Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 71


__ADS_3

đź’• Happy reading đź’•


“Carilah kebahagiaanmu, Vanya. Kamu selalu berdoa mendapatkan jodoh yang bisa menerima kekuranganmu, menjaga perasaanmu, dan juga bisa mendampingi dan membimbingmu setiap saat. Namun, ketika orang itu memilih berpisah denganmu, maka seseorang itu adalah bukan yang terbaik untukmu, bukan seseorang yang bisa membersamaimu dan itu aku ... kamu berhak bahagia Vanya,” ucap Denis dengan suara lirih dan ekspresi sendu.


Dada Vanya sesak terasa terhimpit ribuan ton hingga napas tercekat, bulir bening melapisi mata. Ia tidak menyangka Denis benar-benar akan melepaskannya setelah apa yang ia lakukan, pengorbanan dan bukti cintanya.


“Sungguh aku tidak pantas menjadi pendampingmu, aku—“


“Cukup Denis!” bentak Vanya yang air mata sudah luruh membasahi pipi, ia menghentikan ucapan Denis yang pastinya membuat hati tersayat perih.


“Tidak perlu diteruskan, sudah cukup! Aku tidak ingin mendengar ucapanmu lagi apa pun itu.”


Denis tercenung, ia diam dengan ekspresi sulit diartikan. Sungguh ia tidak ingin menyakiti hati Vanya yang begitu baik untuknya, hanya merasa tidak pantas berdampingan dengan Vanya karena ia terlalu baik dengan kesabaran dan ketulusannya.


“Kadang ada saatnya kita harus melepaskan dan mengikhlaskan karena ada suatu hal yang tak bisa dipaksakan yaitu cinta ... memang tidak mudah untukku, tetapi bertahan dengan satu pilihan yang hatinya entah untuk siapa akan menyakitkan.”


“Vanya ... maaf.”


“Hanya satu yang kuminta darimu Denis,” pinta Vanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


“Apa itu?”


“Ajari aku merelakan tanpa membencimu.”


Rasa bersalah Denis semakin besar, untuk kedua kalinya ia menyakiti perempuan yang tulus mencintainya setelah dulu menyia-nyiakan Amanda. Namun, ia tidak mau menyakiti Vanya ketika hatinya masih beku oleh cinta dan trauma masa lalu. Denis belum siap menerima cinta yang baru, menjadikan Vanya sebagai pelampiasan sungguh lebih tidak adil lagi untuk Vanya.


“Kita tetap akan menjadi teman walaupun tidak dalam satu ikatan pernikahan, agar aku bisa berdamai dengan masa lalu. Karena ketika aku memaksakan melupakanmu, maka akan terasa sakit. Biarlah semua berjalan apa adanya.”


Vanya menjulurkan tangan setelah sebelumnya menghapus air mata yang membasahi pipinya, ia berusaha tegar dan memang merasa sejak awal pernikahannya dengan Denis bukanlah sesuatu kebaikan. Mereka hanya korban ambisi orang tua masing-masing, Vanya menerima pernikahan itu karena bakti sebagai anak.


“Kita mulai hubungan, berawal dari teman ... kedepannya kita akan mengikuti takdir-Nya. Yakinlah Vanya, tulang rusuk tidak akan pernah tertukar. Kamu perbaiki dirimu di sana, dan aku akan perbaiki diriku di sini, sampai Tuhan menentukan takdir-Nya,” kata Denis menyambut uluran tangan, Vanya perlahan masuk ke dalam dekapan tubuh Denis, tangan Denis mengelus punggung tubuh Vanya dengan lembut.


“Jika memang ditakdirkan, semesta akan menyatukan kita dengan versi terbaik dari diri kita masing-masing, jika pun tidak aku yakin ada seseorang yang bisa membahagiakanmu, Vanya.”


Vanya mengangguk lemah dengan isak tangis yang tak tertahankan lagi.


**


“Sudah lebih baik, Mas?”


“Alhamdullilah, sedikit lebih enak, wajah tidak begitu nyeri seperti semalam, Sayang. Kamu tidak pulang untuk melihat anak-anak?” tanya Rama pada sang istri yang tengah mempersiapkan sarapan pagi ini untuknya.


Bukan sarapan enak khas restoran, hanya bubur lembut dengan suwiran ayam dan kuah santan kuning. Rama belum bisa makan yang keras karena pembengkakan pada bagian rahang yang menyulitkannya menelan makanan.


“Tidak, Ummik dan Mama sudah menemani anak-anak, Mas. Kamu sarapan dulu habis itu minum obatnya.”


“Siap Bu Dokter.”


“Duh! Melihat wajahmu aku ngilu sendiri, Mas. Rasanya pasti sakit luar biasa.”


“Hmmm ... aku sekuat tenaga melawan mereka, wajah istri dan anak-anak menyemangati agar aku tetap bertahan dan melawan supaya bisa selamat,” terang Rama sambil membuka mulut menerima suapan bubur dari Amanda.


“Terima kasih sudah bertahan dan melawan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Atma dan si kembar jika terjadi sesuatu padamu, Mas.”

