Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
di bantu Bu Sarah


__ADS_3

"Saya sih tertarik ya, Bu! Tapi ya itu, harus bicara dulu sama suami. Nanti saya akan bicarakan sama suami saya, nunggu Mas Hadi pulang dari kantor ya, Bu?" sahut Bu Sarah hati hati, takut menyinggung Bu Imah yang memang memiliki cara berpikir yang unik dan mudah sekali marah.


"Hmm, apa gak mobilnya Yudha saja yang dijual, Bu?


Kalau rumah kok sayang ya, nanti Bu Imah juga repot cari kontrakan. Itu menurut saya sih Bu, tapi ya semua kembali sama Bu Imah nya gimana!" sambung Bu Sarah memberanikan diri mengatakan idenya pada Bu Imah yang langsung melotot dan mulutnya terlihat terbuka dengan apa yang disampaikan oleh Bu Sarah tetangganya.


"Wah! Boleh juga tuh idenya Bu Sarah!


Kenapa saya gak kepikiran ke situ ya, Ya ampun!" sahut Bu Imah senang dengan senyuman sumringah.


"Kalau begitu besok saya mau temui Yudha lagi di lapas, karena harus dapat ijin nya dulu, kan mobil itu miliknya Yudha.


Tapi saya gak tau cara jual mobil, takut kena tipu!" sambung Bu Imah cemas dan terlihat bingung.


"Tenang saja, Bu! Biar nanti dibantu sama mas Hadi, siapa tau ada temannya yang mau membelinya, asal surat suratnya lengkap ya!" balas Bu Sarah meyakinkan. Meskipun Bu Imah terkenal dengan sikapnya yang seringkali menyebalkan, Bu Sarah tetap tak sampai hati kalau harus cuek dan tak perduli seperti kebanyakan tetangganya yang lain, yang lebih memilih menjauhi Bu Imah karena sakit hati.


"Beneran Bu Sarah?" pekik Bu Imah senang, berharap Yudha menyetujui rencananya untuk menjual mobilnya, dan rumahnya terselamatkan, gak perlu lagi bingung nanti harus cari tempat lagi.


"Iya, Bu! Insyaallah ya!" sahut Bu Sarah ramah dengan wajah yang terlihat teduh.


"Em, Bu! boleh saya minta tolong sekali lagi?" sahut Bu Imah yang terlihat ragu ragu mau mengatakan sesuatu.


"Iya, Bu! ada apa?" balas Bu Sarah masih dengan sikap ramahnya.


"Itu, boleh saya pinjam uangnya?


Gak banyak kok, cuma satu juta saja. Buat pegangan selama mobilnya belum terjual. Saya butuh uang buat makan!" balas Bu Imah dengan lancar mengutarakan niatnya.


"Bu Sarah tersenyum, dan mengiyakan kalau Bu Imah ingin hutang uang padanya, menyiapkan hati untuk iklas dan menganggap itu sebagai niatnya untuk menolong tetangganya yang kesusahan. Lagian yang satu juta buat Bu Sarah sama sekali tak terasa. Jadi Bu Sarah tidak berpikir kedua kali untuk memberikan bantuan pada Bu Imah yang memang sedang kesulitan.

__ADS_1


Meskipun begitu, Bu Sarah tidak mengutarakan isi hatinya untuk meniatkan bantuannya sebagai sedekah, agar Bu Imah tidak bersikap seenaknya di kemudian hari.


"Ya, Alloh! Terimakasih banyak Bu!


Bu Sarah memang orang baik, saat semua tetangga menjauhi saya, Bu Sarah lah yang masih mau mengenal saya. Makasih banyak ya Bu.


Semoga mobilnya nanti cepat kaku dan Yudha setuju untuk menjualnya. Nanti pasti saya balikin uang Bu Sarah." Bu Imah langsung sumringah, akhirnya untuk beberapa Minggu kedepan, perutnya tidak lagi harus menahan lapar.


"Iya Bu, sebentar ya saya ambilkan dulu uangnya!" sahut Bu Sarah yang terlihat bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke kamarnya.


