
...Jangan lupa tinggalkan jejak...
...💕 Like dan komentar 💕...
...Happy reading...
"Lihatlah semua desain yang Pak Bos buat di tolak oleh Bu Sinta, saya lembur sampai pagi hanya untuk merevisi semuanya."
"Itu semua atas keinginan anaknya, bagaimana mungkin mereka seenaknya merubah semua?"
Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Rama dengan asistennya saat keluar dari kamar mandi pagi ini, dia duduk memunggungi Aku, dengan layar ponsel di depannya.
"Wah Bos ada seseorang di belakangmu, seorang wanita, ehh Aku lupa Pak Bos sudah menikah," Seketika Rama menoleh kebelakang, ia terlihat terkejut tapi setelahnya tersenyum lebar kearahku, untung saja Aku memakai handuk model baju, Aku merasa tertangkap basah oleh Rio. "Nanti saya hubungi lagi deh, salam untuk Bu Bos ya!" panggilan video berakhir.
Rama beranjak dari duduknya, ia berdiri dan melemparkan ponselnya di atas kasur, setelah itu tatapan matanya seperti akan menerkamku, perlahan dan .... dengan terburu-buru Aku menuju lemari mengambil beberapa pakaian untuk Aku pakai dan secepat kilat Aku masuk kembali ke kamar mandi. Aku sempat melirik Rama yang ternyata sedang tertawa geli, huhh Aku dikerjai olehnya. Setelah selesai berpakaian, kulihat Rama melanjutkan tawanya saat kembali melihatku keluar kamar mandi,
"Bisa nggak Mas, tawanya tanpa suara? Menyebalkan!"
"Nggak bisa, habis kamu menggemaskan, huhh .... rasanya Aku ingin lagi seperti semalam."
"Jangan aneh-aneh ya Mas," ucapku melebarkan mata kearahnya. "Aku sudah mulai bertugas di rumah sakit, menyiapkan sekolah Atma, dan kamu juga akan kembali ke Bandung 'kan hari ini?"
"Nggak jadi sayang, meninggalkanmu dan Atma rasanya berat, Aku bisa mengerjakan semua desain dari sini tanpa meninggalkan kalian."
"Beraktivitas seperti biasa Mas, jangan jadikan kami alasan kamu enggan untuk bekerja." Aku memeluknya dari belakang, punggung yang terasa nyaman untukku sekarang. "Kami akan baik-baik saja di sini, dan selalu menghubungi kamu jika ada sesuatu."
"Tenang saja bukan karena kalian Aku membatalkan kepergianku ke Bandung, hanya saja ada beberapa urusan yang harus Aku selesaikan." Ia membalikkan tubuhnya dan mencium keningku. "Semangat beraktivitas hari ini, Bu Dokter ...." Aku tersenyum kearahnya. Setelah menikah beberapa hari, Rama sangat berubah, sikapnya hangat dan romantis, sikap dinginnya entah menguap kemana, terkadang merasa aneh dengan perubahan sikapnya itu, tetapi jika di luar rumah, wajahnya kembali terlihat galak dan kaku. Unik 'kan? tapi justru membuat cintaku bertambah untuknya.
"Terimakasih Mas telah memberikan kebahagiaan untukku dan Atma."
"Kebahagiaan kita akan semakin lengkap, jika adiknya Atma akan segera hadir di rahimmu Amanda, Aku tidak sabar menanti kehadirannya." Ucap Rama, menekuk kakinya agar kepala sejajar dengan perutku, duh rasanya canggung dengan posisi seperti ini.
"Ckkk, Mas baru saja kita menikah."
"Maka dari itu kita harus sering mencobanya." Ia berdiri sambil menarik hidungku, kebiasaan baru yang Rama lakukan jika ia merasa gemas dengan ucapanku.
