
"Mas kenalkan ini Amanda, Rama dan juga anaknya, lucu ya mas anaknya, tampan sekali, Aku ingin deh anak yang lucu dan tampan seperti ini jika nanti kita memiliki anak." ucap Vanya bersemangat dengan senyum mengembang, Denis pun mengangguk kaku melihat kearah kami. Seandainya Vanya tahu akulah mantan istri dari Denis dan anak yang ia sebut tampan dan lucu itu anak dari suaminya yang tidak diakui olehnya, masih bisakah ia tersenyum seperti saat ini? Karena akupun lupa caranya tersenyum ketika berhadapan dengannya sekarang ....
"Nyonya Vanya, tiba giliran anda, silahkan masuk ruangan untuk pengambilan sampel darah." ucap seorang perawat yang keluar dari dalam ruang poliknik.
"Kamu saja yang masuk, Aku menunggu disini." ucap Denis, Vanya pun mengangguk dan masuk kedalam ruangan.
Tiba-tiba Atma menangis, ia mulai merasa mengantuk, Mas Rama memberikan tubuh Atma padaku, namun bukan diam ia malah semakin menangis, akhirnya Mas Rama mengambil kembali tubuh Atma, ia gendong tegak dan menepuk-nepuk punggung Atma.
"Sepertinya Atma haus, coba hangatkan ASIP untuknya." dengan cepat Aku mempersiapkan ASIP untuk diberikan pada Atma, Mas Rama menimang Atma sedangkan Aku yang memegang botol susunya, dilihat dari luar kami seperti orangtua sungguhan untuk Atma, terlebih tawa kami pecah saat Atma merasa sudah kenyang dan menyemburkan susu dari dalam mulutnya mengenai wajahku dan Mas Rama.
"Uhh anak mama jangan iseng, kasian tuh papa Rama wajahnya kena semburan." Aku refleks menyentuh wajah mas Rama dan membersihkan wajahnya, dan panggilan Papa untuk Mas Rama diluar kendaliku, mungkin Aku terbawa perasaan bahagia ketika melihat kedekatan Atma dan Mas Rama, semoga saja Mas Rama tidak mendengar ucapanku ketika aku memanggilnya papa .... Kesibukan Aku dan Mas Rama menenangkan Atma cukup membuat Aku benar-benar lupa bahwa ada mantan suamiku saat ini yang tak lain papa kandung Atma. Aku meliriknya sekilas, ku lihat rahangnya mengeras dan tangan mengepal saat melihat kearah kami, 'apa yang dipikirkannya? Apa ia cemburu melihat kedekatan kami?' Ucapku dalam hati.
Kulihat Denis mendekat kearah kami, akupun terkesiap dengan apapun yang akan ia lakukan.
"Boleh aku menggendong anakku?" Ucapnya, namun bukan Aku yang menjawab
"Kami baru saja menenangkannya, lagi pula dia pilih-pilih jika ingin digendong seseorang terlebih tidak dikenalnya." jawab mas Rama
"Aku Papa kandungnya, apa hak mu melarang ku?"
"Dia berhak, tanpa pria yang berada disampingku, Aku yakin anakku tidak akan selamat, karena darah yang ia donorkan, anakku bisa menjalani operasi. Kamu berbicara hak, apakah sudah melakukan kewajibanmu sebagai seorang ayah?" Ucapku ketus, ia langsung menarik tanganku dengan paksa, Mas Rama ingin menahanku namun sial saat ini ia tengah menggendong Atma padahal nyaliku menciut melihat ekspresi Denis saat ini dan sikapnya yang terkesan memaksa.
"Lepas!!! Sakit ...." Mungkin pergelangan tanganku saat ini sudah memerah dibuatnya, ia pun akhirnya berhenti di sebuah lorong rumah sakit yang sepi.
"Secepat itu kamu bisa memberikan Papa baru untuk anak kita, dan menggantikan posisiku dengan pria lain, hahh?" Suaranya penuh dengan emosi, Aku berusaha menekan rasa takut, dulu Aku sangat takut dan penurut jika Denis sudah bersikap menekanku seperti ini, tapi itu dulu saat ia menjadi suamiku, dan sekarang sudah berbeda ia hanyalah mantan.
"Kamu pikir Aku dibutakan oleh cinta seorang suami dan papa yang tidak bertanggung jawab sepertimu, percaya dirimu patut diacungi jempol, luar biasa ....apa tidak ada rasa malu? Kemana kamu disaat kami membutuhkanmu, bahkan setetes darah yang Aku butuhkan untuk anakku pun kamu tidak memberikannya hanya karena ingin menikah dengan Vanya!!!" Aku menatap balik tatapan Denis terhadapku "kamu sudah memiliki keluarga baru, dan sebentar lagi mungkin akan memiliki anak dari Vanya, jadi jangan pikirkan kami yang telah kamu buang, pikirkan saja keluarga barumu!"