__ADS_1


“Ini semua berkat doamu, istriku yang selalu mendoakanku,” kata Rama yang mencium punggung tangan sang istri yang membuat Amanda tersenyum.


Pintu ruang rawat inap terbuka, kepala Rio menyembul dengan cengirannya diikuti Dina dibelakangnya.


“Ya ampun ... kalian ini di rumah sakit masih romantis-romantisan,” celetuk Rio yang langsung mendapatkan cubitan di bagian perut oleh Dina.


Rio mendapatkan luka di bagian leher, untuk lebam di wajah tidak separah Rama. Setelah luka dijahit ia langsung diperbolehkan pulang tetapi sebelumnya ia dimintai keterangan sebagai saksi sekaligus korban oleh pihak kepolisian.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rama yang sudah selesai sarapan.


“Keadaanku seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Semalam kupikir itulah malam terakhir kita hidup Ram!” cetus Rio yang duduk di samping brankar dan Amanda memundurkan tubuh berdiri bersisian dengan Dina.


“Rio! Kamu bicara apa sih!” protes Dina yang tak suka dengan bercandaan Rio.


“Maaf ... maaf ... memang nyatanya seperti itu, Sayang. Kejadian begitu cepat dan sangat membuat panik, mereka bersenjata komplit sedangkan kita hanya tangan kosong. Beruntung sahabatku ini bisa bela diri,” puji Rio yang mendapatkan tinjuan di lengan dari Rama.


“Memangnya kamu yang hanya teriak histeris minta tolong seperti perempuan, menggelikan!” sindir Rama yang membuat Rio terkekeh karena memang ia tidak bisa bela diri seperti apa yang dilakukan Rama.


Gerakan menginjak dan menyikut perut itu murni spontanitas tanpa keahlian hanya ingin berusaha selamat dari peristiwa pengeroyokan itu, setelah kejadian pun Rio takjub sendiri bisa melakukan hal itu hingga dirinya bisa lepas dari jeratan pisau di leher dan hanya menyisakan luka goresan yang tidak begitu dalam.


“Aku sangat takut terjadi sesuatu dengan kalian,” ungkap Dina.


“Aku pun sama, Din,” timpal Amanda yang saat mendengar kabar pengeroyokan langsung membuat persendian terasa lemas


“Alhamdulillah kita masih dilindungi dan diberikan kesempatan berkumpul seperti sekarang,” sahut Rama dengan perasaan lega dan rasa syukur bisa melewati semuanya.


“Satu lagi yang masih menjadi ganjalan, Ram,” sela Rio.


“Apa itu? Bukankah semua kasus hukum sudah diserahkan pada pihak kepolisian dan kitabsudah mempercayakan kepada pengacara untuk memantau kasus hukum dan memastikan Herman mendapatkan hukuman seberat-beratnya.”


“Apa maksudmu, Rio?” tanya Rama yang tak mengerti jalan pikiran dan apa yang dipikirkan Rio terhadap Tasya.


“Apakah tidak ada rasa kasihan pada Tasya? Mengingat ia gila karenamu.”


“Rio!” tegur Dina.


“Apa maksudmu karenaku Tasya seperti itu? Kenapa kesannya aku yang harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi pada Tasya?”


“Bukan seperti itu, Rama. Ini murni karena rasa belas kasihan tidak lebih,” kilah Rio yang entah apa yang merasukinya bisa berpikir seperti itu.


“Aku yang menolak dengan tegas jika Rama ingin membantu Tasya, apa pun kondisinya. Karena itu semua demi keutuhan keluarga kami, Rio. Sungguh kali ini cara berpikirmu sangat sempit,” tolak Amanda tegas.


“Aku pun sependapat dengan istriku Rio, tak peduli menurut siapa pun aku tega berbuat seperti itu pada sahabatku sendiri. Terkadang egois diperlukan agar terhindar dari sesuatu yang akan merugikan diri sendiri dan orang yang kita cintai,” timpal Rama.


Dina hanya menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang dipikirkan suaminya.


“Aku hanya tidak tega dengan Tasya, tidak lebih. Sungguh akhir kisahnya begitu tragis, kerabat Tasya sedang mencarimu Rama ... tidak menutup kemungkinan mereka meminta hal yang sama seperti apa yang kukatakan, meminta belas kasihmu sebagai sahabat di masa lalu. Dan ... kuharap apa yang akan kamu jawab di depan keluarga Tasya sama tegasnya apa yang kini kamu katakan padaku.”


Rama mulai memahami maksud Rio, ini hanya kemungkinan yang akan terjadi menurut pemikiran Rio, dan bukan tidak mungkin akan terjadi. Salah satu kerabat Tasya meminta belas kasihan Rama untuk bisa menemani Tasya dimasa sulit setelah Herman dipenjara akibat perbuatannya.


“Aku tidak akan memberikan celah sedikit pun kepada siapa saja yang akan membuat rumah tanggaku hancur, Rio. Bagiku yang utama adalah istri, anak, dan orang tuaku tidak untuk yang lain,” tegas Rama yang membuat semua orang lega mendengar ketegasan Rama.


