Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 78


__ADS_3

“Benar kita akan ke Austria, Denis?” tanya Bu Sinta memastikan keputusan Denis yang dinilai terlalu terburu-buru, padahal alat medis di Indonesia sudah cukup melakukan beberapa terapi sebagai upaya memulihkan kondisi tubuhnya.


“Iya, Ma. Mungkin kita akan menetap di sana dalam jangka waktu lama, entahlah rasanya Denis terpanggil untuk cepat-cepat ke Austria.”


“Kamu ingin memperjuangkan Vanya?”


“Iya, Ma ... Denis tidak bisa lebih lama lagi menunggu dan hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun. Bukankah Vanya layak untuk diperjuangkan? Denis ingin memperbaiki semua dan memulai dari awal, merasakan berjuang mendapatkan dirinya kembali agar nantinya sadar jika ingin menyakiti bagaimana sulitnya mendapatkan Vanya kembali,” kata Denis dengan senyum tipis.


“Benarkah kamu mencintai Vanya, Nak? Bukan karena kasihan?”


“Bukan, Ma. Vanya perempuan baik, ia memiliki cinta yang tulus, sederhana dan rendah hati. Vanya juga berhati lembut, ia akan menerima Atma juga sebagai anaknya, Denis yakin akan hal itu. Lebih mudah menerima kelebihan, tapi tidak menerima kekurangan, dan hanya Vanya yang mampu menerima kekurangan Denis, Ma.”


“Lakukan yang terbaik menurutmu, Denis. Kali ini Mama akan menuruti dan mendukung apa pun keputusanmu, Mama berdoa yang terbaik untuk kalian,” ucap Bu Sinta menatap lekat sang anak dengan harapan besar semua yang sudah direncanakan berjalan dengan mulus.


“Terima kasih, Ma,” kata Denis memeluk sang Mama.


Semua persiapan sudah dilakukan, rencananya besok mereka akan bertolak ke Austria memperjuangkan Vanya dan menjalani pengobatan di sana, di salah satu rumah sakit ternama dengan fasilitas kesehatan lengkap dan berteknologi canggih.


Bel rumah Denis berbunyi, salah satu asisten rumah tangga langsung membuka pintu utama. Sosok Atma dan Rama hadir di rumah mewah Denis yang sebentar lagi ditinggal sang pemilik.


“Papa Denis ada, Mbok?” tanya Atma yang sudah tidak sabar bertemu dengan Denis.


Atas permintaan Atma, Rama mengantar sang anak bertemu dengan Denis—Papa kandung yang sebentar lagi tidak ia temui entah sampai berapa lama yang pasti sampai semua tujuan Denis sudah selesai termasuk melakukan terapi pengobatan di rumah sakit ternama di Austria.


“Ada Tuan kecil, masuk ... masuk.” Si Mbok mempersilahkan masuk ke dalam rumah dan langsung mengantar ke kamar Nyonya besar rumah itu—Bu Sinta.


“Papa ...,” panggil Atma yang langsung mendapatkan pelukan Denis dengan senyum mengembang sempurna.


“Sama siapa? Kenapa tidak meminta Papa menjemputmu saja?” tanya Denis saat melepaskan pelukan.


“Papa Rama sedang tidak sibuk, jadi bisa mengantar Atma ke sini. Papa akan berangkat ke kantor siang,” terang Atma.


“Atma ...,” panggil Bu Sinta dari atas tempat tidurnya, senyumnya pun mengembang mendapati sang cucu kini berada di kamarnya.


“Nenek sudah sehat belum?” tanya Atma saat menghampiri neneknya yang baru ia temui kembali setelah menetap lama di rumah sakit untuk menjalani rangkaian fisioterapi.


“Sudah lebih baik Sayang, senangnya Nenek, Atma datang menjenguk,” kata Bu Sinta yang memeluk erat Atma sambil mengelus punggung tubuh sang cucu dengan sayang.


“Pasti datang dong, Nek.”


“Doain Nenek setiap hari enggak?”


“Pasti dong.”


“Terima kasih anak saleh ....”


“Nenek kalau di Austria harus jaga diri baik-baik ya, harus cepat sehat biar kembali ke Indonesia lagi.”


Bu Sinta hanya mengangguk dengan tersenyum hangat, ia tidak bisa berjanji karena ia pun tak tahu berapa lama masa pemulihan hingga semua syaraf dalam tubuhnya kembali bekerja secara optimal pasca tranplantasi hati yang beliau lakukan.


