
"Cari bantuan kemana Bu?
Yudha tidak tau harus bagaimana?" sahut Yudha cemas dan tidak ingin mencari bantuan, karena merasa sudah cukup dan tak butuh bantuan orang lain.
"Kamu ya yudh!
Kakaknya kesakitan gini, masih saja kamu mengedepankan egomu itu. Gak suka ibu dengan sikap kamu ini!" sungut Bu Imah kesal.
Dan Yudha hanya menanggapi cuek, tak memperdulikan ocehan ibunya.
"Yudha!" bentak Bu Imah kesal, dalam keadaan genting, Yudha masih memikirkan gengsi dan hanya memikirkan dirinya sendiri saja, padahal kakaknya tengah menghadapi kematian.
"Iya! Iya!" sungut Yudha yang lantas berdiri dan keluar rumah mencari bantuan.
Yudha langsung kerumah Wulan, Perempuan yang sudah mengajak mereka meminta bantuan pada Mbah Muro.
Saat Yudha datang dan menceritakan apa yang tengah Yeni alami, Wulan langsung ternganga dengan mata yang melotot.
"Apa?
Itu artinya kirimannya kembali pada yang mengirim dan Yeni menjadi sasaran para jin itu.
Ini gak boleh dibiarkan, kita harus segera bertindak, yudh!" sahut Wulan dengan nafas memburu, tau yang tengah Yeni akan akan mengancam keselamatan nyawanya.
"Terus kita harus gimana, kan ini juga idemu!
Kalau sampai mbak Yeni kenapa kenapa, kamu pasti akan berurusan dengan ibuku. Huft!" sengit Yudha dengan tatapan sinis dan wajah lelah, mengikuti mau kakaknya, hingga dia mengabaikan rencananya untuk membawa Hasna dan membuat Halwa mengiyakan keinginannya.
"Kalau begini, urusanku pasti akan tertunda lagi, Merepotkan saja kamu, mbak!" sungut Yudha dengan wajah kesal dan dada meletup letup. Kalau saja bukan karena ibunya, Yudha ogah mengurusi masalah Yeni.
"Ayo yudh, kita kerumah kamu. Aku mau lihat benar apa gak yang aku pikirkan." Wulan dengan cepat berjalan di depan Yudha, tak sabar ingin lihat keadaan Yeni. Karena Wulan punya firasat buruk, kalau Yeni kena tulah dari kirimannya sendiri.
Dan benar saja, saat Wulan melihat keadaan Yeni, Wulan langsung tercengang, tak menyangka Yeni akan mengalami nasib sial dari perbuatannya sendiri.
"Nak Wulan, tolong anak ibu, nak!" Isak Bu Imah saat melihat kedatangan Wulan, berharap Wulan bisa membantunya membuat Yeni sembuh dari rasa sakitnya.
"Iya, Bu! Wulan akan kerumahnya Mbah Muro.
Yeni harus segera ditangani, karena nyawanya bisa terancam." sahut Wulan serius dan meminta Yudha untuk mengantarkan kembali ketempat mbak Muro, dan Wulan meminta Yudha untuk membawa uang serta bunga, untuk jaga jaga jika Mbah Muro meminta bayaran lagi.
Meskipun dengan kesal dan hati yang terus menggerutu, Yudha tetap mengantarkan Wulan ketempat yang membuatnya bergidik ngeri. Semua dilakukan karena perintah Ibunya.
__ADS_1
Yudha mengambil uang Yeni sebanyak sepuluh juta, untuk jaga jaga dan buat pegangan di jalan atas ijin Bu Imah juga.
Wulan dan Yudha dengan menaiki mobilnya Yeni, langsung meluncur ke tempat mbak Muro yang tempatnya cukup jauh dan terpencil, bahkan bisa dibilang terasing, karena jauh dari pemukiman warga.
Saat Yudha dan Wulan sudah sampai, Mbah Muro langsung meminta tamunya masuk ke dalam.
Yudha dan Wulan pun menuruti perintah Mbah Muro. Padahal sewaktu dirumah, Yudha begitu kesal dan malas, namun saat kakinya menginjakkan tanah di tempat Mbah Muro, seketika kerasan kesal itu hilang, berganti rasa bergantung dan percaya dengan kesaktian dukun ilmu hitam itu.
"Saya tau kedatangan kalian kemari, perempuan itu tengah sekarat karena tulah kiriman yang kembali padanya." Mbah Muro berceletuk ringan dan membuat Wulan maupun Yudha saling tatap, tak percaya dengan kesaktian Mbah Muro yang menurut mereka sangat hebat, padahal belum ada yang mengatakan keadaan Yeni, tapi Mbah Muro sudah menebaknya terlebih dulu dengan benar pula.
