Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 60


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


Denis langsung mendapatkan pertolongan medis saat itu juga, kondisi sudah tidak sadarkan diri.


“Kenapa Papa Denis, Ma?” tanya Atma yang tidak mengerti apa yang terjadi, semuanya begitu cepat.


“Mama juga tidak tahu, Nak. Kita berdoa saja mudah-mudahan Papa Denis tidak apa-apa.”


“Aamiin,” sahut Atma mengaminkan.


“Atma jangan memikirkan yang berat-berat ya, Sayang. Mama tidak mau Atma ikut sakit lagi, sekarang fokus ke kesehatan Atma.”


“Iya, Ma. Yang penting bukan Papa Rama yang sakit, kalau Papa Denis—“


“Sssttt! Sayang enggak boleh berbicara seperti itu, bukankah Mama dan Papa Rama sudah bilang kalau Atma harus belajar menyayangi Papa Denis juga. Doakan semuanya sehat, jangan hanya mendoakan salah satu saja.”


Wajah Atma tertekuk sempurna, mengajarkan kasih sayang pada anak bukanlah hal yang mudah, teori gampang tapi mengimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari tidaklah mudah.


Emosi Atma masih labil, terkadang merasa sedih, terkadang merasa memaafkan, terkadang masih ada perasaan tak suka, dan terkadang timbul kasih sayang dan belas kasih dan terkadang benci dan merasa tersakiti.


Membingungkan bukan?


Ya ... begitulah Atma, diusianya yang masih anak-anak dihadapkan persoalan pelik orang dewasa.


Tugas besar Amanda dan Rama mengajarkan bahwa tak ada hati nurani yang bertahan dengan kebencian, melainkan kasih sayang dan saling memaafkan.


**


Denis langsung mendapatkan tindakan medis saat memasuki ruang IGD, darah segar yang keluar dari hidung sudah terhenti. Ia sudah tidak sadarkan diri hampir 1 jam, ruang IGD seketika sibuk ketika Denis di bawa masuk ke dalam ruangan bertirai itu.


“Kondisi pasien kritis, kami akan memindahkan perawatan pasien ke ruang ICU,” terang salah satu Dokter yang menangani Denis.


Tubuh Bu Sinta luruh ke lantai mendengar hal itu, anak semata wayangnya sedang kritis. Rama yang masih menemani Bu Sinta langsung menahan tubuh ringkih itu dan mendudukkannya di kursi tunggu.


“Lakukan yang terbaik, Dok,” kata Rama yang berbicara mewakili Bu Sinta yang kini malah menangis tergugu.


“Baik, Pak. Anda bisa menandatangani semua surat persetujuan yang akan kami berikan untuk melengkapi administrasi,” kata Dokter.


“Baik, Dok.”


Rama yang menjadi wakil keluarga Denis akhirnya mengurus semua administrasi rumah sakit, menempatkan Denis di ruang ICU sambil menanti hasil laboratorium yang akan keluar sebentar lagi sambil menunggu diagnosa Dokter selanjutnya.


Dengan gerakan cepat, brankar pasien yang ditempati Denis di dorong menuju ruang ICU yang tidak jauh dari IGD.


Bu Sinta hanya bisa terduduk lemah sambil menatap sedih kondisi anaknya, terduduk sendiri tanpa ditemani siapa pun di sana karena Rama masih berkutat dengan administrasi yang memakan proses cukup lama karena ada banyak tanda tangan yang mesti ia bubuhkan di atas kertas.


Sesampainya di ruang ICU, tim medis langsung melakukan pemantauan dan tindakan.


“Monitoring tanda-tanda vital,” titah Dokter penanggung jawab ruang ICU.


“Baik, Dok.”


“Aktivitas abnormal pada tekanan darah dan frekuensi napas.” Lapor seorang perawat.


“Denyut jantung melemah.”


“Siapkan obat ampul peningkatan denyut jantung.”


“Baik, Dok.”


“Lakukan tindakan pemasangan ventilator (alat bantu napas).”


“Melalui hidung atau mulut, Dok?”


“Mulut.”


Perawat dan Dokter saling sahut menyahut, ketika melakukan tindakan di ruang ICU.


Tim Dokter menyiapkan semua alat medis pemasangan ventilator, selang berukuran cukup besar itu pun masuk ke dalam mulut Denis hingga tembus kebagian rongga dada untuk membantu pernapasan agar tetap stabil. Saat alat itu dimasukkan ke dalam mulut Denis, sudut matanya mengeluarkan bulir bening. Kesedihan dan rasa sakit tapi ia tak bisa melakukan apa pun, hanya bisa pasrah menerima keadaan.


