Pasca Cerai

Pasca Cerai
Part 66


__ADS_3

💕 Happy reading 💕


Bu Sinta menjalani rangkaian test sebelum melakukan donor hati, pemeriksa urin, USG, jantung dan sampel jaringan sudah sesuai dengan tahapan prosedur transplantasi hati. Jangan tanyakan berapa biaya operasi besar yang akan dilakukan Denis, biaya ratusan juta untuk bisa mengambil tindakan transplantasi hati. Uang bukanlah masalah, kesehatan terpenting untuk Denis dan Bu Sinta saat ini.


“Apa Mama yakin akan menyumbangkan hati untuk Denis?” tanya Vanya.


Denis masih berada di ruang ICU, ia tetap harus mendapatkan perawatan intensif, menjaga kondisi tetap stabil. Tak bisa ditemui sesuka hati, Vanya yang menemani Bu Sinta melalui hari-hari selama berada di rumah sakit.


Setia dan penuh kasih sayang, itulah Vanya. Ia menikah dengan Denis pun bukan karena keinginannya tapi karena bisnis orang tua Denis dan orang tuanya. Ketika cinta hadir untuk Denis dan orang tuanya malah menyuruh membenci dengan tegas Vanya menolak hal itu. Namun, bukan berarti ia ingin kembali.


Vanya tidak ingin melupakan atau pun membenci, biarlah semua mengalir apa adanya karena jika memaksakan untuk melupakan atau membenci seseorang maka yang terjadi adalah sebaliknya. Hati dan otak tidak akan sejalan jika harus dipaksakan, pikir Vanya.


“Iya, Van. Mama akan menerima segala resiko pasca operasi dilakukan.”


“Kenapa Mama melakukan hal ini? Mama bisa menggunakan uang yang Mama miliki untuk membeli hati orang lain yang memang cocok untuk Denis ‘kan?”


“Ya ... kamu benar, Mama memang memiliki segalanya tapi sayang mama tak memiliki hati ketika Atma lahir dengan keadaan cacat dan Mama memaksakan Denis menceraikan Amanda lalu tidak mengakui Atma. Tidak punya hati ‘kan?” tanya Bu Sinta. Bukan pertanyaan tepatnya refleksi diri dan sadar memang sedari dulu rasanya ia tak punya hati karena dibutakan harta.


Vanya mengangguk, membenarkan ucapan Bu Sinta dan tak mengelak kebenaran.


“Tuhan meminta hati mama agar bisa memiliki hati yang sesungguhnya, yaitu kasih sayang, cinta dan ketulusan yang seharusnya semua orang miliki termasuk mama.”


“Vanya akan mendukung apa pun langkah Mama dan berdoa agar semua berjalan dengan baik, sudahi semua penyesalan Mama, sekarang waktunya kita menata kehidupan dan kebahagiaan.”


Tangan Vanya melingkar di tubuh Bu Sinta, ia mendekap hangat, memeluknya untuk memberikan kekuatan dan semangat.


Amanda masuk ke dalam ruang rawat inap dengan snelli putih kebanggaan, rumah sakit swasta yang cukup besar tempat Amanda bertugas merupakan rumah sakit yang dikelola Abi Rahman dengan bantuan beberapa investor.


“Dua jam lagi operasi pengangkatan jaringan hati, Ma. Persiapkan diri jangan tegang yang akan mempengaruhi tekanan darah, berpasrah dan yakin semua akan baik-baik saja, Ma,” kata Amanda yang tetap memberikan penguatan berusaha mengesampingkan rasa kesal atas kejadian sebelumnya.


“Terima kasih, Amanda. Tanpa bantuanmu mungkin mama tidak bisa mendonorkan hati untuk Denis.”


“Bagaimana pun Mama adalah Nenek Atma, Amanda masih menghargai Mama sebagai orang tua, tanpa Mama tidak akan ada Denis dan juga tidak akan ada Atma di dunia ini,” kekeh Amanda mencairkan suasana, ucapan Rama selalu ia ingat dan berhasil membuat dirinya lebih menghargai dan melapangkan hati menerima wanita yang sudah berumur di depannya sekarang.


“Bagaimana pun zalimnya orang tua, sebagai anak kita tetap wajib berbuat baik dan berbakti. Walaupun sekarang Bu Sinta berstatus mantan mertua, tanpa beliau tidak akan ada Atma sekarang,” kata Rama kala Amanda menggerutu sikap Bu Sinta di hadapannya. Kalimat yang cukup meredam emosi sang istri.