"Aku masih mencintaimu Amanda, semua ini bukan Aku yang menginginkannya"
"Mencintai itu menerima segala hal kelebihan dan kekurangan, apa yang kamu putuskan ketika Ibu memberikan pilihan padamu? Aku rasa kamu masih mengingatnya!!! Biarkan Aku tenang dengan kehidupanku saat ini dengan anakku, jangan ganggu kami!"
__ADS_1
"Dia anakku juga jika kamu lupa!"
"Iya, anak yang tidak kamu akui karena malu dengan ketidaksempurnaannya saat dilahirkan, anak yang kamu acuhkan, anak yang ingin kamu buang di panti asuhan, tapi lihatlah sekarang ia tumbuh jadi bayi yang menggemaskan bukan bayi yang cacat seperti yang kamu dan ibumu katakan!!!"
"Apapun kesalahan yang aku lakukan, jangan pernah mengingkari akulah ayah biologisnya!"
Mudah sekali ia berbicara seperti itu, dengan semua kesalahannya ia ingin tetap diakui Atma bahwa ia papa kandungnya, tidak akan semudah itu.
"Tentu jangan khawatirkan itu! tapi ada dua pilihan untukmu, kelak diumur yang sudah memahami arti seorang ayah dalam hidupnya, kamu ingin diingat sebagai papa yang telah membuangnya dengan tidak mengakui dirinya yang terlahir tidak sempurna, atau sama sekali tidak mengenal dirimu dan juga kesalahan yang telah kamu lakukan padanya? mana yang akan kamu pilih? Cukup adil kurasa pilihan itu untuk mu" aku memberikan tatapan tajam untuk nya dan setiap kalimat yang kuucapkan penuh penekanan, aku yakin saat ini posisi ku berada diatas angin, ketakutanku entah menguap kemana, saat ini emosi dan keberanian menguasai diri. Aku tersenyum sinis kearahnya sambil menunggu jawaban pilihan apa yang ia pilih disituasi seperti ini.
"Jika kamu melakukan salah satu pilihan yang diberikan padaku, artinya kamu akan siap kehilangan anak kita, aku akan menggugat hak asuh anak." sepertinya Denis benar-benar terpojok dengan ucapanku, ia berusaha membalikkan keadaan agar Aku dalam posisi lemah, dia melupakan bahwa Aku bukan wanita bodoh yang mudah terprovokasi ucapannya.
"Silahkan ....akan Aku beri hadiah pada tim pengacaramu jika kamu memenangkan hak asuh atas anakku, Aku tidak akan lemah, takut ataupun mundur dalam proses hukum yang kamu ajukan nantinya."
"Kamu telah berubah Amanda, bukan lagi Amanda yang penuh kelembutan seperti yang kukenal"
"Terkadang tuhan merubah sekaligus menguatkan seseorang dengan begitu banyak ujian, kesedihan dan air mata, karena kesedihan yang kamu torehkan padaku dan anakku membuat aku menjadi wanita kuat, tidak selemah sebelumnya yang hanya bisa pasrah dan menangisi keadaan, aku berterimakasih padamu untuk semua luka dan kesedihan yang kamu berikan Denis Putra Narendra ...."
Dengan kekuatan yang kumiliki, Aku menepis tangan Denis dari pergelangan tanganku yang terasa sakit, namun bukan melepaskan Denis malah menarikku dalam pelukannya, Aku tidak bisa melepaskan rengkuhan pelukan Denis yang terasa sangat kencang, sungguh bukan bahagia ketika mendapat pelukan darinya seperti saat kami berstatus suami istri tetapi terasa biasa saja dan malah membuat harga diriku terluka sebagai seorang wanita, ia tidak berhak menyentuhku bahkan memelukku seperti sekarang, aku meronta agar ia melepaskan pelukannya, dan tiba-tiba kurasakan tangan kekar seseorang cukup kuat menarik tubuh Denis agar menjauh dariku dan melepaskan pelukan ini.
Sesaat setelahnya aku melihat Denis terjungkal dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
"Amanda bukan istri anda lagi, jaga sikap anda jika tidak ingin mendapat bogem mentah dariku."
Kulihat pria yang berada disampingku, sesaat pandangan kami bertemu, hati ini merasa lega karena dengan adanya dia membuat posisiku aman, dia adalah Mas Rama. Dia menarikku untuk mengikuti langkahnya menjauhi Denis yang masih terduduk dengan darah yang masih terlihat disudut bibirnya.
"Sakit mas ...." Ku renggang kan genggaman tangan mas Rama
"Maaf." jawabnya singkat, seperti biasa ia bersikap dingin dan kaku, aku menghentikan langkahku karena mengingat sesuatu yang aku khawatirkan
"Dimana Atma? Bukankah tadi kamu menggendongnya?"
__ADS_1
"Pesan masuk tadi dari Gita, Gita menyusul kita kerumah sakit, Atma bersamanya."
