
"Baiklah saya akan langsung saja ke tujuan saya menemui Bu Halwa. Karena sepertinya Bu Halwa orang yang tidak suka dengan basa basi. Maksud saya kesini, saya ingin lebih mengenal Bu Halwa dan berniat untuk meminta Bu Halwa menjadi pendamping saya." Tegas dan jelas, Dafi adalah laki laki yang sangat memiliki prinsip yang kuat, sekali dia punya tujuan, disitulah dia akan langsung memperjuangkan. Dan saat melihat Halwa hatinya langsung terpaut. Wanita cantik yang lembut tapi tegas, sudah mencuri hatinya.
Halwa shock mendengar apa yang baru saja Dafi ungkapkan. Dirinya masih beberapa hari menyandang status janda, kini sudah ada laki laki yang ingin melamarnya. "Ya Tuhan mimpi apa aku semalam." Batin Halwa kebat kebit.
" Maaf pak, apa saya tidak salah dengar? Dan apa pak Dafi tau bagaimana saya? Kita baru ketemu loh." Jawab Halwa dengan tatapan heran pada laki laki di hadapannya yang sangat mudah berbicara tentang perasaan, sedangkan mereka baru bertemu bahkan saling mengenal satu sama lain pun tidak.
" Iya saya tau, Bu Halwa baru saja berpisah dengan suami kan, dan sudah punya anak gadis. Saya akan menunggu masa Iddah Bu Halwa selesai. Dan saya juga akan mencoba untuk dekat dengan Hasna, insya Alloh saya akan menerima semua kekurangan dan kelebihan mu." Lanjut Dafi dengan sangat tenang, bahkan matanya begitu bening menatap Halwa yang dibuat salah tingkah karena sikapnya.
" Apa kamu tidak ingin tau siapa saya? Maaf saya sebut Bu Halwa dengan kamu, karena biar terbiasa dan dekat, tidak keberatan kan?" Sambung Dafi tersenyum.
" Iya, silahkan." Balas Halwa lirih namun masih bisa terdengar oleh telinga Dafi.
" Terimakasih. Dan apa kamu tidak ingin tanya s suatu tentang diri saya?" Dafi menatap Halwa penuh binar cinta di matanya, laki laki yang banyak dikejar wanita itu benar benar sudah jatuh cinta dengan wanita tangguh di hadapannya. Padahal, sejak istrinya meninggal, Dafi seperti menutup hatinya untuk wanita lain, tapi saat melihat Halwa getar di hatinya kembali tumbuh tanpa dia duga.
"Saya?" Balas Halwa bingung.
" Baiklah saya yang akan memperkenalkan diri kalau begitu, biar bisa jadi pertimbangan untuk menerima saya sebagai pendamping nanti." Balas Dafi tersenyum dan masih dengan tatapan yang membuat hati Halwa dirundung gelisah.
" Saya duda, istri saya meninggal saat melahirkan anak kami, dan anak kami juga tidak tertolong, saya harus kehilangan dua orang sekaligus secara bersamaan dua tahun yang lalu, usia saya sekarang empat puluh tahun, dan saya bekerja sebagai manager di salah satu bank swasta yang bekerjasama dengan proyek pembangunan perumahan di tempat Bu Halwa." Dafi mengatakan semua tentang dirinya tanpa ada yang ia tutupi.
Halwa terdiam, bingung harus bagaimana merespon, karena Halwa memang bukan perempuan yang pecicilan masalah cinta.
" Bagaimana, saya diterima?" Sambung Dafi setelah beberapa menit saling diam dalam kekakuan.
__ADS_1
" Saya, beri saya waktu pak. Dan saya juga masih dalam masa Iddah, tak baik jika harus bicara soal ini, takut menjadi fitnah." Jawab Halwa pada akhirnya dan Dafi bisa mengerti kegelisahan wanita yang sudah mencuri hatinya itu.
" Baiklah saya paham, dan saya akan menunggu waktu itu tiba. Pikirkan baik baik apa yang tadi sudah saya ungkapkan. Saya tidak akan mengganggumu dan akan kembali setelah masa Iddah kamu selesai. Saya harap, kamu sudah punya jawaban dari pertanyaan saya saat nanti saya kembali. Dan satu lagi, jangan panggil saya dengan sebutan pak, terlalu tua kedengarannya." Lanjut Dafi panjang lebar. " Panggil saja ' mas'. " Sambung Dafi sambil mengerling jahil ke arah Halwa yang langsung menunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah karena malu.
" Kalau begitu saya permisi, maaf sudah mengganggu waktu kerjanya, saya tunggu jawabannya ya." Pamit Dafi mengakhiri obrolan.
" Iya Mas, sama sama." Balas Halwa gugup.
" Alhamdulillah, bisa minta tolong, coba ulangi sekali lagi." Sahut Dafi menggoda, bahagia karena Halwa sudah mau menyebutnya dengan panggilan Mas bukan pak lagi.
Halwa merona, malu dengan apa yang baru saja dia ucapkan, apa lagi saat laki laki tampan dihadapannya iseng menggodanya.
" Yasudah aku tau kamu masih malu malu, nanti juga lama lama terbiasa." Balas Dafi dengan senyum merekah indah dari bibirnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan di tempat lain, Yeni maupun Yudha sedang meratapi nasibnya di dalam penjara. Kesombongan dan angkuhnya lenyap entah kemana. Bayangan penyesalan terus bermain di dalam hati mereka. Yeni menangisi sikapnya pada mantan suaminya, selama ini memang dia sudah keterlaluan, tidak pernah perduli dan hanya menginginkan uang dari jarwo saja. Penyesalannya ingin merubah segalanya untuk bisa kembali pada Jarwo sebagai istrinya lagi. Tapi itu sudah terlambat. Karena Jarwo sudah sangat terlanjur sakit hati dan sudah bahagia dengan anak dan istrinya sekarang.
Sedangkan Yudha, hanya bisa berharap Halwa dan Hasna bisa memaafkannya dan mau menerimanya kembali. Karena Dewi kekasihnya memilih untuk pergi mengakhiri hubungan mereka hanya karena malu dan tidak ingin ikut terseret dengan masalah keluarganya. Bahkan Dewi sudah jalan dengan laki laki lain dan melupakan Yudha seolah mereka tidak pernah punya hubungan apa pun, ternyata cintanya hanya sebatas itu saja. Yudha benar benar menyesal sudah mengabaikan Halwa dan Hasna yang kini justru hidupnya lebih baik dan terlihat bahagia tanpa dirinya.
Sedangkan Bu Imah, hanya bisa menangisi takdir anak anaknya yang kini mendekam di penjara. Tak ada lagi sikap angkuhnya, yang ada kini hanya kesedihan dan penyesalan. Menghabiskan masa tuanya dengan sendiri dan bahkan sekarang untuk menghidupi dirinya, Bu Imah harus berjualan kue keliling.
__ADS_1
Nasib tidak ada yang tau, takdir selalu tidak pernah bisa di duga. Hanya satu yang pasti. ketika kita menanam kebaikan yang akan kita petik juga kebaikan, pun dengan sebaliknya.
Yang menderita tidak selamanya menderita, karena roda kehidupan terus berputar. Tetap berusaha untuk terus melakukan kebaikan, insyallah kebaikan kebaikan yang lain akan mengikuti.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️