Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
abaikan


__ADS_3

"Gak kok, mbak!


Ayo silahkan masuk!" sahut Halwa senang, karena ada yang akan menemani ngobrol.


"Aku bawa cemilan, ada cilok, sama risol mayo.


Aku yang buat sendiri loh, ayo cobain! rasanya pasti bikin nagih." Monika menyodorkan dua kotak berisi risol dan cilok pada Halwa.


Dan mereka menikmatinya sambil ngobrol dan saling bercerita.


"Sudah sampai mana persiapannya, mbak?" tanya Monika membuka obrolan, sambil mengunyah cilok pedas bumbu kacang buatannya.


"Alhamdulillah sudah tujuh puluh persen, baju pengantin aku pilih yang simpel saja, dan masih terlihat sopan, lagian aku dan mas Dafi juga sudah tidak muda lagi. Malu, kalau harus bermewah mewah." Sahut Halwa tersenyum, dengan menikmati risol yang menjadi salah satu makanan kesukaannya.


"Alhamdulillah, aku ikut seneng loh, mbak Halwa dapat mas Dafi itu. Dia itu laki-laki baik dan sangat menjaga diri. Suamiku tau mas Dafi sejak jaman kuliah dulu. Orangnya pendiam dan tidak mudah tergoda sama perempuan. Dan mbak Halwa memang wanita yang istimewa untuk mas Dafi, buktinya dia melabuhkan cintanya sama mbak Halwa. Kara suamiku, kalian pasangan yang serasi!" Monika mengungkapkan apa yang diobrolkan dengan suaminya, Halwa jadi tersipu mendengarnya, dan Wajahnya merona, semakin terlihat cantik dan menggemaskan.


Saat asik ngobrol, ponsel Halwa bunyi, ada kesan yang masuk.


Tertera nama Dafi di notifikasi layar ponselnya.


"Mas Dafi, mengirim Vidio?" Halwa mengernyit dan menatap layar ponselnya, penasaran dengan Vidio yang Dafi kirim.


"Kenapa?" Monika memasang wajah penasaran melihat ekspresi Halwa.


"Mas Dafi kirim Vidio, bentar aku lihat dulu." sahut Halwa yang masih melihat ke arah ponselnya, jarinya menari indah membuka video yang dikirim Dafi.


Halwa dan Monika saling tatap mendengarkan suara dari Vidio yang terlihat gambar lantai saja.


"Kamu harus hati hati, mbak!


Wati itu licik orangnya, dia akan menghalalkan segala cara untuk menggagalkan pernikahan mbak Halwa dengan mas Dafi.


Saranku sih ya, jauhi wanita itu, dan jangan pernah mendengarkan dan percaya d Ngan ucapannya.


Dia akan membuat drama pastinya." Monika bersungut sungut, geram mendengar rencana licik Wati dengan ibunya. Hanya karena harta dan ambisinya, wakti juga ibunya, tak lagi peduli dengan hati dan perasaan orang lain.


"Iya, mas Dafi juga bilang seperti itu.


Tak habis pikir kenapa orang orang seperti mereka hanya ada harta dipikirannya. Bukannya bekerja keras, tapi malah mencari masalah." sahut Halwa santai, sudah terbiasa dengan orang seperti Wati, karena hidupnya selama bertahun tahun sudah dihadapkan dengan keluarga absurd seperti keluarganya Yudha.


"Ya setidaknya, mbak Halwa harus tetap waspada dan hati hati, jangan mudah terpancing apalagi termakan fitnah mereka, semoga acara pernikahan mbak Halwa dan mas Dafi lancar sampai hari H, abaikan manusia ondel ondel itu." sahut Monika terkekeh dan disambut tawa renyah oleh Halwa

__ADS_1


"Mbak Monika bisa saja bercandanya.


Oh iya, gimana pesanan kue nya di temannya mbak Monika, bisa kan menyediakan pesanan aku?" Halwa mengalihkan pembicaraan, tak ingin perduli dengan niat Wati dan ibunya. Lebih baik fokus dengan persiapan pernikahannya.


