
...Jangan lupa...
...Tinggalkan jejak...
...💕 Like dan komentar 💕...
...💕💕💕💕...
"Bu, sepertinya aku jatuh cinta."
"Wahh senang ibu dengarnya, siapa yang menggetarkan hatimu Rama? Akan langsung Ibu lamar wanita yang kamu cinta."
"Itu Bu, yang tadi mengantar sampel bahan Ummik Rahma, cantik, sederhana, lembut tutur katanya." Ibu tersenyum bahagia kearahku.
Seminggu kemudian, Ibu memberi kabar bahwa wanita yang ingin kujadikan istri sudah dilamar oleh seorang pria, saat itu hanya bisa menerimanya dengan ikhlas mungkin bukan jodohku meskipun aku terus memikirkannya.
Aku bukan tipe pria yang mudah untuk jatuh cinta, bahkan teman kecil bernama Tasya yang dekat denganku tidak bisa menggetarkan hati ini untuk bisa mencintainya, meskipun Aku tahu ia mencintaiku.
Suatu hari ibu menelepon, beliau memintaku untuk mendonorkan darah untuk seorang bayi yang akan melakukan operasi dan golongan darah yang dibutuhkan tidak tersedia karena termasuk golongan darah langka yaitu golongan darah O Rhesus negatif, mendengar itu Aku langsung datang ke rumah sakit untuk segera mendonorkan darah, ketika sedang proses transfusi darah, seorang wanita cantik yang kukenal masuk kedalam ruangan dengan senyum yang meneduhkan hatiku,
"Assalamualaikum Bu, Mas perkenalkan nama saya Amanda, ibu dari seorang anak yang kalian tolong dengan mendonorkan darah kalian, saya datang ingin mengucapkan terimakasih." ucapnya lembut, hatiku kembali bergetar saat melihatnya, seperti empat tahun yang lalu, ia masih terlihat cantik walaupun sudah memiliki anak sekarang, meskipun Aku bahagia kembali bertemu dengannya tidak membuat sikap dingin dan ucapan ketusku tidak terlontar, beginilah sikapku, sejak dulu teman yang mengenalku menyebut dengan panggilan kulkas berjalan, biarlah mereka beranggapan apa, yang jelas Aku sulit bersikap dan berucap manis terhadap seseorang.
Aku sudah mengetahui dari Ibu bahwa Amanda baru saja bercerai beberapa bulan yang lalu dari suaminya karena tidak menerima bayi yang dianggap cacat oleh suami serta keluarganya, mendengar itu Aku merasa bahagia, bukan karena bahagia melihat kesedihannya. Namun, Aku bahagia memiliki kesempatan kedua untuk mendapatkannya, terlebih saat menggendong bayi Amanda yang bernama Atma, Aku merasa bahagia dan langsung jatuh hati pada anak itu, anak yang tampan dan menggemaskan.
Ketika melihat Amanda dekat dengan pria lain hatiku selalu diliputi rasa cemburu, pernah merasakan panas di dada ini saat Amanda berbincang dengan seorang pria yang Aku ketahui belum lama ini bernama Janu hingga Aku menuduhnya suka mempermainkan hati seorang Pria dengan kecantikannya, yang jelas itu sangat salah, mungkin ini yang dinamakan cemburu buta. Pernah suatu ketika Aku menahan gejolak panas yang menyelimuti hati saat Amanda dipeluk oleh mantan suaminya, tetapi saat itu Aku menahan emosi untuk dapat mengambil rekaman gambar yang Aku gunakan menjadi bukti kekerasan terhadap Amanda yang dilakukan mantan suaminya, kejadian itu mengingatkan Aku dengan pelukan yang tiba-tiba dilakukannya terhadapku.
"Hanya menjelaskan padamu ini yang dinamakan pelukan memaksa, hanya saja Aku tadi memberontak tidak menikmatinya seperti dirimu saat ini." bisiknya ditelingaku, benar yang dikatakan Amanda, Aku menikmatinya karena Aku sudah lama mencintainya tanpa ia ketahui.
Dari Atma berumur enam bulan dan tinggal dirumah Ibu, Aku setiap hari menyempatkan bermain bersamanya, sehari saja tidak bertemu rasanya ada yang hilang dalam diriku, Aku dan Atma seperti sudah menyatu satu sama lain. Setiap hari Amanda akan menyiapkan makanan untuk Ibu, Atma dan Aku dengan tangannya sendiri, meskipun ia sibuk kuliah, ia tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang Ibu, itulah yang semakin membuat Aku jatuh cinta padanya. Namun, Aku hanya bisa bersikap kaku dan dingin, hal itu dilakukan untuk mengontrol debaran jantungku saat berada didekatnya.
