
Setelah selesai melakukan pembayaran,Abra membawa Jasmin keluar dari cafe.
''Kita mau kemana''?.tanya Jasmin binggung, karna sejak tadi Abra hanya diam saja tampa suara.
''Mas,antar pulang sekarang ya''?.Mas ada perlu mendadak soalnya,lain kali kita akan jalan-jalan''?.ngak apa-apa kan''?.melirik Jasmin sekilas.
Jasmin mengangukkan kepalanya,lagi pula ini sudah sangat malam,tubuhnya juga lelah dan butuh istirahat.
''Ayo masuk''.Jasmin hanya menurut saja, dengan cepat wanita itu memasuki mobil setelah pintu mobil dibuka Abra.
Didalam mobil hanya ada keheningan,kertas yang diberikan Alin tadi digengan Jasmin dengan kuat,entah kenapa dirinya merasa kertas ini begitu penting baginya.
''Sejak kapan kau mengenal Alin''?.tanya Abra dengan nada tak suka,tatapan matanya tetap pokus menatap jalanan.
''Baru saja,kenapa''?.Apa Bapak tidak suka saya mengenal teman dekat Bapak''?.kepalanya menoleh sekilas,detik berikutnya kembali pokus menatap jalanan yang ada didepan.
''Aku hanya tidak ingin kau terpengaruh dengan apa yang Alin katakan''.
Jasmin menoleh.''Maksud Bapak''?.
Abra gelagapan.''Eg-maksud Mas,jangan terlalu percaya dengan orang lain,oh ya minggu depan Mas akan melamarmu,dimana Mas harus datang melamar''?.jemari tangannya mengusap kepala Jasmin yang terkejut.''Mas serius denganmu''?.meraih jemari Jasmin dan mengecupnya lembut.
Dimana Abra harus melamar dirinya''?.sementara didunia ini dirinya tidak punya siapa-siapa''?.lalu jika dirinya menerima lamaran Abra,bagai mana dengan Ilham''?.
''Sayang''?.
Jasmin tersentak dari lamunanya,saat Abra menjentuh jemarinya kembali.tangan kirinya sengaja wanita itu sembunyikan disamping tubuhnya sebelah kiri,agar Abra tidak melihat apa yang ada didalam gengaman tangannya.
''Eh,iya Pak''?.menoleh sekilas.
''Mas harus,melamarmu dimana''?.
Jasmin menarik nafasnya panjang.''Saya tidak punya rumah Pak,rumah kedua orang tua saya sudah dijual''.wajahnya terlihat sendu.
''Kedua orang tuamu kemana''?.sungguh untuk hal ini Abra benar-benar tidak tau.
''Sudah meningal Pak''.wajah wanita cantik itu berubah muram.
''Oh maaf,Mas benar-benar tidak tau''.meraik jemari Jasmin dan membawanya kepangkuan.
''Tidak apa-apa''.
''Oh ya,itu tadi rumah kedua orang tua kamu dimana''?.pura-pura,kerna sebenarnya Abra tau dimana tempat tingal Jasmin dulu.
Jasmin menarik nafasnya berat dan mengatakan alamat tempat tingalnya dulu.
__ADS_1
''Ok,kau tenang saja,Mas akan mengambil rumah itu kembali''.
''Maksudnya''?.menatap Abra lekat.
''Ya,Mas janji akan mengambil rumah itu kembali''?.mengusap pungung tangan Jasmin yang ada dipangkuannya.''Itu akan menjadi hadiah pertunangan kita nanti''.
Apakah itu sebuah paksaan,tapi sungguh Jasmin begitu mengiginkan rumah kedua orang tuanya itu kembali pada dirinya.
''Sudah sampai,ayo turun''?.pinta Abra saat dirinya akan membuka pintu mobil miliknya,kakinya melangkah memurani mobil dan membuka pintu mobil penumpang.
''Cup''.mengecup kening Jasmin lembut, membuat wanita itu membeku.
''Pak''?.
''Masuklah''.Abra dengan cepat memotong apa yang akan jasmin katakan,kakinya dengan cepat memasuki mobil dan kembali meleset membelah kegelapan malam.jemari tangannya mencengkram stir mobil dengan kuat.''Berani sekali kau main-main denganku Alin''?.menyeringai sadis.''Kau belum tau siapa aku''?.menghentikan mobilnya tepat diApartemen Alin.
Detik berikutnya langsung keluar dari mobil dan melangkah dengan cepat menuju lantai paling atas,tepatnya diApartemen yang ditempati Alin.
''Alin''?.pangilnya setelah masuk kedalam Aparteman.
Abra tau kode Aparteman Alin karna aparteman yang ditempati Alin adalah miliknya.