Denis tak paham alat apa saja yang masuk ke dalam tubuhnya, yang ia tahu rasa sakit tak tertahan tapi tak bisa ia ungkapkan. Bahkan matanya hanya bisa tertutup rapat, tenaga pun tak punya. Rasa sakit mendera di seluruh badan, dari ujung kepala sampai ujung kakinya.

__ADS_1


“Pemasangan selang kateter, segera!”


“Baik.”


Dengan cekatan selang yang terhubung ke kantong urin terpasang juga ke bagian organ bagian bawah, saat pemasangan kateter kaki Denis sedikit bergerak. Ia masih memberikan respon di tengah kondisi yang tengah lemah.


“Pemasangan Nasogastric Tube (NGT), kondisi pasien sangat lemah sehingga membutuhkan selang makanan untuk mencukupi nutrisi harian.”


“Baik, Dok.”


Selang tipis panjang dimasukkan oleh Dokter yang dibantu perawat akhirnya masuk melalui hidung, turun ke kerongkongan hingga mencapai lambung. Bunyi alat medis saling berdentingan, suasana mencekam dengan kondisi kritis pasien. Bulir keringat memenuhi kening Dokter yang menangani.


Denis tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang pesakitan ketika semua alat yang pasti menyakitkan menempel di tubuhnya, hanya pasrah yang bisa ia lakukan. Matanya pun enggan terbuka, tertutup rapat.


Terakhir Dokter memasangkan kabel-kabel alat perekam aktivitas di jantung, semua alat di ruang ICU sudah menempel di tubuh Denis. Alat penunjang agar ia bisa bertahan hidup, entah sampai kapan ....


Layar monitor menunjukkan ritme detak jantung pun sudah terpasang, jangan lupakan suara khas monitor rekam jantung yang terus berdenting setiap detiknya tanpa henti.


**


“Bagaimana keadaan anak saya, Dok?” tanya Bu Sinta di temani Rama masuk ke dalam ruang dokter setelah hasil laboratorium sudah berada di genggaman dokter yang menangani Denis.


Kesedihan sangat kentara di wajah Bu Sinta, matanya merah begitu pun hidungnya, tangan Bu Sinta dingin seperti es. Beliau takut bahkan sangat takut ... Denis harapan kebahagiaannya kini sedang melawan maut karena sebuah penyakit.


“Tenang, Bu. Anda harus tetap tenang dan bisa mengontrol diri. Jangan sampai anda ikut sakit, karena jika itu terjadi semua akan lebih merepotkan. Denis butuh anda untuk bisa menemaninya,” saran Rama menenangkan.


Derai air mata kembali berduyun-duyun turun membasahi pipi, melihat kesedihan seorang Ibu di hadapannya membuat Rama iba. Ia merengkuh tubuh Bu Sinta, kemeja Rama basah oleh tangisan wanita yang sudah terlihat keriput di beberapa bagian wajahnya.


“Ini ujian, Bu. Bersabarlah dan berdoa, doa seorang Ibu mampu menembus Arsy.”


Bu Sinta mengangguk lemah dengan tubuh bergetar karena tangisan, Rama menuntun menelusuri lorong rumah sakit yang tidak jauh dari tempatnya sekarang menuju ruang ICU.


“Ibu yang kuat,” kata Rama ketika menuntun tubuh ringkih itu menuju ruangan di mana Denis tengah berjuang antara hidup dan mati.


Kini mereka sampai di sebuah ruangan berbatas kaca, seorang Dokter baru saja keluar dari ruangan ICU—tempat di mana Denis di rawat saat ini.


“Bagaimana kondisinya, Dok?” tanya Rama setelah mendudukkan Bu Sinta di kursi panjang depan ruangan.


“Masih kritis, sebaiknya kita bicarakan kondisi pasien di ruangan saya,” terang Dokter.


Hatinya hancur melihat Denis tergolek lemah sekarang, seandainya bisa memilih Bu Sinta rela menukar nyawa asal sang anak baik-baik saja. Rasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan di masa lalu belum juga mereda, kini ia dihadapkan kesedihan melihat kesakitan anaknya.


“Maaf, Bu. Jika pasien di ruang ICU tidak bisa di jenguk sekali pun keluarganya. Ini demi pasien juga, Bu. Seseorang yang masuk ke dalam ruangan ICU menandakan tubuhnya sangat lemah, virus mudah masuk ke dalam tubuh jika ada seseorang yang menjenguknya. Resiko tertular virus walaupun virus ringan tetap akan membahayakan pasien nantinya. Ruangan harus steril, begitu pun lingkungan,” jelas Dokter yang langsung memberikan penolakan sekaligus keterangan yang bisa dipahami Bu Sinta secara sederhana.


