
💕 Happy reading 💕
Bugh!
Menyadari kelengahan pria yang mengalungkan pisau di leher karena temannya tertembak dan tersungkur di tanah, Rio menginjak dan memukul pria bertato itu dengan sikut secara bersamaan. Pekikan sakit pun terdengar, Rio membalikkan tubuh dan menendang bagian perut hingga Pria yang menahannya terjungkal ke belakang.
Petugas keamanan menggunakan motor tengah melintas di dekat lokasi Rio dan Rama menyadari ada keributan langsung mendekati lokasi, Rio pun berteriak minta tolong sementara Rama sudah terduduk lemah setelah melumpuhkan lawannya. Lutut Rama lemas seperti tak bertulang, ketika maut serasa di depan mata.
“Jangan bergerak semuanya!” kata 4 orang petugas keamanan yang lewat.
Situasi semakin ramai, bala bantuan datang dan ambulans pun didatangkan ke lokasi bersama polisi yang mengolah kejadian tempat perkara.
“Kita selamat, Ram.” Rio memeluk Rama, ia sangat takut nyawanya melayang saat itu terlebih melihat pistol dan pisau yang lawannya todongkan.
Wajah keluarga masing-masing hadir di pelupuk mata, mereka masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga tercinta.
**
“Kok Mama enggak pulang bareng Papa?” tanya Atma ketika Amanda sudah berada di rumah lebih dulu dari Rama.
“Katanya Papa macet, Nak. Ada yang dirasa tidak hari ini?” tanya Amanda pada sang Anak seperti biasanya memantau kesehatan Atma yang masih tidak diperkenankan melakukan aktivitas berat dan melelahkan untuk menstabilkan ritme dan kerja jantung.
“Enggak, Ma. Kayaknya udah sembuh deh, Atma bosan tidak sekolah hanya di rumah, apalagi kalau kembar sudah tertidur lebih dulu, sepi!” keluh Atma yang ditanggapi senyum Amanda.
“Atma selalu iseng, Bu. Kalau kembar tidur pasti di goyang-goyang sampai bangun,” timpal pengasuh kembar yang juga berada di ruangan kamar.
“Jangan dong Sayang, nanti kalau kurang istirahat adik kembar khawatir sakit,” larang Amanda yang hanya ditanggapi cengiran Atma.
Ponsel Amanda berdering, ia langsung mengangkat panggilan meski tak ada nomor kontak. Matanya melebar sempurna dengan lutut terasa lemas setelah mendengar kabar yang sangat mengejutkan, panggilan pun berakhir.
‘Aku harus tetap tenang, Atma tidak boleh kaget dan khawatir maupun gelisah, aku harus merahasiakan semua yang terjadi dari Atma.’ Batin Amanda yang tetap menampilkan ketenangan padahal ingin menangis mendengar kabar dari pihak kepolisian.
“Sayang, Mama ada panggilan ke rumah sakit lagi, penting.”
“Kan Mama baru pulang, seperti tidak ada teman Mama saja,” protes Atma.
“Namanya juga tugas, kamu jaga adik ya. Jangan ganggu adik,” pinta Amanda.
“Papa juga sebentar lagi sampai, nanti temani Atma di kamar seperti biasa,” harap Atma yang membuat Amanda merasa sedih. Malam ini Tama tidak akan pulang ke rumah, bagaimana menjelaskan pada Atma? Amanda jadi bingung sendiri.
“Papa tadi menghubungi Mama, katanya ada tugas di Bandung dan menginap di rumah Eyang.”
Atma mencebik kesal, bibirnya mengerucut, harapan hari ini tak akan jadi kenyataan seperti apa yang sudah ia bayangkan.
“Mama pamit, Atma istirahat, jangan nunggu Mama atau Papa pulang.”
“Iya, Ma,” jawab Atma lesu, Amanda memberikan kecupan di kening dan keluar dari kamar.
Pengasuh keluar dari kamar juga ketika Amanda memberi kode untuk mengikutinya ke luar kamar, Amanda menceritakan apa yang tengah menimpa Rama dan mengandalkan asisten rumah tangga untuk mengurus ketiga anaknya.
“Titip, Mbok, Mbak,” pamit Amanda dengan wajah sendu, Si Mbok yang sudah bekerja lama bersama Rama dan Amanda pun ikut menangis.
Amanda melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat Rama dan Rio di rawat, begitu pun Dina yang panik bukan kepalang ketika mendapatkan kabar sang suami tengah terluka akibat pengeroyokan dari pihak kepolisian.
