Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 14


__ADS_3

...Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar setelah baca part ini ya .... ❤️...


...Happy Reading...


"Mamaaaaaaaa ...." suara Atma menggema dari lantai atas kamar Mas Rama, Aku berlari kearah Atma, ya tuhan apa yang terjadi sampai Atma berteriak histeris seperti itu?


Tergesa Aku berlari kearah kamar Mas Rama, dan membuka pintu kamarnya, kulihat Atma berada diatas tubuh Mas Rama dengan memeluknya erat sambil menangis,


"Papa Rama meninggal Mama, hiks hiks hiks ...." ucapan Atma membuat Aku bingung, meninggal? Segera Aku mendekati tubuh Mas Rama, kuraba nadinya, masih berdenyut menandakan ia tidak benar-benar meninggal seperti apa yang dikatakan Atma


"Sayang Papa baik-baik saja nak, Atma menyingkir dari tubuh Papa, biar Mama leluasa memeriksa kondisi Papa, okey?" Mata Atma mengerjap, ada binar kebahagiaan terpancar dari wajah polosnya,


"Tapi Papa tidak bangun walaupun sudah Atma bangunkan." celoteh Atma, Aku terus mengecek kondisi Mas Rama sembari mendengarkan celotehan Atma dengan sesekali menjawab agar ia merasa tenang dan yakin bahwa Mas Rama baik-baik saja, Aku menuliskan resep serta perlengkapan yang dibutuhkan untuk memberikan cairan infus ke tubuh Mas Rama dengan meminta bik Tarsih membeli di apotik  terdekat.


Sementara itu Aku melonggarkan baju yang dikenakan agar pernapasan tidak terasa sesak, mengganjal kedua kakinya lebih tinggi agar membantu mengaliri darah kembali ke otak, menggosokkan minyak hangat aromaterapi dibagian dadanya, lalu memangku kepalanya diatas pahaku serta memposisikan kepala miring, sebenarnya Aku sangat canggung melakukan ini semua, tapi memang inilah pertolongan pertama yang seharusnya dilakukan ketika seseorang pingsan.


"Mas bangun, sadarlah!" Aku menepuk-nepuk pipinya dengan lembut, melihat Mas Rama tidak sadar walaupun sudah dibangunkan, tangis Atma kembali pecah. "sayang sudah jangan nangis ya, sebentar lagi papa Rama sadar kok."


"Atma mau Papa Rama, hiks hiks hiks ...." Atma memeluk tubuh Mas Rama sangat erat, Aku terharu melihat tingkah Atma, ia benar-benar menyayangi Mas Rama sepenuh hati. Kubiarkan Atma memeluk Mas Rama walaupun sambil menangis setidaknya ia nyaman berada didekatnya, kupandangi wajah tampan Mas Rama yang terlihat pucat. 'Apa yang terjadi denganmu Mas?' Monologku dalam hati.


"Mbak ...." Wajah bik Tarsih terlihat canggung saat membuka pintu kamar, mungkin melihat posisiku yang sangat dekat dengan Mas Rama saat ini, "ma-maaf ganggu Mbak, hanya ingin memberikan ini." ia menyerahkan sekantong yang berisikan semua pesanan yang Aku resepkan tadi dan meletakkannya dimeja samping tempat tidur. Aku berusaha meletakkan kepala mas Rama dibantal namun yang Aku lakukan terhenti kala tangan hangat Mas Rama menggenggam tanganku, menggelengkan kepalanya dengan mata tetap terpejam, Aku hanya diam mengikuti keinginannya. Aku menghela nafas panjang dengan memegang dadaku yang berdebar keras, debar ini Aku rasakan dulu ketika merasakan cinta dari Denis, apakah debar ini juga menandakan sesuatu telah hadir untuknya? Aku berusaha bersikap senormal mungkin menyembunyikan sesuatu yang Aku tengah rasakan saat ini.


"Kamu sudah sadar mas?" Ia mengangguk

__ADS_1


"Papa masih bisa bernafas 'kan? Papa masih hidup 'kan?" Pertanyaan polos Atma terlontar dari bibir kecilnya, kulihat wajah pucat itu tersenyum meski tetap terpejam.


"Papa hanya merasakan pusing, Atma jangan khawatir dan jangan menangis ya!" Kulihat senyum Atma mengembang, lalu ia menciumi wajah Mas Rama


"Atma sayang Papa, sayang banget, Papa jangan sakit ya, Atma takut kalau papa sakit." 


Tidak berapa lama Bik Tarsih kembali masuk kedalam kamar, sebelumnya Aku memanggil untuk meminta bantuan kepadanya.


"Bik minta tolong urus Atma, mandikan dan ganti baju seragam sekolahnya dengan baju yang ada di lemari kamar tamu."


"Baik mbak, ayo Aden ganteng." Atma pun melepas pelukannya dan menuruti perintahku untuk membersihkan tubuhnya. Kini tinggallah Aku dan mas Rama dikamar ini,


"Mas aku ingin memasang infus ditanganmu, maaf Aku letakkan kepalamu dibantal ya," akupun menggeser kepala mas Rama kebantal. "setelah dipasang infus, kamu harus tetap makan ya Mas biar energi cepat pulih," Aku melakukan pemasangan infus ditangannya, menyuapkan bubur serta jus buah untuk Mas Rama, akyu berusaha bersikap biasa saja walaupun sebenarnya debaran jantungku semakin kencang, selama Aku mengenalnya baru kali ini Aku sangat dekat dengan mas Rama, dan ternyata sangat berpengaruh dengan kesehatan jantungku.