“Ibu bisa melihat kondisi pasien dari dinding berbatas kaca, tapi tidak diperkenankan masuk,” ucap Dokter menjelaskan lagi.


“Baik, Dok. Saya paham, itu juga demi kebaikan anak saya ‘kan?” tanya Bu Sinta lemah agar lebih meyakinkan dirinya kalau semua yang dilakukan tim medis adalah sesuatu yang terbaik untuk anaknya.


“Tentu saja.”


“Ibu mau ikut Rama ke ruang Dokter atau berada di sini?” tanya Rama menawarkan diri.


“Tentu saja ikut denganmu.”


Rama kembali menggandeng tangan Bu Sinta, menuntunnya ke ruangan Dokter yang tepat berada di samping ruang ICU. Mereka masuk ke dalam, di meja Dokter sudah terdapat hasil laboratorium yang sudah tentu akurat.


“Bagaimana kondisi anak saya, Dok?” tanya Bu Sinta.


Dokter membuka beberapa amplop berwarna putih yang didalamnya terdapat laporan hasil keseluruhan kondisi tubuh, beberapa amplop besar dan kecil sudah tergeletak di atas meja. Dokter membuka dan membaca seluruh hasil laboratorium yang masuk, meneliti dengan seksama sambil menuliskan sesuatu di rekam medis milik Denis. Wajah Dokter tampak serius, Bu Sinta semakin gusar.


“Terjadi penumpukkan cairan di bagian perut.”


“Perutnya pun tampak terlihat membengkak.”


“Ada memar di beberapa bagian tubuh, warna kulit dan bagian mata terlihat kuning.”


Dokter menjelaskan sambil menunjukkan satu per satu hasil laboratorium termasuk hasil Rontgen yang pada dasarnya tidak dimengerti oleh Rama atau pun Bu Sinta, mereka hanya mendengar penjelasan Dokter secara sederhana.


“Sampel darah menunjukkan kadar bilirubin sangat tinggi, pembekuan darah pun tidak normal. Kami sudah menguji tes fungsi hati. Hasil USG dan MRI menunjukkan terjadi kegagalan fungsi hati dalam fase kritis,” terang Dokter.


“Innalilahi wa innailaihi ro’jiun,” sentak Rama yang mendengar kabar buruk itu. Sementara Bu Sinta tidak begitu kaget walaupun denyut nyeri tetap dirasakan, karena ia sudah tahu Denis mengalami kegagalan fungsi hati.

__ADS_1


Bu Sinta membiarkan dokter melakukan serangkaian test untuk penegakkan diagnosa penyakit yang di derita Denis, ternyata rumah sakit mana pun sama mendiagnosa kerusakan pada hati. Padahal, beliau berharap hasil dari rumah sakit sebelumnya berbeda.


Suster yang mendampingi Denis tidak bisa berbuat banyak, karena setiap prosedur rumah sakit berbeda tentunya. Suster dari rumah sakit sebelumnya, hanya bisa memberikan hasil laboratorium terakhir, Dokter hanya melakukan beberapa rangkaian test yang memang diperlukan.


“Lalu apa tindakan selanjutnya, Dokter?”


“Kami akan melakukan biopsi terlebih dahulu, mengambil hasil sampel dari organ hati. Sebisa mungkin kita akan menyelamatkan sebagian fungsi hati yang masih bisa diselamatkan, semoga saja masih bisa. Jika kerusakan sudah total maka mau tidak mau mencari transplantasi hati.”


Deg!


Tranplantasi ... sesuatu yang tidak mudah pastinya, apakah Denis bisa bertahan selama menunggu seseorang yang berbaik hati mendonorkan salah satu bagian hatinya? Bu Sinta semakin khawatir dengan kondisi sang anak.


“Apa sebenarnya penyebab kerusakan hati, Dok?” tanya Rama yang penasaran dengan penyakit yang Denis derita.


“Alkohol penyumbang terbesar kerusakan hati yang di derita pasien bernama Denis.”


“Benarkah Denis meminum minuman laknat itu, Bu?” tanya Rama yang tak percaya.


Bu Sinta menganggukkan kepala membenarkan ucapan Dokter, “Benar, Nak. Kehancuran rumah tangga dengan Amanda membuat ia ketergantungan dengan minuman laknat itu, setiap malam akan pulang dini hari setelah puas menenggak minuman haram itu di klub malam. Semua ini salah Ibu, salah ibu!” teriak Bu Sinta kemudian yang kemudian membuat Rama semakin panik ketika tiba-tiba tubuhnya ambruk hampir terhuyung ke samping dan membentur lantai jika perawat yang tepat disampingnya tidak menangkap tubuh Bu Sinta dengan tepat dan cepat.