Tujuan utama adalah ruang IGD rumah sakit, benar saja ada dua orang polisi yang menunggu di depan pintu ruang IGD.
“Saya istri dari Rama, Pak,” lapor Amanda yang langsung diperbolehkan masuk ke dalam ruangan.
“Amanda!” panggil Dina yang juga baru sampai di rumah sakit itu.
__ADS_1
Dina langsung memeluk Amanda, sedih, panik dan takut menjadi satu. Mereka masuk ke dalam ruangan untuk melihat kondisi 2 sahabat yang tengah terluka bersama.
“Mas,” panggil Amanda yang ketika membuka tirai menemukan sosok suaminya.
Mata Rama yang terpejam langsung terbuka ketika suara yang selalu dirindukan itu menyapa, wajah Rama terlihat lebam cukup parah. Syaraf mata terlihat merah karena pukulan bertubi-tubi tanpa ampun, wajah tampannya seketika berubah menjadi wajah yang cukup mengerikan karena bengkak di bagian rahang pipi kanan dan kiri.
Sementara di samping ruangan Dina sudah menangis, terlebih melihat leher sang suami di perban karena mendapatkan beberapa jahitan akibat kalungan pisau lawannya.
“Siapa yang melakukan ini, Mas?” tanya Amanda menahan tangis, matanya sudah merah siap menumpahkan air mata.
“Suruhan Herman—Ayah Tasya, berkat doamu aku baik-baik saja. Suruhan Herman yang meninggal di tempat kejadian perkara karena kehabisan darah,” terang Rama.
“Lalu bagaimana?”
“Masalah hukum aku serahkan pada kuasa hukum.”
Amanda mengangguk paham, Rama pasti akan mengambil langkah hukum untuk menyelesaikan kasus ini. Amanda mengulurkan tangan, menyentuh wajah Rama yang lebam parah.
“Pasti sakit,” kata Amanda mengelus wajah sang suami, lalu sesaat kemudian memeluk tubuh suaminya cukup erat dengan tubuh bergetar karena tangis.
“Sayang, jangan menangis. Aku baik-baik saja, aku merasa lega, bisa bertemu denganmu lagi dan berkumpul dengan anak-anak nantinya. Ketakutanku adalah maut memisahkan kita, walaupun sesuatu yang terdekat dari setiap makhluk adalah kematian. Aku terlalu mencintaimu dan anak-anak,” ungkap Rama.
Rama mengelus puncak kepala Amanda dengan sayang, Amanda langsung mencium tangan sang suami dengan lelehan air mata.
‘Aku tidak akan membiarkan kamu lolos kali ini, Herman ... Tasya ... kalian harus membayar air mata istriku. Tidak ada kata damai di antara kita, akan kupastikan hal itu!’ Rama membatin.
**
“Bodoh kalian semua.”
Pak Herman terlihat murka dengan kabar yang baru saja ia terima dari anak buahnya yang datang ke dalam rumah.
“Memang itu yang akan saya lakukan tanpa diperintah, bodoh!” hardiknya.
Herman langsung merapikan barang-barang, begitu pun melepaskan ikatan Tasya agar ikut bersamanya. Meskipun benci akan kelakuan anaknya, tetap saja hati nurani tidak tega jika harus melihat Tasya menderita.
Bayi dalam kandungan Tasya tidak bisa diselamatkan, bayinya dilahirkan dalam kondisi tak bernyawa yang membuat jiwa Tasya semakin terguncang, kehilangan Rama yang selalu menjadi tempat sandarannya dan kehilangan bayinya dalam waktu berdekatan.
“Kita harus pergi! Jangan mengamuk atau memberontak anak bodoh!” hardik Pak Herman dengan kata kasarnya yang siapa saja mendengar akan mengelus dada.
“Rama ... Dedek Bayi, kita mau ketemu mereka iya?” tanya Tasya sambil tertawa geli.
“Nama itu lagi!” sungut Herman yang langsung menarik tubuh Tasya mengikuti langkahnya.
“Maaf Pak! Polisi sudah datang! Sepertinya kita terkepung!” lapor anak buahnya.
“Sial!”
“Jangan bergerak! Rumah kalian terkepung, serahkan diri kalian!” Suara polisi menggunakan pengeras suara terdengar yang membuat Herman semakin geram. Ia tidak menyangka secepat ini polisi bergerak meringkusnya, kenalan Rama sama salah satu petinggi kepolisian sangat membantu memuluskan prosedur, terlebih bukti sudah sangat kuat.