“Atma mau menginap di sini?” tanya Rama yang masuk dan memberikan salam hangat untuk Bu Sinta.


“Enggak, Pa. Biar pas Papa Denis berangkat Atma enggak sedih,” tolak Atma.


“Duh! Papa janji paling tidak sebulan dua kali akan ke Indonesia menyempatkan waktu ketemu jagoan Papa dan kedua anak papa lainnya—adik kembar,” kata Denis yang langsung memangku tubuh gempal Atma.


“Janji?!” tanya Atma mengacungkan satu jari kelingking ke arah Denis.


“Janji!” kata Denis dengan tegas sambil melingkarkan satu jarinya juga di jari Atma.


Beberapa saat kemudian mereka semua tersenyum, melepas dengan bahagia ketika janji sudah di dapat. Setiap minggu sudah terbiasa bersama Denis membuat Atma merasa kehilangan juga terlebih mereka baru bisa dipersatukan.


“Terima kasih ya, Nak Rama.”


“Untuk apa, Bu?”

__ADS_1


“Ketulusan hati kalian yang memberikan kami kesempatan merasakan kebahagiaan seperti sekarang setelah apa yang sudah kami lakukan,” kata Bu Sinta yang langsung mendapatkan gelengan kepala Rama mengisyaratkan agar tidak melanjutkan ucapannya.


“Jangan ungkit masa lalu lagi, Bu,” tegur Rama dengan lembut.


“Baiklah,” sahut Bu Sinta yang tetap menyunggingkan senyum bahagia sambil mengelus rambut tebal Atma.


“Kami tidak bisa mengantar, Amanda sedang bertugas menggantikan temannya yang berbenturan dengan jadwal keberangkatanmu, Denis.”


“Tidak masalah, Ram. Kedatangan kamu dan Atma hari ini sudah cukup menggantikan. Tadinya aku malam ingin datang ke sana untuk berpamitan, ternyata sudah keduluan.”


“Atma kan mau lihat Nenek, Pa.”


“Ya ... ya ... ya ... kalau sudah keinginan Atma sudah pasti harus dituruti ya ‘kan?” ledek Denis.


“Tidak juga kalau tidak baik, Mama sama Papa pasti melarang,” kilah Atma yang memeletkan lidah sambil nyengir hingga deretan giginya terlihat.


Mereka mengobrol santai, tidak ada pembicaraan serius yang mereka bicarakan karena ada Atma di tengah mereka. Namun, Denis sudah membicarakan kepergian dan rencananya dengan Rama serta meminta bantuan Rama untuk menghandle semua pekerjaan yang berkaitan dengan perusahaan yang ia kelola terlepas dari aset yang sudah di atasnamakan Atma.


**


Denis dan Bu Sinta sudah tiba di Austria, mereka menempati sebuah apartemen yang memang sengaja berdekatan dengan apartemen yang Vanya dan mommynya tempati.


“Kamu tidak salah ‘kan?” tanya Denis pada salah satu kaki tangannya yang memang sudah disuruhnya lebih dulu ke Austria menyelidiki Vanya dan keluarganya termasuk di mana sang mantan istri tinggal.


“Tidak, Pak Denis. Bu Vanya dan keluarganya tinggal di apartemen yang terpisah 2 pintu dari tempat tinggal anda saat ini. Saya tidak bisa mendapatkan tepat di samping apartemen Bu Vanya karena hanya tempat ini tersisa, itu pun kami membelinya dengan harga cukup tinggi terpenting dekat dengan Bu Vanya sesuai dengan permintaan anda, Pak,” terang anak buah Denis.


“Baiklah, bagus ... saya sudah cukup puas. Siapkan bodyguard untuk mendampingi saya ke mana pun.”


“Tentu, Pak. Saya sudah mempersiapkannya juga sejak awal karena beberapa hari lalu ada rival Anda yang menyambangi apartemen Bu Vanya.”


“Rival?” tanya Denis yang cukup bingung dengan ucapan sang anak buah.


“Pak Frans datang ke Austria juga, Pak,” jelasnya kemudian yang membuat Denis terbelalak kaget.


“Kamu tahu maksud kedatangannya?”


Tangan Denis mengepal kuat mendengar penjelasan anak buah kepercayaannya, ia tidak menyangka Frans langsung mengambil langkah cepat untuk mendapatkan Vanya sebelum dirinya berjuang. Ia tidak menyangka bisa secepat ini.


