
"Baiklah, ibu yang tenang dulu ya. Wati akan nyusul ibu kesana sama mas Tarman. Ibu yang tenang dulu. Wati akan segera kesana!" sahut Wati panik dan menceritakan semuanya pada pak Tarman, dan akhirnya mereka langsung pergi menuju kantor polisi dimana Bu Tria tengah di periksa.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Melihat kedatangan Wati, Bu Tria menangis histeris, memeluk anaknya erat. Takut kalau akan dipenjara karena ulahnya yang sudah menyebarkan Vidio pak Suko.
"Apa yang harus Wati lakukan Bu?
Semua bukti mengarah ke ibu, ibu sengaja menyebarkan dan menjual Vidio syur itu.
Wati bingung Bu, gak tau harus bagaimana menolong ibu." Wati menunduk dan menangis sedih melihat keadaan ibunya yang shock dan mungkin juga akan masuk ke dalam sel tahanan.
Mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Kamu temui Suko, mohon maaf dan minta dia untuk mencabut tuntutannya. Karena ibu gak mau mendekam di penjara." Sahut Bu Tria lesu dan air matanya terus berjatuhan, menyesali perbuatannya yang tidak memikirkan akibat yang akan di terimanya.
"Baik, Bu!
Wati akan temui laki Suko dan memintanya untuk mencabut tuntutan. Tapi kalau pak Suko tak mau mengabulkan, ibu harus kuat, harus terima dan jalanin hukuman ibu." balas Wati dengan nada pasrah tak seperti biasanya yang selalu bersikap kasar dan tak mau tau.
"Tapi ibu GK mau tinggal di penjara, Wat! ibu gak mau!" sahut Bu Tria dengan tangis semakin keras, membuat tubuhnya terguncang hebat.
"Ibu berdoa saja, semoga Wati bisa membuat pak Suko mencabut tuntutannya." Wati memeluk ibunya erat dan berusaha untuk menenangkan sang ibu.
Bu Tria dibawa petugas untuk kembali ke sel tahanan, dan Wati pergi dengan perasaan hampa. Meminta pak Tarman mengantarkannya menemui pak Suko dirumahnya.
Dengan sabar pak Tarman terus mendampingi Wati dan memberinya nasehat, agar tidak menyalahkan siapapun, karena memang ibunya yang bersalah.
Setelah sampai di halaman rumah pak Suko, Wati turun dari mobil dan mengetuk rumah yang pernah ia tinggali dengan perasaan cemas juga takut.
Setelah beberapa saat akhirnya pintu pun terbuka, dan wajah Candra terlihat begitu dingin menatap kedatangan Wati.
__ADS_1
"Ada apa?" sapa Candra dingin dan tajam, tak ingin beramah tamah dengan orang yang sudah sangat melukai hati dan menghancurkan kebahagiaan keluarganya.
"Aku ingin bertemu ayahmu, ada yang ingin aku bicarakan." sahut Wati lirih dan menahan perasaan nya.
"Ayah sedang istirahat, ayah sakit dan itu atas ulah ibumu. Puas?" sahut Candra meninggi dengan dada bergemuruh, benci, marah dan juga kesal dengan semua sikap dan ulah Wati juga ibunya selama ini.
"Aku minta maaf, aku janji. Setelah ini tidak lagi mengganggu kehidupan kalian. Aku akan menikah, kenalkan ini mas Tarman calon suamiku." sahut Wati dengan nada bergetar dan juga mengenalkan pak Tarman sebagai calon suaminya pada Candra yang hanya memicingkan mata.
Pak Tarman memilih diam, karena tidak tau menahu masalah apa yang terjadi antara Wati dan Candra. Namun pak Tarman berusaha bersikap ramah pada Candra dengan menerbitkan senyuman hangat dan sopan.
"Pergilah, dan jangan pernah muncul dihadapan kami. Semoga benar yang kamu katakan, dan suamimu bisa merubah sikapmu itu jadi orang yang baik." sahut Candra tetap dengan sikap dinginnya, dan menutup pintu tanpa mau mendengarkan ucapan Wati lagi.
Wati ingin berteriak dan memanggil Candra kembali, tapi pak Tarman melarangnya dan memilih mengajaknya untuk pergi saja.
"Lebih baik kita pergi saja, sepertinya mereka tidak menginginkan kehadiran kamu dirumahnya. Aku tidak tau apa kesalahan kamu pada pemilik rumah ini, tapi aku harap kamu mau bercerita padaku dan nanti minta maaflah setelah keadaan sedikit membaik." pak Tarman menggandeng Wati dan kembali memasuki mobilnya, lalu pergi meninggalkan rumah pak Suko.
Selama diperjalanan, Wati mengatakan semua pada pak Tarman dengan apa yang sudah ibu dan dia perbuat kepada pak Suko dan keluarganya.
"Apa mas Tarman akan membatalkan pernikahan kita, setelah tau seperti apa kehidupanku dulu?" tanya Wati dengan suara yang serak menahan tangis.
"Gak, asal kamu janji akan berubah jadi orang baik. Aku mencintai kamu, Wati. Dan aku ingin kamu menjadi istriku yang baik dan lembut.
Apa kamu bisa melakukan itu untukku?" sahut pak Tarman serius, berharap calon istrinya mau mendengar kata katanya.
'Aku janji, aku akan merubah sikap dan juga kebiasaan ku yang buruk. Aku akan berusaha jadi istri yang baik buat kamu, Mas!
Asal, mas Tarman tidak menyia nyiakan aku dan tidak menyakiti hatiku." balas Wati penuh harap dan menggantungkan impiannya pada sosok pak Tarman.
"Baiklah, kita akan mulai dari awal dan membuka lembaran baru. Semoga kamu adalah wanita yang aku impikan selama ini, Wat!" sahut pak Tarman dengan senyuman hangat.
"Tapi ibu sedang di penjara, apa kita tetap akan menikah?" tanya Wati dengan mimik sedih.
__ADS_1
"Kita kan cuma ijab dulu, nanti kalau ibumu sudah keluar dari penjara. Baru kita rayakan dan bikin resepsi. Yang penting kamu halal duduk untukku. Dan kita bisa minta restu ibumu besok. Insyaallah semua akan baik baik saja. Percayalah!" sahut pak Tarman yakin dan bersikap dewasa.
Wati terlihat mengangguk lemah dan mengiyakan apa yang dikatakan calon suaminya. Berjanji tidak lagi berbuat jahat pada siapapun. Ingin menjalani hidup tenang dan nyaman bersama pak Tarman.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Wanita Berkubang Dosa
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1