Pembalasan Istri Yang Terhina

Pembalasan Istri Yang Terhina
Kebencian Wati


__ADS_3

Mereka sangat menikmati momen kebersamaan, sudah tidak lagi ada rasa canggung seperti awal awal pertemuan. Halwa maupun Dafi sudah sama sama merasa nyaman dengan satu yang lain.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap penuh benci ke arah mereka.


Mata yang sedari tadi tak pernah lepas dari memperhatikan keberadaan Halwa dan Dafi.


Kebencian dan rasa tak sukanya kian menggerogoti hati wanita yang dilanda rasa cemburu yang begitu hebatnya.


Ada rasa tidak terima dan ingin menghancurkan hubungan diantara Dafi dan Halwa, bagaimanapun caranya.


"Kalian boleh bersenang senang sekarang, karena setelah ini, kalian akan menangis karena kehilangan cinta yang sudah kalian banggakan itu.


Dafi harus jadi milikku, apapun itu aku harus bisa mengambil Dafi dari wanita itu."


Wati mengepalkan kedua tangannya, menatap nyalang ke arah Halwa dengan kebencian.


Wati sengaja mengikuti Dafi, ingin tau dimana harus mencari Halwa, Wati akan membuat perhitungan dengan Halwa. Apalagi melihat Halwa tengah bahagia diperlakukan Dafi dengan sebegitu manisnya. Membuat Wati semakin dibakar rasa cemburu dan dengki di hatinya.


Setelah selesai makan siang Dafi harus kembali ke kantor, karena jam istirahatnya sudah hampir habis.


Sebelum kembali ke kantor Dafi mengantarkan Halwa ke tokonya lebih dulu.


"Aku balik ke kantor dulu ya, nanti pulang jam berapa dari toko?" Sebelum kembali melanjutkan perjalanan Dafi ingin mengobrol dan memberi perhatiannya pada Halwa. Ingin selalu dekat dengannya.


"Paling jam lima sore mas!


Nanti sekalian mau tunggu Bella dulu, mau sama belanja." sahut Halwa bicara apa adanya, tanpa ada yang ingin ditutupinya.


"Baiklah, hati hati ya.


Naik mobil kan?" sahut Dafi dengan tatapan penuh diarahkan pada wanita yang kini menjadi prioritasnya.


"Iya!" balas Halwa singkat dengan senyuman yang sangat manis dan tampak begitu meneduhkan di mata Dafi.


"Kalau butuh sesuatu atau bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi aku.


Dan satu lagi ada yang ingin aku sampaikan, tapi aku harap kamu tidak terpengaruh dan salah paham, bahkan berpikiran yang tidak tidak nantinya." Dafi menatap lekat wajah calon istrinya yang terlihat langsung mengerutkan dahinya, Halwa menatap penuh selidik dengan rasa penasaran.


"Tadi aku melihat Wati tengah mengikuti kita.


Aku rasa dia punya niatan jahat dengan hubungan kita ini.


Perlu kamu tau, Wa! dia menyimpan perasaan suka padaku sejak dulu, dan bahkan sering berbuat nekad dengan merendahkan dirinya untuk bisa membuatku bertanggung jawab.

__ADS_1


Tapi Alhamdulillah, Alloh masih menjaga dan melindungi ku dari perempuan seperti Wati, dari ambisi dan kenekatannya itu.


Aku harap kamu lebih berhati hati dengan dia, dia itu licik dan nekad. Bisa melakukan apapun kalau sudah punya tujuan.


Entahlah, aku jadi was was meninggalkan kamu sendirian." Dafi sangat khawatir dengan keselamatan Halwa, karena Dafi tau siapa Wati, wanita itu akan nekad melakukan apapun demi mewujudkan ambisinya yang gila itu.


"Insyaallah aku akan baik baik saja Mas!


Dari acara lamaran kemarin, sedikit banyak, aku sudah paham bagaimana Wati. Kamu gak usah khawatir, insyaallah aku akan baik baik saja. Dan akan memilih lebih mempercayaimu dari pada perempuan itu." balas Halwa tegas, meyakinkan pada Dafi kalau semuanya ajan baik baik saja.


"Baiklah, aku percaya kamu!


Tapi kalau ada apa apa, hubungi aku segera.


Dan kamu tau taksi di belakang kita. Jangan menoleh cukup kamu tau saja!


Didalam taksi itu ada Wati. Entah apa yang akan dia lakukan. mungkin menungguku pergi dan menemui kamu, atau akan kembali mengikuti ku dan membuat ulah lagi. Entahlah!