**

__ADS_1


Denis datang ke ruang rawat inap yang berbeda 1 lantai dari tempatnya di rawat menggunakan kursi roda, ia sejak awal sudah mengetahui bahwa mamanya lah yang mendonorkan hati untuknya. Hanya saja ketika sang Mama dalam keadaan kritis, Denis tidak diberitahu oleh Amanda dan tim medis lainnya.


Kondisi Denis sudah jauh lebih baik setelah beberapa kali mengikuti fisioterapi untuk memulihkan seluruh syaraf dalma tubuh agar bekerja secara optimal.


“Mama,” panggil Denis lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Sang Mama tersenyum tipis, haru bahagia menyeruak dalam dada, pengorbanan dan rasa sakitnya tidak sia-sia ketika kondisi sang Anak sudah terlihat sehat dan bisa menghampirinya saat ini.


“Jangan menyesal atas apa yang sudah Mama korbankan, Denis. Ini ganjaran setimpal ketika membuat hatimu mati oleh cinta yang Mama patahkan digantikan oleh organ hati Mama sebagai balasan atas apa yang mama perbuat pada hidupmu.”


“Tidak, Ma. Denis sudah memaafkan Mama, terima kasih untuk semuanya. Bakti seorang anak laki-laki ada pada ibunya, tapi tidak seharusnya Denis menuruti keinginan Mama yang salah. Seharusnya Denis tegas menetukan kehidupan rumah tangga Denis pada waktu itu, Denis pun bersalah Ma ... bukan hanya Mama yang salah,” ungkap Denis sambil mencium punggung tangan sang Mama dengan penuh Sayang.


Meski telah melakukan kesalahan, ibu tetaplah ibu. Kasih yang tak pernah pilih kasih, sayang yang tak berpenghalang, cinta yang tak pernah memudar meski rasa cinta Bu Sinta berujung penyesalan dan kesedihan seumur hidup untuk sang anak, tapi percayalah seorang ibu akan mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri untuk kebahagiaan anaknya.


**


“Papa!” pekik Atma yang berada di ambang pintu rumah utama menunggu Rama dan Amanda keluar dari mobil.


Ketika si Mbak dan mbok mengatakan Amanda dan Rama datang, Atma langsung berlari menanti seseorang yang sudah hampir seminggu tidak ia temui. Amanda memutuskan mengatakan kalau Papa Rama tengah sakit, walaupun btidak menjelaskan secara jelas kejadian yang sebenarnya.


“Sayang,” sahut Rama yang merendahkan posisi tubuh dengan merentangkan tanganndan tersenyum.


Wajah Rama sudah tampak kembali normal, hanya tinggal memar biru yang masih sedikit terlihat.


“Kangen,” ungkap Atma yang langsung memberikan kecupan ke seluruh wajah Rama begitu pun Rama yang membalas kecupan sang Anak.


“Duh! Yang dikangenin Papa saja nih, sama Mama enggak,” ledek Amanda.


“Mama habisnya tega, Atma enggak boleh lihat Papa dan menelepon Papa,” keluh Atma yang ditanggapi kekehan Rama.


“Sini Papa gendong,” kata Rama yang langsung mengangkat tubuh Atma sambi mendekap sangat erat karena gemas, ia pun merindukan anak sulungnya sebagaimana sang anak merindukannya.


Deru mesin mobil masuk ke area gerbang rumah Rama yang masih terbuka, semua menoleh untuk mengetahui, seseorang turun dari mobil. Semua mata membulat melihat keberadaan seseorang yang kini dihadapannya terutama Atma.


“Denis,” desis Rama dan Amanda bersamaan.


Denis melangkah perlahan, senyuman tersungging di sana walaupun rasa ragu hinggap dihati, rasa khawatir ditolak Atma masih ia rasakan sekarang.


“Turunkan Atma, Pa,” pinta Atma yang langsung dituruti Rama, sebelum melangkah ke arah Denis, Atma mencium pipi Rama.


“Atma sayang semuanya,” ungkap Atma tersenyum.


“Samperin Papa Denis, Sayang,” kata Rama yang langsung mendapatkan anggukan Atma, kemudian Atma membalikkan tubuh, berjalan ke arah Denis dengan langkah lebar.


“Papa ...,” panggil Atma yang langsung memeluk tubuh Denis hingga rasa hangat menjalari hati Denis dengan perasaan haru.


Mata Amanda berkaca-kaca melihat Atma yang kini tulus menyayangi Denis dengan pelukan hangatnya ... mencintai anak tidak cukup dengan ungkapan, tetapi meyakinkan anak bahwa orangtuanya juga mencintainya.


"Love you, Sayang," ungkap Denis menciumi seluruh sisi wajah Atma dengan penuh cinta.


"Love you too, Papa ...," jawab Atma yang menghapus jejak air mata di pipi Denis.


~Bersambung~

__ADS_1


Like dan komentar ....


Terima kasih supportnya untuk cerita ini, ikuti terus sampai Tamat ya ....🥰


__ADS_2