Hatiku sangat hancur setelah dengan mata kepalaku sendiri menyaksikan Amanda menerima lamaran pernikahan dari Janu, Aku hanya bisa mendekap tubuh Atma diatas pangkuanku untuk menetralisir rasa sakit yang Aku rasakan, setidaknya saat itu Atma yang menguatkan Aku. Aku memendam semua rasa cinta ini karena Aku takut Atma dan Amanda menjauh dari kehidupanku jika Amanda menolak cintaku, dengan bersama mereka paling tidak Aku merasakan kebahagiaan layaknya keluarga kecil, Aku sudah menganggap Atma anak kandungku, bagian dari hidupku, Aku sangat menyayanginya ....
Suatu malam, Tasya datang kebutik Ibu yang Aku tempati, dengan kondisi mabuk, Aku langsung menolongnya dan membawanya masuk kedalam kamar. Pakaian yang dikenakan Tasya sudah tidak berbentuk, sangat berantakan.
"Sentuh Aku Rama." racaunya saat mabuk "Aku sangat mencintaimu, Aku rela memberikan kehormatanku untukmu, kamu bisa melakukannya lagi untuk yang kedua kalinya, sentuh Aku Rama, ayolah!!!" Dengan meliuk-liukan tubuhnya di atas kasur.
Mataku terbelalak kaget dengan ucapan Tasya, menyentuh untuk kedua kalinya? Sekalipun Aku tidak pernah menyentuhnya, meskipun banyak kesempatan jika Aku menginginkannya, tapi Aku tidak akan melakukan hubungan suami istri pada seseorang yang bukan menjadi istriku. Timbul pertanyaan dalam benakku, siapa yang menyentuhnya pertama kali?
Mentari telah menyapa, Tasya sudah terbangun dari tidurnya dalam kamarku,
"Apa yang kamu lakukan Rama? Kamu sudah mengambil kesucianku, kamu harus bertanggung jawab."
"Kamu salah paham Tasya, Aku tidak melakukan apapun padamu."
__ADS_1
"Di klub Aku merasakan sentuhanmu,"
"Kamu sedang terpengaruh alkohol."
"Kamu jahat Rama, kamu tidak mengakuinya, kamu tidak mau bertanggung jawab, hahhh???" Ucap Tasya berteriak karena emosi.
"Sedang apa kalian?" Ibu sudah berdiri diambang pintu kamar, Tasya langsung memeluk Ibu.
"Rama sudah merenggut kesucianku Bu."
"APA???" Ibu dibuat kaget dengan ucapan Tasya "jelaskan pada Ibu Rama!" Pinta Ibu, akupun menjadi bingung harus menjawab apa karena Aku tidak mengetahui kebenarannya.
"Aku sudah hancur Rama, kamu harus bertanggung jawab, Aku tidak menerima apapun alasan yang kamu berikan," Tasya terus menangis "kamu harus menikahi Aku Rama! Atau Aku akan bilang kepada orang tuaku dan menuntutmu." ancamnya
"Baiklah aku akan menikah denganmu, bukan karena takut akan ancamanmu karena itu bukan kesalahanku, hal ini Aku lakukan karena kamu teman masa kecilku, Aku tidak akan membiarkan kamu merasa hancur dan juga hina."
Acara lamaran dan pernikahan diatur semuanya oleh Tasya, ia mempercepat rencana pernikahan kami sampai suatu waktu Amanda dan Atma merawatku saat Aku sakit, Tasya memarahi Atma dan juga Amanda. Aku tidak terima dengan perlakuan Tasya, terlebih Aku merasakan cinta pada diriku untuk Amanda semakin kuat, saat sakit Aku tidak bisa menahan hasratku untuk mendapatkan sentuhan kenyamanan dari Amanda, diluar kendali Aku memeluknya saat tubuh ini merasakan demam.
Hatiku menjadi ragu untuk melanjutkan pernikahan dengan Tasya, ketika suatu hari Amanda mengetahui perasaan cintaku untuknya. Aku merasa ia pun mencintaiku, rasa cinta dalam hatiku untuknya benar-benar telah mengakar, Aku tersiksa karenanya. Ternyata Amanda dan Atma juga tersiksa saat jauh dariku, Aku sungguh egois tidak memikirkan perasaan mereka, Aku kira hanya Aku yang merasa sakit. Amanda memintaku untuk menjauh dari Atma.
"Amanda, jangan lakukan itu, Aku mohon!!! Atma sudah Aku anggap anakku sendiri." ucapku menolak permintaan Amanda.
"Kamu tidak perlu menganggap Atma anakmu, karena sebentar lagi kamu akan mempunyai anak dari Tasya, kamu akan menjadi seorang suami dan seorang ayah dari benih yang Tasya kandung." Aku melihatnya menghapus jejak air mata, "Jujur, saat ini Aku kecewa padamu, bukan karena cinta yang diam-diam kamu rasakan padaku, tapi Aku tidak menyangka hubunganmu dengan Tasya sudah seperti layaknya suami-istri, Aku kira kamu pria baik yang menghargai kehormatan seorang wanita."