Tidak berapa lama terdengar pintu didobrak dari luar, polisi berhasil merangsek masuk. Tasya menundukkan tubuh karena takut. Herman tetap bersikukuh untuk lari dari rumah itu, ia keluar kamar dan menuju pintu belakang rumah.
“Sial!” geram Herman lagi yang ternyata sudah di jaga polisi.
“Angkat tangan!” perintah salah satu polisi menodongkan senjata.
Polisi lainnya langsung memborgol tangan Herman dan menggiringnya masuk ke dalam mobil untuk di bawa ke kantor polisi mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Tasya menangis histeris tak terkendali melihat kericuhan di rumahnya, pandangannya tiba-tiba menjadi gelap, tubuhnya luruh ke lantai tak sadarkan diri.
__ADS_1
[Ditemukan wanita dengan gangguan mental di rumah Herman—tersangka dalang pengeroyokan.]
Pesan pengacara Rama yang langsung dibaca Rama saat ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, pesan yang di kirim bersama foto Tasya yang tengah terantai di sebuah ruangan bercat putih.
“Tasya ...,” gumam Rama yang terdengar oleh Amanda.
“Ada apa, Mas?” tanya Amanda penasaran ketika melihat ekspresi Rama berubah sambil melihat layar ponsel, dengan jujur Rama menunjukkan foto yang baru saja ia dapatkan dari pengacara yang masih mengurus kasusnya.
“Ketika cinta berubah menjadi sebuah obsesi, cinta itu akan mengulum waras logika.”
“Kamu benar, Sayang. Tasya bukan mencintai tapi terobsesi padaku.”
“Yang sesungguhnya mencintaimu hanya aku—istrimu,” kekeh Amanda sambil mengedipkan mata lalu tersenyum lebar.
“Sejak kapan kamu pandai menggombal.”
“Sejak menikah denganmu,” seloroh Amanda yang membuat Rama tertawa lalu merentangkan tangan dan di sambut dengan hamburan pelukan hangat sang istri.
**
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Vanya yang mendatangi Denis di ruang rawat.
“Seperti yang kamu lihat, jauh lebih baik.” Denis menjawab dengan ekspresi sendu ketika Vanya berada dalam ruangan bersamanya.
“Syukurlah ... keadaan Mama juga sudah berangsur membaik.”
“Ya ... Amanda sudah menjelaskannya padaku.”
“Cepat pulih agar kamu bisa beraktivitas dan mengurus satu hal yang belum terselesaikan.”
“Apa itu?”
“Proses perceraian kita ...,” terang Vanya tersenyum getir ke arah Denis. “kali ini aku tidak akan mempersulit, asal kan kamu datang ke pengadilan agama untuk menyaksikan putusan dan pengucapan talak padaku, dengan lapang dada aku menerimanya.” Lanjut Vanya.
Ketika berbicara seperti itu, ada denyut nyeri yang dirasakan dalam hati. Namun, hidup terus berjalan, Vanya bertekad menata hidupnya kembali di Austria bersama keluarga besarnya.
“Sampai bertemu di pengadilan, Denis. Dan ini untukmu ...,” kata Vanya sambil menyerahkan kotak kado berbentuk kecil. Denis langsung membukanya, terdapat arloji mewah dalam kotak itu.
“Pakailah sebagai kenangan, orang bilang waktu adalah penyembuh, waktu akan membuat lupa. Jarum akan terus berputar, setiap waktu adalah waktu ... bisa menjadi sia-sia jika kamu menyia-nyiakan,” kata Vanya dengan makna yang cukup dalam.
Vanya berdiri, bersiap meninggalkan ruangan itu sedangkan Denis masih termenung mengartikan semuanya dan memastikan perasaannya.
“Aku permisi,” pamit Vanya lalu membalikkan tubuh menuju pintu.
“Vanya ... tunggu!” panggil Denis menahan langkah Vanya, ia menoleh kembali tatapan mata mereka terkunci.
“Aku—“
Denis menarik napas dalam sebelum melanjutkan ucapannya, lalu diam sejenak seperti memikirkan sesuatu yang cukup berat. Vanya menunggu apa yang akan diucapkan Denis yang menggantung.
‘Apa yang sebenarnya akan ia katakan?’ tanya Vanya dalam hati.
~Bersambung~
Ada yang bisa nebak Denis bilang apa? Yuk! tebak-tebakan.
Like dan komentar 😍
Boleh gabung chat group jika berkenan biar saling mengenal.
__ADS_1
Terima kasih untuk supportnya di cerita Pasca Cerai, lope sekebon ❤️