"Wes tenang saja mbak Halwa, pokoknya beres itu. Dan urusan tetangga disini juga sudah beres, ibu ibu siap membantu acara mbak nantinya.


Untuk urusan yang lain gimana, sudah beres juga ?" balas Monika serius, dan siap membantu apapun demi kelancaran acara pernikahannya Halwa yang sudah dianggap nya saudara.


"Alhamdulillah, sudah!


Bella dan keluarganya juga membantu.


Alhamdulillah, meskipun aku hanya sebatang kara, tapi Alloh mempertemukan aku dengan orang orang baik, seperti mbak Monika dan yang lainnya, Alhamdulillah! Terimakasih ya mbak!" Halwa mengucapkan rasa terimakasih dan bersyukur sebanyak mungkin, karena banyak orang orang baik yang hadir di hidupnya s bagai keluarga, meskipun tanpa ada ikatan darah.


"Alhamdulillah, mbak!


Percayalah, kebaikan akan selalu di balas dengan kebaikan pula. Mbak Halwa orang baik, dan pasti akan hadir orang orang baik yang menemani mbak. Insyaallah!" sahut Monika dengan mengusap punggung tangan Halwa lembut.


Sejak kepindahan Halwa di komplek elit, Monika merasa memiliki saudara perempuan, dan merasa cocok dengan kepribadian Halwa yang ramah dan juga santun.


"Oh iya, Hasna kapan liburan sekolahnya.


Nanti aku mau ikut jemput dia di asrama, duh anak gadis mbak Halwa itu, bikin aku merindu dengan anakku yang sudah tidak ada. Dia meninggal saat usianya delapan tahun, cantik Seperi Hasna." Monika mendadak sendu, matanya sudah berkaca kaca, teringat dengan anaknya yang sudah tiada, dan hingga kini, masih belum juga dikaruniai seorang anak lagi, meskipun sudah lepas KB dari tiga tahun yang lalu.


Mbak Monika juga orang baik, pasti kebaikan kebaikan yang lain akan mengikuti." Halwa tersenyum dan meraih telapak tangan Monika, menggenggamnya lembut, berusaha untuk memberi kekuatan lewat bahasa tubuh.


"Hasna, insyaallah akan pulang lusa. Nanti kita jemput sama sama kalau begitu.


Terimakasih ya mbak! mbak Monika sudah sangat menyayangi Hasna. Pasti dia akan sangat bahagia sekali." Sambung Halwa dengan senyuman hangat dari bibirnya yang tipis.


Terkadang kehadiran orang lain dalam hidup kita adalah sumber kekuatan yang tidak kita duga sebelumnya, berbuatlah baik dan selalu bersikap baik pada siapapun, insyaallah semua pasti akan baik baik saja.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Pagi-pagi, Yudha sudah bangun dari tidurnya.


Semalaman memikirkan cara bagaimana menaklukan kembali hari mantan istrinya.


Yudha. entar benar tidak rela kalau Halwa menikah dengan laki laki lain. Halwa harus jadi miliknya kembali.


"Tumben kamu sudah bangun, Yudh?

__ADS_1


Biasanya kalau belum terang, matahari muncul, kamu belum bangun. Mau pergi kemana kamu?" tegur Bu Imah pada anak laki lakinya yang justru cuek dengan ucapan ibunya.


Yudha memilih memasuki kamar mandi dan membersihkan diri.


Yudha berniat ingin menemui Halwa lagi ini di tokonya, meminta Halwa agar mau rujuk lagi dengannya.


Bu Imah yang merasa diabaikan ucapannya, kembali memilih diam saja, hanya matanya yang awas memperhatikan sikap anaknya.


"Semoga Halwa mau kembali lagi dengan Yudha.


Biar aku tidak lagi repot repot memasak kayak gini.


Huh repot sekali, sudah tua bukannya istirahat dan duduk manis saja dirumah, tapi ini seolah menjadi pembantu untuk anak anaknya, kenapa nasibku buruk sekali?" gerutu Bu Imah sambil menggoreng ayam di dalam wajan. Untuk menu sarapannya bersama kedua anaknya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


Happy ending ❤️


__ADS_2