
"Kenapa feeling ku gak enak dari tadi ya?" gumam Halwa lirih, duduk termenung di depan laptopnya. Menatap kata demi kata yang dia ketik dari layar datarnya itu.
"Semoga semua akan baik baik saja. Entahlah apa yang aku khawatirkan, kenapa dada ini tiba tiba rasanya begitu sesak?
Ya Tuhan, jauhkan aku dari niat tidak baik orang yang memiliki niat jahat padaku dan keluargaku!" doa Halwa di dalam hatinya, mengambil cangkir yang bersih kopi di hadapannya, meneguknya ringan dan menikmati aroma dari kopi sesaat, hingga pikirannya sedikit merasa tenang. Karena kopi selalu menjadi inspirasi dan teman di hari Halwa selama ini.
Setelah selesai menulis cerbung nya, Halwa bersiap siap ingin pergi ke toko, seperti biasa mengecek keadaan toko dan akan menjemput Hasna di asrama bersama Monika nanti siang. Kemarin Halwa dan Monika sudah janjian akan pergi bersama menjemput Hasna.
"Aku akan menghubungi Bella, kalau hari ini ada mbak Monika yang menemaniku menjemput Hasna. Biar dia tidak buru buru datang kesini." gumam Halwa lirih dan mengambil ponselnya mencari nomor Bella lalu menekannya dan sambungan telepon tersambung, Bella langsung mengangkatnya dalam beberapa detik saja.
"Hallo, bel!
kamu kerumah gak perlu buru buru, karena nanti mbak Monika katanya mau ikut temani jemput Hasna di asrama!
Kamu nanti langsung kesini saja ya, kuncinya aku taruh di tempat biasa." Halwa langsung pada pokok maksudnya menghubungi Bella.
"Okelah, kalau begitu.
Nanti aku akan ke rumahmu pukul dua siang saja, setelah selesai nganterin mana ke salon. Sekalian bawa belanjaan buat sovenir kamu nanti." sahut Bella santai dan mereka mengakhiri obrolan dengan salam dan kembali pada rutinitasnya masing masing.
Halwa beranjak dari tempatnya dan menuju kamar untuk berganti pakaian, gamis warna coklat polos jadi pilihannya. Kulitnya yang bersih semakin membuatnya terlihat begitu anggun dan cantik dengan pakaian syar'i nya.
Halwa pergi ke toko dengan mengendarai mobilnya, karena nanti akan langsung ke asrama untuk menjemput anak gadisnya. Dan berniat mengajaknya berbelanja ke mall, mencari baju dan sepatu buat Hasna.
Pukul sembilan pagi, Halwa sudah sampai ke tokonya, terlihat banyaknya pembeli yang antri di kasir, dan tatapan Halwa tertuju pada kaki kaki yang tengah duduk di salah satu kursi yang ada di dalam toko.
"Mas Yudha! Ada apa dia ada disini?" gumam Halwa dengan wajah mengerut, menarik nafasnya kasar dengan keberadaan Yudha di tokonya, perasaannya mendadak tidak enak, karena feeling tentang kedatangan Yudha pasti dengan niat yang tidak baik.
Yudha yang melihat kedatangan Halwa langsung berdiri dan tersenyum ramah. Dengan sikap sok akrabnya Yudha menghampiri Halwa yang melangkah tenang tanpa ingin perduli dengan Yudha yang terus senyum senyum melihat ke arahnya. Halwa sudah muak dengan sikap munafik mantan suaminya itu.
"Ada apa, Mas?
Kenapa kamu senyum senyum melihatku?" tegur Halwa dengan nada tegas dan terlihat raut tak sukanya menatap Yudha yang bahkan tak perduli jika dirinya tak disukai kedatangannya.
__ADS_1
"Terpesona dengan bidadari di hadapanku, kamu makin cantik, Wa!" sahut Yudha dengan gayanya yang membuat Halwa semakin muak berlama-lama bicara dengan sang mantan suami.
