
💕 Happy reading 💕
“Kak ...,” panggil Gita sambil menggoyangkan tubuh Janu yang sudah terlelap tidur lebih dulu.
“Iya, Sayang. Daren menangis?” tanya Janu yang langsung terkesiap duduk.
Melihat suami siaga disampingnya membuat Gita tertawa kecil saat suaminya gelagapan, ia terlalu keras membangunkan Janu sampai membuat sang suami terkejut seperti sekarang.
“Kak ... maaf, kaget ya?”
“Aku kira Daren menangis, kenapa Sayang?”
“Aku lapar,” kata Gita mengelus perutnya yang keroncongan.
“Lalu?”
“Daren baru memejamkan mata, aku takut saat berdiri ia kembali bangun dan itu akan merepotkan, Kak.”
“Lalu?”
“Ambilkan aku makanan di dapur,” pinta Gita dengan puppy eyes ke arah sang suami yang masih terlihat muka bantalnya.
“Nanti kamu gendut,” kata Janu.
Wajah Gita yang tadinya cerah langsung pudar, berganti dengan wajah tertekuk sempurna. Janu yang langsung menyadari perubahan ekspresi sang istri langsung menegakkan tubuh dan mencolek dagu Gita sambil menyunggingkan senyum.
“Kakak keberatan kalau Gita gendut, iya ‘kan? Gendut itu pasti membuat Kakak jijik saat dekat dengan Gita.”
Nah ... kan! Salah sangka, padahal Janu tidak bermaksud seperti itu. Gita sejak dulu sangat memperhatikan bentuk tubuh, seandainya gemuk pun tak masalah untuk Janu terpenting sehat dan baby Daren mendapatkan ASI yang cukup dari ibunya.
“Sayang, Kakak enggak ada maksud seperti itu, maksudku itu khawatir kamu nantinya menyesal ketika bentuk badan melebar. Selama ini kan kamu sangat menjaga postur tubuh agar tetap proporsional. Sungguh bukan jijik atau apa pun.”
Tangan Janu terulur, tapi langsung ditepis oleh Gita.
“Aku ngantuk, tidak jadi makan,” sungut Gita yang sudah kesal.
Gita merebahkan tubuh di atas ranjang, setelah itu merubah posisi memunggungi Janu. Tanpa berkata apa pun lagi, Janu bangkit dari ranjang king size. Melangkah keluar kamar, lalu menuju dapur.
Mommy Janu keluar di saat yang bersamaan untuk mengambil air putih di dapuy, beliau mengernyitkan dahi heran melihat Janu yang sekarang berada di dapur.
“Lapar, Jan?”
“Enggak, Mom.”
“Lalu, kenapa kamu sibuk di dapur padahal masih pukul 2 dini hari?” tanya mommy-nya sambil menuangkan air mineral ke gelas.
“Gita lapar.”
Decak kesal terdengar dari mulut mommynya, Janu menoleh, “Kenapa, Mom?”
Puk!
Lengan Janu di pukul pelan oleh mommynya.
“Seharusnya kamu menyiapkan cemilan di kamar, jadi kalau malam seperti ini tidak perlu repot mengambil makanan ke dapur. Lagi pula Ibu menyusui itu harus makan banyak dan bergizi biar ASI tetap lancar.”
“Harusnya Mommy kasih tahu Janu dari kemarin.”
__ADS_1
“Loh kok jadi Mommy yang salah?”
Janu hanya nyengir mendengar protesan dari mommynya, ia sudah menyiapkan segelas susu ibu menyusui, roti dengan isi daging serta buah.
“Aku duluan, Mom. Istri dan anakku membutuhkan ini,” kata Janu yang menyodorkan satu nampan menu makanan di atasnya.
Kemudian Janu masuk ke dalam kamarnya kembali, senyumnya mengembang ketika sudah menaruh nampan dan naik ke atas ranjang untuk membangunkan sang istri.
“Sayang, bangun!”
“Sayang ....”
“Jangan marah dong.”
“Aku sudah menyiapkan makanan supaya ASI untuk baby Daren berkualitas,” kata Janu.
Gita masih diam dan tak bergerak sedikit pun, Janu menarik tubuh Gita agar terlentang dan bisa berhadapan dengannya. Seketika Janu mengembuskan napas, jejak air mata sangat terlihat di pipi Gita yang berisi dan lebih menggemaskan untuk Janu.
Tangan Janu terulur, menarik sisi kanan dan kiri pipi sang istri sambil menyunggingkan senyum hingga gigi putih yang terlihat rata itu tampak.
“Jangan nangis, kan sudah jadi Ibu.”
Gita masih pura-pura tertidur, memejamkan rapat matanya. Janu memajukan tubuh, mencium mata kanan dan kiri lalu kening serta pipi Gita.
“Maaf ... sudah ya! Jangan nangis! Kalau mommynya nangis nanti Daren ikut sedih dan berujung rewel.”
Setelah mendengar ucapan dari Janu, Gita membuka matanya, mengerjapkan mata berkali-kali ke arah sang Suami.