Amanda, Vanya dan Bu Sinta saling melempar senyum. Jika memang tidak melakukan hal hebat, lakukan hal kecil tapi membuat seseorang menjadi hebat yaitu kelapangan hati.


“Bisa kita bicara, Amanda?” tanya Vanya saat mereka sudah berada di ruang rawat Bu Sinta.


“Tentu ... kita bicara di kantin agar lebih rileks,” ajak Amanda.


Mereka tiba di kantin rumah sakit, memesan makanan dan minuman dan duduk santai di salah satu sudut kursi kantin.


“Apa yang ingin kamu bicarakan Vanya?” tanya Amanda to the point.


“Titip Mama, aku lusa akan bertolak ke Austria,” kata Vanya sambil mengaduk jus jeruk dengan sedotan sebelum menyeruput sedikit minuman menyegarkan itu.


“Apakah ini sudah menjadi keputusanmu? Aku hanya memastikan, apakah kamu yakin, Vanya?”

__ADS_1


“Iya ... keluargaku sudah menunggu di sana, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”


“Bagaimana dengan hubunganmu dan Denis?”


“Setelah Denis sadar, dia yang akan menentukan. Apakah tetap melanjutkan pernikahan kita atau mengakhirinya.”


“Apa kamu tidak mau berusaha untuk mempertahankannya, Vanya? Bukankah kamu mencintainya?”


Vanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Amanda, pertanyaan yang menurut Vanya konyol.


“Hanya aku yang mencintainya, sedangkan dia tidak mencintaiku. Miris ‘kan? Kamu beruntung masih dicintai olehnya, Amanda.”


“Cinta segunung pun tidak akan menggoyahkan cintaku untuk Rama,” kekeh Amanda yang menganggap santai ucapan Vanya.


“Kan aku bilang, beruntung!” sahut Vanya yang dibalas senyuman lebar Amanda.


“Pergilah Vanya!” kata Amanda kemudian dengan ketegasan sambil menatap lekat lawan bicaranya.


“Kamu mendukungku?” tanya Vanya yang tak percaya dengan ucapan Amanda, ia kira Amanda akan bilang agar ia bertahan dan bersabar seperti apa yang dikatakan Bu Sinta.


“Ya ... sangat mendukungmu. Apa kamu mau tahu alasannya?”


“Tentu!”


“Denis tidak akan tahu seberapa dalam cinta yang dirasakan padamu telah hadir dihatinya tanpa ia sadari jika ia tidak merasakan sakitnya akan sebuah perpisahan, kamu hanya perlu meredam dan tetap tenang, Tuhan sudah merencanakan semuanya. Sekeras apa pun berusaha, sekeras apa pun kamu bertahan jika Tuhan tidak mengizinkan maka akan banyak cara Tuhan memisahkan, begitu pun sebaliknya. Tetap jaga harga dirimu sebagai seorang wanita yang patut untuk dicintai dan dipertahankan,” tutur Amanda yang langsung mendapatkan pelukan dari Vanya.


“You are the best friend, Amanda. Thank you so much,” ungkap Vanya terharu di saat seperti ini ada Amanda yang mau mendengar keluh kesahnya setelah apa yang terjadi di masa lalu.


“Nenek operasi, Ma?” tanya Atma saat ia tidak sengaja mendengar Amanda melakukan panggilan dengan salah satu dokter yang menangani operasi Bu Sinta untuk pengambilan jaringan hati yang ingin dicangkokkan.


“Iya, Sayang.”


“Bagaimana keadaan Bu Sinta, Sayang?” tanya Rama yang menutup laptop di depannya.


“Kritis, Mas. Tim Dokter sedang melakukan upaya yang terbaik, besok Denis akan melakukan operasi transplantasi hati, semoga tidak ada penolakan dalam tubuhnya setelah menerima cangkok hati dari Mama,” ujar Amanda yang terduduk lemas di sisi ranjang.


“Apa Nenek akan meninggal, Ma?” tanya Atma polos.


“Hustt! Kok anak Papa bicaranya seperti itu,” tegur Rama yang berdiri setelah merapikan meja kerja di sudut kamar mereka.


Seperti biasa si kembar sudah tertidur pulas di ranjang mereka, ketika tengah malam baru akan terbangun hingga pagi hari. Kamar yang ditempati Atma sengaja di desain untuk si kembar juga. Sangat luas, 3 kamar dijadikan 1 hingga menampung semuanya termasuk ruang kerja Rama agar bisa memantau anak-anak di sela aktivitas membuat desain.