"Karena aku punya uang untuk merawat diri, tidak hanya di perlakukan sebagai babu di rumahmu. Sudah tidak dinafkahi tapi di peras tenaga juga uangku!" sahut Halwa dengan tajam, tatapan benci diarahkan pada Yudha yang masih dengan senyumannya, seolah kalimat Halwa terdengar biasa baginya.
"Sudahlah, jangan bahas yang tidak ke Ting seperti itu. Itu sudah berlalu, Wa!
Aku ingin kita balikan dan memperbaiki hubungan rumah tangga kita agar lebih baik lagi. Kasihan Hasna, dia butuh figur seorang ayah." balas Yudha dengan percaya diri, dan membuat Halwa menahan tawa mendengar ucapan mantan suaminya.
"Apa kamu bilang, mas?
Hasna?
Hasna butuh kamu, dan figur seorang ayah?
Gak salah denger aku, Mas?" sahut Halwa sinis, dan seolah ingin mengejek ucapan Yudha yang tak sadar dengan sikapnya selama ini dalam memperlakukan anaknya.
"Iya! Apa aku salah, kalau aku ingin memperbaiki kesalahan dengan menebus dosaku pada kalian?
Aku ingin kita rujuk, aku bisa membantu kamu menjaga toko dan mengawasinya, jadi kamu tidak perlu capek capek, cukup dirumah saja. Aku akan jadi suami dan ayah yang baik buat kamu dan Hasna!" sahut Yudha dengan tak tau malunya.
Jadi buang pikiran kamu untuk kembali denganku, karena aku tidak pernah Sudi!" balas Halwa dengan menekan emosi di dadanya, kesal dengan pikiran Yudha yang terlalu menyepelekan perbuatannya dan juga keluarganya selama ini.
Setelah Halwa terlihat kaya, Yudha dengan mudah meminta untuk kembali tanpa ada penyesalan dari perbuatannya selama ini.
"Jadi kamu menolak rujuk denganku, Wa?
Kamu akan menyesal karena sudah menolakku.
Hasna butuh aku, ayahnya!
Bukan sosok laki laki lain, jangan egois kamu!" Bentak Yudha emosi, karena Halwa menolaknya mentah mentah di hadapan orang banyak.
"Aku tau apa yang terbaik buatku juga anakku, Yudha! Jadi tidak usah kamu memaksaku untuk mengikuti mau kamu. Aku akan menyesal jika aku mau kembali dengan manusia seperti kamu, yang hanya datang jika itu menguntungkan buat kamu dan juga keluarga kamu. Aku bukan wanita bodoh yang terus mau kalian peras dan manfaatkan. Pergilah, karena aku muak melihat wajahmu itu!" balas Halwa dengan nada tak kalah emosi, rasa bencinya membuat Halwa berani melawan Yudha tanpa takut sedikitpun, dan itu membuat Yudha semakin emosi, tidak terima dirinya dipermalukan di hadapan banyak orang.
__ADS_1
"Kamu akan menerima balasan dariku, Wa!
Kamu sudah membuatku malu di hadapan banyak orang, kamu sudah sangat merendahkan harga diriku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan dengan pernikahan kamu itu. Calon suami kamu, akan aku buat menyesal karena sudah mengambil kamu dariku!" sungut Yudha tersulut emosi dan mengancam Halwa begitu saja tanpa perduli dengan tatapan orang orang yang ada disekitar.
"Apa yang akan kamu lakukan, padaku aku tidak perduli. Tapi jika kamu berani mengusik mas Dafi dengan apa yang tidak diketahuinya, kamu akan menyesal Yudha. Jangan pernah berani mengancam ku dan mencoba bermain main denganku, aku bukan Halwa yang dulu, aku akan membuat kamu mendekam ke dalam penjara sekali lagi, jika berani mengusikku." sahut Halwa tegas dan menatap tajam pada Yudha yang hanya menanggapi dengan senyuman miring dibibirnya, seolah ancaman Halwa tak berarti apa-apa baginya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️