Kamu turunlah, aku akan pura pura menjauh, kalau dia berniat bikin ulah sana kamu, kamu tenang saja, aku akan menjagamu. Aku sayang kamu, Wa!" jelas Dafi penuh dengan kekhawatiran akan keselamatan calon istrinya dengan kenekatan Wati, anak tiri dari pamannya.


Halwa turun dan melambaikan tangan dengan senyuman sumringah pada Dafi.


Dafi pun kembali melajukan mobilnya meninggalkan pelataran toko milik Halwa.


Karena setelah kepergian mobilnya Dafi, Wati langsung keluar dari taksi dan menuju ke toko dengan sikap angkuhnya.


Halwa yang sudah menyadari kehadiran Wati, bersikap sangat tenang dan menyambut Wati dengan santai. Bersikap biasa saja dan justru menunjukkan sikap ramahnya yang membuat Wati muak dengan Halwa.


"Aku harus bicara sama kamu, karena ini sangat penting, aku ingin kita bicara di tempat yang hanya kita berdua saja." Wati sedikitpun tidak mau beramah tamah, wajah angkuhnya dan sikap sinis nya membuat Halwa tau, jika wanita di depannya begitu sangat membenci dirinya.


"Apa yang mau mbak Wati bicarakan?


Bicarakan saja disini, ikut saya keruangan saya saja. Karena saya tidak bisa meninggalkan toko lama lama." sahut Halwa santai dan masih dengan bersikap tenang, meminta Rudi untuk mengawasi sisi tivi yang ada diruangannya saat nanti dirinya masuk bersama Wati, Halwa minta Rudi untuk waspada jika terjadi sesuatu antara dirinya dan Wati melalu cctv, Halwa juga bilang kalau tidak akan mengunci pintu, Halwa sudah menyiapkan diri jika Wati akan berbuat nekad.


"Baiklah, tapi aku ingin hanya kita berdua saja. Ingat itu!" sahut Wati dengan menekankan kalimatnya. Halwa mengangguk dan berjalan menuju ruangannya, matanya melihat ke arah Rudi yang langsung mengangguk paham.


Rudi langsung standby di depan laptop dan membuka rekaman cctv di ruangannya Halwa.


Bahkan Rudi juga sudah sangat waspada jika bosnya membutuhkan bantuan.


Di dalam ruangan, Wati langsung duduk begitu angkuhnya tanpa menunggu untuk dipersilahkan.


"Apa kamu yakin akan menikah dengan Dafi?" Wati menatap tajam pada Halwa yang juga sudah duduk dihadapannya dengan santainya.

__ADS_1


"Sangat yakin, karena mas Dafi pilihanmu." sahut Halwa tenang dan tersenyum tipis membalas tatapan Wati yang semakin penuh dengan kebencian.


"Jangan mimpi dia mencintai kamu!


Dafi milikku, kami sudah melakukan hubungan berkali kali, jadi bohong kalau dia bilang mencintai kamu!" balas Wati mengarang cerita untuk menjatuhkan mental Halwa, agar hilang kepercayaan terhadap Dafi, hingga hubungan mereka berantakan.


"Owh!


Tapi aku terlanjur jatuh cinta pada calon suamiku, kami akan menikah dalam waktu dekat, persiapan sudah hampir enam puluh persen. Gimana dong?" Halwa tetap bersikap tenang, mencoba untuk menolak ucapan Wati tentang Dafi, karena Halwa percaya, Dafi tidak akan melakukan perbuatan sekotor itu.


"Apa kamu itu bodoh atau justru kamu gak laku?


Sampai kamu tetap ingin meneruskan hubungan dengan laki laki yang sudah jelas menjalin hubungan dengan perempuan lain.


Dafi milikku, jangan pernah kamu berniat untuk mengambilnya dariku!" Wati menatap benci pada Halwa yang terlihat begitu santai menghadapi emosinya, tak terpengaruh sedikitpun. Semakin membuat Wati gusar dan semakin dibakar oleh perasaannya sendiri.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.


#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)


#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)


#Coretan pena Hawa (ongoing)


#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)


#Sekar Arumi (ongoing)


#Wanita kedua (Tamat)


New karya Hawa


#Negeri dongeng Alisia


#Kasih sayang yang salah


#Cinta berbalut Nafsu


Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.


Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️

__ADS_1


Happy ending ❤️


__ADS_2