“Kakak enggak masalah kalau aku gendut?”
“Enggak bakalan cari perempuan lain ‘kan?”
Tuk!
Janu langsung memberikan sentilan pelan di kening sang istri.
“Jangan ngelantur bicaranya! Ucapan doa, kamu mau aku benar-benar selingkuh karena tubuhmu yang melebar?” ucap Janu yang menakut-nakuti.
Gita langsung menggelengkan kepala keras mendengar hal itu diiringi wajah khawatir yang membuat Janu akhirnya tertawa kecil.
“Mommy Daren selalu buat gemas tiap harinya, untung cinta! Huhhh!” kata Janu dengan senyuman hangat.
“Tambah cinta,” kata Gita yang berhambur memeluk suaminya.
“Selalu belajar jadi istri dan Ibu lebih dewasa lagi, hmmm ...,” Kata Janu lembut.
“Hmmmm .....”
Bahagia ... ketika cinta bukan hanya saling menuntut kesempurnaan tapi menerima kekurangan pasangan.
**
Detak jantung Denis semakin melemah, alat seukuran kotak korek api ditempelkan pada beberapa bagian di area dada. Alat kecil bertenaga listrik yang digunakan untuk membantu jantung berdetak lebih teratur, tidak terlalu lambat atau cepat, sehingga jantung dapat memompa darah ke seluruh tubuh dengan optimal.
Pemeriksaan fisik secara keseluruhan sudah dilakukan, monitor holter yang menunjukkan grafik terus di pantau, grafik menunjukkan penurunan hampir membentuk garis lurus. Ruang ICU menjadi mencekam, kesibukan sangat kentara di dalam ruangan itu. Tim dokter melakukan tugas dengan sangat cekatan, ketegangan di dalam pun sangat tampak di wajah tenaga medis.
“Detak jantung sudah berada di bawah ambang batas.”
__ADS_1
“Atur laju minimum agar gelombang listrik pada jantung berkontraksi dan menghasilkan detak jantung lagi,” titah Dokter pada tim medis lainnya.
“Baik, Dok.”
Semua petugas medis mengikuti semua arahan dari Dokter yang menangani Denis di ruangan itu.
“Grafik semakin melemah.”
“Tekanan darah drop, Dok.”
“Napas tak beraturan.”
Perawat melaporkan kondisi Denis yang dilihat melalui monitor, Dokter fokus mengamati kondisi fisik Denis terutama bagian mata dan kondisi fisik lainnya.
“Baik kita akan tambahkan sedikit gelombang lagi, semoga kali ini bisa meningkatkan grafik. Perhatikan semua tanda-tanda vital pasien.”
“Baik, Dok.”
Bulir keringat semakin memenuhi kening Dokter, semua berusaha menstabilkan kondisi Denis. Beberapa kali dokter mengambil napas dalam dan kembali mengembuskan menetralkan perasaan tegang ketika melakukan penyelamatan terhadap pasien.
“Grafik sudah mengalami sedikit peningkatan.”
“Tekanan darah mengalami kenaikan.”
“Napas mulai teratur.”
Laporan perawat yang berada di samping Dokter sedikit membuat sang Dokter bernapas lega.
“Ayo, Pak. Bertahan ingat orang-orang yang menyayangi dan disayangi anda,” kata Dokter memberikan semangat secara verbal pada Denis.
Dalam kondisi koma seperti sekarang, pasien masih bisa mendengar hanya saja tidak bisa berbuat banyak ketika kondisi tubuh sangatlah lemah untuk sekadar berbicara satu patah kata pun.
Semua tim medis bernapas lega sekarang, detak jantung Denis kembali menunjukkan peningkatan.
“Pasien harus secepatnya mendapatkan donor hati,” kata Dokter memberikan catatan pada rekam medis Denis dan agar perawat menginformasikan hal ini pada keluarga pasien.
Di sisi lain ....
“Saya tetap mengajukan banding atas perceraian jika Denis tidak datang dalam proses di pengadilan,” tolak Vanya ketika pengacara yang mewakili Denis datang menemuinya untuk melakukan pendekatan secara internal agar persoalan perceraian yang sudah lama tidak menggantung seperti saat ini seperti apa yang di pinta oleh Denis.
“Dalam waktu tidak bisa ditentukan, Tuan Denis tidak bisa datang Nyonya.”
“Apa alasannya? Karena ia tidak berani menemuiku? Iya?!” desak Vanya sambil bersedekap dada.
“Bu-bukan, Nyonya.”
“Lalu, apa?”
“Karena ... Tuan Denis dikabarkan koma,” terang pengacara yang sontak membuat mata Vanya terbelalak kaget dengan jantung yang rasanya berhenti berfungsi beberapa saat.
~Bersambung~
Apresiasi karya author dengan like dan komentar ya agar level karya terbaca oleh sistem ....
Terima kasih untuk supportnya, ikuti terus cerita ini tanpa bosan. Semoga banyak makna yang di dapat dari cerita ini.
Love semuanya 💕
__ADS_1