“Lihat di TV, Pa. Kalau kritis biasanya kain putih menutupi wajah,” celetuk Atma.


Amanda mengulum senyum, ingin marah pun tak bisa. Atma ada benarnya, kondisi kritis pasti ada 2 pilihan selamat dengan kondisi labil atau benar-benar berhenti bernapas.


“Doakan Nenek dong, Sayang,” sahut Amanda yang ikut angkat bicara.


“Sudah dong, Ma. Setiap salat, Atma selalu berdoa untuk semuanya,” jawab Atma dengan cengiran.

__ADS_1


“Ya sudah, tidur. Lihat sudah jam 10 malam,” titah Rama yang mengecup dan menarik selimut sebatas dada.


“Nanti kalau adik melek, bangunin Kakak ya, Pa!” pinta Atma


“Oke,” jawab Rama lalu mengusap puncak kepala Atma dengan sayang.


Setelah memastikan Atma pulas, Rama menghampiri Amanda yang terduduk di sofa kamar sambil fokus ke ponsel yang ia pegang.


“Kenapa, hmmm?” tanya Rama yang memposisikan diri di samping sang istri.


Amanda menyodorkan layar ponsel ke Rama sambil menghela napas panjang, di layar terpampang jadwal ujian bagi Dokter yang ingin mengambil spesialis.


“Kamu jadi ‘kan?”


“Masih ragu, Mas.”


“Apa yang diragukan? Bukankah aku sudah mengizinkan kamu melanjutkan pendidikan?” cecar Rama yang bingung.


“Anak-anak,” kata Amanda menyandarkan kepala di bahu Rama.


“Kenapa dengan anak-anak? Ada Mama, Ummik, dan pengasuh. Apa yang dikhawatirkan?”


“Aku takut semakin jauh dengan anak-anak, bukan karir cemerlang yang kuinginkan sekarang, aku hanya ingin menjadi Ibu dan seorang istri yang baik dan mengabdikan diri untuk keluarga. Apa aku salah, Mas?” tanya Amanda ragu.


“Tidak salah, niatnya baik. Lalu apa yang sekarang kamu inginkan, hmmm?”


“Menikmati hari-hari seperti sekarang, pulang dari rumah sakit bisa bermanja sama suami dan bermain dengan anak. Aku masih berat meninggalkan anak-anak dalam waktu lama, jadi dokter residen dengan umur yang sudah tidak muda. Aku mundur, Mas.”


Rama mendekap tubuh Amanda dan merekatkan pelukan, gemas ... sebelum kembar lahir, Amanda menggebu-gebu ingin melanjutkan pendidikan dokter spesialis, sekarang semangatnya menciut karena alasan anak-anak. Galau!


“Setinggi apa pun pendidikan seorang perempuan, karier terbaiknya adalah diam di rumah. Bayaran tertinggi adalah Rida suami. Prestasi terbesar adalah mencetak anak yang baik, salih dan saliha. Namun, aku tidak akan saklak menerapkan hal itu pada istriku, terpenting kamu bahagia dan tidak melalaikan tanggung jawab. Jadi semua terserah pada istriku, Ibu dari anak-anakku,” ujar Rama yang diakhiri dengan kecupan di kening.


“Tambah cinta kalau kayak gini deh, duhh! Kamu harus tanggung jawab, Mas!” sahut Amanda yang mencium kedua pipi sang suami.


“Kode keras kalau seperti ini,” celetuk Rama yang diiringi gelak tawa mereka, tanpa aba-aba mengangkat tubuh Amanda menuju kamar pribadi mereka.


“Mbak, tolong jaga anak-anak!” seru Rama pas kebetulan pengasuh berada tidak jauh dari kamar mereka.


“Malu Mas, ish!!” kata Amanda menepuk pundak sang suami.


“Salah sendiri menggoda,” sahut Rama mengedipkan satu matanya sambil tersenyum penuh arti.


Mereka masuk ke dalam kamar, lampu kamar dimatikan terganti dengan lampu remang-remang menambah syahdu suasana ketika dua insan melebur dalam sebuah kenikmatan surga dunia.


Skip!


~Bersambung~


Support terus cerita ini ya sampai TAMAT jangan terlewat, love untuk semuanya.

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca sejauh ini, like dan komentar menyemangati selalu ditunggu 😍


__ADS_2