“Tidak! Aku tidak akan membiarkan Frans memiliki Vanya, aku akan melakukan apa pun untuk memperjuangkan Vanya, kuyakin Tante Dira kembali memaksa Vanya untuk menuruti semua perkataannya,” kata Denis yang diangguki anak buahnya.


Setelah mengatakan hal itu, Denis langsung melangkah menuju apartemen di mana Vanya dan Tante Dira tinggal tanpa ragu.


“Tunggu bodyguard datang, Pak,” larang orang kepercayaan Denis.


“Tidak ... semakin cepat semakin baik. Kamu tolong urus Nyonya Sinta di dalam, pesankan ruang rawat inap ekslusif di rumah sakit Handelges, saya yang akan menghadapi keluarga Vanya setelah bodyguard datang suruh langsung menemui saya di apartemen Bu Vanya,” titah Denis yang langsung dilaksanakan oleh orang kepercayaannya.


Denis melangkah tanpa ragu menuju pintu apartemen keluarga Vanya, Tante Dira—mommy Vanya langsung menyapa dengan tatapan sinisnya. Kedatangan Denis ke apartemennya cukup membuat ia tercengang, sudah tentu kedatangan yang tak diharapkan sama sekali olehnya.


“Apa maksud kedatanganmu, Denis? Bukankah kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi? Hanya mantan menantu dan mantan suami anakku.”


“Tidakkah mantan menantu Nyonya Dira yang terhormat tidak diperkenankan masuk?” tanya Denis tetap bersikap santai padahal sudah cukup membuatnya muak melihat tatapan Tante Dira.


“Saya rasa tidak perlu! Kerja sama perusahaan kita sudah dalam proses pemutusan kerja sama oleh kuasa hukum, saya sudah tidak memiliki urusan lagi denganmu, mantan menantu,” tukasnya yang bersedekap dada dan memandang rendah Denis.


“Saya ingin bertemu dengan Vanya,” kata Denis yang langsung tanpa basa-basi lagi, percuma juga bermanis-manis dengan Tante Dira yang sudah bersikap sinis.


“Vanya? Ada urusan apa?”


“Urusan tentang hubungan kami Tante.”


Tante Dira tertawa meledek mendengar apa yang dikatakan Denis.


“Hubungan? Sadarlah Denis! Kalian sudah tidak ada hubungan apa pun.”


“Sebentar lagi kami akan memulai hubungan dari awal, Tante. Denis mohon kali ini jangan memaksakan kehendak Tante.”

__ADS_1


“Maksudmu?”


“Frans!” cetus Denis tanpa ragu langsung ke tepat sasaran, percuma berbasa-basi lebih lama lagi dengan Tante Dira. Denis sudah tidak sabar dengan respon dan mantan Mama mertuanya.


“Wow! Kamu sudah menggali cukup banyak informasi sepertinya, luar biasa. Tapi baguslah, jadi saya tidak perlu menjelaskan agar kamu jangan mendekati Vanya lagi karena mereka akan menikah dalam waktu dekat,” terang Tante Dira yang langsung membuat mata Denis terbelalak kaget.


Vanya yang di kamar mendengar suara mommynya berbicara dengan seseorang, menjadi penasaran. Ia pun keluar untuk melihat siapa yang tengah berbicara dengan mommynya. Mata Vanya membola melihat kedatangan Denis di apartemen miliknya.


“Masuk, Vanya!” titah Tante Dira ketika melihat Vanya muncul tepat dibelakangnya.


“Denis.”


“Van.”


“Masuk!” bentak Tante Dira yang semakin meninggikan intonasi suaranya.


“Mom ... please jangan seperti ini, Denis datang untuk Vanya, Mom.”


“Omong kosong!”


“Tante ... kali ini saja tolong dengarkan dulu penjelasan Denis, kita perbaiki semuanya,” mohon Denis.


“Tidak perlu! Bagi Tante ... Vanya lebih cocok dengan Frans bukan kamu Denis!”


“Frans hanya memanfaatkan Tante saja, percayalah!”


“Halah ... itu akal-akalan kamu untuk menjelek-jelekkan Frans yang sudah pasti jauh lebih baik darimu terlebih dia pria normal, tidak sepertimu pria lemah.”


“Mom, jangan keterlaluan seperti itu.”


“Biarkan saja, ini kenyataan. Kamu saja yang bodoh mencintai Denis.”