Rama membuang napas kasar, merutuki diri. Kenapa ia yang merawat keluarga mantan istrinya itu? Tapi tak bisa dipungkiri rasa kemanusiaan dan empati Rama begitu tinggi, ia pun rela membantu walaupun tubuhnya terasa lelah juga, belum lagi mengurus kepulangan Atma yang terpaksa tertunda karena dirinya yang sibuk mengurusi Denis dan kini Bu Sinta.


“Saya titip sebentar ya, Sus. Administrasi sudah selesai, ruang rawat inap pun sudah tersedia, anda bisa langsung memindahkan Bu Sinta ke ruang rawat inap tanpa menunggu saya,” kata Rama setelah Bu Sinta tertangani.


“Baik, Pak.”


Bergegas Rama keluar dari ruangan IGD dan kini menuju ruang perawatan Atma, ia mengambil napas dalam sebelum membuka ruangan itu.


“Bagaimana, Mas?” tanya Amanda yang penasaran dengan kondisi Denis.


Sedari tadi Amanda tidak bisa menghubungi Rama, karena ponsel tertinggal di atas nakas ruang rawat inap.


“Kita bicarakan nanti, Sayang. Sebaiknya kita pulang, aku akan mengantar kalian lalu kembali ke rumah sakit lagi.”


“Pa ...,” panggil Atma.


Rama langsung menghampiri Atma dan menggendongnya lalu mencium gemas pipi anaknya yang sudah tumbuh besar tapi selalu dimanjakan olehnya.


“Kita pulang, ready?” tanya Rama menatap manik mata Atma.


“Papa Denis?” tanya Atma ragu-ragu saat menanyakan keadaan Papa kandungnya.


“Sedang di rawat, hmm ... Nenek juga di rawat, Sayang,” terang Rama jujur apa adanya. Ia tidak mau berbohong karena pasti akan menimbulkan kebohongan lagi, lagi dan lagi untuk menutupi semuanya.


“Atma ingin bertemu Nenek, boleh?” tanya Atma.


“Asal Atma ikhlas dan tidak merasa terpaksa, tidak apa-apa, Nak,” sela Amanda yang langsung memberikan jawaban pada anaknya.


Senyum Atma tersungging, Amanda mengambil kursi roda, memasangkan masker di wajah Atma. Barang bawaan mereka sudah di taruh lebih dulu oleh supir pribadi ke mobil. Mereka tinggal melenggang begitu saja dari ruang rawat inap.


Setelah sampai di lantai 2, mereka keluar dari lift dan langsung menuju ruang rawat inap Bu Sinta yang memang sudah diketahui Rama.


Saat membuka pintu ruangan, isakan tangis memilukan terdengar menyayat hati. Perawat yang menunggu pun bingung harus menenangkan wanita tua di depannya itu dengan cara apa dan pada akhirnya hanya bisa menunggu Bu Sinta tenang sendiri.


“Bu,” panggil Amanda.


“Ini karma, Amanda. Karma untuk ibu jahat seperti saya, karma yang sungguh menyesakkan dan menyakitkan!” teriak Bu Sinta frustrasi dengan tangisan mengiringi.


Amanda memeluk Bu Sinta erat, mengelus punggung tubuh wanita yang pernah berstatus mertua. Lidahnya kelu untuk sekadar berbicara, wanita yang kini dipelukannya mengeratkan pelukan mereka, kesalahan demi kesalahan di masa lalu berputar di otak bagai rekaman yang tak berhenti berputar, menyesakkan dada Bu Sinta. Seandainya ... seandainya ... tapi nasi sudah menjadi bubur tak bisa di ubah dan sudah berlalu, percuma di sesali, percuma juga berandai-andai.


Percayalah! Karma tidak berjalan sendiri, ia selalu mengikuti di belakang dan menunggu saat yang tepat untuk menyadarkan seseorang. Akan tiba waktunya semua keadaan berbalik, yang menyakiti akan tersakiti, yang melukai akan dilukai ....


Di lain sisi, terlihat Dokter dan perawat tengah di buat panik ketika grafik detak jantung Denis menunjukkan penurunan.


"Siapkan kejut jantung!" titah Dokter.


~Bersambung~


Apa yang terjadi dengan Denis?


__ADS_1



Terima kasih like dan komentarnya ... semangat nulisnya pas lihat komentar pembaca, support terus cerita ini ya. 😍


__ADS_2