"Ini, Bu!" Bu Sarah mengulurkan uang pecahan seratus ribu dan lima puluh ribuan pada Bu Imah yang langsung dengan cepat menerima uang tersebut.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak Bu Sarah. Akhirnya saya tidak menahan rasa lapar lagi untuk beberapa hari ke depan. Sekali lagi terimakasih banyak!" balas Bu Imah dengan senyuman dan matanya nampak berkaca kaca sangking bahagianya.


Mendengar penuturan Bu Imah, hati kecil Bu Sarah merasa kasihan dan tidak tega melihat kehidupan tetangganya yang telah berubah drastis. Dari yang terbiasa hidup enak kini berubah susah bahkan mengaku kelaparan. Itulah roda kehidupan yang selalu berputar, tak selamanya kita berada di atas, ada kalanya bisa juga di bawah. Untuk itu, gunakan waktu sebaik baiknya dengan berbuat baik pada sesama. Tak perduli pernah jahat sekalipun pada kita. Karena be buat baik tak memandang bagaimana orang tersebut, jika memang kesusahan, bantu selagi kita mampu.


"Lihat tuh ada Bu Imah, kok tumben wajahnya sumringah gitu, dapat apa tuh?" celetuk Bu Ratmi menunjuk ke arah Bu Imah yang tak perduli dengan ibu ibu yang dari tadi memperhatikan nya.


"Sepertinya dari rumah Bu Sarah deh, pasti minta minta tuh, iya kan. Melas melas gitu buat dikasihani." Sahut Bu Endang yang tak mau kalah dengan suara yang dibuat tinggi, biar di dengar oleh Bu Imah.


Lama lama Bu Imah pun panas, celotehan ibu ibu tetangganya sudah keterlaluan, d Ngan sengaja menghinanya. Awalnya Bu Imah tak mau perduli, tapi kata kata yang dilontarkan terus mengusik pendengarannya.


Dengan mata melotot, Bu Imah menghampiri ibu ibu yang sedang berkumpul.


"Heh, punya mulut itu di jaga, gak usah ikut campur urusan orang lain, kalian saja gak ada yang bener kok, bisa bisanya menghinaku, malu lah, malu!" teriak Bu Imah tak terima, dan ibu ibu justru menahan tawa seolah ingin mengejeknya.


"Aku saja tidak nyusahin kalian, tapi kalian yang sibuk sendiri mengurusi hidupku. Ngirim ya?" sambung Bu Imah yang masih tak terima dan ingin membalas hinaan mereka.


"Eh, Bu Imah. Ngaca dong, gak punya kaca? sini aku kasih pinjam.

__ADS_1


Ngiri sama orang susah dan sombong, ih gak level." sahut Bu Endang dengan mulutnya yang mencebik, memang antara Bu Imah dan Bu Endang dari dulu tidak akur, mereka selalu bersebrangan dan saling iri. Melihat hidup Bu Imah sudah, membuat Bu Endang bertepuk tangan senang.


"Eh, Endang! Sudah gendut, jelek, miskin, kok masih nyinyir sama hidupku yang begini. Meskipun aku susah tapi aku gak pernah tuh minta bantuan sama kamu. Buktinya aku masih bisa makan enak. Dasar gak tau malu. Sudah ya susah saja!" balas Bu Imah tak mau kalah, tak terima dirinya di injak injak dengan hinaan mereka.


"Sudah! sudah! nanti di datangi pak RT baru tau rasa, jangan buat onar dirumahku." Bu Ratna menimpali pertikaian dua orang tetangganya yang tak ada mau mengalah di antara mereka.


"Kalian semua sama saja! Senang melihatku susah. Aku sumpahin kalian juga akan hidup susah bahkan lebih susah!" sungut Bu Imah kesal dan kembali meneruskan langkahnya pulang kerumah. Perutnya sudah sangat lapar, meladeni tetangganya yang julid akan semakin membuat perutnya melilit.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️


Happy ending ❤️

__ADS_1


__ADS_2