“Sejak awal siapa yang mendesakku untuk menikah dengan pewaris tunggal keluarga Narendra? Mommy kan?! Lalu kenapa sekarang menyalahkanku jika pada akhirnya aku mencintai Denis—pria yang menikahiku? Sungguh mommy tidak berperasaan, hanya materi yang dikejar tapi tak pernah memikirkan kebahagiaanku. Kali ini aku yang akan menentukan kebahagiaanku bukan Mommy!” kata Vanya dengan mata menyalak penuh amarah.


Rasanya sudah cukup ia berkorban untuk kebahagiaan mommynya, menuruti semua keinginan sejak awal tapi tidak kali ini ia ingin menentukan kebahagiaannya sendiri. Melihat perlawanan Vanya, tangan Tante Dira sudah melayang ke udara, ketika ingin mendaratkan tamparan ke pipi Vanya, tangan kekar Denis menahan pergelangan tangan Tante Dira.


“Jangan lakukan kekerasan apa pun pada Vanya, Tante. Walaupun Vanya bukan anak yang terlahir dari rahim Tante Dira,” kata Denis yang membuat Vanya dan Tante Dira membelalakkan mata.


‘Sial! Dari mana Denis tahu tentang Vanya?! Kurang ajar! Dia bisa merusak semua rencanaku.’ Geram kesal Tante Dira dalam hati.


“Jangan kira Denis tidak tahu, Tante. Termasuk kecurangan laporan keuangan yang merugikan group Narendra, jika Denis ingin sekarang juga akan Denis laporkan pada pihak berwajib dan Tante akan merasakan dinginnya lantai penjara,” ancam Denis tanpa takut dengan kemenangan yang sudah di tangan.


Bukan Denis namanya jika melakukan sesuatu dengan gegabah, terlebih soal bisnis dan keinginan yang akan ia capai. Sebelum memberanikan diri seperti sekarang, ia sudah mengumpulkan kartu mati Tante Dira yang sudah ia ketahui lama akan kelicikannya. Termasuk rahasia bahwa Vanya bukanlah anak kandung Tante Dira, tetapi anak selingkuhan sang suami yang ia tutupi sampai saat ini.


Seberapa pun rahasia ditutupi akan ada celah kebenaran terungkap, hanya masalah waktu sebuah kebenaran muncul ke permukaan.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang tidak kuketahui?” ucap Vanya terduduk lemah, syok dengan kenyataan yang baru saja diungkapkan oleh Denis.


Melihat Vanya syok, Denis langsung merangsek masuk ke dalam apartemen. Ada rasa bersalah menyelimuti hati tapi hanya ini senjata satu-satunya untuk membuat Tante Dira mati kutu walaupun itu tak adil untuk Vanya.


“Maafkan aku Vanya, aku tidak bermaksud menyakitimu, sungguh. Inilah sebuah kebenaran meskipun menyakitkan, aku tidak ingin kamu dijadikan alat oleh Tante Dira. Cukup sudah pengorbananmu, baktimu, sekarang saatnya aku memberikan kebahagiaan untukmu,” kata Denis duduk menekuk lutut sambil memegang tangan sang mantan yang membuat Vanya meneteskan air mata kesedihan.


“Pergi kamu Denis!” pinta Tante Dira yang langsung menarik baju Denis dari belakang, tapi Denis bersikukuh bertahan pada posisinya. Ia tidak berniat meninggalkan Vanya sekarang sebelum ada keputusan, kali ini ia sudah bertekad akan menyelamatkan dan melindungi Vanya.


“Ada keributan apa ini?” tanya seseorang yang hadir di ambang pintu melihat satu per satu orang yang sudah berada di dalam ruang apartemen.


Denis seketika menoleh, mendapati sosok yang menjadi rivalnya kini hadir juga di tengah mereka. Vanya menghentikan tangisan, menghapus jejak air mata di pipi, perasaan sedih berganti dengan rasa khawatir karena posisi Denis yang sudah tentu tidak menguntungkan.


“Pergi Denis,” pinta Vanya.


“Tidak! Aku bukan pengecut Vanya.” Denis berdiri, melangkah menghadapi Frans yang kini juga melangkah ke arahnya.


~Bersambung~


Akhirnya bisa up dengan penuh perjuangan menahan rasa sakit ... keep healthy untuk semuanya, terapkan prokes.

__ADS_1


Nantikan terus kelanjutan Pasca Cerai, ikuti sampai Tamat ya ... terima kasih supportnya 😘


__ADS_2