir, Amanda menatap sang suami dengan rasa penasaran yang cukup tinggi.


“Tasya meninggal, ia bunuh diri,” kata Rama yang membuat Amanda terkejut juga.


“Innalilahi wa innailaihi ro’jiun,” ujar Amanda yang merasa prihatin dengan akhir hidup Tasya.


“Maafkan kesalahan Tasya semasa hidup agar ia dipermudah,” kata Rama yang tidak memungkiri merasa prihatin juga. Ia sangat paham bagaimana kehidupan Tasya sejak ia beranjak dewasa, hingga menggantungkan kebahagiaan pada Rama yang berujung obsesi untuk memiliki hingga perlahan menghancurkan hidupnya.


“Tentu, Mas. Dari Tasya aku banyak belajar,” kata Amanda.


Rama mengernyitkan kening mendengar ucapan sang Istri, bagaimana bisa Amanda belajar dari seorang Tasya?


Seolah paham kebingungan sang suami, Amanda tersenyum, berdeham lalu memandang sang suami dengan senyuman hangat sementara Atma hanya menyimak tanpa memahami apa yang sedang dibicarakan kedua orang tuanya secara keseluruhan.


“Cinta berbalut obsesi bisa membuat seseorang hancur dan masuk ke dalam jurang kehancuran, logika dibutakan oleh ambisi, diri tersakiti hingga menghalalkan segala cara. Dari Tasya aku belajar, bagaimana bersikap dewasa saat berumah tangga, memupuk kepercayaan terhadap pasangan, berpikir jernih di setiap permasalahan bukan hanya asumsi tapi harus dengan bukti. Kunci rumah tangga yang kokoh adalah sebuah kepercayaan dan kejujuran,” ungkap Amanda yang menggenggam tangan Rama tanpa melepas tatapan penuh cinta sang istri.


“Ihhh ... Papa dan Mama so sweet,” ledek Atma dengan pujian lalu tersenyum menampilkan deretan gigi hingga membuat Amanda dan Rama gemas mencium pipi kanan dan kiri Atma secara bersamaan.


****


Flasback on


“Rama ... anakku ... kita akan bertemu, tunggu Mama Sayang!” racau Tasya yang kakinya terikat rantai di sisi ranjang ruangan rumah sakit jiwa yang ia tempati.


Perawat datang membawakan makanan dan minuman untuk Tasya, biasa menggunakan peralatan makan anti pecah tapi kali ini sang perawat menaruh minuman pada gelas kaca.


“Makan!” seru perawat yang mulai menyendokkan makanan ke mulut Tasya yang mengunyah sangat pelan dengan tatapan kosong ke depan. Rambutnya berantakan dengan wajah yang semakin tirus tak terawat, semangat hidupnya telah tiada.


“Suster tolong ada yang mengamuk!” Dari luar terdengar suara minta tolong dari luar, karena panik perawat yang menyuapi Tasya menaruh piring serta gelas di nakas tidak jauh dari brankar yang di tempati Tasya.


Prak!


Gelas dibenturkan ke tembok, potongan besar dengan ujung yang runcing kini dipegang Tasya dengan wajah yang terlihat sumringah seperti mendapatkan sebongkah emas. Perlahan tapi pasti ia menggoreskan di nadi tangannya, gesekan kaca semakin ditekan hingga semakin lama semakin dalam sampai pergelangan tangan terlihat akan putus.


Bukan menangis, Tasya tertawa melihat darah yang mengucur cukup deras hingga ke lantai. Beberapa menit kemudian pandangannya terasa mengabur dengan tubuh yang melemas, semua berubah gelap. Kaca gelas yang berada digenggaman akhirnya terjatuh ke lantai, napas tersengal dengan bola mata yang terlihat putih keseluruhan.


Cukup lama perawat meninggalkan Tasya, ketika kembali ke kamar mata perawat terbelalak kaget melihat Tasya sudah tak berdaya dengan darah yang membanjiri lantai.


“Tolong!” pekik sang perawat dengan degup jantung semakin cepat, ia telah lalai menjalankan tugas hingga lupa membawa sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk mengakhiri nyawa pasien yang ia rawat.


Bergegas tim medis melakukan pertolongan, pemberian oksigen menambah pasokan udara dalam paru dan tindakan penghentian pendarahan di nadi pun diberikan Namun, percuma Tasya sudah kehabisan banyak darah, jantungnya semakin melemah dan segala upaya penyelamatan akhirnya Tasya mengembuskan napas terakhirnya.


Flashback off


****


Denis berada di depan gedung rumah sakit, langkahnya sempat terhenti oleh keraguan yang buru-buru ia tepis. Tujuan Denis saat ini adalah ke Dokter spesialis Andrologi, langkah pertama sebelum benar-benar memperjuangkan Vanya adalah menyembuhkan salah satu gangguan kesehatan di organ terpenting dalam hidupnya.


Berkali-kali ia mengembuskan napas kasar, sungguh sesuatu yang cukup memacu adrenalin menurut Denis. Hal yang sangat pribadi harus ia bagi pada dokter spesialis guna mendapatkan pengobatan. Menunggu giliran panggilan masuk ke dalam ruangan, Denis terduduk dengan gelisah, bingung saat di dalam memulai dari mana.


“Arghh! Malunya!” rutuk Denis yang tertahan dalam hati sambil mengusap wajahnya kasar.


“Bapak Denis Narendra,” panggil perawat yang memanggil Denis untuk masuk ke dalam ruangan.


Kini Denis duduk berhadapan dengan Dokter yang akan membantu dirinya mengobati penyakit yang tengah ia derita.


“Saya mengalami gangguan saat ereksi, Dok,” aku Denis.


“Sudah lama, Pak?”