"Oh Aku lupa memberitahu kamu Mas, hari ini rencananya Aku akan melakukan test TORCH dan merencanakan kehamilan, Aku harap terbebas dari virus itu. Aku ingin kehamilanku sehat nantinya, salah satu usahaku untuk menghindari kesalahanku saat kehamilan Atma waktu dulu."
"Lakukan apapun jika menurutmu itu yang terbaik, okey?"
"Iya suamiku." Rama mencium seluruh sisi wajahku, kebahagiaan terpancar dari wajah Rama.
"Papa, hari ini Aku diantar siapa?" Atma muncul di ambang pintu kamar.
"Sama Papa dan Mama, kita berangkat bersama. Papa antar kamu kesekolah, kemudian mengantar Mama bertugas di rumah sakit, pokoknya Papa akan selalu siap mengantar kalian kemanapun."
"Yeee asyik ...." Atma berlari memeluk Rama. Akhirnya kami bersiap-siap untuk memulai aktivitas hari ini.
"Hai Din," Aku menyapa salah satu temanku, dia adalah dokter spesialis Obgyn.
"Wah .... ada angin apa Dokter Amanda menemui Aku?"
"Jadi nggak boleh nih nemuin kamu?" Ucapku pura-pura merajuk, ia hanya tertawa mendengarnya. "Tolong bantu Aku memeriksa kondisi kesehatanku terutama untuk virus TORCH yang pernah bersarang di tubuhku, sekaligus Aku ingin melakukan program hamil."
"Hahh? Program hamil?" Dina terlihat kaget mendengar ucapanku. Aku lupa belum memberi tahukan pernikahanku kepada rekan profesiku, tidak ada satupun teman yang mengetahui pernikahanku, rencananya kami akan mengadakan acara pesta khusus rekan kerjaku dan Rama.
"Aku lupa mengatakan jika sebenarnya cuti yang kuambil beberapa Minggu bukan hanya untuk berlibur, tapi menikah. Hanya saja kami belum mengadakan pesta pernikahan."
"Selamat ya atas pernikahanmu." Dina menjulurkan tangannya dengan senyum mengembang seraya memelukku. "Beruntung sekali Pria yang mendapatkan kamu Amanda."
"Bukan dia yang beruntung, tapi Aku yang beruntung deh, Din ...." ucapku mengendikkan bahu. "Karena menikah denganku harus dengan paket komplit" mendengar jawabanku Dina terkikik geli.
"Kamu bisa aja Amanda, Dokter Stanley sepertinya akan patah hati deh, kamu 'kan tahu sendiri perasaannya seperti apa."
"Ya sudah untukmu saja, kamu'kan belum ada calonnya, Din ...."
"Hmm, enak saja, asal kamu tahu ya, Aku sudah menerima sebuah perjodohan, umurku yang melewati kepala tiga membuat orang tuaku panik."
__ADS_1
"Wahh .... Benarkah? Jangan lupa mengundang Aku ya, beruntung sekali pria itu mendapatkan kamu, semoga nanti calon suamimu selalu membahagiakan kamu, Din."
"Semoga .... baiklah, kita akan lakukan pengambilan sampel darah dan deteksi antibodi
untuk dicek antibodi spesifik terhadap mikroba penyebab penyakit TORCH tersebut" dan akhirnya Aku mengikuti semua rangkaian test, doaku semoga hasilnya baik.
\[Jangan lupa makan siang Mas!\] Aku mengirimkan pesan itu ke suamiku. Namun, tidak mendapatkan balasan darinya. Akhirnya Aku melanjutkan tugas hingga menjelang sore,
"Dokter, ada pasien terakhir yang akan dokter periksa,"
"Apa Pasien rawat inap?"
"Bukan Dok, pasien meminta dokter yang memeriksanya, padahal dokter Stanley sudah berada di ruangan untuk melakukan diagnosa dari keluhan pasien."
"Baiklah, suruh dia berbaring di ranjang tirai dua ya, nanti Aku akan segera memeriksanya."