"Iya, Mbah!
Tolong teman saya, Mbah. Sembuhkan dia dari tulah itu." sahut Wulan tegas dan meminta Mbah Muro untuk membantu menyembuhkan Yeni dari sakitnya yang tidak lazim.
"Baiklah, saya akan lakukan.
Tapi saya ingin mahar yang cocok dengan pekerjaan yang akan dilakukan ini." sahut Mbah Muro santai dan membuat Yudha sedikit merasa tidak nyaman, karena sepertinya Mbah Muro memanfaatkan situasi.
"Baiklah, berapa kamu harus membayar?" sahut Wulan tanpa meminta persetujuan Yudha lebih dulu. Entah apa yang ada di pikiran Wulan, sampai sampai menuruti keinginan Mbah Muro tanpa bertanya lebih dulu.
"Lima juta saja! Nanti saat kalian tiba dirumah, saya pastikan dia sudah sembuh seperti sediakala." sahut Mbah Muro enteng dan membuat Yudha menekan lidahnya, antara percaya dan tidak percaya, namun Wulan segera menyadarkan Yudha dari lamunannya.
"Yudh! Cepat berikan jumlah yang diminta Mbah Muro! Kakakmu harus segera diselamatkan!" bisik Wulan dan langsung dituruti oleh Yudha yang terlihat masih shock.
Lalu meminta Yudha dan Wulan untuk menunggu sebentar, sedang Mbah Muro masuk ke dalam ruangan yang kemarin dia masukin untuk mengerjakan urusannya.
Yudha memilih menunduk dalam, tidak ingin lagi menatap liar keruangan Mbah Muro, karena pasti matanya akan menangkap sesuatu yang tidak wajar, sesuatu yang membuatnya ketakutan dan gak bisa tidur setelah nya.
Tak berselang lama Mbah Muro sudah keluar dan membawa satu botol air dan diserahkan pada Wulan.
"Langsung pulang, jangan pernah berhenti!
Minuman air ini pada teman kamu itu, sisanya kamu balurkan ke seluruh tubuhnya, terutama wajahnya." Mbah Muro menatap serius ke arah Wulan dan melirik Yudha dengan senyuman miring.
"Baik, Mbah. Terimakasih!
Kalau begitu kami pamit pulang dulu." sahut Wulan tanpa ragu sedikitpun. Wulan sudah biasa berhadapan dengan Mbah Muro, sehingga tidak ada perasaan apapun dan tidak takut sama sekali.
"Biar aku yang bawa mobilnya!
Karena kamu pasti akan kencing di jalan kalau mobil itu kamu yang nyetir, nyawa yang jadi taruhannya." herdik Wulan dengan senyuman mengejek lalu meminta kunci mobil dari tangan Yudha.
__ADS_1
"Tutup matamu, dan jangan dengarkan apapun dari suara suara yang nanti muncul mengganggu perjalanan kita!
Turuti aku kalau kamu ingin selamat keluar dari tempat ini.' sambung Wulan sekali lagi mengingatkan Yudha agar tidak ceroboh.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Sedangkan Yeni keadaannya berangsur membaik, sudah tidak teriak kesakitan lagi, tapi tubuhnya masih banyak luka melepuh dan beraroma menyengat.
"Bu, kenapa mereka lama sekali?
Aku sudah tidak tahan dengan bau di tubuhku in!" Yeni bergumam lirih dan menutup hidungnya karena bau tak sedap dari tubuhnya sendiri.
Bahkan Bu Imah terus memuntahkan isi perutnya, kalau saja tidak khawatir dengan keadaan anaknya, Bu Imah ingin pergi meninggalkan Yeni, karena baunya benar benar mengaduk aduk perutnya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
jangan lupa mampir juga di karya aku yang lain.
#Tekanan Dari Mantan Suami (Tamat)
#Cinta dalam ikatan Takdir (ongoing)
#Coretan pena Hawa (ongoing)
#Cinta suamiku untuk wanita lain (ongoing)
#Sekar Arumi (ongoing)
#Wanita kedua (Tamat)
New karya Hawa
#Negeri dongeng Alisia
#Kasih sayang yang salah
#Cinta berbalut Nafsu
Peluk sayang dari jauh, semoga kita senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam setiap langkah yang kita jalani.
Haturnuhun sudah baca karya karya Hawa dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, komentar dan love nya ya say ❤️
__ADS_1
Happy ending ❤️