“Sudah cukup lama, semenjak perceraian saya dengan istri pertama. Ketika menikah lagi fungsinya semakin lemah bahkan tidak bisa ereksi sama sekali setelah beberapa bulan menikah kedua kalinya,” terang Denis.

__ADS_1


“Kita akan melakukan berbagai test laboratorium, mencari penyebab utama anda mengalami disfungsi ereksi, banyak penyebab disfungsi ereksi seperti penyakit pembuluh darah, gangguan metabolik dan hormon, gangguan syaraf, gangguan psikologis dan psikososial serta riwayat kecelakaan. Selain itu pola hidup tidak sehat, penggunaan alkohol, merokok juga bisa menjadi faktor penyebab anda mengalami disfungsi ereksi,” terang Dokter memberikan penjelasan.


“Apakah ada kesempatan saya bisa sembuh, Dok?”


“Kesempatan selalu ada, Pak. Terpenting kita selalu usaha melakukan berbagai macam terapi dan memastikan dengan tepat penyebab disfungsi ereksi yang Anda alami. Oleh sebab itu anda harus menjalani serangkaian test yang cukup panjang dan memakan waktu serta harus sabar.”


“Saya akan melakukan semua saran dari Dokter terpenting bisa sembuh dan normal kembali, Dok,” jawab Denis dengan keyakinan.


Harapannya ia bisa sembuh, agar memulai kehidupan rumah tangga yang harmonis bersama Vanya dengan memulai semuanya dari awal. Dokter merencanakan berbagai macam test untuk menentukan treatment yang tepat untuk Denis.


Cukup lama pemeriksaan yang Denis jalani, hingga akhirnya ia keluar dari ruangan dengan perasaan sedikit lebih lega dan harapan besar bisa sembuh.


“Ternyata kamu memiliki gangguan disfungsi ereksi,” sapa seseorang yang menahan langkah Denis ketika ingin memasuki mobil di area parkiran.


Denis masih diam, tak menghiraukan ucapan lawan bicaranya.


“Apa yang dilihat darimu, Denis? Sudah jelas aku lebih unggul darimu dari segala hal termasuk kejantanan,” ledeknya lagi.


Denis tertawa kecil, bersikap sesantai mungkin padahal dalam hati ia merasa geram tapi ia tidak bisa melakukan banyak hal khawatir mengganggu kesehatannya.


“Frans ... Frans ... sebegitu kurang kerjaannya dirimu hingga mengikutiku,” balas Denis.


Bodyguard yang sengaja Denis sewa datang menghampiri, Denis memang sengaja menyewa bodyguard untuk mengawal langkahnya karena ia paham sedang berhadapan dengan Frans. Pria licik yang penuh dengan siasat jahat bukan di dunia bisnis saja tapi dalam kesehariannya pun sama jahatnya.


“Lepaskan Vanya!”


“Aku sudah melepasnya, kita sebaiknya bersaing dengan sehat walaupun kecil kemungkinan Vanya memilihmu,” cibir Denis.


Bodyguard Denis sudah selangkah lebih maju bersiap diri jika bosnya mendapatkan penyerangan, akhirnya Frans memilih mundur dan meninggalkan Denis begitu saja dengan perasaan kesal dan tidak puas.


“Kemana lagi kita, Bos?”


“Ke Bandara,” kata Denis.


Sesampainya di Bandara, Denis berjalan cepat, melangkah lebar dengan menoleh ke kanan dan kiri. Mencari sesuatu yang menjadi tujuannya, memindai setiap sudut, senyum Denis akhirnya terbit.


“Vanya!” panggil Denis dengan sedikit berteriak.


Seseorang yang ia panggil menoleh dan tersenyum, perasaannya sudah tentu bahagia ketika detik-detik keberangkatan Denis akhirnya menemuinya. Hanya mendapatkan perhatian kecil membuat Vanya bahagia.


“Terima kasih,” kata Vanya berucap dengan tulus.


“Ambillah.” Denis menyodorkan sebuah kotak cincin bludru warna merah.


“Apa ini?”


“Simpan sebagai kenangan, ketika tiba waktunya aku akan memakaikan ini di jari manismu sebagai sosok pribadi yang baru dan lebih baik lagi.”


Vanya menerima dengan perasaan haru ....


“Aku menyetujui perceraian bukan berarti benar-benar melepasmu, ingatlah itu Vanya!”


“Lalu?”


“Kita membutuhkan waktu memperbaiki diri agar ketika Tuhan mempersatukan, kita menjadi pasangan yang saling melengkapi, mencintai dan selalu mengutamakan kebahagiaan pasangan bukan seseorang yang egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri.”


Dengan pasti Vanya mengangguk, menyetujui apa yang dikatakan Denis.


“Perpisahan adalah babak baru dalam kehidupan kita nantinya, aku menunggumu, Denis Putra Narendra,” kata Vanya yang mengulurkan tangan dan disambut Denis dengan pelukan.


Selalu belajar memperbaiki diri adalah sesuatu yang luar biasa dan elegan yang dilakukan seseorang, dibandingkan tidak peduli dan tidak memperbaiki kesalahan lalu merasa diri paling benar tanpa mau memperbaiki kekurangan.


Bodyguard yang mengawal Denis mengambil gambar bosnya yang tengah berpelukan dengan seseorang yang akan menjadi mantan tetapi tetap diperjuangkan, lalu mengirim kepada seseorang yang masih tergolek di brankar rumah sakit.


“Kalian berhak bahagia ....”


Senyum Bu Sinta terbit kala melihat gambar yang ia terima, air matanya menetes melihat gambar yang memenuhi layar ponselnya.


~Bersambung~


Denisnya berobat dulu gaes. 🤭

__ADS_1


Like dan komentar jangan lupa ....


Terima kasih untuk supportnya, love untuk semua.


__ADS_2