Perasaanku terasa gelisah, sejurus kemudian kutekan nomer ponsel Rama tapi tidak mendapatkan jawaban darinya. lalu aku menelepon Ibu,
"Assalamualaikum, Bu,"
"Wa'alaikumsalam, ada apa nak?"
"Dari siang dia sudah pergi, ini saja Ibu yang menjemput Atma, katanya ada urusan penting, kenapa memangnya?"
"Hmm, ya sudah mungkin di jalan jadi tidak sempat mengangkat telepon dari Amanda."
"Pengantin baru, tidak mendapatkan kabar sehari sudah gelisah seperti ini." kudengar kekehan tawa Ibu, duh Aku jadi malu karenanya.
Setelah menelepon Ibu, kulangkahkan kaki menuju ruang IGD untuk memeriksa pasien terakhirku hari ini,
"Suhu tubuh 39°, keluhan pusing, dan mual, tekanan darah cukup rendah." Penjelasan perawat sebelum Aku masuk ke dalam tirai untuk memeriksa pasien.
"Baiklah, biar saya periksa, tolong siapkan perlengkapan untuk memberikan cairan infus." Pintaku pada perawat, kemudian Aku membuka tirai tersebut, dan ....
"Denis," Kulihat matanya tengah terpejam. "Permisi, boleh saya periksa kondisi Bapak?" Aku bersikap setenang mungkin, melakukan tugasku secara profesional. Aku sentuh denyut nadi tangannya, ia menoleh kearahku, dengan senyuman diwajahnya.
"Periksa juga dadaku, Dokter Amanda," ia memegang pergelangan tangan dan menarik tanganku untuk menyentuh dadanya. "Debaran jantungku berdetak kencang, dan selalu dihuni oleh namamu, Amanda Ayudya Prameswari." Aku segera menarik tanganku, tapi sial genggaman dipergelangan tanganku sangat kuat.
"Denis tolong jaga sikapmu, biarkan Aku melakukan tugasku sebagai dokter."
"Anak kita tampan ya Amanda, Aku merindukan kalian," ia menatapku lekat. "Kembalilah padaku Amanda, Aku masih sangat mencintaimu, bahkan sakitku ini karena dirimu."
__ADS_1
"Jangan mimpi Aku akan kembali padamu Denis, hal itu tidak akan pernah terjadi, sesuatu yang telah kau buang tidak akan pernah mau untuk dimiliki olehmu lagi."
"Ada anak kita jika kamu lupa."
"Dia anakku, bukankah kamu tidak mengakuinya, bahkan ingin membuangnya?" mataku nyalang menatapnya. "Jangan ganggu kehidupanku lagi."
"Setelah perceraianku dengan Vanya selesai, Aku akan membuatmu dan anakku kembali, ingat itu!!!"
"Bermimpilah sepuasnya Denis."
"Asal kamu tahu, Aku akan menggugat hak asuh anak kita jika kamu menghalangi Aku bertemu dengannya."
"Silahkan, apa kamu akan datang memperkenalkan diri sebagai Papa kandungnya? Setelah mengakui kamu Papa kandungnya apa kamu yakin Atma akan menerimanya? Asal kamu tahu Denis, Atma sudah mengetahui bahwa Papa kandungnya telah membuang dan tidak mengakui Atma sebagai anaknya karena ia terlahir tidak sempurna."
"Apa kamu mengancamku Amanda?" Ia mengendurkan genggaman tangannya. "Berarti Aku akan menempuh jalur hukum untuk meminta pembagian waktu mengasuh anak kita, dan kamu tidak akan bisa mengelak keputusan pengadilan, kita akan sering bertemu Amanda, dan membesarkan anak kita bersama nantinya." Mendengar hal itu rasanya amarahku tak terkendali, Aku memikirkan perasaan Atma, khawatir kondisi psikologi Atma, menjadi rebutan orang tua yang telah berpisah pasti akan membuatnya terluka, mengetahui bahwa Denis adalah Papa yang telah membuangnya dan kini ingin memilikinya pasti akan membuat Atma sedih.