Kebenaran yang Amanda ucapkan tentang kehamilan Tasya membuatku terkejut, hamil? Bahkan Amanda menuduh yang bukan-bukan tentang Aku. Namun, Aku hanya diam karena Seandainya langsung menyanggah ucapan Amanda tanpa bukti apapun, ia tidak akan percaya, biarlah ia larut dalam pemikiran dan kesimpulannya sendiri sampai Aku bisa membuktikan bahwa Aku tidak seperti yang ia duga.
__ADS_1
Sepeninggal Amanda, Aku langsung menghubungi seorang teman yang biasa menemani Tasya, ia merupakan teman masa kuliah kami, darinya Aku mendapatkan informasi bahwa Tasya habis dari klub malam X saat malam kejadian saat Tasya mabuk dan datang ke butik, mereka berangkat bersama tetapi temanku berkencan dengan pacarnya sehingga meninggalkan Tasya sendiri.
Berdasarkan informasi yang telah didapat, aku bergegas menuju klub malam X di Bandung, akupun mengajak Tasya untuk membuktikan semuanya, mana mungkin Aku mempertanggungjawabkan kehamilan Tasya, lagipula wanita hamil tidak boleh untuk dinikahi secara agama. Tasya menolak untuk membuktikan semuanya, tapi Aku tidak menerima penolakan darinya terlebih dia telah menutupi kehamilannya dariku.
Klub ini tidak asing bagiku, kebanyakan rekan bisnisku menyukai kehidupan malam seperti ini, Aku mengikuti mereka, tapi Aku tidak terjerumus mengikuti gaya hidup mereka, dalam keadaan terdesak terkadang Aku menemani mereka di klub malam hanya untuk sekedar duduk dan bersantai, Aku selalu memasang wajah kaku saat berada disini untuk menghindari wanita malam mendekatiku.
"Saya ingin meminta rekaman CCTV di klub ini." pintaku pada manager tempat ini,
"Tapi itu tidak gratis pak,"
"Saya akan membayar berapapun agar bisa melihat CCTV klub malam ini, sahabat saya membutuhkannya."
"Baiklah." tidak berapa lama manager itu membawaku ke ruangan yang berisi seluruh layar monitor CCTV klub ini, Aku memintanya mengulang semua rekaman pada semua sudut klub ini pada malam kejadian, dan usahaku tidak sia-sia. Aku meminta salinan file rekaman gambar dimana Tasya dalam keadaan mabuk masuk kedalam kamar sewaan di klub ini bersama seorang pria yang tidak aku kenali. Tasya melihat itu semua sangat terkejut, tubuhnya luruh kelantai, menangis histeris.
Tasya terus saja menangis, hanya diam yang Aku lakukan. Aku mengantar kerumah orangtuanya dan memberikan sebuah keputusan, Aku tidak akan menikah dengan Tasya, akyu tidak akan mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak Aku lakukan.
Pernikahanku dengan Tasya akhirnya dibatalkan, Tasya mengalami depresi, sebenarnya tidak tega melihatnya seperti itu, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, Aku tidak mau memperkeruh keadaan nantinya setelah bayi itu lahir, Aku tidak ingin mencoreng nama baik keluargaku dengan mengira Aku yang menghamili Tasya sebelum pernikahan dilakukan.
Aku mendengar dari Ibu, beberapa hari lagi Amanda akan melaksanakan pernikahan dan Ibu yang mengurus gaun pernikahannya,
"Seandainya kamu jujur dari awal, mungkin Amanda akan bersama kita." ucap Ibu terlihat sedih dan kecewa "Kapan kamu akan menikah? Umur mu sudah melewati angka kepala tiga Rama"
"Aku tidak akan menikah sebelum benar-benar melupakan Amanda, Bu."
"Sampai kapan Nak? Kamu butuh teman hidup."
"Entahlah Bu, sulit untuk melupakan Amanda, Aku sangat mencintainya."
"Hahhh kenapa anak ibu pintar berkarir dan mendirikan perusahaan, tapi bodoh urusan percintaan." ibu menghela nafas kasar, Aku hanya bisa tersenyum, mungkin benar yang dikatakan Ibu, Aku bodoh ....
Hari itu akyu bekerja seperti biasanya, datang kekantor yang berada dibandung untuk menyelesaikan design gedung sebuah pusat perbelanjaan, sekretaris datang keruanganku dan memberi tahukan ada seorang pria yang ingin menemui aku namun tidak memberikan nama jelas, akupun menerima tamu tersebut.
Tok...tok...tok
"Masuk"
"Apa kabar? Apa kau mengenalku?" Ucapnya tegas dan singkat, aku mendongakkan kepala untuk melihat seseorang yang saat ini berada dihadapanku.
"Adnan Januzaj?" gumamku.
__ADS_1
~Bersambung~
Like, komentar, dan vote jika berkenan supaya semakin banyak yang baca. 😍