"Cepatlah pulih Mas, kamu tidak lihat bagaimana khawatir dan sedihnya Atma melihat kondisimu saat tak sadarkan diri tadi? Anakku sangat menyayangimu." Aku menarik tubuh dari dekapan Mas Rama perlahan setelah kewarasanku telah kembali, Aku mengalihkan perhatian dengan sebuah pembicaraan untuk menghilangkan rasa gugupku.


"Apakah hanya Atma? Bagaimana dengan dirimu?" Pertanyaan yang dilontarkannya untukku membuat Aku bingung harus menjawab apa, karena akupun bingung dengan perasaanku saat ini, netra kami saling menatap satu sama lain dalam waktu beberapa menit tanpa mengeluarkan sepatah katapun, menyelami perasaan yang Aku dan dia rasakan, entah ini perasaan apa yang telah hadir dalam hatiku, apa hanya sekedar kenyamanan? Atau lebih dari itu, apakah Aku mencintainya? Kutepis pemikiran tentang hal yang terakhir yaitu Cinta, Aku harus bisa menjaga kepercayaan Kak Janu terhadapku bagaimanapun ia adalah calon suamiku.


"Mama, Papa, Aku sudah wangi dan rapih." belum sempat Aku menjawab Atma datang dengan setengah berteriak, untunglah Atma datang menyelamatkan Aku dari pertanyaan Mas Rama, Aku mengalihkan pandanganku dan menatap Atma yang mengambil posisi tidur disamping as Rama, menyandarkan kepala di dadanya sambil memeluk erat tubuh Mas Rama, iapun tersenyum dan mengusap lembut kepala Atma,


"Aku akan menemani Papa sampai sembuh, boleh 'kan kali ini kita menginap bersama papa?" tanya Atma padaku


"Tapi sayang ...."

__ADS_1


"Kali ini saja, Omma tidak ada dirumah, kasian Papa jika kita tinggal sendirian, bagaimana kalau Papa pingsan lagi?" Aku mempertimbangkan perkataan Atma, ada benarnya juga, baiklah kali ini Aku ikuti permintaan Atma. 


Aku meninggalkan Atma dan mas Rama berdua dikamar untuk membersihkan tubuhku yang terasa sangat lengket, setelahnya aku kembali untuk mengecek kondisi tubuh mas Rama, kulihat Atma sudah tertidur diranjang king size bersamanya, begitupun mas Rama yang sudah terlihat pulas. Akupun melipat tangan, menaruh kepalaku diatas lipatan dan memejamkan mata disamping tubuh mas Rama.


Mentari pagi menyapa, cahaya masuk dari sela jendela kamar ini, kurasakan kepala terasa berat seperti ada sesuatu diatas kepalaku, kuraba dengan tanganku, ternyata tangan kekar Mas Rama yang berada diatas kepalaku, apa semalam yang ia lakukan dengan tangan ini ketika Aku tertidur? Ketika Aku terbangun, Aku merasakan ada sesuatu yang salah dalam diriku. Kubuka tasku untuk mencari ponsel yang tidak Aku buka dari sore hingga pagi ini, kudapati banyak pesan dan panggilan dan menampilkan nama seseorang dilayar ponselku ....


"Assalamualaikum sayang, jangan lupa pesawatku berangkat pukul tujuh malam, ajak Atma ya" *emoticon tersenyum penuh cinta*


"Amanda kamu bisa 'kan mengantarku kebandara?"


"Kenapa pesan dan teleponku tidak diangkat?"


"Sayang, kamu dan Atma sudah sampai mana?"


"Sayang???"


"Amanda, kamu dan Atma baik-baik saja 'kan?"


"Lima belas menit lagi Aku akan pergi, kamu dan Atma datang tidak? Atau kamu sibuk?"


"Aku akan berangkat lima menit lagi, Aku harap kamu dan Atma baik-baik saja, meskipun kecewa kalian tidak bisa mengantarkan Aku, tapi tak apa, jaga diri kalian selama Aku tidak berada disisi kalian, aku sangat sangat mencintaimu Amanda, jagalah titipan cinta yang Aku berikan, Aku percaya padamu, love you calon istriku ...." 


"Jika Aku sudah sampai akan Aku kabari, dan jika kamu membaca pesan ini jawablah pesan yang Aku kirim!"

__ADS_1


Setelah membaca semua isi pesan yang dikirimkan Kak Janu, Aku baru mengingat bahwa tadi malam Kak Janu kembali ke Australia dan Aku berjanji akan mengantarnya namun Aku benar-benar melupakan janji itu dan malah berada disamping Mas Rama, Aku merasa bersalah pada kak Janu. Namun, Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena kondisi yang memaksaku terlebih Atma yang memintanya, Aku tidak bisa melihat Atma sedih dan kecewa. Bagaimana Aku menjelaskan pada Kak Janu? Berbohong? Atau jujur? Arghhhh ....


__ADS_2