''Alin,dimana kamu''?.suaranya mengelegar memenuhi seisi rumah.
''Abra kau datang''?.Alin melangkah dengan handuk melilit didadanya,kakinya melangkah mendekati abra,yang kini sedang menatap dirinya tajam.
''Cup''.
Titik.
''Aaarrrggg''.apa yang kau lakukan''?.Alin terpekik saat Abra mengores lengan mulusnya dengan sebuah pisau yang begitu tajam.
''Apa kau suka''?.kakinya terus melangkah mendekati Alin yang melangkah mundur,keringat dingin membawasi tubuh wanita yang hanya mengenakan handuk itu,kedua tangannya mencengkram handuknya kuat,agar tidak sampai terlepas,namun sesekali bibirnya meringis menahan perih yang berasal dari luka yang Abra goreskan.
''Apa yang kau lakukan Abra''?.lirihnya bergetar takut.
Abra tertawa lepas,tawa yang membuat bulu kuduk Alin merinding,bahkan tubuhnya semakin bergetar.
''Kau berani bemain api denganku,itu artinya kau sudah siap terbakar oleh api itu sendiri''.bibirnya menyeringai iblis.
''Glek''.
Alin meneguk salivanya kasar,sungguh seumur hidup berdekatan dengan Abra ini kali pertama Alin melihat kemarahan Abra.
''Aku tidak melakukan apa pun Abra''?.air matanya bahkan sudah mengalir deras.
__ADS_1
''Ha..ha''.Abra kembali tertawa lepas.''Kau pikir aku bodoh''?.pisau yang selalu iya bawa kemanapun dirinya pergi,kini menari-nari diwajah mulus Alin,membuat wanita itu menahan nafasnya karna ketakutan.
''Ampun Abra,aku tidak mengatakan apa pun pada Jasmin,ku mohon percayalah''?..wajahnya mengiba.
''Apa kata-katamu bisa dipercaya''?.mengusap Darah yang mengalir dari lengan Alin.
''Aaarrrggg,sakit Abra''?.Alin terpekik saat laki-laki itu menekan lukanya dengan pisau.
''Ini tidak sakit sayang,bukankah ini yang kau inginkan''?.tatapan matanya beralih menatap netra Alin lekat.''Kau sudah sangat lama kubiarkan berbamin-main dengan hidupku dan aku pikir sekarang saatnya aku bermain-main dengan hidupmu''.kakinya melangkah mendekati Sofa.
''Kupikir kau akan mati kehabisan darah malam ini, jika lukamu dibiarkan begitu saja''.mendaratkan bokongnya disofa,satu tangannya memainkan pisaunya yang mengkilat.
Alin menoleh pada lukanya,darah mengalir dengan deras.bahkan mengenai handuk yang dirinya kenakan.''Tolong aku Ra''?.tatapannya mengiba.bahkan pandangan mulai berkunang-kunang.
Abra bergeming.
''Tolong aku Ra''?.
''Bruk''.
Alin jatuh kelantai dan tak sadarkan diri.
Abra menyeringai,detik berikutnya meraih semartphobe miliknya dan menghubungi seseorang
''Bos''?.seorang laki-laki sekitaran 30 tahun kini berdiri tepat didepan dirinya.
''Urus wanita ini,dan obati lukanya''.sekesal apapun Abra dengan Alin,dirinya tetap tidak bisa menghabisi wanita itu,karna bagai mana pun Alin begitu berjasa dalam hidupnya.Alin selalu ada disaat dirinya terpuruk dan kebingungan,mencari keberadaan Jasmin dan jangan lupakan,tubuh Alin yang selalu memenuhi kebutuhan biologisnya.
''Baik Bos''.
''Jangan sampai dia kabur,atau''?.menatap laki-laki itu tajam.''Nyawamu taruhannya''.
''Baik Bos''.
Setelah mengatakan banyak hal Abra langsung keluar dari Aparteman Alin,tak lupa laki-laki itu membersihkan pisau kesayangannya terlebih dahulu.
Mobil Abra lajukan menuju sebuah Diskotok tempat biasa dirinya menghabiskan malam.menenggak minuman beralkohol sepertinya jauh lebih baik,dari pada dirinya pulang kerumah,mengurung diri dikamar seperti seorang wanita.
Hampir pukul tiga pagi akhirnya Abra memutuskan untuk pulang,setelah laki-laki itu mabuk berat.
''Bapak bisa pulang sendiri''?.seorang pemilik Diskotik berlari mendekati Abra saat melihat laki-laki itu sempoyongan keluar dari Bar.
🌟🌟🌟🌟🌟
Mohon dukungannya like vote hadiah and komen.
__ADS_1
Maaf masih banyak typo.🙏🙏🙏.
Tbc.