"Syukurlah, terimakasih."
"Berterimakasih pada Gita, kalau ia tidak datang kamu akan semakin lama berpelukan dengan mantan suamimu itu."
"Bukan keinginanku, dia memaksa."
"Tapi kamu menikmatinya 'kan?" Mendengar itu moodku semakin memburuk, harga diriku terasa direndahkan dengan penilaian yang ia berikan, menikmati katanya? Rasanya Aku seperti wanita murahan saja, seketika ide nakalku terlintas untuk membuat pemahaman untuknya, mendadak Aku menghentikan langkahku, Mas Rama pun menoleh, aku menatapnya dan sejurus kemudian akupun memeluknya erat seperti apa yang dilakukan Denis terhadapku tadi, Mas Rama hanya diam terpaku dengan tingkah nakalku saat ini.
"Hanya menjelaskan padamu ini yang dinamakan pelukan memaksa, hanya saja aku tadi memberontak tidak menikmatinya seperti dirimu saat ini." bisikku ditelinga Mas Rama, biar ia tau bagaimana rasanya direndahkan seseorang dengan sebuah tuduhan, setelah mengucapkan itu Aku buru-buru melepaskan pelukanku karena Aku sadar ini semua salah, hanya saja Aku keberatan dengan penilaian Mas Rama yang merendahkan Aku, biarlah jika sikapku tadi membuat ia benar-benar menilaiku negatif, setidaknya ini pelajaran untuknya agar jangan dengan mudah menilai seseorang.
"Wah kalian benar-benar pasangan romantis ya" Vanya muncul dari pintu dalam poliklinik kandungan, Aku hanya tersenyum sementara as Rama masih terdiam.
"Sudah selesai Vanya pemeriksaan nya?"
"Belum, saatnya suamiku diperiksa tapi dia tidak ada, kalian melihatnya?" Belum Aku menjawab pertanyaan Vanya, denis sudah terlebih dulu muncul
"Aku disini." ucap Denis
"Kami permisi sebentar lagi giliran Aku konsultasi dengan dokter" pamitku pada Vanya, ia pun tersenyum hangat dan akupun berlalu menuju ruang Konsultasi dokter.
Setelah dilakukan pemeriksaan USG, kekhawatiran ku tidak terjadi, kondisi rahimku sehat, bebas dari kista endometriosis seperti dugaan ku sebelumnya. Syukurlah, akupun bernafas lega, semenjak aku menjadi pejuang garis dua, aku sangat memperhatikan kondisi tubuhku terutama bagian reproduksi wanita.
Saat keluar ruang Konsultasi, kulihat Gita sedang bermain dengan Atma, mas Rama dan juga Vanya, aku hanya menarik nafas berat karena kemungkinan aku akan bertemu lagi dengan mantan suamiku itu, dan benar saja, ku lihat Denis keluar dari ruangan berbeda dalam poliknik kandungan ini dan mendekat kearah Gita, Vanya, Rama dan Atma. Mau tidak mau akupun melangkah maju menghampiri mereka juga, dan ucapan Gita lagi-lagi membuatku menarik nafas panjang ketika ia berucap,
"Loh Kak, ini bukannya mantan suami kak Amanda? Papa yang tidak bertanggung jawab terhadap keponakanku sekaligus lelaki pengecut?" Sambil menunjukkan jari telunjuknya kedepan wajah Denis dengan penuh emosi, karakter Gita yang ceplas-ceplos serta berani menguak kebenaran tentang statusku dan Denis didepan Vanya. Vanya terlihat shock dengan perkataan Gita, aku mengambil alih Atma kedalam dekapanku, sebisa mungkin aku bersikap tenang.
"Ja-jadi kalian saling mengenal? Dan anak ini ....anak Mas Denis?"
"Dia anakku Vanya." ucap Denis, mudah sekali ia mengakui Atma sebagai anaknya setelah anakku terlihat sehat dan juga lucu seperti sekarang.
__ADS_1
"Bukan ....dia anakku, asal kamu tahu Vanya dia tidak mengakui anak ini sejak ia dilahirkan, Aku hanya mantan istrinya, sedangkan kamu istri sahnya saat ini sebaiknya kamu jaga dia baik-baik agar ia tidak berpaling dan dapat memberikan keturunan yang sempurna sesuai keinginannya dan juga ibunya, jika kamu ingin tetap bersama dalam ikatan pernikahan. Hal yang cukup mudah bukan?"
"Sebaiknya kita pulang, sudah selesai 'kan?" Ucap Rama, akupun mengangguk dan menggandeng tangan Gita yang terlihat masih ingin memberikan ucapan pedas untuk Denis, Rama memimpin langkah kami untuk segera meninggalkan mereka dari ruangan ini. Entahlah sepeninggal kami apa yang terjadi dengan Vanya dan Denis, itu bukan urusanku lagi ....