"Apa yang kamu inginkan Denis?"
"Cukup sederhana, akhir pekan Danish Atma Narendra tinggal denganku. Tidak apa jika dia tidak menganggap Aku Papanya, yang terpenting Aku bisa menjadi teman, sahabat, bahkan selingkuhan dari Mamanya."
"Jangan terlalu bermimpi, itu akan menggangu kewarasanmu Denis. Cintaku untuk suamiku bukan mantan."
"Benarkah?" Ia memicingkan mata kearahku."
"Tentu, Aku mencintai Rama bahkan sangat mencintainya. Aku akan memberikan waktu untuk kamu bertemu Atma tapi tidak menginap, Atma akan selalu didampingi jika ingin bertemu denganmu. Jangan menjelaskan pada Atma kalau kamu itu Papa kandungnya, Aku tidak ingin dia sedih, saat ini dia sedang bahagia bersama Papa sambungnya, Rama sudah cukup bagi Atma menjadi sosok Papa untuknya." akhirnya Aku sementara memberikan solusi seperti itu, Aku hanya sekedar melindungi Atma agar ia tidak sedih maupun terluka.
"Baiklah, Aku tidak akan memproses hak asuh ini ke pengadilan, tapi kamu harus menepati ucapanmu!" Kulihat ia mengepalkan tangannya, Aku hanya diam, dan melakukan pemeriksaan lanjutan terhadapnya dengan perasaan yang berkecamuk saat ini, bukan perasaan cinta terhadap Denis, Aku membenci dia, kehadirannya pasti akan membuat Atma sedih dan terluka diantara konflik pasca perceraian Aku dengannya.
"Kenapa dari tadi kamu diam saja?"
Rama melirikku dari balik kemudinya, mobil kami baru saja keluar dari halaman rumah sakit.
"Kenapa tidak menjawab teleponku?"
"Oh ngambek ini ceritanya karena Aku tidak menjawab telepon darimu, hmmm? senang ya ternyata dikangenin istri." Rama menaik turunkan alisnya sambil melirikku.
"Mas, jangan godain Aku deh!" Rama menoleh sebentar kearahku sebelum fokus kembali ke jalan. Ia diam tanpa sepatah kata pun terucap, sikapnya acuh seperti saat pertama kali bertemu dengannya.
Mobil sudah memasuki halaman rumah Ibu. Ya, setelah kami menikah rumah Ibu menjadi tempat tinggal untukku dan Atma, Rama memberhentikan mobilnya, tangannya terulur untuk mengusap kepalaku.
"Istriku kenapa? Hmm ...."
"Mas"
"Apa yang terjadi? Tidak biasanya kamu menaikkan satu oktaf suaramu."
"Maaf," Aku menundukkan kepalaku. "Di rumah sakit Aku bertemu Denis, dia ...." belum aku melanjutkan ceritaku, Rama menutup mulutku dengan telunjuk jarinya.
"Jangan bicarakan apapun tentangnya, Aku tahu jalan pikirannya, jadi tidak perlu dibahas, kita akan hadapi bersama. Yang perlu kamu tahu Aku tersiksa seharian ini."
"Hah? Mas kenapa?" Saat itulah tubuh Rama condong ke arahku, makin mendekatkan wajahnya, dan ia mencium pipi kananku yang membuat Aku terkejut.
"Aku ingin lagi, sayang ...." seketika Aku memukul lengannya, ia mengaduh pura-pura merasakan sakit sambil tertawa. Huhh kenapa otaknya sekarang semesum itu, Aku langsung keluar dari mobil dan masuk terlebih dulu kedalam rumah.
💕💕💕
__ADS_1
Crazy up, weekend 😍